Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Perasaan yang Sebenarnya


__ADS_3

“Hei kau pembunuh! Ternyata kau sudah membaik ya,” ketus Aldert tiba-tiba saja entah datang darimana.


Scarlesia spontan melihat ke sumber suaranya, ia pun menyambut Aldert dengan senyuman.


“Oh tuan muda kedua, anda datang lagi ya?” sambut Scarlesia.


Melihat senyuman Scarlesia membuat Aldert jengkel, lalu dia memperdekat jaraknya dengan Scarlesia.


“Bisakah kau tidak tersenyum padaku? Aku tidak suka melihatnya,”


Ekspresi Scarlesia segera berubah menjadi datar, dia sungguh tidak menyukai sikap Aldert yang terlalu kasar dalam berkata.


“Ada urusan apa anda kemari? Apakah anda ingin menjenguk saya?” tanya Scarlesia.


“Hahaha menjenguk? Untuk apa? Justru aku berharap kau mati karena pembunuh sepertimu tidak pantas untuk hidup,”


“Oh beberapa waktu lalu saya sudah mati,”


“Apa?!”


“Beberapa waktu lalu saya sudah mati tapi tidak ada seorang pun yang ada di dekat saya. Mungkin karena dewa menyayangi saya jadi saya dihidupkan kembali,” ulang Scarlesia mempertegas jawabannya.


Aldert tertegun sejenak, dia mengira Scarlesia becanda soal ini.


“Kau jangan becanda, mana mungkin dewa menyayangi pembunuh sepertimu,”


“Saya juga mengira bahwa dewa keliru dalam mengambil keputusan tapi saya tahu dewa punya alasan untuk itu,”

__ADS_1


Scarlesia meladeni setiap perkataan Aldert dengan tenang agar tidak menyebabkan keributan karena dia sendiri sedang tidak ingin ribut dengan siapapun itu.


“Jika aku bisa berbicara dengan dewa maka aku akan memintanya untuk tidak usah menghidupkanmu kembali karena keberadaanmu sama sekali tidak penting,”


Aldert terus menerus menghina dan menyumpahi Scarlesia agar mati tapi ia menahannya dengan sabar.


“Apakah anda kemari hanya untuk menyuruh saya agar mati? Kalau hanya untuk itu saya permisi mau masuk ke dalam kamar dulu,” pamit Scarlesia meninggalkan Aldert sendirian.


“T-tunggu! Aku dengar kau menindas Ibu dan Nieva selama aku tidak ada. Aku mendengarnya dari mereka berdua bahkan kau kemarin mencoba membunuhnya. Kenapa kau sangat kasar pada mereka? Padahal Ibu hanya meminta paviliun ini padamu, apa salahnya jika kau mengikhlaskannya? Sia, sepertinya kau benar-benar harus mati saja. Kau sangat menggangguku jika kau berada di mansion ini, lebih baik kau bunuh diri saja,”


Kali ini Aldert sangat keterlaluan, hati Scarlesia begitu sakit mendengar ucapannya yang mengandung seribu jarum yang setiap katanya menghujam habis jantung serta hatinya.


“BERISIK!” teriak Scarlesia sudah muak. “Kau selalu saja menyuruhku mati, mati, dan mati! Kau selalu saja mengatakan aku pembunuh. Kalau kau membenciku tolong abaikan aku! Aku juga tidak butuh kakak sepertimu yang selalu membunuh mentalku,”


“H-hei apa yang kau katakan?”


“Ketika Ibu meninggal, pernah kau bertanya padaku apakah aku baik-baik saja? Tidak kan? Kau seenaknya saja mengatakan aku pembunuh tapi pernahkah kau berpikir bagaimana perasaanku menyaksikan Ibu dibunuh oleh orang lain? Kau hanya tahu bagaimana cara mengutukku, menyumpahiku agar aku mati,”


“Tadi kau mengatakan aku menindas mereka berdua? Haha kau lucu sekali, aku hanya membalas apa yang sudah mereka perbuat padaku. Apakah kau tahu kalau paviliun ini adalah paviliun yang sudah disiapkan Ibu untukku? Ayah memberikannya padaku lalu kau seenaknya mengatakan agar aku memberikannya pada wanita itu? Hei kau gila ya? Aku akan menjaga baik-baik apa yang diberikan Ibu padaku. Kau lihat itu? Kau lihat potret Ibu yang sudah hancur itu?”


Scarlesia menunjuk ke arah potret Ibunya yang sudah rusak itu, Aldert tidak menyadarinya sebelumnya ada potret sang Ibu di sana.


“Apa yang terjadi? Kenapa potret Ibu rusak?”


“Kau tidak tahu kenapa itu bisa rusak? Kau ternyata lebih bodoh dari yang aku kira. Kau tahu siapa yang merusaknya? Itu ulah Zaneta! Ibu tiri yang kau sayangi itu! Jadi, sekarang kau mengerti kan mengapa aku marah? Sesekali kau pakai otak pintar kau itu untuk berpikir sebelum berbicara dan bertindak!”


Perasaan Scarlesia berkecamuk, emosinya yang melunjak, air matanya yang tidak bisa berhenti keluar serta hatinya yang seakan mencuat keluar.

__ADS_1


“Sejak dulu kau selalu memperlakukan aku dengan buruk. Kau memaksaku untuk keluar dari kamarku lalu kau memberikan kamarku pada Nieva! Tapi apakah kau tahu? Sewaktu aku pindah ke kamar yang lebih kecil, malam itu sangat dingin namun tidak ada yang menyediakan selimut untukku! Akhirnya besoknya aku demam kemudian para pelayan memberiku makanan basi dan tidak ada yang mempedulikanku. Kau bisa bayangkan seberapa menderitanya aku? Sedangkan kau, kau selalu memanjakan Nieva padahal aku ini adikmu,”


Scarlesia berbicara sampai urat lehernya terlihat, dia tidak mampu mengatur irama napasnya. Sementara Aldert terdiam tanpa kata karena saat ini dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.


“Bahkan tunanganku pun direbut oleh Nieva, tapi bagaimana tanggapanmu? Kau secara terang-terangan mengatakan bahwa Nieva memang lebih pantas menjadi permaisuri dibanding aku yang pembunuh ini. Kau bahkan mengatur kencan Nieva dengan putra mahkota. Hahaha aku sakit hati, aku sangat menderita, ini bahkan lebih sakit


dari pada kematian! Aku terluka, sakit, menangis tapi tidak ada satu pun yang mendengarkanku. Kalau memang membenciku tolong abaikan aku seperti biasa, jangan sakiti aku lagi tolong. Aku sudah lelah jadi jangan sakiti aku lagi ya,”


Tidak ada kesempatan untuk Aldert menjawab semua curahan hati Scarlesia yang selama ini ia pendam sendiri. Gejolak amarahnya perlahan berubah menjadi rasa bersalah, ekspresinya yang tertekuk seolah ingin mengatakan sesuatu pada Scarlesia. Air mata Scarlesia tidak bisa terhenti, ia terus mengalir deras seakan seluruh rasa sakitnya berbicara.


Usai mengatakan semua itu, Scarlesia pergi ke dalam kamarnya. Ia membanting pintunya dan meninggalkan Aldert yang masih mematung sendirian.


“Padahal aku tidak ingin menangis tapi rasanya hatiku sakit sekali seolah jiwaku dan Sia menyatu, seolah semua penderitaannya adalah penderitaanku juga. Kenapa aku merasa seperti ini?” batinnya membungkus badannya dengan selimut.


Scarlesia berdiam diri di kamarnya hingga malam hari sehingga membuat kedua pelayannya khawatir, tidak hanya kedua pelayannya bahkan Kitty, Andreas, dan Zenon pun juga dibuat khawatir. Scarlesia juga tidak makan apapun sedari tadi pagi.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada Nona? Kenapa Nona mendadak mengurung dirinya?” tanya Erin heran.


“Aku ingin mengatakan pada kalian kalau sebenarnya tadi pagi Nona bertemu denga Tuan Muda Aldert,”


Hana menceritakan pada mereka semua mengenai apa yang dia saksikan tadi pagi, dia menjelaskannya secara detail tanpa terlewatkan satu pun. Erin menangis mendengar ceritanya, begitu pun dengan Hana yang menjelaskannya dengan air mata.


“Benarkan Nona mengatakan semua itu?”


Hana mengangguk. Di sisi lain Zenon dan Andreas ikut sedih setelah mengetahui semuanya, seakan rasa sakit yang dirasakan Scarlesia ikut menusuk masuk ke dalam diri mereka. Kemudian Erin mencoba mengetuk lagi pintu kamarnya tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali.


“Nona, kalau anda masih bangun tolong dengarkan saya dari sini. Sebenarnya selama ini ada fakta yang selalu saya sembunyikan. Nona, selama ini Yang Mulia Duke serta Tuan Muda Carlen memperhatikan Nona dari jauh. Saya diminta untuk menjadi mata-mata mereka jika terjadi sesuatu pada Nona saya langsung memberitahu mereka. Lalu perlu anda tahu bahwa selama ini mereka berdua sering masuk ke kamar Nona pada saat Nona tertidur hanya untuk memeriksa keadaan anda,” beber Erin.

__ADS_1


Fakta yang sungguh tidak diketahui oleh Scarlesia, ini cukup mengejutkan karena tidak menyangka bahwa Eldrick dan Carlen sungguh sangat menyayangi Scarlesia.


“Lalu perlu anda tahu mengenai dokter istana yang meracuni Nona, itu adalah dokter yang diutus oleh kaisar. Yang Mulia Duke tidak tahu sama sekali jika dokter itu akan mencelakai Nona. Kemudian mengenai pertunangan anda dengan putra mahkota juga Yang Mulia Duke dan Tuan Muda Carlen bersikeras untuk membatalkannya tapi kaisar menolak permintaan mereka. Selama ini mereka berusaha untuk menjaga Nona tanpa diketahui oleh banyak orang,”


__ADS_2