
“Salam kepada Yang Mulia Permaisuri. Sudah lama kita tidak bertemu sepertinya anda sedang tidak sehat ya Yang Mulia,” sapa Scarlesia memberi salam.
Senyum palsu Scarlesia membuat muak sang permaisuri, meski begitu ia tetap berusaha menahan ekspresi muaknya.
“Halo Nona Eginhardt mungkin ini pertama kalinya kita berbicara secara langsung. Silahkan duduk,” ujar permaisuri.
“Terima kasih Yang Mulia,”
Scarlesia duduk di atas sofa yang berhadapan dengan permaisuri, beberapa pelayan masuk untuk menyuguhi secangkir teh serta beberapa cemilan untuk menemani obrolan mereka. Scarlesia melirik wajah permaisuri, ia berkata di dalam hatinya bahwa rencananya sejauh ini berhasil tanpa hambatan.
“Aku akan berbicara secara langsung saja, sebenarnya tujuanku memanggilmu kemari adalah aku ingin kau mengobati wajahku. Aku akan membayar berapapun itu asal kau bisa mengobatinya,” pinta permaisuri.
“Pffttt hahaha Yang Mulia anda memang suka lupa diri ya. Bagaimana bisa ada seorang manusia yang dengan beraninya melukai saya bahkan berniat membunuh saya dengan tidak tahu malunya meminta tolong pada saya untuk kepentingannya sendiri,”
Deg
Permaisuri menampakkan ekspresi kagetnya pada Scarlesia, ia membeku tak menyangka bahwa Scarlesia mengetahui kalau dia yang selama ini melancarkan pembunuhan pada gadis yang kini berada di hadapannya. Dia berusaha menekan dirinya agar tetap tenang menghadapi Scarlesia demi mencapai tujuannya yang sebenarnya.
“Apa yang kau bicarakan Nona? Membunuh? Mana mungkin saya yang permaisuri ini berani menyentuh anggota keluarga Duke Eginhardt,” elak permaisuri yang sudah berkeringat dingin.
Scarlesia mengambil secangkir teh yang terletak di atas meja depannya lalu membuang air tehnya ke atas lantai. Wajahnya yang sejak tadi tersenyum berubah menjadi datar dan tajam, perubahan ekspresi yang sungguh ekstrim.
“Anda tidak perlu berbohong Yang Mulia. Apakah anda mengira saya bodoh? Meskipun usia saya masih 17 tahun tapi saya tahu semua yang anda lakukan di masa lalu hingga sekarang. Mulai dari pembunuhan Ibu saya, rencana pembunuhan saya, bahkan sampai ke penyakit yang menyerang penduduk daerah barat. Itu semua anda yang merencanakannya kan?” tekan Scarlesia.
“Hahaha ternyata selama ini percuma saja aku menyembunyikannya. Kau jauh lebih pintar dari dugaanku, memang benar aku yang merencanakan semuanya itu karena aku membenci Ibumu bahkan kamu yang terlahir dari rahimnya! Kau harusnya mati saja bersama Ibumu kala itu tapi di luar eksprektasi kau masih bertahan hidup hingga sekarang,”
Pranggg
__ADS_1
Scarlesia melempar cangkir tehnya ke dinding belakang permaisuri, aksi Scarlesia barusan membuat permaisuri terperanjak.
“Upss meleset, seharusnya tadi saya lemparkan langsung ke kepala anda karena saya juga sama seperti anda, saya membenci anda Yang Mulia Permaisuri. Saya kemari hanya untuk mengingatkan anda untuk tidak macam-macam dengan saya, jika anda masih saya dengan nyawa sendiri seharusnya anda tidak mengusik saya atau saya tidak akan segan-segan mencabut nyawa anda,” ancam Scarlesia menodongkan pistolnya ke permaisuri.
“Lancang! Beraninya kau mengancamku. Apa kau benar-benar tidak takut mati?”
Braakkk
Meja yang ada di depannya langsung dibalik dan digebrak oleh Scarlesia hingga membuat seluruh makanan yang ada di atasnya ikut mengotori lantai.
“Saya tidak takut mati, seharusnya saya yang bertanya kepada anda Yang Mulia. Anda mau kematian yang seperti apa? Biar bisa saya wujudkan,”
Sang permaisuri menggeram marah karena Scarlesia, ia tidak bisa menahan dirinya lagi.
“PENJAGA! KEMARI DAN TAHAN GADIS KURANG AJAR INI!” teriak permaisuri memberi perintah pada ksatria penjaga yang berjaga di depan pintu kamar permaisuri.
Dorrr
Scarlesia menarik pelatuk pistolnya, seketika atap kamar milik permaisuri terbuka dan hancur. Dari atas muncul Oliver, Elios, Andreas, Zenon, dan Louis, mereka menarik tubuh Scarlesia untuk terbang bersama mereka.
“Yang Mulia, wajah anda tidak akan pernah kembali seperti semula karena tidak akan ada siapapun yang bisa menyembuhkan wajah anda kecuali saya,” seru Scarlesia langsung menghilang dari hadapan permaisuri.
“DASAR GADIS SIALAN!!” umpat permaisuri.
Beberapa hari kemudian, kekaisaran sibuk membicarakan mengenai kemampuan medis milik Scarlesia. Reputasinya akhir-akhir ini memang meningkat drastis apalagi di kalangan rakyat biasa. Scarlesia bahkan membuat banyak permen untuk dibagikan kepada masyarakat banyak agar rakyat biasa bisa merasakan bagaimana rasa permen, jadi tidak hanya bangsawan saja yang bisa merasakannya.
Untuk kemampuan penyembuhannya, pihak keluarga Duke Eginhardt sengaja menyembunyikannya agar tidak ada ancaman besar yang mengincar Scarlesia. Kemudian juga Scarlesia semakin aktif hadir dalam pertemuan asosiasi dokter kekaisaran, ia sangat disukai di sana karena sifatnya yang hangat dan juga tegas. Semakin hari dia semakin dihormati oleh banyak orang, reputasinya semakin melonjak tajam dan menarik perhatian semua orang termasuk kekaisaran lainnya.
__ADS_1
Lalu sebaliknya, di saat reputasinya semakin bagus rumor-rumor mengenai permaisuri juga tersebar luas di kekaisaran. Mereka mengatakan bahwa kaisar sekarang semakin mengabaikan permaisuri bahkan kaisar tidak pernah lagi mengunjungi istana permaisuri. Kemudian rumor tentang kondisi wajah permaisuri yang rusak juga sampai ke telinga rakyat Kekaisaran Roosevelt. Hal ini membuat nama permaisuri semakin hari semakin jatuh alhasil beberapa hari ini dia berhenti mengganggu hidup Scarlesia.
“Hei, kalian mau ikut ke festival kembang api tidak?” ajak Scarlesia.
Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan Elios mengiyakan ajakan Scarlesia dengan antusias. Malam ini adalah malam festival kembang api yang sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang termasuk Scarlesia sendiri. Mereka pergi dengan menyamar mengenakan baju rakyat biasa agar orang lain tidak mengenali mereka.
Suasana kota malam ini sungguh ramai, festival ini mendatangkan kebahagiaan bagi seluruh orang di kota. Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan mereka mencari uang tambahan.
“Ayo kita ke sana,” Scarlesia berlari sangat girang menelusuri setiap sudut pasar.
“Sia, jangan lari-lari! Nanti kamu bisa terjatuh,” peringat Louis namun tak diindahkan oleh Scarlesia.
“Biarkan saja dia berlari, tidak bisakah kau melihat senyumnya? Selama ini dia sangat kesusahan jadi biar saja hari ini dia bersenang-senang,” ucap Oliver.
"Ya, kita cukup mengawasinya dari belakang. Jika ada yang berani kurang ajar langsung bakar saja,” timpal Zenon.
Ketika Scarlesia sedang asik melihat-lihat, seorang anak kecil laki-laki dengan langkah sempoyongan menghampirinya dan menarik-narik ujung bajunya.
“Kak, tolong saya…” lirih anak kecil tersebut yang kakinya juga terluka dan berdarah.
“Ya ampun kamu kenapa?” tanya Scarlesia berjongkok di hadapan si anak itu.
“To…long sa…ya…”
Tidak sempat dia menyelesaikan bicaranya, tubuhnya semakin terhuyung-huyung dan akhirnya tidak sadarkan diri. Untung saja Scarlesia ada di depannya, jadi tubuhnya langsung ditangkap sebelum terjatuh ke tanah.
“Sia, ada apa?” tanya Andreas.
__ADS_1
“Ini ada anak kecil tidak sadarkan diri,” jawab Scarlesia menggendong anak kecil tersebut.
“Sini biar aku saja yang menggendongnya. Sekarang kita cari dulu penginapan terdekat untuk menyembuhkan lukanya,” tawar Elios mengambil anak kecil itu dari dekapan Scarlesia.