
“Tidak ada. Hanya saja sekarang aku menginginkan tubuhmu,”
Scarlesia mencoba menggoda Oliver, dadanya menyentuh tepat punggung Oliver. Sontak hal ini memberikan rasa tidak nyaman untuk Oliver sendiri, dia lekas menutup semua dokumennya lalu melepaskan kedua tangan Scarlesia yang melingkar di tubuhnya.
“Sia, kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti ini? Apa yang….”
Ketika Oliver berbalik untuk bertatapan langsung dengan Scarlesia, dia terhening dan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Oliver melihat sekilas aura gelap menyelimuti Scarlesia, rasa asing terdeteksi langsung dari gadis yang selama ini dia cintai seakan yang berada di hadapannya kini bukanlah Scarlesia melainkan orang lain.
“Siapa wanita ini? Aku tidak bisa merasakan aura Sia yang biasanya pada dia,” pikir Oliver
“Ada apa? Kau….”
“Sebaiknya kau keluar saja. Aku sekarang sedang sibuk, nanti aku akan menemuimu lagi,” potong Oliver mengusir Scarlesia secara halus.
“Sial! Pria ini sepertinya memang sengaja menghindariku,” batin Scarlesia mengumpat kesal.
Scarlesia dengan terpaksa keluar dari kamar Oliver, dia pergi dengan perasaan kesal di hatinya.
“Ya sudah tidak masalah. Aku akan pergi menemui pria yang lain,”
Setelah itu, Scarlesia memutar langkahnya ke lapangan tempat Andreas biasanya latihan. Andreas sudah berada sedari tadi di lapangan itu, ia mengayunkan pedangnya dengan tubuh setengah telanjang. Keringat yang bercucuran akibat dari latihan yang dia lakukan membuat aura seksinya keluar seketika.
“Andreas!!” panggil Scarlesia menghampirinya.
Mendengar suara Scarlesia, Andreas menghentikan sejenak latihannya dan menyarungkan kembali pedangnya.
“Kenapa Sia?” tanya Andreas.
Scarlesia terpaku melihat otot Andreas, tatapan matanya penuh hasrat dan besarnya rasa ingin menyentuhnya. Scarlesia semakin mendekati Andreas dengan mata genit dan senyuman menggodanya, ia menggandeng tangan Andreas.
“Andreas, aku menyukai tubuhmu. Maukah kau bermain denganku?”
Andreas melepaskan tangan Scarlesia, dia merasakan hawa tidak aman dari Scarlesia lalu melangkah menjauh darinya.
“Maaf Sia, aku harus kembali ke kamar karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Lain kali saja ya,” tolak Andreas tersenyum kikuk.
“Tapi Andreas….”
__ADS_1
Andreas lekas menghilang dari hadapan Scarlesia tanpa mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Scarlesia padanya. Scarlesia mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan keningnya karena dia sudah ditolak dua kali oleh pria hanya dalam beberapa menit saja.
“Andreas, kemarilah,” panggil Oliver yang ternyata bersembunyi dan diam-diam mengikuti Scarlesia.
“Kenapa kau bersembunyi di sini?” tanya Andreas.
Oliver menarik Andreas agar ikut bersembunyi bersamanya.
“Apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang aneh pada Sia?” tanya Oliver.
“Ya, aku merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Ini aneh sekali karena biasanya aku selalu merasa senang di sampingnya,” jawab Andreas.
“Sebenarnya ada apa dengannya? Ehh Sia sepertinya akan pergi ke kamarnya Louis. Ayo ikuti dia,” ucap Oliver.
Mereka berdua mengikuti gerak gerik Scarlesia yang tidak bisa mereka mengerti, mereka melihat Scarlesia mencoba merayu Louis tapi lagi-lagi rayuannya dipatahkan oleh Louis. Scarlesia pergi dengan hati gusar, kemudian berlanjut ke Elios dan terakhir Zenon. Tidak ada satupun dari mereka yang termakan rayuan maut Scarlesia.
Karena masalah ini sudah cukup serius, akhirnya mereka memutuskan untuk membicarakannya bersama-sama. Kini mereka berkumpul di tempat yang tidak diketahui oleh Scarlesia di luar kediaman karena jika mereka berbincang di kediaman maka akan ada kemungkinan Scarlesia akan ikut campur.
“Entah kenapa aku merasa kesal melihatnya,” geram Elios.
“Aku merasa tidak nyaman di sekitarnya. Sia seperti orang lain dan aku merasa tidak mengenalinya,” sambung Andreas.
“Aku merasa dia tidak secantik biasanya,” timpal Elios.
“Betul! Aku setuju denganmu. Sia tidak secantik biasanya seakan aura keindahannya yang selama ini aku lihat menghilang,” tambah Oliver.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andreas berpikir keras.
“Tidak tahu, aku ingin menjauh darinya sementara waktu karena aku merasa ancaman besar berasal dari diri Sia,” jawab Louis.
“Sebenarnya tadi Sia mencoba mencuci otak kita tapi sepertinya dia gagal melakukannya,” ujar Zenon tiba-tiba serius.
“Huh? Mencuci otak? Untuk apa dia melakukannya?” bingung Oliver.
“Tentu saja untuk membuat kita menurut padanya. Wanita itu bukan Sia karena aku tidak merasakan keterikatanku dengannya. Aku sangat peka jika dihadapkan dengan masalah yang seperti dan aku dengan jelas mengatakan bahwa dia bukan Sia gadis yang kita cintai,” terang Zenon.
“Lalu kalau dia bukan Sia yang asli, kemana Sia yang selama ini kita kenal? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Sia?” Oliver bertanya-tanya untuk hal yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
__ADS_1
“Itulah yang perlu kita cari tahu sekarang. Xeon tidak bisa hubungi karena dia mengatakan bahwa akses ke istana langit akan ditutup sementara waktu. Hal seperti ini hanya bisa dijelaskan dewi atau dewa sekelas Xeon,” ucap Zenon.
“Jadi, kita harus mengawasi Sia dulu sementara waktu karena kita harus memastikan ini secara langsung. Kalau dia memang terbukti bukan Sia yang asli maka mau tidak mau kita harus membunuhnya,” kata Elios.
“Benar yang dikatakan oleh Elios. Kita harus membuktikannya secara nyata,” balas Andreas.
“Baiklah. Untuk beberapa saat kita harus menahan diri untuk berada di sekitar Sia, jadi aku harap kita bisa mengetahui faktanya segera,” tukas Zenon mengakhiri pertemuan mereka hari ini.
Dari hari ke hari Scarlesia melakukan berbagai hal buruk, mulai dari memukuli para pekerja mansion, menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna, menghancurkan taman yang dibuat oleh Ibunya, serta merombak habis-habisan seluruh paviliun dengan tema warna gelap. Sekarang paviliun tampak seperti tidak memiliki aura kehidupan dan keindahan, semua yang dibangun dulunya oleh Fyrensia menjadi hancur tak bersisa.
Eldrick, Carlen, dan Aldert berhasil dicuci otaknya oleh Scarlesia sehingga mereka mau melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Scarlesia padanya. Sedangkan Andreas bersama yang lainnya terpaksa berpura-pura baik di depan Scarlesia demi membuktikan prasangka mereka masing-masing.
“Sekarang mari kita bicarakan, apa saja yang sudah kalian temukan dalam beberapa hari ini?”
Oliver membuka sesi rapat pertemuan diantara mereka untuk memberitahu apa saja yang mereka dapatkan selama beberapa hari penyelidikan.
“Sia kan punya kekuatan penyembuhan tapi kemarin ketika tangannya tidak sengaja terluka, itu terlihat aneh karena lukanya tidak bisa tertutup bahkan dia merengek minta dipanggilkan dokter,” lapor Louis.
“Aku juga, beberapa hari yang lalu saat aku memintanya latihan pedang bersamaku dia tidak bisa menggunakan pedang seperti biasanya,” lanjut Andreas melapor.
“Sudah aku katakan bukan? DIA BUKAN SIA!” tegas Zenon.
“Apa yang sedang kalian bicarakan di sini?”
“XEON!”
Sementara itu, saat ini Fyrensia tengah memantau kediaman Duke Eginhardt dari atas langit. Meskipun dia tidak menggunakan raga Scarlesia lagi, namun dia masih bisa menggunakan sayapnya untuk terbang. Dia tidak bisa pergi kemana-mana karena Xeon sulit untuk dia hubungi kala ini.
“Woahh tidak aku sangka ternyata aku bisa menggunakan sayapku. Aku pikir aku tidak bisa menggunakannya,” ucap Scarlesia mengepakkan sayapnya kembali menuju hutan di tepi kekaisaran.
Ketika dia sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, tiba-tiba dadanya merasakan sakit yang teramat sangat. Rasa sakitnya tidak bisa lagi dia tahan dan membuatnya hampir tidak sadarkan diri. Di tengah perjuangannya untuk tetap terjaga, beberapa orang dengan jubah hitam menghampiri dirinya.
“Hehe akhirnya ketemu juga kau. Nah sekarang ikutlah bersama kami,”
“S-siapa k-kalian?”
“Kau tidak perlu tahu karena sebentar lagi kau akan kami bawa ke tempat yang akan menjadi kuburanmu,”
__ADS_1