Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Berubah Menjadi Anak kecil


__ADS_3

“Cahaya apa itu barusan? Kau mengajakku bercanda kah?” Scarlesia mengucek matanya yang terkena silauan cahaya.


“A-apa? J-jadi sungguh tidak mempan? Benda sampah ini tidak berguna sama sekali!” gerutu Nieva menghempaskan benda tersebut ke lantai.


“Apa kau benar-benar berniat membunuhku? Seharusnya kau memakai pedang dan menyerangku secara langsung. Bisa-bisanya kau menggunakan benda kecil itu untuk membunuhku,” ujar Scarlesia dengan nada bicara meremehkan.


Nieva menggeram kesal di hatinya, ia menggertakkan giginya menatap Scarlesia yang selalu saja mencoba meremehkannya.


“Haha dasar wanita murahan!” hardik Nieva.


“Apa yang kau katakan?”


“KAU WANITA MURAHAN! WANITA MACAM APA YANG MEMILIKI BANYAK PRIA DI SISINYA,” ulang Nieva dengan suara lantang.


Scarlesia menatap nanar Nieva, ia menyerngitkan keningnya.


“Sepertinya kau semakin bodoh saja kian hari. Aku tidak menyangka putra mahkota akan menjadikan wanita bodoh sepertimu ini sebagai permaisuri,” hina Scarlesia.


“Beraninya kau menghinaku! Akan aku…”


Plakkk


Nieva hendak menyentuh wajah Scarlesia dan berniat ingin memukulinya tapi Scarlesia menampik kuat tangan Nieva hingga membuat punggung tangannya memar.


“Arhhh tanganku, aku akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu ketika aku menjadi permaisuri nanti. Awas saja aku tidak akan membiarkanmu lolos!” ancam Nieva berbalik pergi meninggalkan Scarlesia.


“Eiitss tunggu dulu. Siapa yang mengizinkanmu pergi?” cegat Scarlesia menahan pundak Nieva.


“Apa lagi yang kau inginkan?”


“Aku ingin memberimu hadiah sebelum kau berangkat ke istana besok,” ucap Scarlesia tersenyum jahat.


Plakk! Plakk! Plakk! Plakk!


Scarlesia menampar pipi Nieva sebanyak empat kali secara bergantian, dia terlihat puas menyiksa Nieva seperti ini.


“Nah sekarang kau sudah boleh kembali ke kamarmu. Jangan terlalu lama duduk di lantai, nanti kau bisa sakit jika terlalu lama duduk di tempat dingin,” ujar Scarlesia pada Nieva yang terduduk lemas di atas lantai. Dia berlalu pergi menuju kamarnya bersiap untuk tidur


Wajah Nieva dibuat bengkak oleh Scarlesia, tamparan yang dia berikan sangat kuat hingga meninggalkan bekas di wajah Nieva.

__ADS_1


“Aku akan membalasnya! Lihat saja nanti, akan aku buat dia menyesal karena sudah berani menghinaku. Aku akan menjadi permaisuri, semuanya akan menuruti perintahku,” batin Nieva tersenyum kejam.


Di pagi harinya, Scarlesia terbangun saat sinar mentari menembus masuk kamarnya melalui jendelanya.


“Sudah pagi ternyata,” ucapnya membuka matanya.


“Ehh kenapa suaraku berubah? KYAAAAAA KENAPA TANGANKU JADI KECIL?” teriaknya begitu melihat tangannya berubah seperti tangan anak kecil.


“NONA! ADA APA??”


Erin dan Hana terkejut mendengar suara teriakan dari kamar Scarlesia, mereka berdua langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya. Mata mereka membuat sempurna saat melihat Scarlesia.


“N-n-nona… K-k-kenapa anda b-berubah menjadi anak kecil?” tanya Hana.


“Anak kecil? Apa yang kalian bicarakan?”


Scarlesia turun dari tempat tidurnya, tubuhnya yang berubah menjadi kecil membuatnya kesusahan untuk turun. Scarlesia berlari ke cermin riasnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sendiri. Dari pantulan cermin, ia melihat dirinya berubah menjadi anak berumur 5 tahun, tidak ada hal yang lebih mengejutkan lagi dari hal ini.


“KYYAAAAAAAA! INI TIDAK MUNGKIN!!”


Suara pekikan Scarlesia menggema ke penjuru Paviliun Kirin, ia tidak percaya sama sekali dengan dirinya berubah menjadi seorang anak kecil berumur 5 tahun. Scarlesia histeris melihat pantulan dirinya di dalam cermin riasnya.


Carlen dan Aldert datang di waktu yang bersamaan, mereka ingin menemui Scarlesia di paviliunnya tapi ketika mereka berada di depan mereka mendengar suara teriakan Scarlesia.


“Kakak…”


“S-S-SIAAAAAA!!!!”


Mereka shock karena Scarlesia yang berubah menjadi anak kecil, mereka kehilangan kata-katanya melihat sang adik berubah jadi kecil dan menggemaskan. Pipinya yang gembul, tangan dan kaki yang mungil, betapa imutnya Scarlesia dimana kakaknya sekarang.


Tuing


Aldert menyentuh pipi Scarlesia, saat ini mereka sedang berada di ruang kerjanya Eldrick. Saat mereka melihat wujud Scarlesia yang berupa anak kecil, Carlen dan Aldert langsung melarikannya ke ruang kerja sang Ayah. Scarlesia kini tengah dipangku oleh Carlen, sejak tadi mereka berdua tidak berhenti menyentuh pipi adik perempuannya.


“Jadi, saat bangun tidur tubuhmu sudah berubah menjadi anak kecil?” tanya Eldrick.


Scarlesia menganggukkan kepalanya.


“Apa mungkin ini karena sihir? Hei Aldert kau kan banyak tahu tentang sihir, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Carlen pada Aldert.

__ADS_1


“Aku tidak tahu jenis sihir apa yang membuat Sia seperti ini tapi yang jelas ini bukan sihir biasa. Aku harus meneliti semuanya dari awal,” jawab Aldert.


“Hmm begitu ya,”


“Sekarang giliranku yang memangkunya! Cepat sini berikan Sia padaku,” pinta Aldert merebut Scarlesia dari pangkuan Carlen.


“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Carlen.


“Ganti-gantian lah, masa kau terus sejak tadi yang memangkunya bahkan kau menggendongnya dari paviliun sampai kemari,”


“Aku bilang tidak mau ya tidak mau!” kukuh Carlen.


“Kalian membuat Sia menjadi pusing. Sini biar aku saja yang memangkunya,”


Eldrick mengambil Scarlesia dari pangkuan Carlen agar mereka berdua berhenti meributkan hal sepele. Eldrick tampak senang memangku Scarlesia karena sudah lama sejak terakhir ia melakukannya, Scarlesia yang berada di pangkuan Eldrick saat ini hanya bisa berpasrah dengan apa yang dia alami sekarang.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?” pikirnya.


Beberapa saat kemudian, Scarlesia memanggil Oliver dan yang lainnya dari dunia cermin. Kini mereka sudah berada di hadapan Scarlesia, ia bermaksud untuk menanyakan mengenai sihir yang membuat dirinya seperti ini tapi sejak mereka keluar dari dunia cermin dan melihat tampilan Scarlesia berupa anak kecil justru membuat mereka senang.


“BERHENTILAH MENYENTUH PIPIKU!” bentak Scarlesia pada Zenon, Elios, dan Louis yang sejak tadi menyentuh pipinya sedangkan Andreas memangkunya.


“Kau lebih imut seperti ini,” ujar Zenon.


“Benar, jadi aku bisa menyaksikanmu tumbuh besar secara perlahan,” sambung Elios.


“Sia sangat imut, dengan begini aku bisa melihat wujudmu waktu kecil,” tambah Louis.


“Apa keberadaan mereka mengganggumu Sia? Apa perlu aku tebas saja mereka ini?” tanya Andreas.


“Tidak Andreas. Tidak perlu sampai seperti itu,” larang Scarlesia. “Ehh Xeon mana?” lanjutnya bertanya yang baru menyadari tidak ada Xeon.


“Dia pergi ke istana langit dari kemarin dan belum kembali hingga sekarang. Katanya ada yang perlu dia urus di sana,” jawab Louis.


“Hmm lalu Oliver kenapa kau diam saja menatapku seperti itu? Apa kau tidak tahu apa-apa mengenai sihir ini?” tanya Scarlesia pada Oliver yang menatapnya dengan perasaan menggemaskan.


“Tidak, kau sangat imut jadi aku tidak bisa berbicara denganmu. Keimutanmu tidak aman untuk jantungku,” kata Oliver memalingkan wajahnya agar tidak menatap wajah Scarlesia terlalu lama.


“Ada apa dengan kalian semua? Apa kalian tidak berniat untuk membantuku??!”

__ADS_1


“Bukan begitu tapi… Ehh tunggu dulu. Sia, dari mana kau mendapatkan benda ini?”


__ADS_2