
“Hah? Apa yang kau katakan? Apa berita itu sudah menyebar?”
Raut panik Scarlesia terbaca dengan jelas, dia benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dia lakukan bersama Xeon malam itu ternyata ada yang menjadi saksinya.
“Sudah, berita itu sudah menyebar ke seluruh istana,” jawab Erin enteng.
“Mampus! Mati aku,” gumam Scarlesia menepuk keningnya, dia sangat ceroboh kali ini.
“Kenapa Yang Mulia? Apa ada yang salah?”
Brakkkk
“SIAAAA!”
Baru saja Scarlesia mengkhawatirkan masalah ini, kebetulan sekali masalahnya langsung datang. Ya, yang dikhawatirkan oleh Scarlesia adalah amukan dari Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan Elios. Tidak ada hal yang lebih mengkhawatirkan dibanding masalah mereka, Scarlesia berupaya menghindari insiden ciumannya bersama Xeon hanya agar para pria ini tidak protes dan ribut menyalahkan Xeon karena pada dasarnya yang memulai ciuman itu adalah dirinya sendiri.
“Haha pas sekali kalian datang. Kenapa? Apa ada masalah?”
Scarlesia berusaha bersikap senatural mungkin agar tidak tampak mencurigakan, sungguh dia tidak ingin mereka ribut di pagi hari. Dia baru saja siuman dan tidak ingin menambah beban pikiran lain.
“Kami dengar kau semalam pingsan di perpustakaan, apa sekarang kau baik-baik saja?” tanya Elios cemas.
“Ternyata mereka kemari untuk menanyakan masalah itu? Syukurlah,”
Scarlesia tersenyum kaku, dia sangat merasa lega karena ia tidak perlu repot-repot menghadapi amukan dari mereka semua.
“Aku semalam hanya kelelahan, lihat sekarang aku sungguh tidak apa-apa,” jawab Scarlesia.
Mereka serentak menghembuskan napas lega.
“Hufft jantungku hampir saja copot karena mendengar kabar semalam kau jatuh pingsan tapi melihatmu sekarang aku rasa kau baik-baik saja,” tutur Elios.
Louis tak sengaja menangkap keberadaan Xeon tengah tertidur di tepi ranjang Scarlesia.
“Kenapa Xeon ada di sini?” tanya Louis ingin tahu.
Scarlesia sekali lagi menepuk keningnya, dia lupa kalau Xeon masih ada di kamarnya. Mereka semua serentak menatap Scarlesia ingin diberi jawaban yang tepat.
__ADS_1
“Itu… semalam Xeon yang menemukanku di perpustakaan jadi dia menungguku siuman sampai tertidur di ranjangku,” jawab Scarlesia.
Mereka semua manggut-manggut, mereka tidak menanyakan lebih lanjut pada Scarlesia. Sekali lagi Scarlesia menghembuskan napas lega, untung saja mereka tidak banyak bertanya padanya.
“Sia, aku mendengar rumor aneh antara kau dan Xeon,” sela Oliver.
Scarlesia tersentak karena omongan Oliver yang baru saja dilontarkannya, Scarlesia masih berpura-pura tidak mengetahuinya.
“Rumor apa maksudmu?”
“Aku mendengar kalau kau dan Xeon….”
Tuk tuk tuk
Kebetulan sekali Cici datang mengetuk jendela Scarlesia sehingga Oliver terpaksa menghentikan bicaranya. Scarlesia dengan cepat pergi membuka jendelanya, di luar sudah ada Cici bersiap melapor pada Scarlesia.
“Yang Mulia, saya….”
“Ahh Cici kau adalah penyelamatku,” ucap Scarlesia mencium Cici.
Cici tercengang karena perlakuan Scarlesia padanya tergolong aneh, biasanya Scarlesia tidak pernah melakukan hal semacam ini padanya.
“Maaf maaf, aku tidak sadar,” Scarlesia melepaskan Cici. “Apa yang ingin kau laporkan?” lanjut Scarlesia bertanya.
“Raja memerintahkan saya untuk melaporkan masalah ini pada anda Yang Mulia bahwa yang memberikan pedang terkutuk itu pada Abigail adalah Duchess Debora. Saat ini raja tengah menyelidiki Duchess Debora, karena itu anda tolong berhati-hati pada wanita itu Yang Mulia,” lapor Cici.
“Duchess Debora? Jadi dia adalah pendukungnya Abigail? Baiklah, terima kasih. Sampaikan pada Kitty untuk jangan bekerja terlalu keras. Suruh dia pulang kemari sebab aku sudah menyiapkan untuknya daging yang banyak,” pesan Scarlesia.
“Baik Yang Mulia, saya pergi dulu. Nanti saya akan kembali lagi jika ada hal penting lainnya,” ujar Cici mengepakkan sayangnya dan kembali melaksanakan misinya.
Scarlesia melambai-lambaikan tangannya pada Cici yang sudah sangat jauh terbangnya, ia lupa sejenak bahwa masih ada pria-prianya di kamarnya.
“Apa yang dikatakan oleh Cici?” tanya Oliver.
“Celaka! Aku lupa kalau mereka masih ada di sini. Ya sudahlah, aku harus tetap bersikap tenang agar tidak terlihat mencurigakan,” batin Scarlesia.
Scarlesia membalikkan badannya dan berhadapan dengan mereka semua, ia mendehem sebelum memberitahu masalahnya pada mereka.
__ADS_1
“Cici melaporkan padaku kalau yang memberikan pedang terkutuk itu pada Abigail adalah Duchess Debora. Aku tidak tahu pasti apa motif tersembunyinya sampai harus memberikan pedang terkutuk itu pada Abigail tapi yang pasti dia adalah pendukung terkuat yang dimiliki oleh Abigail,” jelas Scarlesia serius.
“Aku dengar Duchess Debora dan Duchess Freya sudah lama bermusuhan, mereka sejak dulu selalu bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain,” kata Zenon.
“Ya, aku juga dengar begitu. Sepertinya ini akan menjadi lebih rumit,”
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Scarlesia, Hana bersegera membukakan pintunya untuk mengecek siapakah gerangan yang berada di luar. Ternyata yang datang adalah seorang pelayan, Hana pun berbicara dengan pelayan tersebut.
“Yang Mulia, pelayan itu mengatakan kalau Duchess Debora datang ingin bertemu dan berbicara dengan anda,”
Scarlesia menyeringai, baru saja mereka membicarakannya dia datang dengan sendirinya tanpa mesti dijemput.
“Baiklah, aku akan segera menemuinya,”
Scarlesia segera bersiap-siap, dia mengganti piyamanya dengan gaun yang sederhana. Ia didampingin oleh Erin dan Hana saat pergi menemui Duchess Debora yang sudah menunggunya di taman istana.
“Halo Duchess,” sapa Scarlesia.
Duchess Debora terkesima melihat sosok Scarlesia bak seorang dewi, ia tercengang selama beberapa detik sebelum ia membalas sapaannya.
“Salam kepada Yang Mulia Putri Scarlesia,”
“Apa dia sungguh manusia? Bagaimana manusia memiliki kecantikan di luar nalar seperti ini? aku hanya pernah mendengar bahwa dia sangat cantik tapi aku baru pertama kali bertemu dengannya secara langsung. Tapi aku tidak boleh terbuai oleh kecantikannya, aku harus ingat tujuanku sejak awal,” pikir Duchess Debora menegakkan tubuhnya lalu kembali ke tempat duduknya.
“Hmm dia sungguh berdiri dan duduk seenaknya tanpa perintah dariku. Nampaknya dia meremehkanku,” batin Scarlesia.
Scarlesia ikut duduk, dia tidak ingin terlalu mempermasalahkannya tapi berbeda halnya dengan Erin dan Hana yang kesal karena sikap Duchess Debora terkesan meremehkan serta tidak menghormati Scarlesia.
“Ada apa anda menemui saya duchess?” tanya Scarlesia to the point.
“Saya hanya ingin melihat wajah kandidat putri mahkota yang sudah menang dua kali berturut-turut dari Putri Abigail,” tuturnya.
“Haha itu bukan apa-apa, justru saya heran pada anda yang memihak pada sampah daripada berlian. Sebenarnya apa yang anda pikirkan? Apakah anda buta atau memang ada yang anda incar?” sindir Scarlesia tersenyum miring dan menatap tajam Duchess Debora.
Sekilas Duchess Debora terlihat kaget, tapi ia segera memperbaiki ekspresi kagetnya supaya Scarlesia tidak mengetahui motifnya yang sebenarnya.
__ADS_1
“Malah saya yang heran pada anda Yang Mulia, kenapa orang luar seperti anda merasa tidak malu untuk menjabat menjadi kaisar di Evariste? Seharusnya anda tahu bahwa Ayah anda bukan berasal dari Evariste lalu Ibu anda melarikan diri dan menghilang selama lebih dari 20 tahun,”