
Di kala Scarlesia tengah menenangkan Elios, Xeon bersama yang lainnya menyusuli Scarlesia karena mereka mendengar suara teriakan Elios. Sampai sekarang Elios masih belum melepaskan pelukannya, dia masih merasa sedih dan tidak bisa mempercayai kemusnahan klannya. Kini tinggal dia seorang yang berasal dari iblis putih, baru dua hari yang lalu ia mengunjungi klannya tapi hari ini dia dipaksa menerima kepahitan hidup.
“Hei Elios, apa kau akan terus seperti itu? Kita masih belum mengetahui siapa pembunuh klanmu. Seharusnya kau bisa lebih tegar sedikit,” tegur Zenon.
Mendengar Zenon berbicara begitu, Elios spontan melepaskan dekapannya dan langsung berdiri di depan Zenon.
“Apa yang kau tahu? Kau hanyalah seekor naga yang tidak tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga!” bentak Elios memegangi kerah baju Zenon.
“Hahh? Aku memang tidak tahu rasanya punya keluarga karena sejak aku lahir, aku sudah ditinggal oleh orangtuaku. Mungkin aku tidak bisa memahami perasaanmu tapi apa kau tidak kasihan pada Sia? Tolong jangan buat keadaan lebih sulit lagi,” ujar Zenon hampir terpancing emosi.
Elios melepas cengkraman tangannya di kerah baju Zenon, dia berbalik dan melihat ekspresi Scarlesia turut sedih karena masalahnya. Perkataan Zenon benar, dia tidak boleh mempersulit keadaan Sia lagi. Saat ini musuh entah bersembunyi dimana, tidak ada yang mengetahuinya. Sia memberi tatapan sendu pada Elios, jujur melihat Elios yang bersedih membuat hatinya ikut teriris.
Di sela itu semua, seekor kupu-kupu terbang ke arah Scarlesia lalu hinggap di tangannya.
“Yang Mulia, saya tahu siapa yang membunuh klan iblis putih,” ucap kupu-kupu tersebut.
“Kau tahu? Bisakah kau katakan sekarang siapa dalangnya?” tanya Scarlesia.
“Seorang pria berseruling Yang Mulia, pria itu memainkan serulingnya dan seakan suara serulingnya bisa mengendalikan seluruh klan iblis putih untuk saling membunuh,” jawab si kupu-kupu.
“Apa? Pria berseruling? Apa kau yakin itu?” tanya Scarlesia sekali lagi untuk memastikan.
“Benar Yang Mulia, saya yakin karena tidak hanya saya saja yang melihatnya, teman-teman saya yang lain juga ikut menyaksikannya,”
“Oke, terima kasih atas infonya,”
Scarlesia membeku, dia tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Dalangnya sama dengan orang yang kala itu mengendalikan laut, ini semakin membuatnya bertanya-tanya di dalam kebingungannya sendiri. Bahkan beberapa waktu lalu dia berpikir bahwa Cyrill lah pria berseruling tersebut tapi sepertinya dugaannya salah besar.
“Ada apa? Apa yang dikatakan oleh kupu-kupu itu?” tanya Louis membuyarkan lamunannya.
“Pria berseruling… dalangnya adalaah pria berseruling.”
__ADS_1
“PRIA BERSERULING?”
Scarlesia menganggukkan kepalanya pelan, dia meletakkan jemari telujuknya di dagunya untuk membawanya masuk ke alam pikirannya sendiri. Scarlesia melirik Xeon, tingkah Xeon aneh seketika ia mengatakan dalang pembunuhan itu.
“Xeon, apa kau tahu tentang pria berseruling itu?” Scarlesia bertanya asal-asalan, dia berspekulasi bahwa Xeon mengetahui sesuatu mengenai pria tersebut. Mendengar pertanyaan Scarlesia, Xeon cukup terlonjak kaget dan segera mengubah ekspresi keterkejutannya.
“T-tidak, aku tidak tahu.” Xeon gugup saat menjawabnya, melihat tingkah Xeon yang seperti ini semakin membuat Scarlesia mencurigainya.
“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” curiga Scarlesia.
“Aku tidak menyembunyikan apapun darimu,” elak Xeon.
“Sungguh kau tidak menyembunyikan apapun dariku? Kau….”
“Apa kau sedang mencari tahu tentangku?”
Seorang pria datang menyela pembicaraan mereka, Scarlesia refleks menengok siapa gerangan yang datang. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang pria berwajah mirip dengan Xeon, pria itu berjalan untuk mendekati Scarlesia, namun Xeon langsung menghadang di depan Scarlesia.
“Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Sia!” tegas Xeon mengerutkan keningnya dan menatap sangar pria tersebut.
“Kau tidak pernah berubah ya, kakak,”
“KAKAK??!”
Mereka terpelongo kaget mendengar pria itu memanggil Xeon dengan panggilan ‘kakak’. Sebuah kejutan besar menyerang mereka secara bersamaan, rasanya itu benar adanya sebab pria itu sungguh terlihat seperti anak kembar bila disandingkan dengan Xeon. Hanya tinggi badan saja yang membedakan mereka, Xeon sedikit lebih dari pria itu.
“Kakak? Kenapa kau memanggil Xeon kakak?” celetuk Scarlesia.
“Dia memang kakakku, benar kan kak? Aku adalah adikmu,” ucap pria itu.
Scarlesia menatap Xeon meminta penjelasan lebih lanjut mengenai pertanyaan yang dia lontarkan. Namun, Xeon hanya diam tanpa menyangkalnya dan ini membuat Scarlesia yakin bahwa pria itu memang benar adiknya Xeon.
__ADS_1
“Maaf Sia, nanti aku akan menjelaskannya padamu,” tutur Xeon.
“Aduh, kenapa harus nanti? Sekarang saja jelaskan padanya. Perkenalkan, namaku Aaron yaitu adik kandung dari dewa takdir, Xeon,” kata pria bernama Aaron itu.
“CUKUP! APA YANG KAU INGIN LAKUKAN SEKARANG?!” teriak Xeon dengan amarah.
“Jangan marah begitulah kak, kita sudah lama tidak bertemu bukan? Apa kau tidak rindu dengan adikmu satu-satunya?”
Xeon mengepalkan kedua tangannya, giginya menggertak geram karena ulah Aaron. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua sehingga membuat hubungan keduanya retak terlalu parah. Sekilas bila dilihat dari hubungan mereka sekarang, ada sebuah cerita yang tersimpan di baliknya.
“Jangan panggil aku kakak! Aku sudah lama tidak pernah menganggapmu sebagai adikku,” tekan Xeon.
“Tapi aku masih menganggapmu sebagai kakakku, aku tidak akan pernah lupa bagaimana kau bisa mendapatkan posisi sebagai dewa takdir. Padahal sebetulnya aku yang harus berada di posisi itu,”
Ucapan Aaron menyulut emosi Xeon, tapi Scarlesia menggandeng tanga Xeon untuk menekan amarahnya agar tidak melonjak lebih tinggi lagi. Scarlesia tidak ingin Xeon sampai meledak hanya karena beberapa kata yang diucapkan oleh Aaron pada dirinya.
“Dewa pencipta yang memilihku sebagai dewa takdir, kenapa kau tidak bisa menerimanya?”
“BOHONG! SUDAH JELAS AKU YANG LEBIH KUAT DARIMU. MENGAPA KAU YANG DIPILIH DAN BUKANNYA AKU?” bentak Aaron marah.
“Kau bodoh ya? Dewa pencipta memilihku karena aku yang lebih pantas mengemban posisi tersebut dibanding kau,” balas Xeon menyorot tajam mata Aaron.
“Haha terserah kau saja, sekarang aku tidak memerlukan posisi itu lagi. Aku berada di pihak dewa kegelapan, jadi aku pasti akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi nantinya,”
“Lalu sekarang apa maumu? Kenapa kau datang kemari?” tanya Xeon memasang mata penuh waspada.
“Soalnya aku ingin bertemu lagi dengan Sia, si gadis cantik yang begitu dicintai oleh kakakku,”
Xeon, Andreas, Archie, beserta mereka semua langsung melindungi Scarlesia di belakang tubuh mereka. Aaron kian membawa hawa membahayakan untuk mereka, dia lebih berbahaya daripada Cyrill.
“Santai santai, kalian tidak perlu seperti itu padaku. Aku hanya datang melakukan beberapa pekerjaan di sini dan memastikan apakah pekerjaan itu sudah beres atau belum sekalian aku ingin melihat Sia lagi sebab sebelumnya kita juga pernah bertemu kan Sia?”
__ADS_1
“Pernah bertemu? Jangan bilang kau….”