Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Aldert Telah Kembali


__ADS_3

“HEHH APA YANG KALIAN LAKUKAN?” teriak Scarlesia segera menghampiri mereka.


“Kalau kau tidak mau menyerahkan paviliun ini padaku lebih baik aku hancurkan saja,”


Zaneta kali ini sudah sangat keterlaluan bahkan para ksatria yang dia bawa benar-benar mengikuti perintahnya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu mengenai apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Scarlesia tidak bisa menahannya lagi, dia sangat marah sekarang.


“Kau dibiarkan semakin melunjak ya, baiklah kali ini aku tidak akan menahan diri lagi,”


Scarlesia melangkah maju untuk melayangkan pukulannya pada Zaneta dan Nieva.


“Apa yang kalian tunggu? Cepat tahan wanita itu!” perintah Zaneta kepada para ksatrianya.


Para ksatria bergerak cepat bersiap untuk menahan Scarlesia agar tidak mendekat pada Zaneta dan Nieva. Mereka bahkan menggunakan pedangnya berniat untuk melukai Scarlesia, tapi pada saat mereka hendak menyerang Scarlesia tiba-tiba bola api menerjang mereka dan membuat tubuh mereka terpental jauh.


“Beraninya kalian para ksatria berniat melukai majikannya sendiri,”


Suara itu adalah milik Zenon, dia datang tepat bersama Andreas. Scarlesia melirik mereka berdua yang datang dari mansion, ia lega karena dia tidak harus melawan para ksatria ini seorang diri.


“Sia, kau urus saja dua wanita itu. Aku dan Andreas akan mengurus para ksatria kurang ajar ini,” ujar Zenon memainkan bola-bola api di tangannya.


“Baiklah, terima kasih,”


Zenon dan Andreas menyerang para ksatria dengan sangat cepat, sedangkan Scarlesia kini mendekati Zaneta serta Nieva yang berusaha menjauh darinya. Tatapan Scarlesia sangat mengintimidasi mereka berdua hingga membuat sekujur tubuhnya gemetar takut.


“J-jangan mendekat!” ucap Zaneta yang berjalan mundur.


“Apa kau sekarang takut padaku?”


Plaakkkk


Scarlesia menampar Zaneta sangat kuat, kemurkaan menguasai dirinya saat ini.


“Apa yang kau lakukan? Beraninya kau melayangkan tamparanmu pada Ibuku,” kata Nieva membentak Scarlesia.


“Ahh bagaimana ya? Sekarang aku sangat marah loh,”


Wajah Scarlesia saat ini tidak berekspresi sedikit pun, matanya yang biasanya bersinar sekarang tampak kosong dan hanya terpancar rasa amarah. Nada bicaranya juga terdengar berbeda, lembut namun tajam. Nieva menghalangi Scarlesia agar tidak mendekati Zaneta lebih jauh lagi, tapi Scarlesia malah mendorong kuat Nieva hingga membuatnya terhempas dan kesakitan di atas lantai lorong paviliun.


“NIEVA!”

__ADS_1


Zaneta ingin membantu Nieva tapi rambutnya ditarik oleh Scarlesia.


“Mau kemana kau? Aku masih marah sekarang jadi jangan mencoba kabur dariku,”


“AARRGHH LEPASKAN RAMBUTKU!”


Cengkraman tangan Scarlesia sangat kuat di rambut Zaneta, ini membuat Zaneta meringis kesakitan. Kemudian Scarlesia menghempaskan kepala Zaneta ke tembok, kepalanya terbentur dan berdarah. Belum cukup sampai di sana saja Scarlesia kembali mencengkram leher Zaneta. Dia mencekiknya lalu mengangkat tubuh Zaneta tinggi-tinggi.


“Sebaiknya kau aku bunuh saja karena jika aku biarkan kau hidup maka kau akan terus menjadi penghalang untukku,”


“Heukkk… uhukkk…”


Zaneta memukul-mukul tangan Scarlesia minta untuk dilepaskan namun Scarlesia malah memperkuat cengkramannya.


“Aku paling membenci orang sepertimu ini,”


Bruukkk


Pada saat Scarlesia menambah daya cengkramannya, tiba-tiba sebuah sihir menyerangnya sehingga membuat tubuhnya terpental ke dinding. Karena hantaman sihir tersebut Zaneta berhasil lolos dari kematian sedangkan Scarlesia menyemburkan banyak darah dari mulutnya akibat ia terpental terlalu kuat ke dinding.


“Kau sekarang benar-benar menjadi seorang pembunuh ya,”


Seorang pria baru saja datang, dia yang menyerang Scarlesia menggunakan sihir untuk menyelamatkan Zaneta yang hendak dibunuh oleh Scarlesia.


Ya, pria tersebut adalah Aldert yaitu kakak kedua dari Scarlesia. Rupanya tampan dan menyerupai Eldrick versi muda, mulai dari rambut, mata, hingga kulit mereka benar-benar serupa. Namun, Aldert memiliki kemampuan yang berbeda karena dia mempunyai kemampuan sihir yang sangat bagus. Dia baru muncul hari ini karena ia baru saja kembali dari medan perang.


“Nieva, bawa Ibu ke dalam dan panggilkan dokter untuk mengobati lukanya,” perintah Aldert pada Nieva.


“Sialan! Pria itu benar-benar membenci Sia, dia bahkan tega menyerangku dengan sihir,” batin Scarlesia mengusap darah yang keluar dari mulutnya.


“Setelah sekian lama aku tidak melihatmu, kau semakin ahli menjadi pembunuh ya,” ucap Aldert.


“Berhenti! Kalau kau melangkah lebih dekat dengan Sia aku akan menebas kepalamu!” gertak Andreas menodongkan pedangnya ke leher Aldert.


“SIAAA!!” Zenon menghampiri Scarlesia lalu merangkul tubuhnya. “Apakah kau baik-baik saja? Apa si sialan itu baru saja menggunakan sihir untuk melukaimu?” ucap Zenon geram dan marah melihat Scarlesia terluka oleh ulah Aldert.


“Hoho bahkan kau punya dua pria yang baik di sampingmu,”


“Aku bilang jangan…”

__ADS_1


“Sudah Andreas! Turunkan pedangmu, pria itu adalah kakakku,”


Andreas menyarungkan kembali pedangnya, meski dia ingin membunuh Aldert tapi tidak bisa dia lakukan karena Scarlesia melarangnya untuk itu.


“Sudah lama tidak bertemu ya tuan muda kedua,” sapa Scarlesia yang berusaha berdiri dengan dibantu oleh Zenon.


“Tuan muda kedua? Biasanya kau memanggilku ‘kakak’ tapi apa yang terjadi sekarang? Tampaknya kau semakin tidak waras ya,” ujar Aldert.


“Ya, sepertinya saya memang tidak waras. Apa hal itu membuat tuan muda tidak nyaman? Saya rasa tidak ya karena anda sendiri sangat membenci saya,” tekan Scarlesia memberi sorotan tajam pada Aldert.


“Apa dia sungguh Sia yang aku kenal? Apa-apaan tatapan matanya itu? Dia berubah menjadi orang yang sangat berbeda hanya dalam beberapa waktu,” batin Aldert.


“Hah tentu saja aku membencimu karena kau adalah pembunuh Ibuku! Jangan harap aku akan menyayangimu karena aku tidak menganggapmu sebagai adikku,”


Setelah mengatakan itu, Aldert pergi dari paviliun. Itu adalah kata-kata yang sering didengar oleh Scarlesia dulunya, kebencian Aldert lebih besar padanya. Berbeda dengan Eldrick dan Carlen yang mengabaikan Scarlesia, Aldert malah terang-terangan membenci Scarlesia. Dia selalu berteriak dan memanggil Scarlesia sebagai ‘pembunuh’ secara langsung.


“Sia, tidak bisakah aku membunuhnya? Padahal dia adalah kakakmu tapi dia memperlakukanmu seperti ini,” kata Zenon terlihat ikut tersakiti oleh Aldert.


“Tidak Zenon, aku sudah terbiasa diperlakukan buruk olehnya. Jadi, kau tidak usah mencari masalah dengannya,” kata Scarlesia.


“Baiklah Sia,”


Kemudian Andreas ikut membantu Zenon untuk segera membawa Scarlesia ke kamar berunya. Mereka membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, meski dari dalam tubuhnya sangat sakit tapi entah mengapa rasa sakitnya perlahan berkurang.


“Nona, apa yang terjadi di sini? K-kenapa pakaian dan mulut anda berdarah? Apakah Tuan Muda Aldert melakukan sesuatu yang buruk lagi pada anda?” tanya Erin yang baru saja sampai.


Pada saat sampai di lorong paviliun, Erin dan Hana kaget melihat lorong yang sangat berantakan. Mereka mempunyai firasat buruk soal ini dan langsung menemui Scarlesia di kamarnya.


“Jadi, ini bukan pertama kalinya kau diperlakukan buruk olehnya Sia?” tanya Zenon.


“Ya, itu sudah berlalu. Kalian tidak perlu melakukan apa-apa untukku, sekarang tolong tinggalkan aku sendirian karena aku mau istirahat,” ujar Scarlesia menyuruh mereka semua pergi.


“Tapi luka Nona…”


“Tidak perlu, ini akan membaik sampai besok,”


Mereka semua akhirnya meninggalkan Scarlesia untuk beristirahat meski rasanya berat meninggalkannya tapi inilah yang diinginkannya. Lalu pada hari berikutnya, lukanya sudah sembuh sepenuhnya meski terlihat aneh tapi ini patut disyukuri olehnya. Usai bangun tidur, ia pun berjalan ke luar kamarnya untuk melihat seberapa parah kerusakan mansionnya.


Di lorong paviliun, dia melihat potret sang Ibu rusak oleh ulah Zaneta kemarin. Wajahnya sendu seketika melihat potret tersebut.

__ADS_1


“Maaf, aku tidak bisa melindungi paviliun ini,” gumamnya.


“Hei kau pembunuh! Ternyata kau sudah membaik ya,”


__ADS_2