
Scarlesia emosi, dia paling membenci bangsawan yang menyalahgunakan kekuasaan mereka demi keuntungan mereka sendiri. Tidak ada ampunan bagi mereka yang berani berbuat seenaknya tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Keserakahan merajalela di mata para bangsawan, mereka tidak cukup hanya diberi gelar kebangsawanan serta kepercayaan untuk mengurus kekaisaran. Urusan-urusan dan tanggung jawab yang dititipkan kaisar pada mereka sekarang luntur sudah, kedok serta keburukan mereka dibongkar secara terang-terangan oleh Scarlesia sendiri.
“Yang Mulia, tolong dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu. Bukankah jumlah yang diberikan kaisar kepada rakyat jelata itu terlalu berlebihan? Kami hanya memotong sedikit uangnya, yang penting mereka baik-baik saja. Lagian apa pedulinya mereka mati? Yang berperan penting membangun kekaisaran ini adalah bangsawan itu sendiri,”
“TUTUP MULUTMU!” sergah Scarlesia. “Kau menganggap enteng nyawa orang lain? Mentang-mentang kau bangsawan bukan berarti kau seenaknya saja bertingkah. Oh mungkin kau berpikir kami dari anggota kekaisaran tidak bisa menghukummu meski tahu apa salahmu begitu? Oke, aku akan buka mata kalian lebar-lebar.”
Scarlesia menarik sebuah pedang di sarung ksatria yang berada di dekatnya, dia berjalan mendekati para bangsawan tersebut sambil menyeret pedangnya dan menghasilkan bunyi berisik di ubin lantai. Bangsawan itu bergidik ngeri melihat mata Scarlesia serasa menerkamnya, mereka terikat dan dipaksa berlutut sehingga mereka tidak bisa bergerak lebih jauh lagi.
“Kalian mau lihat kan?”
Tanpa keraguan, Scarlesia menarik tinggi-tinggi pedangnya lalu mengarahkannya tepat ke leher bangsawan yang tadi berbicara padanya. Dalam satu kali tebasan kepalanya terputus atau terpisah dari badannya.
“KYAAAAAA!” pekikan bangsawan yang berada di sekitar sana mendengung ke telinga Scarlesia.
Hana dan Erin lekas mengelap percikan darah yang tidak sengaja memercik ke wajah dan gaunnya.
“Kalian mengerti itu? Aku tidak akan mentoleransi kalian yang berbuat di luar batas meski kalian mengemban gelar bangsawan. Aku tidak suka orang-orang seperti kalian, jangan pikir kalian bisa berlindung di balik gelar kalian masing-masing,”
Scarlesia membuat mereka bungkam, tubuh mereka tidak bisa berbohong betapa ketakutannya mereka saat ini. Takut akan kematian tapi tidak takut telah membuat orang lain sengsara, sungguh manusia berhati dingin dan serakah.
“Yang Mulia, k-kami hanya d-disuruh oleh Duchess Debora. Tolong ampuni nyawa saya Yang Mulia,” beber salah satu bangsawan memohon.
“Duchess Debora ya? Aku sudah tahu kok. Kalian juga merencanakan pemberontakan bukan? Memanfaatkan Abigail sebagai batu pijakan agar Duchess Debora bisa naik menjadi kaisar. Merencanakan pembunuhan padaku, pada nenekku, permaisuri, dan istri Pangeran Victor. Nenekku dianggap sebagai penghalang besar, sedangkan permaisuri dan Yang Mulia Agnes dikhawatirkan akan melahirkan anak perempuan sehingga kalian meracuni mereka,” ungkap Scarlesia membuat mereka melongo dan membisu.
“Kalian diam? Berarti aku anggap itu semua benar. Kalian kaki tangannya dan Duchess Debora dalang sesungguhnya, tenang saja karena kalian akan mati bersama. Duchess Debora tidak akan bisa kabur kemana-mana,”
Pada saat yang bersamaan, sekarang Duchess Debora berada di dalam situasi genting. Dia panik bukan kepalang, kabar mengenai tertangkapnya bangsawan yang bersekongkol dengannya telah sampai di telinganya. Kini dia berniat untuk kabur sebelum ditangkap oleh Scarlesia, dia mengangkut beberapa barang yang dia anggap penting.
“Aku harus kabur sebelum aku ikut tertangkap, tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan sekarang,”
__ADS_1
Duchess Debora kabur melalui pintu belakang mansionnya, dia berniat kabur ke hutan dan bersembunyi di sana. Namun, ketika dia lari ke hutan tiba-tiba saja Kitty bersama kawanannya mengepung Duchess Debora dan memblokir jalan kaburnya.
“Roarrr… roarrrr….”
“Kenapa ada harimau di sini? B-bagaimana ini?”
Kitty melompat ke arah Duchess Debora untuk menerkamnya, sebelum berhasil diterkam dia sudah pingsan lebih dulu sebab ketakutan yang berlebihan.
“Dia pingsan, oke saatnya bawa dia menghadap Sia,”
Kitty membawa Duchess Debora ke istana tempat Scarlesia berada, ketika Kitty memasuki ruangan menyeret Duchess Debora menggunakan taringnya banyak orang yang ketakutan karena mereka belum pernah melihat Kitty sebelumnya dan mengira dia adalah binatang yang berbahaya.
“Tenang saja, dia tidak berbahaya kok,” seru Scarlesia.
“Sia, aku bawa wanita ini. Tadi dia nyaris kabur, untung saja aku bisa menghalanginya,” ucap Kitty menaruh badan Duchess Debora di depan Scarlesia.
Hana segera mengambilkannya dan menyerahkannya pada Scarlesia.
Byurrr
Scarlesia menumpahkan air tersebut ke muka Duchess Debora agar dia segera terbangun dari pingsannya. Duchess Debora tergagap saat air itu mengenai mukanya, dia mengedarkan pandangannya dan mulai menyadari bahwa sekarang dia berada di istana.
“Akhirnya anda terbangun duchess, bagaimana mimpinya? Apakah indah? Saya dengar anda mencoba kabur dari tanggung jawab ya. Tapi sekarang anda tidak bisa kemana-mana lagi,” tutur Scarlesia menyeringai.
“Kau wanita sialan! Apa yang mau kau lakukan padaku? Bebaskan aku sekarang!”
“Bebaskan kau bilang? Kau sungguh tidak menyadari apa yang telah kau lakukan? Kau tidak mau mengakui kesalahanmu?”
“Kesalahan? Memangnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat? Aku tidak merasa bersalah. Kau jangan menudingku macam-macam! Kau orang luar yang tiba-tiba menjadi putri mahkota, apa yang kau ketahui memangnya?” dalih Duchess Debora bersikeras mengatakan dirinya tidak salah.
__ADS_1
“Baiklah, karena kau tidak mau mengakuinya maka akan aku buat kau mengaku sekarang. Bely, kemarilah!”
Bely yang melingkar di pergelangan tangan Edward segera turun sesaat Scarlesia memanggilnya. Tubuhnya yang kecil berubah menjadi lebih besar, dia naik ke tubuh Scarlesia dan berdiam diri di pundak Scarlesia.
“Lakukan sesuai kesepakatan kita lalu,” kata Scarlesia.
“Baiklah,”
Dari mata Bely keluar sinar berwarna kuning, sinar tersebut melaju masuk ke kedua mata Duchess Debora. Dalam beberapa saat pandangan Duchess Debora berubahkosong, tidak ada lagi amarah di kedua matanya.
“Sekarang kau tinggal menyuruhnya menjawab pertanyaanmu atau kau suruh saja dia mengaku,” ujar Bely.
“Oke, aku mengerti,”
Scarlesia berdiri melipat kedua tangannya di depan Duchess Debora yang tengah berlutut di lantai.
“Apa kau bekerja sama dengan Ratu Miranda lalu menculik anak-anak bangsawan untuk dijadikan tumbal?” selidik Scarlesia.
“Iya, aku melakukannya,” jawab Duchess Debora.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Aku bekerja sama dengan Ratu Miranda agar aku bisa membunuh kaisar dan anggota kekaisaran lainnya agar aku bisa menjadi kaisar. Aku ingin membalaskan dendam kematian keluargaku yang dieksekusi oleh Kaisar Anabela Evariste. Karena dia keluargaku jadi hancur berantakan, bertahun-tahun aku hidup sendirian membangun keluargaku kembali hanya agar aku bisa membalaskan kematian keluargaku. Tapi, Ratu Miranda mati sebab dibunuh oleh wanita sialan itu! Aku tidak akan pernah memaafkannya,”
Pengakuan Duchess Debora menciptakan kehebohan, mereka tidak menyangka dalang di balik hilangnya anak-anak mereka adalah Duchess Debora sendiri.
“Lalu apa kau juga yang mengirim penyihir untuk membunuhku?”
“Benar, aku mengirim penyihir untuk membunuhmu saat ujian perburuan berlangsung. Aku juga yang sudah mengirim obat-obatan beracun hingga gas beracun ke penduduk daerah utara. Keracunan di istana juga adalah ulahku, kemudian batu sihir biru untuk membuat laut mengamuk juga bagian dari rencanaku,”
__ADS_1