
Bahana hentak kaki para ksatria bergemuruh di medan perang, para penyihir melintas di angkasa menggenggam tongkat sihir masing-masing. Hewan buas mulai bermunculan dari hutan, mereka mengisi posisi kosong yang telah disusun oleh Bely. Pemimpin setiap kekaisaran berdatangan membawa pasukan mereka masing-masing. Jika dilihat dari sisi kiri medan perang, para ksatria pemanah sebagai petarung jarak jauh telah mangambil posisi aman di tempat tersembunyi.
Senjata yang mereka gunakan saat ini telah diperbaharui oleh Shou bersama peri-peri lain, mereka meningkatkan kekuatan senjata pasukan perang agar tidak mudah rusak di dalam pertempuran yang akan terpecah nanti. Pasukan bayangan milik Carlen turut ikut membantu perang, mereka merupakan ahli racun yang kemampuannya kini telah meningkat drastic akibat bantuan dari Scarlesia. Mereka membaluri senjata pasukan perang lainnya menggunakan racun, sebelum Scarlesia berangkat ke pusat semesta dia memberikan resep racun baru untuk digunakan saat peperangan nanti.
Ramuan penambah stamina yang jumlahnya tidak sedikit, telah dibagikan secara merata ke seluruh orang yang ikut serta di dalam perang kali ini. Ramuannya bekerja lebih cepat, stamina serta kekuatan mereka meningkat sebanyak tiga kali lipat. Tubuh mereka terasa begitu ringan ketika digerakkan, seolah saat ini darah Scarlesia yang bercampur di dalam ramuan tersebut memberi dorongan untuk kekuatan mereka keluar.
“Entah kenapa aku merasa agak tegang,” ungkap salah seorang ksatria.
“Ya, karena ini adalah perang penentuan masa depan alam semesta.”
Perasaan tegang mencekik mereka seketika kala itu, sekujur tubuh mereka gemetar sebab musuh mereka bukanlah lawan sembarangan. Mereka mencoba menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya pelan, kini mereka hanya ingin menyelesaikan perang ini dengan kemenangan lalu pulang menemui keluarga yang tengah menunggu kabar kepulangan mereka.
“JANGAN TEGANG! KALIAN TIDAK SENDIRI DI SINI!” seru Dizon, Putra Mahkota Kekaisaran Thyme.
Beratus pandang mata tertuju pada seruan Dizon, sejujurnya dia juga tegang saat ini, namun dia tidak ingin rasa tegang itu menguasai perasaan mereka dan akhirnya akan mengganggu pertempuran mereka nantinya.
“KITA HANYA PERLU MENYINGKIRKAN PARA BAWAHANNYA DEWA KEGELAPAN! BUKAKAN JALAN UNTUK YANG MULIA KAISAR EVARISTE, PERCAYAKAN SEMUANYA KEPADA BELIAU! KITA DI SINI HANYA BERTUGAS MEMBERIKAN KERINGANAN UNTUK MEMBANTU BELIAU,” seru Dizon sekali lagi.
“INGATLAH! NASIB SEMESTA INI BERGANTUNG KEPADA KITA. JIKA KALIAN TIDAK INGIN KEHILANGAN HIDUP KALIAN, MAKA KITA HARUS MEMENANGKAN PERANG INI. PERCAYA PADA KEKUATAN KALIAN BAHWA KITA BISA MELAKUKANNYA.” Oscar sebagai Putra Mahkota Kekaisaran Celosia juga ikut berseru.
Para ksatria dan penyihir saling bertukar pandang, mereka pikir apa yang diserukan oleh Dizon dan Oscar memang benar. Mereka hanya perlu membantu Scarlesia dan meringankan beban yang dipikul Scarlesia selama ini. Kemudian mereka mencoba menata perasaan masing-masing, ketenangan mereka peroleh setelah itu.
“Benar juga, kita tidak punya waktu berlarut di dalam rasa tegang.”
__ADS_1
“Kita harus membantu Yang Mulia.”
“DEMI YANG MULIA!”
“DEMI ALAM SEMESTA!”
“KITA HARUS MEMENANGKAN PERANG INI!”
Pasukan perang bersorak memecah ketegangan mereka, saat ini mereka menaruh rasa percaya dan yakin yang luar biasa. Mereka berharap Scarlesia bisa menyelesaikannya setelah mereka berhasil membukakan jalan untuknya. Mereka tidak akan membiarkan Scarlesia sendirian di dalam perang kali ini, mereka hanya perlu menunggu hingga Scarlesia datang untuk menyelesaikan semua ini.
Di sisi lain medan perang, Xeon sedang menatap dalam ke arah pasukan yang bersorak untuk Scarlesia. Sorot matanya penuh keharuan, Oliver yang berdiri di sampingnya tampak mengerti apa yang dirasakan Xeon kala ini.
“Apa kau terharu karena pada perang akhir ini Sia dibantu oleh banyak orang? Bahkan para hewan juga turut serta ke dalam perang ini,” celetuk Oliver menyadarkan Xeon dari lamunannya.
Xeon kembali memutar ingatannya, betapa hancur dan depresinya dia saat Scarlesia tidak lagi bernapas di dalam pelukannya. Dia menyaksikan Scarlesia meregang nyawa di depan matanya, namun tidak ada yang bisa dilakukan Xeon selain menangis histeris. Akan tetapi, pada hari ini dia menyadari perang akhir memiliki warna yang beda. Xeon merasa bahagia, ending dunia berada di depan mata, Scarlesia gadis yang selama ini dia perjuangkan mati-matian berhasil melewati segala masalah yang menghadang.
“Jangan lupakan ada kami juga,” sela Elios.
Xeon memutar arah pandangannya menghadap kepada Elios, Zenon, Louis, dan Andreas.
“Mana mungkin aku melupakan kalian, berkat kalian juga Sia bisa sampai ke tingkat ini. Meski dia memiliki beribu-ribu masa lalu yang kelam, tapi karena adanya kalian setidaknya ada bagian hidup di mana Sia pernah bahagia. Aku tidak bisa menggapainya secara langsung, namun kalian mampu melakukannya. Memeluknya, menciumnya, bahkan mengatakan cinta berkali-kali kepada dirinya,” tutur Xeon.
“Aku akan mengatakannya lagi, Sia adalah penyelamat diriku di saat aku merasa sepi. Aku tidak mengatakan kepadanya bahwa aku dulu pernah memiliki orang tua, aku hanya memberitahu dia aku tidak tahu siapa orang tuaku. Itu merupakan bagian dari luka masa laluku, aku tidak mau mengingat betapa sakitnya aku harus menerima kenyataan pahit perihal Ayahku.” Zenon mengungkapkan perasaan terdalam yang dia simpan selama ini.
__ADS_1
“Tidak hanya Zenon, kami juga merasakan hal yang sama. Bagaimana pun Sia adalah wanita yang kita cintai. Di kehidupan sebelumnya kita boleh kehilangan, tapi sekarang jangan lagi,” ucap Louis.
“Ya, aku tidak mau kehilangan lagi, sudah cukup di masa lalu aku hancur karena kehilangannya. Aku ingin hidup bersama Sia selamanya,” ujar Andreas.
“HEI LIHAT KE ATAS LANGIT!”
Seorang penyihir meneriakkan menyuruh untuk mendongak ke langit, semua orang serentak melihat langit. Dari atas sana tujuh malaikat tengah turun bersama beberapa orang asisten dewa di belakangnya. Mereka mendarat di depan Xeon langsung, tampaknya mereka ingin mengabari Xeon tentang Scarlesia.
“Ternyata kalian sudah selesai mempersiapkan semuanya,” kata Falco.
“Apa kalian kemari untuk membantu jalan perang ini?” tanya Xeon.
“Iya, kami diperintah langsung oleh Yang Mulia Dewa Pencipta untuk turun membantu kalian di dalam perang ini,” jawab Falco.
“Apa yang terjadi dengan Sia? Apa proses kebangkitannya berhasil?” tanya Oliver tiba-tiba.
“Proses kebangkitan Sia sudah selesai sejak kemarin.”
“Lalu mengapa Sia masih belum turun ke medan perang? Apa ada masalah lain lagi?” Elios ikut bertanya.
“Tidak, justru saat ini Sia tengah bersama dewa pencipta karena Sia akan diberi kekuatan tambahan oleh dewa pencipta. Oleh sebab itu, Scarlesia tidak bisa datang lebih awal,” jelas Falco.
“Kekuatan tambahan? Jangan bilang Yang Mulia tengah memberikan kekuatan sejatinya kepada Sia? Tapi bukankah tubuh Sia tidak akan mampu menahan besarnya kekuatan Yang Mulia?” Mata Xeon membulat sempurna.
__ADS_1
“Bisa, tapi hanya dapat bertahan selama dua jam.”