
“Bolehkah Sia menikah dengan Xeon?”
“APAAA???”
Sontak pertanyaan Scarlesia membuat mereka terperangah kaget, terlebih Xeon tersipu malu dan wajahnya merah padam. Eberly tidak menyangka akan keluar kata-kata menikah dari mulut Scarlesia sendiri.
“K-k-k-kau, a-apa yang kau maksud dengan menikah?” gugup Xeon.
“Darimana kamu mendengar kata menikah?” tanya Eberly.
“Tavisha menceritakan padaku, katanya wanita dan pria yang saling mencintai akan menikah,” jawab Scarlesia memasang wajah polos.
Eberly langsung menatap tajam kepada Tavisha sebab dia merasa hal ini belum perlu diceritakan kepada Scarlesia yang masih sangat kecil. Tavisha hanya bisa menunduk dan berjanji di dalam hati untuk tidak akan mengulanginya.
“Aku tidak akan menikahi gadis kecil sepertimu!” tegas Xeon.
“Tapi aku akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, Xeon mau ya. Jangan menolak! Aku tidak suka ditolak.” Scarlesia bersikeras supaya Xeon tidak menolak permintaannya untuk menikah, mereka yang menonton hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Scarlesia dewasa sebelum waktunya.
“Tapi aku tidak mencintaimu,” dalih Xeon kembali.
“Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu,” balas Scarlesia.
Xeon mengacak-acak rambutnya, dia frustasi apabila terus-terusan melawan Scarlesia yang selalu mendapatkan jawaban atas segala ucapan yang dilontarkannya.
“Apa Sia sungguh baru berumur 5 tahun? Kenapa dia pintar sekali berbicara?” Aefar ikut terheran-heran mengamati kepintaran Scarlesia melebihi balita pada umumnya.
“Dia masih berumur 5 tahun, namun jiwanya seperti lebih dewasa dari umurnya,” ujar Leopold.
__ADS_1
“Sudah Sia, masalah menikah itu gampang. Sekarang kau harus memikirkan tentang mimpimu terlebih dahulu. Kau ingin menjadi apa setelah dewasa?” Eberly mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain, dia merasa terlalu cepat untuk Scarlesia membicarakan perihal pernikahan yang akan terjadi entah kapan.
Scarlesia berpikir sejenak sembari meletakkan jemari telunjuknya di dagu, di dalam kepalanya melintas berbagai gambaran mengenai hal apa yang akan dia lakukan setelah ia beranjak dewasa. Mimik wajahnya nampak serius, semua orang menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Scarlesia.
“Sia ingin menjadi ratu,” jawab Scarlesia antusias.
“Wuahahaha gadis kecil sepertimu akan menjadi ratu?” canda Lydon.
“Iiihh aku akan nanti akan tumbuh jadi dewasa, aku mau menjadi ratu! Titik!” tekan Scarlesia.
Eberly mengelus kepala Scarlesia sambil tersenyum hangat ke arah Scarlesia yang sedang cemberut sebab ejekan dari Lydon dan yang lain ikut menertawakannya, mereka memang suka meledek Scarlesia dan membuatnya merajuk.
“Sia ingin menjadi ratu seperti apa?” tanya Eberly kembali.
“Sia mau menjadi ratu yang memimpin alam semesta, Sia mendengar dari Agatha dan Tavisha kalau dunia tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya itu sangat indah. Sia penasaran, tapi Agatha bilang kalau sekarang tengah banyak masalah di sana. Jadi, kalau Sia yang memimpin alam semesta maka Sia akan membuat seluruh alam semesta ini menjadi damai. Sia ingin membantu mengurangi pekerjaan Yang Mulia dan dewa dewi sekalian,” terang Scarlesia.
“Kau sungguh punya pemikiran seperti itu? Itu artinya kau menyayangi kami?” Agatha bertanya kepada Scarlesia.
“Tentu saja Sia menyayangi kalian semua sebab kalian sudah aku anggap sebagai orang tua dan keluarga, lalu Xeon suaminya Sia.”
“HEI AKU BUKAN SUAMIMU!” bentak Xeon.
“Setelah Sia dewasa nanti Xeon akan menjadi suamiku,” kukuh Scarlesia.
Mereka terkekeh di sela perdebatan Scarlesia dan Xeon yang tidak berkesudahan, memang Scarlesia merupakan cahaya di kala redupnya semangat mereka. Masalah silih berganti berdatangan satu persatu menyapa mereka, namun Scarlesia mampu meredam sedikit rasa sesak akibat masalah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Xeon semakin menjalin kedekatan bersama Scarlesia. Secara perlahan Xeon akhirnya bisa kembali menampakkan senyum dan tawanya. Kehadiran Scarlesia di hidupnya mengubah dirinya serta membuat kesedihan akan kehilangan sang adiknya mulai tenggelam. Saat ini pula Scarlesia telah tumbuh menjadi gadis cantik berusia 16 tahun, kecantikannya semakin bertambah berbarengan umurnya.
__ADS_1
Meski telah berubah menjadi remaja cantik, terkadang Scarlesia masih saja suka menggoda Xeon dengan berbagai kata-kata gombalan keluar dari mulutnya. Namun, Xeon tidak membencinya, dia menyukai sisi Scarlesia yang selalu mengganggunya. Tanpa Xeon sadari, perasaannya terpupuk menjadi rasa cinta, Xeon tidak beranggapan bahwa itu cinta dan selalu menepis perasaannya itu jauh-jauh. Padahal sejujurnya Scarlesia juga merasakan hal yang sama dengannya, mereka saling mencintai tanpa tahu satu sama lain.
“Xeon, kemarilah.”
Rambut emas panjang berurai menutupi pinggul Scarlesia, angin sejuk menerbangkan rambut indahnya. Senyum indah terukir di wajah cantiknya, Xeon melamun sesaat memperhatikan gadis di hadapannya kini telah tumbuh menjadi wanita remaja yang sempurna. Jika dulu Xeon bisa menggendongnya layak anak kecil, kini Xeon hanya bisa menggendongnya bak tuan putri.
“Iya sebentar,” sahut Xeon.
Xeon bergegas menghampiri Scarlesia, beberapa hari ini dia baru saja membangkitkan dan menguasai kekuatan penyembuhan. Saat ini Scarlesia tengah menguji coba kekuatannya pada seekor burung kecil yang sayapnya terluka. Scarlesia berhasil mengobati burung itu, saatnya Scarlesia melepaskan burung kecil tersebut agar bisa terbang bebas.
“Kau sudah mahir ya menggunakan kekuatan penyembuhan,” ujar Xeon.
“Iya, sekarang aku lebih leluasa menggunakannya.”
Di samping kedekatan mereka berdua, ternyata ada seseorang yang tidak senang dan tidak menyukainya yaitu Cyrill, dia kala itu masih menjabat sebagai asisten dewa pencipta. Cyrill kecewa sebab Eberly memberi hak khusus kepada Xeon untuk menjadi penjaga dan pelindung Scarlesia setiap waktu. Cyrill tertarik kepada Scarlesia semenjak ia beranjak remaja, rasa tertarik itu perlahan berubah menjadi sebuah obsesi belaka.
Beberapa kali Cyrill mencoba mendekati Scarlesia lalu mengajaknya mengobrol, respon Scarlesia selalu baik kepadanya. Hal ini menambah tingkat obsesi Cyrill kepada dirinya dan Scarlesia tidak mengetahuinya sama sekali. Ke mana pun Scarlesia pergi, Cyrill selalu mengikutinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Scarlesia. Akan tetapi, tampaknya Xeon menyadari hal itu, dia menyadari kalau tatapan Cyrill kepada Scarlesia bukanlah tatapan biasa.
Pada suatu hari, Xeon tanpa sengaja terkecoh dan kehilangan jejak Scarlesia. Dia mencari Scarlesia dimana-mana namun tidak kunjung ia temukan keberadaannya. Xeon kemudian melaporkan hal ini kepada dewa pencipta, seketika istana langit menjadi gaduh akibat hilangnya Scarlesia secara tiba-tiba. Mereka bergerak mencari ke setiap sudut istana langit, satu-satunya orang yang tidak berada di sana saat ini hanyalah Cyrill. Ini menambah kecurigaan Xeon bahwa Cyrill yang menjadi dalang di balik hilangnya Scarlesia.
Pada saat Xeon melintas di sebuah ruang terpencil di istana langit, Xeon secara kebetulan merasakan aura keberadaan Scarlesia, tapi keberadaannya terasa tipis. Xeon membobol masuk ke dalam ruang tersebut, betapa terkejutnya ia menyaksikan Scarlesia yang terbaring tidak berdaya di atas lantai. Pakaian yang dikenakannya tidak bersisa di tubuhnya hingga memperlihatkan keseluruhan bagian vitalnya. Darahnya berlumuran di sekitar tempat dia terbaring, beberapa luka yang dia derita cukup dalam.
“SIAAAAA!”
Note :
Author sekarang lagi UAS, maaf ya jadinya cuma bisa ke up 2 chapter
__ADS_1