
“Kak, geser sedikit ke sebelah kanan,” suruh Archie.
Hari ini Archie berencana untuk melukis Scarlesia, mereka kini sedang berada di taman istana. Cuaca cerah sangat cocok untuk Archie menggores kanvasnya, Scarlesia memang berjanji khusus hari ini adalah harinya kencan bersama sang adik.
“Bagaimana? Posisinya sudah pas bukan?” tanya Scarlesia tengah duduk di sebuah kursi.
“Oke, sudah pas.”
Archie menggerakkan jemarinya menggoyangkan kuasnya lalu mulai membentuk garis di kanvas polosnya. Scarlesia duduk dengan tenang sesuai instruksi dari adiknya, entah mengapa Archie bersikeras untuk melukis kakaknya.
“Aku tidak tahu, ternyata kau punya bakat melukis ya Archie,” celetuk Scarlesia.
“Ini bukan bakatku tapi bakat pemilik tubuh ini, dia punya bakat melukis sebab sejak kecil dia selalu sendirian terkurung di tempat yang gelap. Dia melukis untuk menenangkan dirinya agar tidak takut oleh apapun,” jawab Archie.
Archie yaitu adik dari Venos, sang raja iblis. Dia dikurung di dalam sebuah ruang bawah tanah karena dia tidak memiliki keinginan membunuh meskipun di tubuhnya mengalir kekuatan maha dahsyat. Archie menolak perintah Venos untuk menggunakan kekuatannya itu membunuh makhluk hidup lain, ia memiliki sikap penyayang sehingga ia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk membunuh. Pada endingnya, di akhir hayatnya jiwa Archie yaitu adiknya Scarlesia masuk ke dalam tubuhnya lalu perlahan mengubah semuanya.
“Jadi kira-kira, bisakah kau membuat komik dengan bakat menggambar itu?” tanya Scarlesia sekali lagi.
“Aku rasa bisa, apa kakak mau aku buatkan sebuah komik?”
“Ya, sudah lama sekali rasanya sejak terakhir membaca komik. Dulu kita cukup membaca komik menggunakan ponsel saja tanpa harus membeli komik cetaknya.”
Scarlesia menekuk ekspresi wajahnya, terselip kerinduan kecil tentang kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukan selama hidup di dunia modern.
“Apa kakak merindukan dunia modern?” tanya Archie tiba-tiba.
Scarlesia refleks menutup mulutnya untuk tertawa, dia menurunkan kembali tangannya untuk menjawab pertanyaan Archie.
__ADS_1
“Aku hanya merindukan teknologinya saja, biasanya di kala bosan kita punya banyak kesenangan tersendiri,” balas Scarlesia.
Archie mengangguk mengerti, dia paham apa yang dimaksudkan oleh kakaknya. Butuh waktu sekiranya kurang lebih 30 menit untuk menyelesaikan satu lukisan, terbilang cepat memang bahkan hasilnya sangat bagus,
“Woahh bagus sekali,” puji Scarlesia memandang lukisan Archie dengan mata berbinar.
“Hoho iya kan, tubuh ini punya bakat terpendam. Sayangnya dia lahir di keluarga yang salah, sama sepertiku dulunya,” ucap Archie mendadak memasang wajah sendu.
“Terima kasih Archie, bukan Archie adikku tapi Archie pemilik tubuh yang asli. Pasti kau sudah mengalami banyak kesulitan selama ini, tapi aku kagum dengan bakatmu. Anak baik, semoga nanti kau bisa bereinkarnasi menjadi seorang anak yang dicintai oleh keluarganya,” ujar Scarlesia sekaligus berharap untuk pemilik tubuh asli.
Scarlesia mengelus puncak kepala Archie penuh kehangatan serta senyum lebar dilontarkan Scarlesia padanya. Archie terpaku sesaat, tanpa ia sadari sepasang bola matanya mulai berair lalu turun membasahi kedua pipinya.
“Bukan aku yang menangis, tapi kenapa air mataku tiba-tiba turun?”
Archie lekas menyeka air matanya, dia tidak bermaksud untuk menangis di hadapan Scarlesia.
“Kak, bolehkah aku memelukmu?” pinta Archie.
Scarlesia tersenyum sendu, ia mengambangkan kedua tangannya seraya menganggukkan kepalanya. Archie segera menghambur ke pelukan Scarlesia, perasaannya berantakan karena bercampur dengan perasaan di pemilik tubuh.
“Aku tidak mau menikah, aku ingin selamanya di samping kakak. Aku ingin selalu menjaga kakak kapan pun dan di mana pun, aku tidak akan meninggalkan kakak,” ungkap Archie mempererat dekapannya.
“Kalau kau tidak menikah, bagaimana nanti mau memberiku keponakan yang lucu?”
“Aku tidak mau punya anak, jika anakku lebih lucu dariku nanti kakak lebih menyayanginya daripada menyayangiku.”
“Pfftt hahaha, ada-ada saja. Kenapa kau malah cemburu dengan anakmu sendiri? Aku akan selalu menyayangi adikku ini. Mau sampai kapan pun kau tetaplah adikku, tidak peduli bagaimana wujudmu kau adalah adikku satu-satunya,” balas Scarlesia melepas pelukannya.
__ADS_1
“Kalau begitu kakak juga akan menjadi kakakku satu-satunya. Aku sayang kakak.”
“Aku juga sayang adikku.”
Kemudian mereka berdua duduk bersama di bangku taman sembari menikmati kudapan yang disiapkan oleh Hana sebelumnya untuk mereka berdua. Mereka menikmati waktu santai ini sambil bergurau tentang banyak hal. Archie nampak senang, begitu pula Scarlesia juga turut senang atas kebahagiaan adiknya sendiri.
“Bukannya di dekat istana ini ada labirin? Bagaimana kalau kita bermain di labirin itu kak?” ajak Archie.
Scarlesia baru teringat perihal labirin tersebut, beberapa waktu lalu dia ingin bermain di labirin itu tapi dia lupa lalu sekarang Archie mengingatkannya pada labirin itu. Tanpa berpikir panjang, Scarlesia langsung mengiyakan ajakan Archie. Mereka melangkah bersama sambil bergandengan tangan berdua menuju labirinnya. Untung saja di labirin tidak ada penyihir atau ksatria yang menjaga, jadi mereka berdua bebas keluar masuk ke sana.
Labirin ini terletak terpencil di ujung istana sehingga jarang orang jalan menuju labirinnya. Sebenarnya labirin ini dibuat oleh Qirani atas permintaan Ibu Scarlesia saat kecil dulu, namun selama beberapa tahun lamanya tidak ada yang bermain di labirin itu. Labirinnya dibiarkan begitu saja, tapi masih tetap dirawat oleh pekerja istana.
Bentuk labirinnya pun terbilang lumayan rumit, jika sembarangan masuk mungkin akan tersesat saat mencoba menemukan pintu keluarnya. Hal ini membuat Scarlesia dan Archie merasa tertantang, mereka berdua nekat masuk ke dalam labirinnya tanpa memikirkan kemungkinan terburuknya.
“Ayo Archie kita masuk.”
Archie berjalan di depan Scarlesia, mereka tidak berhenti menatap takjub desain unik labirin tersebut. Syukurnya sekarang masih siang, jadi tempat terang benderang tanpa harus memikirkan pengcahayaan. Samping kiri kanan mereka juga terdapat tumbuhan rambat menutupi tembok labirinnya.
“Sepertinya labirin ini akan lebih rumit dibanding labirin pada umumnya,” tutur Archie mengamati setiap jalan.
Namun, di sini Archie mulai sadar karena dia tidak mendengarkan derap kaki Scarlesia di belakangnya serta tidak ada sahutan dari Scarlesia. Merasa aneh, Archie pun berbalik dan dia refleks kaget sebab Scarlesia terpencar darinya. Archie mencoba tetap tenang lalu memulai pencarian kakaknya.
“KAK! KAKAK! KAKAK ADA DI MANA? TOLONG SAHUT PANGGILANKU! JANGAN MEMBUATKU TAKUT!” teriak Archie memanggil-manggil Scarlesia, tapi tidak ada balasan dari panggilan Archie.
Archie terus mencari mengelilingi labirin, kemudian dia mencoba terbang untuk melihat Scarlesia dari atas udara demi mempermudah pencariannya. Archie memutar pandangannya ke segala arah, dia memfokuskan penglihatan ke setiap sudut labirin seraya berharap dia akan segera menemukan Scarlesia.
“AARRGHHH!!!”
__ADS_1