
“Ya ampun Yang Mulia, anda kalau mau pergi ke luar harus bilang-bilang pada kami. Jangan menghilang begitu saja seperti tadi, saya kira anda menghilang lagi. Apa anda tidak tahu bagaimana khawatirnya kami dengan keadaan anda?” oceh Erin.
Saat ini mereka tengah berada di kamar mandi, Scarlesia berendam di bath up setelah bermandi hujan cukup lama. Erin dan Hana tidak berhenti mengoceh dan mengomel sejak tadi, mereka tidak membiarkan Scarlesia untuk menanggapi ocehan mereka sedikit pun.
“Iya Yang Mulia, kalau anda mau keluar dari kamar anda harus meminta izin dari kami berdua biar kami tidak cemas seperti tadi,” timpal Hana.
Scarlesia menghembuskan napas kasar mendengar ocehan mereka berdua. Setelah perasaannya membaik, kini dia harus menerima kata-kata cerewet dari pelayan pribadinya. Ingin rasa memarahinya tapi apa yang mereka bicarakan itu ada benarnya juga, ini kesalahannya karena tidak meminta izin keluar dari kamar.
“Aku minta maaf, ini memang salahku. Jadi sekarang kalian berhentilah mengoceh, mengerti?”
Erin dan Hana saling bertukar pandang, mereka menganggukkan kepala serentak.
“Baiklah, tapi anda jangan mengulanginya lagi Yang Mulia,” ucap Erin.
“Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Nanti kalau aku mau pergi ke luar aku akan membicarakannya dengan kalian,” balas Scarlesia keluar dari bath upnya.
Erin dan Hana bergegas membantu mengeringkan badan Scarlesia, mereka memasangkan bathrobe pada Scarlesia. Setelah itu Scarlesia dituntun untuk pergi ke kamar, rambutnya yang basah dikeringkan menggunakan handuk.
“Yang Mulia, hari ini ada rapat bangsawan bukan? Anda diminta hadir di rapatnya,” kata Hana.
“Oh benarkah? Hampir saja aku lupa. Pilihkan aku gaun yang sederhana namun terkesan mewah.”
“Baiklah Yang Mulia.”
“Cih kenapa para bangsawan mengadakan rapat mendadak hari ini? Aku tidak suka bergabung dalam rapat,” decak Scarlesia sebal.
Sedangkan pada saat yang bersamaan, ruang rapat kekaisaran sedang dilanda kerusuhan akibat perbedaan pendapat berujung pada perdebatan. Edward kewalahan menghadapi mereka semua, sungguh keras kepala bahkan Qirani yang juga berada di ruangan itu tidak dihiraukan perkataannya oleh mereka.
“Ini sudah saatnya pemilihan selir untuk Yang Mulia Putri Mahkota.”
“Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi, minimal istana selir harus diisi dengan 10 orang selir.”
__ADS_1
“Yang Mulia Putri Mahkota butuh seorang anak perempuan untuk meneruskan tahta nanti.”
“Benar, karena itu semakin banyak selir yang masuk maka akan semakin bagus.”
“Itu akan meningkatkan peluang lebih besar untuk memiliki anak perempuan. Yang Mulia, anda harus mempertimbangkan hal ini dari sekarang karena sebentar lagi Yang Mulia Putri Mahkota akan resmi menjadi kaisar.”
Edward memijit pelipisnya, keningnya mengerut menatap tajam seluruh anggota rapat hari ini. Edward tahu pasti apa maksud mereka mendesaknya untuk memilih selir karena mereka ingin memasukkan anak mereka ke istana selir.
“Tidak bisa! Yang Mulia Putri Mahkota baru saja tertimpa kemalangan! Lalu kalian seenaknya saja mendesak Yang Mulia Kaisar untuk menggelar pemilihan selir? Di mana letak otak kalian saat ini?” protes Marchioness Liana.
“Bukannya yang meninggal kemarin hanyalah adik angkat? Seharusnya ini tidak menghambat tujuan rapat yang memang sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya.”
“Hanya adik angkat, kenapa harus bersedih terlalu lama? Pemilihan selir ini berguna untuk masa depan Evariste, seharusnya anda tahu itu marchioness.”
“KALIAN….”
Duchess Freya menahan Marchioness Liana untuk melawan mereka, perdebatan ini tidak akan menemukan titik temunya jika mereka terus dilawan.
“Tapi tetap saja kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, pemilihan selir harus segera dilaksanakan. Mohon pertimbangannya Yang Mulia.”
“Evariste butuh anak perempuan sebagai pewaris tahta, seharusnya anda lebih tahu soal ini. Jika pemilihan selir ditunda lebih lama lagi maka akan menyulitkan kita para bangsawan.”
“Umur Putri Mahkota sudah 18 tahun, kalau memasukkan selir lebih cepat itu tidak ada masalah.”
“Betul Yang Mulia, secepatnya kita harus mengadakan pemilihan selir segera. Para kandidat telah tercatat dari berbagai anak bangsawan.”
Edward mendesis, dia selalu kesal ketika berada di ruang rapat bersama para bangsawan yang terus memaksanya melakukan berbagai hal sesuai kesepakatan mereka bersama.
“Keputusan mengenai pemilihan selir ada di tangan Putri Mahkota sendiri, kita tidak bisa memutuskannya begitu saja sendiri tanpa mempertimbangkan pendapat Putri Mahkota,” ujar Edward akhirnya bersuara.
“Yang Mulia, selain pemilihan selir kita juga harus mengadakan pemilihan pangeran. Bukannya sejak dahulu juga begini? Kita sendiri yang menentukan sendiri perihal pemilihan selir? Setiap generasinya Putri Mahkota hanya menerima hasil dari keputusan yang telah final.”
__ADS_1
“Anda dulu menolak untuk mengisi istana selir, makanya anda tidak bisa mempunyai keturunan anak perempuan. Sekarang kita tidak boleh membiarkan istana selir terisi kurang dari 10 orang Yang Mulia.”
Daun-daun pintu mendadak terbuka lebar, rupanya Scarlesia baru saja menginjakkan kakinya di ruang rapat. Dia berjalan dengan langkah anggun dan elegan menuju ke tengah ruang, para bangsawan yang tadinya sibuk berdebat kini terdiam melihat kedatangan Scarlesia.
“Tadi aku dengar kalian heboh membahas tentang pemilihan selir ya,” ucap Scarlesia seraya menjatuhkan pelan dirinya untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
“Iya Yang Mulia, ini sudah saatnya anda memilih selir untuk dimasukkan ke istana selir. Anda minimal harus memiliki 10 selir Yang Mulia.”
Scarlesia tersenyum kecut, dia benar-benar tidak menyukai topik pembahasan rapat kali ini. Rasanya dia ingin membanting meja di hadapannya untuk meredakan sedikit emosinya, namun dia menahan diri untuk melakukannya.
“Aku tidak akan mengadakan pemilihan selir,” jawab Scarlesia penuh penegasan.
Pernyataan Scarlesia sama saja dengan memancing kemarahan para bangsawan, hal ini membuat heboh kembali ruang rapat.
“Apa? Tidak bisa begini Yang Mulia! Anda harus memilih selir dan ini sudah menjadi aturannya dari generasi lalu.”
“Aku sudah punya calon selir, jadi untuk apa aku mengadakan pemilihan selir lagi? Aku tidak butuh banyak selir di sisiku,” tekan Scarlesia.
“Jangan bercanda Yang Mulia. Kenapa anda bisa memiliki calon selir padahal anda belum mengadakan pemilihan.”
“Apa kalian tidak pernah melihat mereka? 6 pria yang selalu bersamaku adalah calon selirku. Aku tidak akan menambahkan atau menguranginya, ya aku rasa tidak perlu mengulangi ini. Aku harap kalian mengerti karena keputusanku sudah bulat,” Scarlesia menekan mereka lagi agar mau menyerah.
“6 pria? Tapi kami tidak mengenal mereka, dan diantara mereka berenam tidak ada satu pun yang berasal dari Evariste. Kenapa kami harus mempercayakan tentang masa depan Evariste pada orang asing?”
Para bangsawan ini tetap kukuh mendesak Scarlesia untuk mengadakan pemilihan selir, Scarlesia mulai dongkol akibat ulah menjengkelkan mereka ini.
“Apakah kalian tahu siapa mereka?”
Seluruh bangsawan saling beradu pandang, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Scarlesia.
“Di antara mereka ada yang penyihir agung, pangeran iblis putih, naga merah, vampir, manusia serigala, dan yang terakhir identitasnya tidak bisa aku ungkapkan. Jadi apa lagi yang kurang?”
__ADS_1