
“Xeon harus merawatku sampai aku sembuh,” pinta Scarlesia memasang mimik sumringah.
“Memangnya kau sedang sakit? Aku lihat kau sekarang sehat bugar.”
Scarlesia langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh badannya, tidak lupa pula ia pura-pura batuk biar Xeon percaya kalau dia sedang sakit. Melihat tingkah Scarlesia, Xeon hanya bisa menghela napas sebab dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Scarlesia.
“Jangan pura-pura sakit kau, bukannya ada dewi penyembuhan di sini? Harusnya beliau bisa menyembuhkanmu. Jangan membuatku semakin kesal, aku akan pergi dari sini sekarang juga. Yang penting aku sudah minta maaf padamu, jadi urusan kita selesai sampai di sini.”
Xeon memutar bola mata malas, ia segera berbalik badan lalu berniat pergi dari kamar Scarlesia karena dia tidak mau berlama-lama melihat Scarlesia. Kemudian Scarlesia melempar selimutnya, kaki mungilnya melompat turun dari ranjang tempat tidur. Tangannya berusaha menggapai tangan Xeon untuk menghentikan langkah Xeon supaya tidak keluar dari kamarnya.
“Kalau begitu aku akan mengadukan kepada Yang Mulia kalau kemarin Xeon mendorongku hingga tenggelam di danau. Padahal aku sedang sakit, tapi Xeon tidak mau bertanggung jawab, nyatanya seorang pria itu harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Kenapa Xeon tidak mau bertanggung jawab? Apa Xeon bukan pria?” Scarlesia meracau sekalian mengancam Xeon mengadukannya kepada dewa pencipta.
Kedua telinga Xeon mendadak terasa panas akibat ocehan Scarlesia menyebabkan darahnya mendidih. Tangan Xeon mengepal erat hingga kubu jarinya memutih, dia ingin memarahi dan membentak Scarlesia, namun dirinya tertahan oleh ancaman yang dilontarkan Scarlesia kepadanya.
“Hei bocah! Kau sengaja ya membuatku marah?” tekan Xeon memelototi Scarlesia.
Scarlesia melipat kedua tangannya di dada, bukannya merasa takut malah dia berasa ditantang oleh Xeon. Sepasang mata emas itu berbalik memelototi Xeon, dia tidak suka ditekan seperti ini apalagi dipelototi oleh Xeon.
“Aku tidak membuatmu marah, seharusnya Xeon mengerti. Kan Xeon bilang kalau kamu sudah dewasa, jadi apa sekarang sikap seperti ini mencerminkan kedewasaan?” balas Scarlesia membuat Xeon skakmat.
“Sial! Apa bocah ini sungguh anak berusia 5 tahun? Kenapa dia lebih pintar berbicara dari aku?” batin Xeon jengkel.
“Baiklah baiklah, aku mengaku kalah. Aku akan merawatmu mulai sekarang,” pasrah Xeon.
Scarlesia melompat riang sesaat Xeon menyetujui permintaannya, satu-satunya dewa yang tidak pernah dekat dengannya selama ini hanyalah Xeon. Dia selalu ingin berbicara dengan Xeon tapi dia selalu dihindari oleh Xeon. Awalnya dia berkecil hati sebab Xeon terlihat tidak menyukainya, tapi kini dia berhasil mengikat Xeon di sisinya.
Selepas kesepakatan mereka, mulai hari itu Xeon terus berada di samping Scarlesia. Dia menemani Scarlesia kemana saja dia pergi, Xeon juga mengurus segala keperluan Scarlesia. Dari raut wajah Xeon tersirat rasa kesal, jengkel, dan marah yang berkecamuk serta campur aduk menjadi satu. Akhiranya penghuni istana langit berpikir bahwa Xeon mulai membuka hatinya kepada gadis kecil yang bahkan sejak awal tidak sudi untuk ia ajak bicara.
__ADS_1
“Xeon, tolong ambilkan aku minum,” perintah Scarlesia.
Xeon langsung beranjak mengambilkan segelas air putih untuk Scarlesia, dia menyerahkannya gelas itu dengan ekspresi cemberut.
“Iiihh bukan air putih, aku mintanya jus jeruk,” protes Scarlesia.
“Bukannya kau meminta air putih? Kau tidak mengatakan padaku kalau kau ingin jus. Minum saja air putih ini, aku lelah bolak balik ke dapur. Fungsi jus dengan air putih sama saja, sama-sama mengurangi dahaga. Kalau kau protes, lebih baik kau berjalan sendiri ke dapur,” ketus Xeon.
“Aku mau jus! Aku tidak mau air putih!” rajuk Scarlesia. Keningnya berkerut kesal, bibirnya cemberut sembari memalingkan wajahnya dari Xeon.
“Oke, aku akan ambilkan kau jus! Jadi, berhentilah merajuk.” Dengan perasaan terpaksa, Xeon pergi ke dapur untuk mengambilkan jus jeruk sesuai keinginan Scarlesia.
“Sabar, aku harus sabar menghadapi bocah menyebalkan itu. Ahh astaga! Aku sungguh ingin menyumpal mulut kecilnya biar tidak memerintahku sembarangan,” gerutu Xeon di dalam hati.
Sekembalinya Xeon dari dapur membawakan jus jeruk, ekspresi muka Scarlesia langsung berubah. Xeon menyodorkan segelas jus jeruk pada Scarlesia dengan perasaan tidak ikhlas, meski begitu Scarlesia tetap menerimanya dengan senang hati.
“Xeon, gendong aku. Aku mau pergi ke tempat dewa pencipta,” pinta Scarlesia.
“Tidak boleh begitu Xeon, kan Xeon sudah berjanji akan merawatku. Jadi ini adalah bagian dari merawat.”
Sekali lagi Xeon tidak bisa mengelak dari perkataan Scarlesia, yang diucapkan oleh balita tersebut memang benar adanya. Mengantarnya atau menggendongnya ke tempat dewa pencipta adalah salah satu bentuk merawat Scarlesia.
“Ya sudah, aku akan menggendongmu dan mengantarmu ke tempat Yang Mulia.”
Xeon mengangkat tubuh Scarlesia, ia menggendongnya layak anak kecil lainnya. Letak istana dewa pencipta tidak jauh dari kamar Scarlesia sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk berjalan ke sana. Kebetulan sekali, Eberly tengah berkumpul dengan dewa dan dewi, mereka serentak melihat ke arah Scarlesia datang bersama Xeon.
“Xeon, sepertinya kau cocok menjadi seorang Ayah,” ledek Lydon.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya mengantarkan Sia kemari. Dia bilang ingin bertemu dengan Yang Mulia,” ujar Xeon menurunkan Scarlesia dari gendongannya.
“Ada apa Sia? Kemarilah.” Eberly tampak bahagia ketika berjumpa dengan Scarlesia.
Scarlesia berlari menuju tempat Eberly, lalu Eberly mengangkat Scarlesia dan menaruhnya di pangkuannya.
“Bagaimana kabar anda Yang Mulia? Apa anda bahagia hari ini?” tanya Scarlesia.
Terlihat sangat menggemaskan, Eberly tidak kuat menahan diri dari kegemasan yang dipancarkan oleh Scarlesia.
“Bagaimana aku bisa menciptakan makhluk menggemaskan seperti ini?” pikir Eberly.
“Kabar baik, aku selalu bahagia jika Sia sering-sering menemuiku kemari,” jawab Eberly.
“Kalau begitu mulai sekarang Sia akan menemui Yang Mulia setiap hari bersama Xeon,” ucap Scarlesia seraya menampakkan senyum lebarnya.
“Aku? Aku tidak bilang akan pergi bersamamu, dan aku tidak mau berlama-lama denganmu,” sanggah Xeon menekan nada bicaranya.
“Beraninya kau berbicara seperti itu pada Sia, seharusnya kau terima saja dan setuju membawa Sia kemari setiap hari,” kata Fritz.
“Sepertinya kalian berdua mulai dekat ya. Baiklah, Xeon mulai hari ini kau harus membawa Sia setiap hari kemari. Ini adalah perintah dan kau tidak boleh menolaknya,” titah Eberly serius.
“Baiklah Yang Mulia, akan saya lakukan.”
Dengan berat hati, Xeon harus menerima perintah merepotkan ini dari dewa pencipta. Perintah dewa pencipta mutlak dan tidak bisa diganggu gugat ataupun ditolak. Scarlesia riang di saat Eberly memberikan perintah kepada Xeon untuk membawanya ke istana Eberly setiap hari, itu artinya dia akan semakin dekat dengan Xeon.
“Yang Mulia,” panggil Scarlesia.
__ADS_1
“Ya? Kenapa Sia?”
“Bolehkah Sia menikah dengan Xeon?”