
“Aku hanya meminta bayaranku,”
Senyum Oliver terkesan licik sehingga mampu membuat darah Zenon dan Andreas mendidih. Sedangkan Scarlesia kini terjebak dalam lamunannya, pipinya yang merona, lalu pikirannya yang entah berada dimana sekarang.
“Apa itu barusan? Kenapa pria ini tiba-tiba melakukan hal yang sangat memalukan?” batinnya.
Kitty menghampiri Scarlesia, ini membuatnya tersadar dari lamunannya. Saat dia menegakkan kepalanya, dia melihat seluruh ruangan sudah berantakan oleh ulah Zenon dan Andreas yang mengamuk.
“Berani-beraninya kalian menghancurkan ruanganku,”
Oliver marah, kini dia sedang mencoba mengeluakan sihirnya untuk melawan Zenon dan Andreas tapi Scarlesia dengan cepat menghentikan pertengkaran mereka.
“STOP! KALIAN JANGAN BERTENGKAR!” teriaknya berdiri di tengah-tengah mereka.
“Tapi Sia pria ini berani kurang ajar padamu, aku…”
“Sudah Zenon! Sekarang ayo kita pulang,”
Scarlesia mendorong mereka berdua untuk keluar dari ruang kerja Oliver.
“Maaf Oliver aku pulang dulu, aku serahkan sisanya padamu. Nanti aku akan bayar ganti rugi kerusakan ruanganmu,” ucap Scarlesia perlahan menghilang dari pandangan Oliver.
“Baiklah, mari kita bertemu lagi wanitaku,” gumam Oliver.
Selama dalam perjalanan pulang Zenon terus menggerutu sedangkan Andreas hanya diam tak berekspresi. Sekarang hanya Kitty yang bisa diajak bicara oleh Scarlesia karena mereka berdua berada di dalam mood yang buruk.
“Kitty, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh tidak bisa mengerti jalan pikir para pria,”
Kitty menghibur Scarlesia dengan sebuah ciuman.
“Apa kamu baru saja menghiburku? Kitty kamu menggemaskan sekali,”
“Apa kau senang dicium oleh pria itu?” celetuk Zenon.
“T-tidak! Kenapa aku harus senang? Ayo lah kalian jangan marah lagi anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi,”
“Seharusnya tadi aku tebas saja kepalanya,” gerutu Andreas.
Scarlesia menepuk keningnya, dia menghembuskan napas kasar melihat tingkah mereka berdua. Untuk sekarang dia hanya membiarkan mereka bertingkah seperti ini karena dia tahu nanti mereka juga akan kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
3 hari kemudian
Tibalah hari ini yaitu hari diadakannya pesta kemenangan di istana. Ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Scarlesia karena dia ingin membuat pertunjukan yang luar biasa di istana. Scarlesia malam ini tampil menawan dengan gaun maroonnyayang berkilau. Gaun yang tidak perlu memakai korset dengan glitter-glitter yang berkilau ditambah motif bunga yang terukir di gaunnya. Surai silvernya digerai ditambah dengan aksesoris yang cantik di leher dan rambutnya.
Penampilan Scarlesia membuat pria-pria di mansion tidak bisa berkata-kata termasuk Eldrick dan Carlen apalagi Andreas serta Zenon. Tidak ada yang lebih cantik selain Scarlesia malam ini. Para ksatria yang bertugas di pintu masuk istana pun ikut terpana dengan kecantikannya.
“Yang Mulia Duke Eldrick Eginhardt, Tuan Carlen Eginhardt, serta Nona Scarlesia Eginhardt memasuki ruangan,”
Seketika para bangsawan yang hadir ribut mendengar nama Scarlesia.
“Wanita itu benar-benar datang?”
“Apakah dia mau mempermalukan diri di sini?”
“Tapi aku dengar dia sudah berubah,”
“Mungkin itu hanya rumor, tidak mungkin dia sudah berubah,”
Daun-daun pintu terbuka lebar, Scarlesia melangkah anggun didampingi oleh Ayah dan kakaknya. Keindahannya yang berkilau membuat seluruh mata tidak bisa menghindarinya, seisi ruangan hening karena tidak ada kata-kata yang pantas melukiskan betapa cantik Scarlesia malam ini.
“Apa yang terjadi? Dia sangat cantik,”
“Dia sungguh manusia? Bagaimana bisa kecantikannya di luar logika seperti ini?
Suara-suara pujian menyambut kedatangan Scarlesia, para pria tidak bisa sedikit pun mengalihkan pandangannya. Kemudian Scarlesia bersama Eldrick dan Carlen terlebih dahulu menyapa Kenric yaitu kaisar dan Roseanne sang permaisuri. Scarlesia tersenyum miring melihat rupa sang permaisuri yang tidak senang dengan kedatangannya.
“Scarlesia Eginhardt memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri,” ucap Scarlesia membungkuk memberi salam.
“Hoho berdirilah Sia, aku tidak menyangka kau akan datang. Kau sangat cantik mirip sekali dengan Ibumu,” puji sang kaisar.
“Terima kasih Yang Mulia,”
Scarlesia mengangkat kepalanya, matanya melirik ke arah Roseanne dengan rambutnya yang berwarna ungu tua lalu pupil zamrudnya yang memandang tajam Scarlesia. Sedangkan untuk rupa Kenric, dia seumuran dengan Eldrick. Mukanya terkesan ramah, bersurai pirang, serta pupil matanya berwarna coklat.
“Aku dengar kau adalah orang yang mengungkap pasar budak itu. Aku sungguh berterima kasih padamu, sekarang kau boleh menikmati pestanya,” ucap Kenric.
“Baiklah Yang Mulia,”
Scarlesia membalikkan badannya, ia tersenyum miring setelah melihat lebih jelas rupa Roseanne.
__ADS_1
“Senang sekali aku bertemu dengannya orang yang memasukkan Zaneta dan Nieva ke kediaman Eginhardt, yang membunuh Ibu Sia, serta seseorang yang menyuruh dokter untuk memberikan racun padaku yaitu Roseanne, sang permaisuri Kekaisaran Roosevelt. Baiklah, dengan begini pertarungan akan berjalan dengan sengit,” batin Scarlesia.
“Dimana tunanganku tersayang? Kenapa dia masih belum muncul?” pikir Scarlesia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang.
Kini dia tinggal sendiri karena Eldrick dan Carlen sedang menyapa para bangsawan lain sedangkan Andreas dan Zenon tengah menikmati hidangan pesta. Ketika dia mencari keberadaan Vincent sang putra mahkota, tiba-tiba saja sekelompok wanita bangsawan yang dipimpin oleh Giana sang tuan putri yang merupakan adik Vincent datang menghampiri Scarlesia, di tengah-tengah mereka juga ada Nieva.
“Salam kepada tuan putri,” ucap Scarlesia memberi salam.
“Cih lihatlah wanita ini sangat mirip dengan Roseanne, aku yakin dia ingin mencari masalah denganku,” batinnya jengkel.
Giana menyunggingkan senyumnya.
“Nona Scarlesia sudah lama tidak bertemu. Kamu terlihat sangat mencolok hari ini,” ujar Giana.
“Terima kasih atas pujiannya, saya tahu kecantikan saya terlalu mencolok hari ini untuk itu saya mohon maaf karena telah mencuri perhatian para pria dari anda semua,” jawab Scarlesia dengan ekspresi datar.
Ekspresi Giana seketika berubah menjadi geram, begitu pula dengan Nieva yang tidak senang karena kedatangan Scarlesia ke pesta ini.
“Aku dengar Nona Scarlesia melakukan hal kejam pada kepala dapur di kediamannya. Aku heran bagaimana bisa seorang wanita bangsawan bisa melakukan hal sekejam itu. Bahkan aku dengar kepala dapur itu meninggal dalam keadaan tragis,” ujar Giana yang tampak ingin memancing kemarahan Scarlesia.
“Dia meninggal karena kehilangan banyak darah jadi itu bukan salah saya, memang sudah takdirnya dia meninggal,”
Lagi-lagi jawaban Scarlesia membuat Giana semakin kesal.
“Bagaimana bisa kamu tidak merasa bersalah setelah membunuh orang lain? Apakah kamu tidak punya hati setelah melakukannya? Apalagi kamu adalah bangsawan kelas atas seharusnya kamu bersikap lembut seperti Nieva,”
Scarlesia menghela napasnya, ia menatap tajam Giana dan teman-temannya.
“Yang Mulia Tuan Putri, apakah anda punya otak?”
“Apa? Tentu saja aku punya,”
“Kalau punya seharusnya anda pakai untuk berpikir, bagaimana bisa saya memaafkan seseorang yang sudah melakukan korupsi, kekerasan, serta percobaan pembunuhan pada majikannya? Kalau anda jadi saya apakah anda akan memaafkannya? Tentu tidak bukan? Itulah gunanya otak, digunakan untuk berpikir. Sebaiknya lain kali tuan putri memeriksa apakah ada kerusakan di otak tuan putri,”
Scarlesia berbicara dengan nada lembut namun tajam, dia menyindir sekaligus membuat Giana merasa malu. Giana mengepalkan tangannya, dia sangat marah karena perkataan Scarlesia yang terkesan lancang untuknya.
“Apa kau bilang? Lancang sekali kau! Padahal kau hanya anak yang diabaikan, berani sekali kau berkata seperti itu pada aku yang tuan putri ini,” bentak Giana.
“Tuan putri, saya tidak peduli anda tuan putri atau bukan tapi jika anda memancing kemarahan saya maka saya tidak akan segan-segan melayangkan pedang ke leher tuan putri hingga putus,” gertak Scarlesia secara halus.
__ADS_1
Di sela ketegangan yang terjadi antara Scarlesia dan Giana, seorang pria yang mirip dengan Kenric menghampiri dan menyapanya.
“Sudah lama tidak bertemu Scarlesia,”