Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Mimpi Buruk


__ADS_3

Di tengah daerah bermukim penduduk yang saat ini keadaannya tampak kacau, seluruh tim medis berlarian kesana kemari mengurusi warga yang tumbang karena penyakit menular saat ini menguasai hidup banyak orang. Scarlesia berdiri tepat diantara mereka yang sibuk, dirinya bingung dimana dia sedang berada sekarang. Dia mencoba bertanya pada dokter yang menangani pasien-pasien tersebut tapi tidak ada jawaban.


“Dimana aku?” tanyanya kebingungan.


Scarlesia mencoba berjalan lebih jauh lagi tapi tidak ada yang bisa dia temui satupun selain mayat-mayat manusia yang meninggal karena penyakit tersebut. Ia tiba-tiba sadar bahwa saat ini dia berada di ibu kota Kekaisaran Roosevelt.


“Ini semua karena daerah barat kekuasaan Duke Eginhardt,”


“Ya, penyakit ini berawal dari daerah kekuasaan beliau yang akhirnya menyebar ke ibu kota kekaisaran,”


“Bagaimana dengan Duke Eginhardt sekarang?”


“Aku dengar dia baru meninggal karena terinfeksi dengan penyakit misterius ini,”


Scarlesia shock mendengar para dokter itu berbicara mengenai Ayahnya yang sudah meninggal. Dia berlari mencari kediamannya, tapi di sana banyak warga yang berkerumunan dan meneriakkan bahwa seluruh keluarga Duke Eginhardt harus dihukum mati karena penyakit ini dianggap sebagai tanggung jawab Duke Eginhardt sendiri. Scarlesia mencoba menyelip ke dalam kerumunan dan masuk ke dalam mansion. Namun, yang dia temukan di dalam adalah mayat sang Ayah yang terbujur kaku, dua kakaknya yang menangis, serta di sana juga ada mayat Erin dan Hana.


“Ini tidak mungkin! Ini pasti mimpi. Tidak mungkin ini terjadi,” gumamnya.


Tidak lama kemudian, petugas pengadilan kekaisaran datang menjemput Carlen dan Aldert untuk segera bersiap menjalani eksekusi. Scarlesia mencoba memanggil dan menghentikan mereka tapi tidak ada yang menyadari keberadaannya.


“Jangan bawa kakakku! Mereka tidak salah. Aku mohon jangan, JANGAAAANNNN!”


“Haahh hahh hufft ternyata hanya mimpi,”


Scarlesia terbangun dari mimpi buruknya, tubuhnya dibasahi oleh keringat. Napasnya keluar tidak beraturan seakan dia telah menghadapi kejadian buruk.


“Tapi kenapa rasanya mimpi ini terasa begitu nyata? Ini sudah mimpi yang kedua,”


Scarlesia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan meneguk segelas air putih yang sudah disediakan Hana untuknya setiap sebelum tidur. Kemudian ia membuka jendela kamarnya, langit masih gelap dan belum ada tanda-tanda sang fajar akan muncul yang berarti dia terbangun pada saat dini hari. Angin dini hari ini terasa cukup dingin tapi Scarlesia tidak mempedulikannya karena mimpi yang baru saja dia alami agak membebaninya.


Untuk menyingkirkan pikiran-pikiran buruk dari dalam dirinya, Scarlesia memutuskan untuk jalan-jalan ke danau belakang paviliun. Penerangan di sana sangat minim sekali sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di pinggir danau. Sejumlah kunang-kunang tiba-tiba menghampiri dan menerangi dirinya.


“Nona, kenapa anda belum tidur?” tanya seekor kunang-kunang.


“Aku baru saja terbangun karena mimpi buruk, apa aku mengganggu kalian?”


“Tidak Nona. Justru kami senang anda kemari, kalau begitu kami akan menerangi Nona agar anda tidak kesepian,”


Satu persatu kunang-kunang meneranginya, semakin terang dan semakin indah cahayanya. Angin yang semula tenang kini mulai menerbangkan rambutnya. Piyama putihnya lumayan tipis sehingga memudahkan sang angin untuk masuk ke dalamnya. Ketika dia sedang asik berbincang dengan kunang-kunang tersebut, terlambat dia sadari sebuah pisau melayang di belakangnya lalu menancap ke punggung sebelah kanannya.


“AARRRGHHHH,” pekik Scarlesia kesakitan.

__ADS_1


“Nona! Nona apa anda tidak apa-apa?” tanya kunang-kunang sangat cemas.


“Sial!”


Scarlesia menarik pisau yang tertancap di punggungnya tersebut, dia berbalik lalu melihat lima orang pria yang wajahnya tertutup berjalan ke arahnya. Mereka sepertinya adalah pembunuh bayaran yang dikirim untuk membunuh Scarlesia.


“Siapa kalian?” tanya Scarlesia, darah di punggungnya menetes semakin banyak.


“Kenapa racunnya tidak bereaksi padamu? Padahal pisau itu sudah dilumuri dengan racun,” ujar salah seorang dari mereka.


“Racun? Hahaha hanya menangkap satu gadis saja kalian harus datang berlima,” ledek Scarlesia.


“Diam! Kau akan mati di tangan kami saat ini juga,”


Pada saat mereka hendak menyerang Scarlesia, Andreas, Elios, Oliver, Zenon, serta Louis datang.


“Hei berani sekali kalian ingin membunuh Sia,” tegur Oliver membuat para pembunuh tersebut terperanjak kaget.


“Kalian pikir dengan menyebarkan asap tidur di seluruh kediaman ini akan berpengaruh pada kami?” lanjut Zenon.


“Sepertinya kalian kurang beruntung ya hari ini,” sambung Elios.


Louis segera mendekati Scarlesia, ia melihat darah di punggungnya begitu banyak dan tidak berhenti menetes.


Andreas yang mendengarnya langsung murka dan menebas kepala mereka tanpa ampun. Gerakan Andreas sangat cepat serta aura hitam di pedangnya sangat pekat, para pembunuh tersebut tidak bisa melawan Andreas bahkan bergerak selangkah saja tidak bisa. Zenon, Elios, serta Oliver yang tadi ingin terlihat keren di hadapan Scarlesia akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa dan niat mereka gagal.


“Katakan siapa yang mengirim kalian?” selidik Andreas menodongkan pedangnya pada pria yang berlutut gemetaran di hadapannya.


“P-putri G-giana,” akunya dengan suara bergetar. “T-tolong j-jangan bunuh saya,” mohon pria itu.


“Kalian telah salah memilih musuh,”


Andreas melayangkan pedang tajamnya sekali lagi dan menebas kepalanya, seluruh pembunuh ini akhirnya tewas di tangan Andreas.


“Andreas berani-beraninya kau mencuri kesempatan,” ketus Zenon.


“Ahh maaf aku kehilangan kendali saat Louis mengatakan Sia terluka,” jawab Andreas datar.


“HEI KALIAN ITU BUKAN MASALAH PENTING. SIA TERLUKA DAN DARAHNYA SANGAT BANYAK,” teriak Louis.


Mereka berempat menghampiri Scarlesia dengan lekas, rasa cemas tergambar dari wajah mereka masing-masing.

__ADS_1


“Sia, kenapa kau tidak terlihat kesakitan?” tanya Elios.


“Entahlah, awalnya sakit tapi sekarang sudah tidak sakit,” jawab Scarlesia.


“Bohong! Lihatlah darahmu yang mengalir ini bagaimana bisa tidak sakit?” bantah Elios lagi.


“Betul, darahnya sampai menetes ke tanah,” timpal Oliver.


“Tapi ini sungguh tidak sakit,” kukuh Scarlesia.


Andreas yang tidak banyak bertanya dan berbicara langsung menggendong Scarlesia.


“Andreas, turunkan aku. Aku tidak apa-apa,” ronta Scarlesia.


“Tidak Sia, kamu harus segera diobati,” balas Andreas.


“Lepaskan Sia. Sejak tadi kau terus mencuri kesempatanku,” tekan Zenon mencengkram bahu Andreas.


“Kalian bereskan saja itu. Aku yang akan membawa Sia ke kamar,” suruh Andreas membawa Scarlesia pergi.


Mereka berempat kala ini sangat kesal pada Andreas, tapi apa daya mereka tidak bisa membiarkan Scarlesia terluka terlalu lama.


“Huh aku sangat kesal!” gerutu Zenon hendak membakar mayat-mayat yang ada di hadapannya kini.


“EEH EHH ZENON JANGAN DIBAKAR!” larang Scarlesia berteriak, Andreas pun menghentikan sejenak langkahnya.


“Kenapa tidak boleh dibakar?” tanya Zenon.


“Buang seluruh mayatnya ke istana Putri Giana. Berani sekali dia menyerangku, anggap saja ini sebagai peringatan untuknya,” ujar Scarlesia marah.


“Haaahhhh oke,” pasrah Zenon menghela napasnya.


Sesampainya di dalam kamar, Andreas membaringkan Scarlesia di atas tempat tidur.


“Buka bajumu Sia biar aku obati lukamu,” suruh Andreas.


“Tidak! Biar aku sendiri saja,” tolak Scarlesia refleks menyilangkan tangannya di dada.


“Semua orang di mansion masih terkena efek asap tidur. Kau tidak mungkin bisa mengobati lukamu sendiri,” kata Andreas.


Akhirnya Scarlesia pasrah, ia menyuruh Andreas untuk membuka resleting belakang piyama untuk memulai pengobatannya.

__ADS_1


“Loh? Sia lukamu sudah menghilang,”


__ADS_2