
“Oke Sia, coba kamu sembuhkan luka yang ada di tangan Louis,” ujar Elios tengah mengajari Scarlesia mengontrol kekuatannya.
Scarlesia menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan pelan, kedua tangannya dikambangkannya di atas telapak tangan Louis. Sedikit demi sedikit keluar cahaya dari tangannya, luka di telapak tangan Louis pun langsung sembuh seketika.
“Fyuuhh akhirnya aku bisa mengendalikannya setelah beberapa kali percobaan,” ucap Scarlesia menghela napas lega.
Louis memperhatikan telapak tangannya, matanya berbinar saat melihat lukanya tertutup dengan sempurna. Andreas menarik pedangnya kemudian sengaja menggores telapak tangannya dengan pedangnya tersebut.
“Sia, sembuhkan aku,” pintanya menjulurkan telapak tangannya yang berdarah pada Scarlesia.
“Ya sudah ayo cepat duduk,”
Scarlesia mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya, begitu melihat Andreas melukai tangannya, mereka semua juga mengikuti trik Andreas.
“Sembuhkan aku juga Sia,” pinta Oliver.
“Aku juga! Aku juga,” imbuh Zenon.
“Kalau begitu aku juga minta disembuhkan,” ucap Elios.
“Sia, aku terluka lagi jadi sembuhkan aku,” pinta Louis yang sengaja melukai tangannya lagi.
“Astaga sepertinya kalian ini minta dicubit ya. Ayo cepat antri satu-satu,”
Usai menyembuhkan tangan mereka, Scarlesia langsung mengusirnya keluar dari kamarnya karena ada sesuatu yang mau dia kerjakan terlebih dahulu. Tak berselang lama, Kitty datang membawa sebuah batang tumbuhan yang dinama dengan batang wals. Bentuk batangnya tipis dan berwarna hijau tua, sesuai yang diminta oleh Scarlesia padanya.
“Ini batang apa sebenarnya?” tanya Kitty.
“Aku ingin membuat racun dengan batang ini,” jawab Scarlesia mempersiapkan alat-alat pembuat racunnya.
“Racun? Untuk apa?”
__ADS_1
“Tentu saja untuk membunuh permaisuri,”
Batang wals mengandung racun yang tidak diketahui oleh orang, jika diracik dengan benar maka akan berubah menjadi racun penghancur yang sempurna. Scarlesia mengetahui begitu banyak jenis racun serta penyakit itu karena buku tua yang dulu dia baca, dia menemuka buku tua tersebut di perpustakaan pribadi milik Ibunya. Meski buku tua itu menghilang saat selesai dia baca, semua informasi yang ada di dalamnya sudah tersimpan di kepalanya.
“Sip akhirnya selesai aku membuat racunnya,”
Scarlesia memasukkan racun yang berbentuk bubuk putih tersebut ke dalam plastik kecil lalu memanggil Cici untuk memberinya tugas baru.
“Cici, bisakah kau mencampurkan racun ini ke dalam minuman atau makanannya permaisuri?”
“Serahkan saja pada saya Nona, saya akan melakukannya dengan baik. Tapi, apa racun itu untuk membunuh permaisuri?”
“Ya bisa dibilang begitu. Tolong berhati-hatilah,”
“Baik Nona,”
Pada waktu yang sama di istana, permaisuri mengamuk karena beberapa waktu belakangan ini sang kaisar tidak pernah mengunjunginya. Kaisar sibuk bermain di istana selir bersama dengan selir kesayangannya yang bernama Stella. Kemudian ditambah dengan masalah Scarlesia yang lagi-lagi lolos dari kematian lalu Aldert yang tiba-tiba anggota badannya kembali seperti semula.
Permaisuri terlihat lelah setelah puas mengamuk, ia meraih cangkir tehnya lalu meneguknya sampai habis dan memakan cemilannya.
“Berhasil! Wanita itu sudah memakan racunnya. Aku akan laporkan hal ini pada Nona,”
Saat ini Scarlesia tengah bersantai di dalam kamarnya menikmati waktu luangnya sebelum kembali bertempur. Di tangannya ada sebuah buku mengenai sihir walaupun dia merasa tidak punya sihir, ia tetap ingin mempelajarinya. Ketika dia sedang asik dengan bukunya, dari mansion terdengar sangat riuh lalu ia melihatnya dari jendela.
“Hana, Erin, sepertinya kita harus pergi ke mansion sekarang. Ada hal menarik yang sedang terjadi,”
Di mansion
Nieva tengah menangis histeris di samping tubuh Zaneta yang terbujur kaku dan tak lagi bernyawa. Racun yang diberikan oleh Scarlesia berhasil bereaksi dengan cepat, tidak butuh waktu lama untuk racun itu menyerang habis daya hidup Zaneta. Seluruh pelayan hanya diam membiarkan Nieva menangis karena begitu terguncang oleh kematian sang Ibu yang tiba-tiba.
Eldrick datang bersama Carlen dan Aldert begitu mendengar berita kematian Zaneta, mereka terlihat biasa saja tanpa ada ekspresi sedih.
__ADS_1
“Segera siapkan upacara pemakaman untuk duchess,” perintah Eldrick pada beberapa pelayan.
Nieva mengusap air matanya sesaat mendengar Eldrick memberi perintah untuk segera mempersiapkan upacara pemakaman untuk Ibunya. Nieva memutar badannya lalu mendekati Eldrick, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
“Ayah, Ayah harus menyelidiki lagi penyebab kematian Ibu. Aku yakin ada seseorang yang meracuni Ibu, kenapa Ayah hanya diam saja walau Ayah tahu kalau Ibu diracuni? Ayah ataupun kakak hanya sibuk memperhatikan Sia, sedangkan aku dan Ibu? Kenapa kalian memperlakukanku dengan dingin sejak Sia mulai berubah?”
“Aduh kenapa di sini ramai sekali?”
Scarlesia datang dan masuk ke kamar Zaneta yang ramai lalu mulai memecah suasana. Begitu dia datang, Nieva langsung menghadangnya.
“Kenapa kau kemari?” tanya Nieva dengan matanya yang sudah sembab.
“Aku tadi mendengar mansion agak ribut jadi aku datang untuk memeriksa apa yang terjadi. Tapi aku sekarang tahu apa yang sedang terjadi,” balas Scarlesia menarik sudut bibirnya agar terangkat ke atas.
“Aku tahu! Pasti kau kan yang membunuh Ibuku? Kau yang sudah mengirim racun untuk Ibuku lalu juga….”
Plakkkk
Suara tamparan yang berasal dari tangan Scarlesia cukup mengejutkan semua orang, tanpa ada yang tahu apa alasannya menampar Nieva yang sedang dirundung kemalangan.
“Kau pikir aku bisa melupakan penderitaan yang kalian berikan padaku? Kau merebut tunanganku, memerintahkan para pelayan untuk memperlakukanku dengan buruk, merebut semua gaun-gaunku, membuang barang-barang Ibuku, mengambil kamarku, menghina Ibuku, lalu berulang kali mencoba membunuhku. Jadi jangan bertingkah seolah kau yang paling menderita di sini,” tekan Scarlesia memasang tatapan mengintimidasi.
“Jangan salahkan aku bersikap seperti itu padamu tapi salahkan dirimu sendiri yang terlihat begitu ME-NYE-DIH-KAN HAHAHA, AKU AKAN MEMBUNUHMU DAN MENGHANCURKAN KELUARGA INI SAAT AKU SUDAH MENJADI PERMAISURI!” ancam Nieva yang menangis sambil tertawa.
Scarlesia menjambak rambut Nieva lalu menatap tajam kedua matanya.
“Aku menantikannya, entah permainan apa yang akan kau lakukan padaku. Tapi satu hal yang perlu kau tahu bahwa kau tidak akan pernah menang melawanku,” ucap Scarlesia menyeringai. “Lalu kau benar kalau akulah yang membunuh Ibumu jadi berhati-hatilah siapa tahu kau adalah korban selanjutnya karena jika aku bosan bermain denganmu aku bisa membunuhmu hanya dengan satu tembakan saja,” lanjutnya berbisik dan melepaskan jambakannya.
Nieva terdiam dan mematung karena suara Scarlesia yang berbicara padanya seolah ingin membunuhnya. Kedua mata Scarlesia seperti akan menerkamnya lalu senyumannya yang kejam membuat Nieva semakin merinding ketakutan.
“Aku harus membunuhnya apapun yang terjadi, aku akan membalaskan dendam Ibu. Saat aku menjadi permaisuri nanti tidak akan ada yang bisa melawanku termasuk wanita gila itu,” batin Nieva mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1