
“Tapi penyakit ini sebenarnya tidak menular loh,” ungkap Scarlesia.
“Hah? Jika tidak menular lalu bagaimana bisa…”
“Aku tahu apa yang sedang kalian pertanyakan. Jika penyakit itu tidak menular bagaimana caranya penyakit tersebut bisa merambat ke semua orang termasuk pada Ayah yang hanya beberapa hari di sana? Karena ada media pengantar penyakit itu,” potong Scarlesia yang saat ini memasang wajah datar dan serius.
“Media pengantar? Apa maksudnya?” bingung Aldert.
“Jelaskan secara rinci sebenarnya penyakit apa ini?” tanya Carlen.
“Baik, aku akan menjelaskannya. Penyakit ini disebabkan oleh virus xynlo yang hanya terdapat di dalam tubuh seekor griffin. Karena virus xynlo inilah darah griffin menjadi racun berbahaya dan jika seekor griffin yang mati lalu darahnya dibiarkan membusuk di udara maka racunnya akan semakin kuat. Walaupun dibiarkan di udara terbuka namun virus ini tidak akan menyerang manusia dengan mudah,”
“Jadi…”
“Ya, ada seseorang yang dengan sengaja menyebar virus ini melalui media perantara,”
Scarlesia mendadak tersadar dengan ingatannya yang telah berlalu beberapa hari.
“Tunggu, beberapa hari yang lalu Cici mengatakan kalau dia mendengar permaisuri berbicara dengan seorang pria mengenai sebuah virus. Jangan bilang kalau dia yang merencanakannya semua ini terjadi,” pikirnya.
Tanpa sadar, Scarlesia sudah melamun cukup lama sehingga membuat Carlen dan Aldert merasa heran dengan tingkahnya.
“Sia, apa yang sedang kau pikirkan?”
Pertanyaan Carlen membuat segala lamunannya menjadi buyar, ia pun segera memperbaiki ekspresinya.
“Ah maaf aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Oh iya kira-kira apa di daerah barat ada sungai?” tanya Scarlesia mengalihkan ke topik baru.
“Hmm ada, biasanya peduduk daerah barat menggunakan air sungai tersebut sebagai sumber air minum, mandi, dan mencuci pakaian,” jawab Carlen.
“Jangan bilang kalau penyakit ini tersebar melalui air sungai?” terka Aldert.
“Ini hanya prediksiku saja, bukankah semuanya cukup masuk akal?”
Carlen dan Aldert mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Scarlesia ada benarnya juga.
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan pergi ke daerah barat sekarang juga,” kata Carlen yang tergesa-gesa ingin pergi.
“Jangan!” larang Scarlesia.
“Kenapa?”
“Kalian tidak boleh pergi ke sana sebelum aku membuatkan sebuah vaksin untuk menghindarkan kalian dari penyakit ini. Walaupun tidak menular, tetap saja kita harus waspada kan?”
Mereka berdua mengangguk dan memutuskan untuk menuruti apa yang dikatakan oleh adiknya. Usai itu, Scarlesia kembali lagi ke paviliunnya sedangkan Ayahnya dia tinggalkan bersama kakaknya karena saat ini dia tidak bisa mempercayai Ayahnya pada siapapun.
“Jika dihubungkan dengan mimpiku maka tujuan permaisuri yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan keluargaku. Karena dia tidak bisa menyentuhku secara langsung jadi dia menargetkan keluargaku, untuk itu kalau virus ini menyebar ke masyarakat luas yang akan disalahkan pertama adalah Duke Eginhardt karena penyakit ini awalnya berasal dari daerah kekuasaan Ayah. Saat penyakit ini tersebar jadi kaisar akan menurunkan perintah untuk mengeksekusi keluargaku dengan tuduhan tidak bisa melaksanakan tanggung jawab sehingga menjadi bumerang untuk seluruh masyarakat,” pikirnya semakin serius dan dalam.
Scarlesia merubah posisi duduknya agar lebih nyaman saat dia berpikir.
“Semuanya terdengar masuk akal, permaisuri sungguh tega memainkan nyawa orang banyak hanya untuk dendam yang tak berujung. Haha permaisuri apa kau sedang menggali kuburanmu sendiri? Baiklah karena kau memintaku untuk bermain maka akan aku kabulkan tapi yang jadi pemenangnya tetap adalah aku,” seringainya.
Sekarang Scarlesia melanjutkan kembali untuk membuat vaksin dan memperbanyak obatnya agar nanti bisa dia bagikan pada penduduk daerah barat.
“Kami sudah kembali Sia,” seru Louis yang tiba-tiba masuk.
“Wah kenapa penampilan kalian kacau? Apa yang terjadi?” tanya Scarlesia tertawa kecil.
“Eheemm,” dehem Zenon. “I-ini karena kami terbang ke seluruh dunia dengan kecepatan super untuk mencari bunga reyal,” jawabnya mengalihkan wajah karena malu.
“Ternyata bunga ini sangat sulit untuk didapatkan. Aku lelah Sia,”
Oliver dengan langkah lunglai duduk di hadapan Scarlesia lalu merebahkan kepalanya di pahanya.
“Elus kepalaku,” pinta Oliver sok bertingkah lemah.
Lekas baju Oliver ditarik paksa oleh Zenon dan Elios, mereka menjauhkan Oliver dari Scarlesia.
“Kau jangan coba-coba menyentuh Sia lagi,” tekan Elios.
“Kalian sangat menggangguku padahal tadi Sia sudah mau mengelus kepalaku,” ketus Oliver mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Scarlesia sungguh tidak mengerti alasan mereka ribut padahal ini hanyalah masalah sepele. Sekali lagi ia menghela napasnya melihat anak ayam warna warni ini ribut kembali.
“Sia, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan bunga reyal itu?” tanya Andreas mendekatinya.
Pertanyaan Andreas tersebut juga mengundang rasa penasaran mereka sehingga keributan kecilpun terhentikan.
“Kami juga penasaran,”
Scarlesia kemudian menceritakan semuanya pada mereka mulai dari yang terjadi pada Eldrick sampai dengan kondisi daerah barat saat ini. Ketika mereka bertanya mengenai darimana Scarlesia tahu tentang semua itu secara rinci, ia menjawabnya bahwasanya dia mengetahui dari mimpi buruknya sebelumnya. Ekspresi mereka menggambarkan kalau mereka sedikit tidak yakin dengan mimpi yang menjadi kenyataan.
“Kenapa? Apa kalian tidak percaya?”
“Bukan begitu, apa mimpimu bisa dipercaya?” tanya Zenon.
“Jadi kalian meragukanku? Sudah jelas itu sudah terjadi, buktinya sekarang daerah barat terserang penyakit misterius. Ya sudah kalau kalian tidak percaya denganku,” rajuk Scarlesia membuang mukanya.
“Eh tidak begitu Sia. Kami percaya kok jadi jangan merajuk ya,” bujuk Louis.
Scarlesia cemberut dan mengerucutkan bibir mungilnya, itu membuatnya terlihat begitu menggemaskan sekarang.
“Imutnyaaa…” puji mereka semua dalam hati.
“Apa kalian lihat-lihat?” sinisnya.
Wajah mereka yang merona bersamaan langsung dipalingkan dari Scarlesia.
“Aahh aku lupa aku harus menyelesaikan ini semua sekarang. Kalian keluar dulu aku mau membuat obat dan vaksin,” usir Scarlesia mendorong mereka semua untuk keluar dari ruang kerjanya.
“Hufftt akhirnya mereka keluar juga. Astaga aku lupa menyuruh mereka membawa bunga reyal kemari,” gumamnya sambil menepuk keningnya.
Akhirnya Scarlesia membuka jendelanya dengan lebar, tampak di bawah ada banyak sekali bunga reyal yang mereka dapatkan.
“HEI KALIAN TOLONG BAWAKAN SEMUA BUNGA REYALNYA KE ATAS,” teriaknya meminta tolong kepada 5 prianya. “JANGAN BERTENGKAR YA BAGI SAJA SAMA RATA,” lanjutnya.
Tidak lama kemudian, semua bunga sudah terkumpul di dalam ruang tersebut. Kini dia memulai pekerjaannya yaitu membuat vaksin untuk melindungi semua orang di mansion ini. Ia tidak tidur sedetik pun selama 2 hari berturut-turut demi membuat vaksin dan obat yang jumlahnya tidak sedikit itu. Erin dan Hana sudah membujuknya bahkan pria-prianya juga membujuknya tapi dia menolak untuk berhenti karena bayang-bayang mimpi buruknya menusuk masuk ke dalam pikirannya.
__ADS_1
“Ahhh akhirnya selesai,” ucapnya lega telah menyelesaikan pekerjaannya. “Erin, Hana tolong panggil semua orang dan suruh mereka berbaris di depan paviliun karena aku akan memberikan vaksin agar mereka tak terjangkit,” lanjutnya memberi perintah dua pelayannya.