
“Pernah bertemu? Jangan bilang kau….”
“Benar. Aku adalah pria berseruling yang kau katakan tadi,” potong Aaron mengeluarkan sebuah seruling berwarna hitam pekat.
Elios memelototkan kedua matanya, dia tidak menyangka pembunuh orangtua dan klannya tepat berada di hadapannya kini. Tanpa berpikir panjang, Elios menerjang ke arah Aaron.
“SIALAN! TERNYATA KAU YANG MEMBUNUH KLANKU!”
Scarlesia tidak sempat untuk menghentikan tindakan Elios yang gegabah, dia punya firasat buruk tentang hal ini.
“CEPAT TAHAN ELIOS!” titah Scarlesia.
Andreas bergerak cepat, dia menekan tubuh Elios hingga membuatnya menelungkup di atas permukaan tanah. Elios berusaha melepaskan dirinya dari Andreas yang menekan tubuhnya, Andreas tidak membiarkan Elios bergerak lebih jauh lagi.
“LEPASKAN AKU! BIAR AKU BUNUH DIA!” berontak Elios.
“Kau tidak boleh bertindak sembrono seperti ini! Apa kau tidak bisa melihat Sia mengkhawatirkanmu? Kalau kau membuat Sia menangis, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!” gertak Andreas.
Elios akhirnya diam, dia tidak lagi meronta dan Andreas pun mengendorkan tekanannya.
“Oke, aku tidak akan menyerangnya. Tolong lepaskan aku, kau menyakitiku badanku,” pinta Elios.
Karena Andreas merasa Elios telah paham dan mengerti, jadi dia melepaskan Elios. Namun, baru saja dia dilepaskan oleh Andreas, Elios melanjutkan serangannya pada Aaron. Dengan senang hati Aaron menyambut serangan dari Elios.
“Oke, datanglah kemari. Aku akan menyambutmu sepenuh hati,” ucap Aaron mengubah serulingnya menjadi pedang berwarna hitam pekat.
“JANGAN ELIOS!”
Scarlesia berteriak sangat kencang, dia merasakan ada yang tidak beres dari pedang milik Aaron. Serangan dari Elios tidak satu pun mengenai Aaron, kini giliran Aaron yang akan menyerang balik. Dari pedangnya keluar kilat berwarna hitam, kilat itu diarahkannya pada Elios. Dari kepala Scarlesia muncul semacam gambaran masa depan yang akan terjadi beberapa detik lagi.
Scarlesia melihat dengan jelas bagaimana Elios terkena serangan kilatan hitam tersebut, sekujur tubuh Elios terluka parah dan berakhir sekarat. Dia juga melihat dirinya tidak bisa menyembuhkan luka Elios, nyawa Elios hampir meregang nyawanya di dalam pangkuannya.
__ADS_1
“Masa depan… apakah itu masa depan? Kalau begitu aku tidak bisa membiarkan Elios mendekati Aaron.”
Scarlesia bergerak secepat cahaya, tepat sebelum kilat hitam itu mengenai Elios dia lebih dulu memeluk Elios dan mendorongnya hingga terjatuh duduk di tanah. Akan tetapi, walaupun dia berusaha menghindarinya tetap saja kilat itu berhasil menggores punggungnya.
“Ahhh punggungku….” ringis Scarlesia memegangi punggungnya yang terluka perlahan mengeluarkan darah.
“Apa yang kau lakukan Sia? Kenapa kau malah melindungiku?” Elios cemas sesaat melihat darah dari punggung Scarlesia bercecer menodai gaun berwarna violetnya.
“DASAR BODOH!” teriak Scarlesia memukuli kepala Elios. “Kalau aku tidak menghentikanmu, bisa-bisa kau mati gara-gara kilat hitam itu!” omel Scarlesia.
Omelan Scarlesia mengenai hati kecil Elios, dia membatu beberapa saat. Sementara itu Xeon dan yang lain membantu Scarlesia berdiri serta menutupi gaunnya yang rusak lalu luka yang menggores punggung mulusnya.
“Ck aku jadi salah sasaran, padahal aku berniat membunuh pria itu tapi ternyata gadis itu malah melindunginya,” gumam Aaron berdecak kesal.
“AARON! BERANINYA KAU MELUKAI SIA!” teriak Xeon berapi-api.
“Salah sendiri, siapa suruh dia melindungi si iblis putih itu? Tampaknya gadis itu adalah kelemahan kakak ya, bagaimana kalau sekarang aku mencoba menyerangnya?”
“Tidak asik sekali, sekarang aku pamit pergi dulu. Sampai bertemu lagi di perang akhir,” pamit Aaron langsung menghilang begitu saja dari hadapan mereka.
“Sial! Seharusnya dia dibunuh saja!” gerutu Louis.
“Dia berada di level yang berbeda, kilat hitam itu berbahaya. Aku tadi melihat masa depan yang akan terjadi beberapa detik setelahnya, aku melihat Elios meregang nyawa setelah terkena kilat itu,” ujar Scarlesia.
Archie kini sedang membantu Scarlesia menghentikan pendarahan di punggungnya, kilat hitam itu adalah bagian dari kekuatan kegelapan jadi dia tidak bisa menyembuhkan dirinya setelah terkena serangan tersebut. Shou keluar dari dunia cermin membawakan tanaman herbal untuk menghentikan pendarahan di lukanya.
“Kau sungguh bisa melihat kejadian beberapa detik di masa depan?” tanya Oliver memastikan.
“Iya, aku rasa itu cuma kebetulan saja karena kekuatan paling lemah di tubuhku adalah penglihatan masa depanku aduh duhh,” ucap Scarlesai seraya meringis sakit di punggungnya.
“Dewa pencipta hanya memberi Sia 5% kekuatan penglihatan masa depan, itulah kenapa dia tidak bisa melihat masa depan lebih banyak. Dia hanya bisa melihat beberapa kejadian saja sebab dewa pencipta tidak mau membebani Sia lebih banyak lagi,” sela Xeon memberikan penjelasan.
__ADS_1
“Ternyata seperti itu,” angguk Oliver.
Setelahnya, Archie membalutkan perban di luka Scarlesia lalu ia mencoba menggerak-gerakkan punggungnya, kini rasa sakitnya berkurang dibanding sebelumnya. Scarlesia menoleh ke arah Elios, dia seperti merasa bersalah karenanya Scarlesia terluka. Dia berdiri sedikit menjauh dari Scarlesia, bahkan untuk menatapnya saja Elios tidak mampu.
“Elios, bisakah kau mendekat kemari?” Scarlesia memanggilnya tapi Elios tidak menyahutnya. Beberapa kali Scarlesia mencoba memanggilnya, namun sama saja.
“HEI KAU PUNYA TELINGA TIDAK? SIA MEMANGGILMU!” marah Zenon menepuk kepala Elios.
“Aduh kau apa-apaan sih? Seenaknya memukul kepala orang,” oceh Elios mengaduh.
“Kau menyalahkanku? Padahal itu gara-gara kau Sia terluka. Harusnya kau minta maaf pada Sia, bisa-bisanya kau diam saja saat dipanggil olehnya,” omel Zenon kesal.
“Aku… aku….” Elios bingung harus mengatakan apa, dia kehilangan kata-katanya sesaat. Ia menundukkan wajahnya, ekspresinya tampak sendu. Scarlesia menghela napasnya, dia mendekati Elios untuk berbicara dengannya.
“Jangan bertengkar lagi kalian! Sudah Zenon, biar aku saja yang menanganinya,” kata Scarlesia.
Zenon mundur beberapa langkah, ia membiarkan Scarlesia untuk berbicara dengan Elios.
“Elios, angkat kepalamu,” suruh Scarlesia, namun Elios tidak melakukannya. Lagi-lagi Scarlesia membuang napas lelah, dia menaruh kedua tangannya di pipi Elios dan memaksa Elios mengangkat wajahnya.
“Nah begitu kan bagus, aku jadi bisa lihat wajah tampanmu. Kalau kau terus menunduk seperti tadi itu akan mempersulitku untuk berbicara denganmu,” tutur Scarlesia menyelipkan kalimat rayuan di kata-katanya.
“Sia… apa kau tidak marah padaku? Padahal gara-gara aku kau terluka,” lirih Elios.
“Aku tidak marah sama sekali denganmu. Aku malah senang karena sudah menyelamatkanmu dari kematian. Siapa pun pasti akan bertindak sama di saat orang yang paling dia cintai dibunuh oleh orang lain,” ujar Scarlesia menenangkan Elios, kemudia,dia mengubah arah pandangannya dan menyorot satu persatu prianya. “Dan juga kalian, jangan salahkan Elios! Apa kalian akan diam saja semisalnya aku dibunuh? Tidak kan? Makanya jangan marah pada Elios.”
“Iya Sia, kami tidak akan marah pada Elios,” sahut mereka serentak.
“Sekarang kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, banyak yang membuatmu menderita hari ini. Aku tidak akan menambah beban pikiranmu lagi. Kau mengerti itu?” tegas Scarlesia serius.
“Iya, aku mengerti.”
__ADS_1