
Pada hari kelima Xeon berada di balik jeruji besi, tiba-tiba dari luar penjara terdengar suara bising. Suara orang-orang berteriak meminta tolong bergaung di sana, Xeon tidak tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Xeon mencoba memanggil para penjaga tapi tidak ada yang menyahuti panggilannya, dia diam dalam beberapa detik untuk mendengarkan lebih jelas apa gerangan yang terjadi di sana.
Suara-suara pedang sedang beradu bisa didengar oleh Xeon, ia memperkirakan kalau ada penyerangan di luar penjara ini. Dari ujung pandangnya, dia melihat seorang pria mendekati jerujinya. Pria itu tidak menampakkan wajahnya dan ditutupi oleh topeng, dia memotong kunci jerujinya menggunakan pedang.
Saat itu Xeon terkejut sebab pria tersebut tidak berbicara apa-apa padanya, dia langsung pergi begitu pintu jeruji terbuka. Xeon tidak berpikir panjang lagi, ia segera kabur dari penjara. Sepanjang jalannya keluar, banyak sekali mayat-mayat penjaga tergeletak di permukaan tanah, Xeon sempat kaget tapi dia memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya.
Hatinya sesak menahan sakit memikirkan keadaan Aaron yang masih tertinggal di rumah seorang diri. Xeon melewati gang-gang kecil karena jika ia melewati jalan raya, dia takut ada seseorang yang mengenalinya lalu malah membawanya kembali ke penjara. Dia tidak mau itu terjadi, oleh karena itu ia memutuskan untuk melewati gang kecil menuju rumahnya.
Setibanya di rumah, Xeon main masuk begitu saja dan bergegas menemui Aaron. Namun, beberapa kali dia mengimbau nama Aaron, sang adik tak kunjung muncul. Rasa khawatirnya bertambah berkali-kali lipat karena Aaron tidak ditemukan di rumahnya meskipun ia sudah mencari di sekitar rumahnya.
“Kemana Aaron? Mengapa aku tidak bisa menemukannya?”
Xeon mencoba mencarinya sekali lagi, ternyata hasilnya sama saja. Xeon terhenyak di atas lantai, rasa takut mulai menguasai dirinya. Kala dia sibuk berpikir tentang keberadaan Aaron, Ayahnya datang dan dia terkejut melihat Xeon sudah berada di rumah kembali.
“Kau anak tidak berguna, kenapa kau kemari? Bukannya kau di penjara?” ketus Ayahnya tidak senang melihatnya.
“Di mana Aaron?” tanya Xeon teramat pelan.
“Apa? Apa yang sedang kau bicarakan?”
“DI MANA AARON??” teriaknya terlampau kesal.
“Ohh maksudnya adikmu? Aku sudah menjualnya sebagai budak,” jawab si Ayah dengan mudahnya dan terkesan tidak berperasaan.
“Hahh? Kau bilang kau menjual Aaron? BUKANNYA KAU ADALAH AYAH KAMI? KENAPA KAU TEGA-TEGANYA MENJUAL AARON?” amuk Xeon tidak tahan lagi.
__ADS_1
Dadanya kembang kempis sebab emosinya meluap-luap keluar sebab ulah Ayahnya yang keterlaluan sekali kali ini.
“Aku butuh uang, aku tidak punya pilihan lain selain menjualnya kepada bangsawan.”
“Ke mana kau menjual Aaron?”
“Aku menjualnya pada Count Iram, kenapa kau ingin tahu? Apa kau mau aku jual juga?”
“Count Iram kau bilang?”
Siapa pun tahu bagaimana Count Iram itu, dia mempunyai sifat yang sangat buruk dan suka menyiksa anak-anak. Tidak terhitung sudah berapa banyak anak yatim piatu yang mati di tangan Count Iram. Akan tetapi, para petugas keamanan tidak berani menangkapnya karena Count Iram dikenal sebagai bangsawan paling kaya saat itu sehingga pihak kerajaan membutuhkan kekayaan Count Iram untuk memanfaatkannya membantu perekonomian kerajaan.
Kedua tangan Xeon mengepal erat, dia marah dan tidak bisa untuk menekan emosinya terlalu lama lagi. Di sela kemarahannya, dari belakang punggungnya keluar semacam benang merah yang saling berlilitan satu sama lain. Benang merah tersebut semakin lama semakin bertambah jumlah serta ukurannya juga ikut berubah. Xeon berada di emosi luar kendali, sedangkan Ayahnya gemetar takut melihat benang merahnya.
“M-monster!”
“J-jangan mendekat!” cegat Ayahnya beringsut ke belakang.
Xeon terus melangkah maju, benang merahnya menghancur semuanya yang berada di sekitar dirinya. Kemudian kumpulan benang merahnya mengubah arah serangannya dan kini menghadap sang Ayah. Dia takut setengah mati, lidahnya tidak bisa membuka suara untuk sekedar meminta maaf dan meminta pertolongan.
“Aku akan membunuhmu! Kau tidak pantas untuk menjadi Ayahku dan Aaron bahkan kau tidak pantas diberika kehidupan lagi. PERGILAH KAU KE NERAKA!”
“TIDAAKKKK! AKU TIDAK MAU MAT….”
Kumpulan benang merah milik Xeon menghantam tubuh Ayahnya dan berhasil membolongi jantungnya hingga membuat Ayahnya tidak lagi hidup. Setelah melakukan itu, Xeon tersadar dari emosi menggebu-gebunya lalu ia mendapati Ayahnya sudah tak bernyawa di depan matanya. Xeon mendadak mengingat bahwa ia adalah orang yang membunuh Ayahnya, tapi dia tidak menyesali atas apa yang sudah dia lakukan sebab dia berpikir kalah Ayahnya memang pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Seusainya, Xeon beranjak keluar dari rumah dan membiarkan begitu saja mayat Ayahnya sampai ada orang yang menemukannya nanti. Sekarang tujuan Xeon adalah ke rumah Count Iram, dia mempercepat langkahnya untuk bertemu adiknya. Xeon menyelinap masuk ke dalam rumah mewah milik Count Iram, di sana banyak sekali pekerjanya mulai dari anak kecil hingga paruh baya ada semua.
“Sekarang Aaron ada di mana ya kira-kira?”
Xeon bersembunyi di balik sebuah bagunan tua yang sepertinya tidak lagi digunakan. Setelah dirasa aman, Xeon berjalan hati-hati untuk masuk lebih dalam lagi ke rumahnya. Rumah Count Iram terlalu luas bila ia kelilingi sendirian tanpa tahu kemana arah tujuannya.
“T-tolong ampuni s-saya tuan….”
Samar-samar Xeon mendengar suara adiknya tidak jauh dari tempat dia berada sekarang. Dia bergegas mencari sumber suara tersebut berasal. Selepas dia mengikuti arah suaranya, Xeon mendengar suara adiknya bertambah dekat dengannya. Xeon mempercepat langkahnya hingga dia tiba di depan sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah kamar.
“Kau itu sudah dijual oleh Ayahmu jadi berhentilah menangis dan berteriak sekarang karena tidak akan ada orang yang mendengar suaramu lalu datang untuk menolongmu,” ujar Count Iram memarahi Aaron.
Bukannya berhenti menangis, Aaron malah semakin terisak dalam tangisnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Count Iram sekarang, Aaron hanya bisa berpasrah diri.
“Kakak, selamatkan aku….” lirih Aaron menangis seraya meringkuk di sudut ruangan.
Xeon tidak lagi bisa berdiam diri mendengar isakan tangis adiknya, dia nekat menerobos masuk ke kamar Count Iram.
“LEPASKAN ADIKKU!” teriak Xeon.
Count Iram spontan berbalik, dia menyeringai menatap Xeon. Sementara itu, Aaron tercengang melihat kakaknya berada di depannya kini. Air matanya yang awalnya bercucuran deras telah berhenti menetes, dia merasa aman ketika berada di dekat kakaknya.
“Adik? Jadi kau adalah kakak dari anak ini? Tapi bagaimana cara kau masuk kemari?”
“Kau tidak perlu mengetahuinya. Sekarang kembalikan adikku padaku!” tekan Xeon mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Kembalikan kau bilang? Apa kau tahu berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membeli anak tidak berguna seperti adikmu ini?”