
“Campurkan racun ini ke dalam makanan dan minuman milik duchess,”
Scarlesia memberikan satu botol kecil yang berisi cairan bening, itu adalah racun yang dia buat dari bunga caroll yang dicampuri darah kalajengking. Kenapa warnya jadi bening? Karena Scarlesia mencampurkan beberapa bahan lain untuk mengubah warna racunnya. Tapi, Tika tampak ragu-ragu menerimanya karena ini adalah sebuah perintah yang cukup susah untuk dia jalani.
“S-saya tidak b-berani Nona,” gagap Tika.
“Bukannya kau ingin melunasi hutang keluargamu? Kau ingin berhenti menjadi pelayan lalu membuka sebuah restoran kan? Coba pikirkan baik-baik. Aku tidak akan menawarkan hal yang sama kedua kalinya,” bujuk Scarlesia.
Tika mencoba berpikir ulang mengenai tawaran Scarlesia yang menurutnya adalah penawaran yang sangat besar. Untuk orang biasa sepertinya ditambah dengan hutang keluarganya yang menumpuk, penawaran Scarlesia memang tidak bisa dilewatkan begitu saja olehnya. Tika memantapkan hati lalu dia menegakkan kepalanya, ia meyakini dirinya agar tidak menyesal mengambil keputusan ini.
“Baiklah Nona. Sesuai perintah anda saya akan melaksanakannya,”
Tika mengambil racun tersebut lalu menyimpannya di dalam pakaiannya.
“Jangan khawatir karena racun ini tidak memiliki warna, rasa, dan aroma, jika misalnya kau ketahuan bawa saja namaku. Aku akan melindungimu,” ujar Scarlesia.
“Baik Nona,”
Usai itu, Tika berbalik pergi dan kembali lagi ke mansion untuk melanjutkan tugasnya. Scarlesia merasa tidak sabar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Zaneta.
“Sebuah kematian besar tengah menantimu di depan Zaneta hahaha,” tawanya terdengar jahat.
Scarlesia melanjutkan lagi pekerjaannya yaitu meracik beberapa racun dan ramuan herbal. Firasatnya mengatakan bahwa suatu saat dia akan membutuhkan semua ini entah itu untuk membunuh musuh ataupun mengobati orang lain. Di tengah kesibukannya, Erin dan Hana datang membawakan sebuah berita untuk Scarlesia.
“Nona, anda mendapatkan banyak undangan pesta minum teh dari para Nona bangsawan,” lapor Erin membawa beberapa undangan di tangannya.
“Pesta minum teh? Apakah aku harus menghadirinya? Ini sangat melelahkan,” keluhnya menghela napas.
“Anda harus hadir sesekali agar lebih banyak orang yang mengenali anda,”
Scarlesia membenturkan pelan keningnya ke atas mejanya, hatinya sungguh menolak untuk menghadiri pesta semacam itu yang hanya diisi oleh Nona bangsawan sombong.
“Aduh Nona anda tidak boleh membenturkan kening anda ke meja,” larang Hana menarik tubuh Scarlesia ke belakang.
“Coba bacakan undangan itu dari siapa saja?”
“Itu ada dari Nona Selena Javar yang akan dilaksanakan satu minggu lagi lalu…”
__ADS_1
“Anak Marquess Javar? Oke aku akan menghadiri yang itu saja karena aku ingin bersenang-senang di sana. Aku yakin akan banyak Nona yang menarik perhatianku, segera balas undangannya sedangkan untuk yang lain tolong tolak,” potong Scarlesia memutuskan.
“Baik Nona,”
Tidak lama kemudian, seorang pelayan dari mansion datang memanggil Scarlesia karena Natasha datang untuk bertemu dengannya langsung. Scarlesia segera menuju mansion karena tidak ingin membuat Natasha menunggunya terlalu lama. Di sana ternyata ada sang Ayahnya juga yang menjamu Natasha.
“Salam kepada Yang Mulia Putri Natasha Celosia,” salam Scarlesia membungkuk.
“Ya, tidak perlu terlalu formal denganku. Aku ke sini hanya untuk berbicara denganmu,” ujar Natasha.
Scarlesia langsung duduk berhadapan dengan Natasha sedangkan Eldrick kini pamit undur diri karena dia tahu Natasha ingin berbicara banyak dengan anaknya.
“Yang Mulia, bagaimana keadaan tangan dan kaki anda yang terkilir?” tanya Scarlesia.
“Sudah agak mendingan dari yang kemarin, dan tolong bisakah kamu berbicara santai denganku?”
“Tapi terlalu tidak sopan bagi saya berbicara santai dengan anda,”
“Tidak apa-apa karena sejujurnya aku ingin berteman denganmu,” kata Natasha memalingkan sedikit wajahnya.
“Oke Natasha mari kita berteman,”
Raut wajah Natasha segera berubah menjadi cerah setelah Scarlesia mengajaknya untuk berteman.
“Bolehkah aku memanggilmu Sia?”
“Tentu saja boleh sesama teman memang seharusnya memanggil nama depan,”
“Ini pertama kalinya aku berteman dengan wanita karena aku pikir wanita itu membosankan karena aku melihat bangsawan lain yang sibuk mempercantik diri dan membicarakan laki-laki. Aku tidak menyukai itu,” ujar Natasha.
“Sama, aku juga tidak menyukai hal yang membosankan seperti itu. Aku lebih senang membicarakan tentang senjata atau teknik bertarung lainnya,”
Natasha cukup terkejut ternyata dia sefrekuensi dengan Scarlesia, ini pertama kalinya baginya melihat gadis bangsawan yang seperti dirinya. Bahkan dia mendengar dari bawahannya kalau kemarin dia baru saja memutuskan pertunangannya dengan putra mahkota. Ketika semua gadis bangsawan berlomba-lomba menjadi permaisuri tapi Scarlesia malah menolak posisi tersebut.
Rasa penasarannya cukup tinggi terhadap Scarlesia, Natasha tidak hanya mengaguminya karena kecantikannya tapi juga kecerdasannya dalam membicarakan dan menanggapi hal lainnya. Natasha sempat mendengar rumor mengenai Scarlesia yang tidak takut mati karena berani mengacau di pesta kemenangan. Namun, setelah melihatnya secara langsung dia berpikir bahwa Scarlesia tidak salah melakukan itu.
“Sia, kapan-kapan aku mau mengundangmu ke Kekaisaran Celosia sebagai ucapan terima kasihku karena kamu sudah menyelamatkan aku kemarin,” ucap Natasha.
__ADS_1
“Baik, aku akan mengusahakan untuk datang,”
Usai pembicaraan mereka yang cukup panjang, Natasha pamit untuk segera pulang karena hari ini dia akan pulang ke Celosia. Scarlesia mengantarnya ke depan gerbang dan mengucapkan salam berjumpa kembali.
“Ya, tidak salah juga aku menjadikannya sebagai teman. Aku dengar dia adalah anak kesayangan Kaisar Celosia jadi ini menjadi keuntungan untukku,” batin Scarlesia.
Scarlesia berbalik meninggalkan mansion, dia melangkah ke arah danau buatan di belakang paviliun. Ia duduk di bangku putih tepi danau, angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut silvernya, langit nan biru memberikan nuansa keindahan siang ini padanya. Kupu-kupu beterbangan mengelilingi dirinya dan menghinggap di jemari telunjuknya.
“Nona, anda sangat cantik. Semakin hari anda semakin cantik,” sanjung sang kupu-kupu.
“Benarkah? Kalian juga sama cantiknya, warna sayap kalian yang cerah serta cara terbang yang indah membuatku melupakan sejenak duniaku,” puji Scarlesia balik.
“Kalau begitu kami akan selalu terbang di dekat Nona,”
“Terima kasih. Entah kenapa angin hari ini mengingatkanku pada masa lalu,” ucap Scarlesia mendongakkan kepalanya ke langit biru.
Lalu Scarlesia berdiri, ia berjalan beberapa langkah ke depan dan menjadi lebih dekat dengan tepian danau.
“Ya, angin ini mengingatkanku pada hari aku bunuh diri. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan tubuh ini tapi aku bahagia karena di dunia ini banyak orang yang memberikan cintanya padaku. Tidak seperti kehidupan lalu yang menerima banyak derita daripada bahagia, namun aku beruntung dewa mengirimku kemari. Maka dari itu izinkan aku bernyanyi lalu aku memohon agar angin mengantarkan nyanyianku pada mereka yang mencintaiku,”
Scarlesia mulai bernyanyi, suaranya yang indah serta liriknya yang bermakna dalam, ini adalah lagu yang dia ciptakan di kehidupan lalu khusus dia persembahkan untuk orang yang mencintainya meski lagu ini tidak pernah dia nyanyikan secara lengkap karena tidak ada orang yang mencintainya secara tulus. Namun, hari ini berbeda karena dia sudah memilikinya sekarang. Angin pun membawa suaranya menuju pendengaran orang-orang yang mencintainya, seluruh kupu-kupu juga mengelilinginya.
Di sisi lain danau Andreas, Zenon, Oliver, Louis, serta Elios bersembunyi mendengarkan suara merdu Scarlesia. Mereka berhimpit-himpitan dan saling mendorong hanya untuk menyaksikan nyanyian Scarlesia. Sepertinya Scarlesia menyadari kehadiran mereka, ia menengok mereka berlima seraya tertawa.
“Hehe sepertinya kami ketahuan,” kata Zenon tertawa kikuk.
Mereka keluar dari persembunyiannya dan mendekati Scarlesia yang masih dikelilingi oleh para kupu-kupu.
“Sia lagu itu apakah kamu yang menciptakannya?” tanya Elios
“Ya, lagu yang ingin aku persembahkan untuk mereka yang mencintaiku,” jawabnya sembari tersenyum.
“NONA! NONA!” panggil Cici si burung pipit yang tiba-tiba datang.
“Ada apa Cici?”
“Sepertinya permaisuri sedang merencanakan sesuatu yang buruk,”
__ADS_1