
“AKU TANYA SIAPA YANG MEMASAK NASI GORENG INI?”
Hening, tidak ada satupun orang yang berani bersuara di ruang makan saat ini termasuk Eldrick dan Carlen tanpa mereka tahu apa alasan Scarlesia marah.
“Sia, kenapa? Ada masalah apa?” tanya Carlen membuka suara.
“Tidak bisakah anda lihat di dalam nasi gorengnya ada apa? Di nasi gorengnya ada udang seharusnya semua orang di mansion ini tahu bahwa saya alergi udang,”
Carlen langsung memeriksa dan mencicipi sedikit nasi gorengnya apakah benar yang dikatakan oleh Scarlesia atau tidak.
“Bagaimana wanita gila ini mengetahuinya? Padahal udangnya dicincang sangat kecil bahkan aku saja tidak bisa melihat udangnya,” batin Zaneta tidak berani menatap Scarlesia.
“Benar, di dalamnya ada udang walaupun sudah dicincang kecil-kecil tapi kalau dimakan jadi kentara rasa udangnya,” ujar Carlen.
“Siapa yang membuat nasi goreng ini? Bisakah kalian katakan padaku?” tanya Eldrick berusaha menahan emosinya sekarang.
“I-itu koki baru,” jawab salah seorang pelayan yang menunduk ketakutan.
Praangggg
Scarlesia melempar nasi gorengnya, serpihan kaca pun berserakan di atas lantai.
“Ternyata ada yang berani membunuhku ya di mansion ini,” ucapnya beranjak dari tempat duduknya lalu dia mengambil salah satu pecahan kacanya.
“Kenapa tidak membunuhku secara langsung saja? Berani sekali mengotori makanan hanya untuk membunuhku. Misalnya bunuh aku dengan serpihan kaca ini,”
Scarlesia nekat menyayat telapak tangan kirinya dengan serpihan kaca tersebut dan menimbulkan kehebohan di ruang makan.
“APA YANG KAU LAKUKAN SIA??” teriak Eldrick dan Carlen serentak.
“KYAAA NONAAAA!!!” pekik para pelayan ikut memecahkan isi ruangan.
Darah bercucuran keluar dari tangannya dan menitik ke lantai putih. Zaneta terlihat shock melihat tingkah Scarlesia yang gila, begitu pun Eldrick dan Carlen yang menahan Scarlesia agar tidak menyayat tangannya lagi.
“LEPASKAN TANGANKU!”
Scarlesia berontak meminta tangannya dilepaskan namun genggaman Eldrick dan Carlen semakin mengencang.
“Kalian pikir aku akan mati hanya karena satu sayatan ini? Hatiku lebih sakit dibandingkan luka ini. Apakah kehadiranku tidak diharapkan di sini? Padahal aku hanya ingin makan, minum, dan tidur dengan tenang tapi kenapa? Kenapa susah sekali?”
Perkataannya menyimpan rasa sakit tak terhingga, Eldrick dan Carlen melepaskan kedua tangan Scarlesia.
“Bukan begitu…”
“Berhentilah bersikap baik padaku! Kalian membuat hatiku semakin hancur. Selama ini kalian mengabaikanku jadi tolong abaikan aku seperti biasa lagi. Jangan membuatku salah sangka, jangan membuatku terus berharap, aku sudah cukup menderita dalam waktu yang lama. Aku hanya seorang gadis berusia 17 tahun jadi aku mohon kalau mau membunuhku langsung saja hunuskan pedang ke tubuhku, aku tidak keberatan untuk itu,”
Emosi Scarlesia tidak stabil, air matanya perlahan turun membasahi kedua pipinya. Darahnya tidak berhenti menetes, Carlen mengambil sapu tangannya untuk menghentikan pendarahannya namun tangan Carlen malah ditampik oleh Scarlesia.
“Jangan sok peduli denganku,” bentaknya memberi tatapan tajam.
Scarlesia pun keluar dari ruang makan yang suasananya sangat menegang itu, bahkan setelah Scarlesia keluar pun keheningan masih berlanjut.
__ADS_1
“Oke, aktingnya sudah selesai,” gumam Scarlesia mengusap air matanya. “Aku harap setelah ini mereka berdua mau menjelaskan padaku kenapa mereka mengabaikan Scarlesia dulunya dan bersikap baik padaku sekarang,” lanjutnya bergumam.
“Nah sekarang saatnya kita eksekusi dapur,” seringainya.
Scarlesia berjalan menuju dapur dengan kondisi tangan yang masih terluka. Darahnya menetes meninggalkan noda di setiap ubin yang dilaluinya.
“Sia!!!” panggil Andreas yang tidak sengaja berselisih jalan dengan Scarlesia.
“Oh Andreas! Kemarilah,”
Andreas berlari ke tempat Scarlesia, ia terlihat senang melihat Scarlesia. Tapi, Andreas tiba-tiba panik saat melihat tangan kiri Scarlesia berdarah.
“Sia, tanganmu!”
“Tidak apa-apa, ini hanya tergores sedikit. Ngomong-ngomong kau habis darimana?” tanya Scarlesia menyembunyikan tangannya ke belakang.
“Dari tempat latihan, ayo aku obati dulu lukamu,”
Andreas menarik tangan Scarlesia.
“Kita mau kemana?”
“Ke kamarku,”
“Ehh? K-k-kenapa ke kamarmu?”
“Karena kamarku yang paling dekat dari sini, apakah kau pikir kita akan melakukan sesuatu yang lain?” terka Andreas
Sesampainya di kamar, Andreas mengobati luka Sia dengan super hati-hati dan lembut.
“Andreas, kau kan vampir apakah vampir tidak meminum darah manusia?” tanya Scarlesia penasaran.
“Klan vampir sudah bisa bertahan tanpa meminum darah manusia, kami bisa melebur dengan manusia lainnya,” jelas Andreas.
“Lalu apakah vampir tidak takut dengan sinar matahari?” tanyanya sekali lagi.
“Pffttt hahaha, darimana kau tahu hal semacam itu?” kekeh Andreas membuat Scarlesia malu.
“Aku kan hanya bertanya,” ucapnya mengerucutkan bibirnya.
“Tidak, seperti yang kau lihat vampir tidak takut dengan matahari,”
Scarlesia mengangguk mengerti.
“Berarti apa yang ditayangkan di dalam film itu semuanya tidak benar,” pikirnya.
“Sudah selesai. Setelah ini kau harus lebih berhati-hati lagi ya,” ujar Andreas mengecup tangan Scarlesia.
“A-a-apa yang kau lakukan?”
Scarlesia menarik tangannya, dia terlihat malu setengah mati. Dia memalingkan wajahnya yang merah itu agar tidak tampak oleh Andreas.
__ADS_1
“Aku hanya mengecupnya agar lukanya cepat sembuh,”
“Apa? Darimana kamu belajar seperti itu? Sudahlah aku mau ke kamar dulu,” pamit Scarlesia langsung beranjak pergi.
“Apakah perlu aku antar?”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,”
Scarlesia berjalan menuju kamarnya dengan perasaan malu, dia menepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya.
“Sadarlah! Padahal dulu aku sering diperlakukan seperti itu oleh pria lain, tapi kenapa kalau Andreas yang melakukannya aku malah jadi seperti ini?”
Ia jadi tidak fokus pada jalannya dan akhirnya keningnya terbentur ke tiang.
“Aduhhh kenapa bisa ada tiang di sini?”
Dia meringis kesakitan dan mengelus-elus keningnya agar tidak sakit lagi.
“Nona! Sedang apa anda di sana?” tanya Hana yang tidak sengaja lewat.
“Hana! Kenapa kau bisa di sini?” tanya Scarlesia balik.
“Hmm itu…”
Hana ragu mau menjawabnya tapi sepertinya Scarlesia tahu apa jawabannya.
“Aku tahu! Kau punya pacar kan?” tebak Scarlesia.
“Tidak, saya tidak punya pacar,” elaknya dengan muka merah.
“Ayo ngaku pasti punya kan?”
Hana menutup wajahnya karena malu.
“I-iya, tapi Nona jangan beritahu siapa-siapa ya,”
“Iya, tenang saja. Siapa namanya? Apa dia tampan? Apa pekerjaannya? Dia baik tidak? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” cecar Scarlesia memojokkan Hana dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“N-nona….”
“Baiklah baiklah, aku tidak akan bertanya lagi padamu. Tapi lain kali kau harus kenalkan dia padaku,”
“Baik Nona,”
Hana pun mengantarkan Scarlesia ke kamarnya, tanpa ia sadari ada hal penting yang dia lupakan. Hingga tengah malam dia baru ingat dengan tujuannya ingin mengeksekusi dapur sebelumnya.
Kruyuukkk
Ini sudah jam 1 malam dan perutnya berbunyi karena sedari tadi dia belum memakan apapun. Akhirnya dia memutuskan untuk menyelinap ke dapur mencari beberapa makanan untuk mengganjal laparnya. Namun, ketika dia mengintip dari celah pintu lampu dapurnya masih menyala. Dia tidak tahu siapa yang masih bangun di jam seperti ini, ia pun masuk tanpa ragu-ragu untuk memeriksa siapa yang ada di dalam.
“Loh Allen?”
__ADS_1