
“Tapi, siapa Ayah anak ini? Kau punya enam suami kan?” Bely melontarkan pertanyaan yang sama dengan Lucas, sebenarnya Scarlesia sendiri juga penasaran siapa Ayah dari anak yang di kandungnya kini.
“Aku tidak tahu, kita akan segera mengetahuinya begitu anak ini lahir,” jawab Scarlesia.
“Tenang saja Yang Mulia, saya bisa mendeteksi siapa Ayah dari bayi ini nanti saat usia kandungan anda menginjak empat bulan,” tutur Shou.
“Jadi, peri memiliki kemampuan seperti itu?”
Mereka baru mengetahui ternyata peri memiliki kemampuan unik, Shou menjelaskan bahwasanya peri sebenarnya memiliki kemampuan pendeteksi kekuatan. Dikarenakan anak Scarlesia sudah pasti bukan anak manusia, maka dia akan lebih mudah untuk mendeteksi siapa Ayah dari bayi tersebut tanpa harus menunggunya lahir terlebih dahulu. Shou mendeteksi kesamaan aura dan kekuatan dari janin kemudian dicocokkan dengan salah satu suami Scarlesia nanti.
Kemampuan yang sangat penting untuk Scarlesia, apalagi dia tidak tahu akan hamil berapa kali setelah ini. Terlebih lagi di zaman yang tidak mengenal teknologi, pastinya tidak akan ada namanya tes DNA sehingga kemampuan pendeteksi kekuatan milik Shou sangat berguna bagi Scarlesia. Mereka menyetujui untuk menunggu hingga usia kandungan menginjak 4 bulan sehingga nanti Shou akan lebih mudah untuk mendeteksinya.
Selama masa kehamilannya, Scarlesia benar-benar dijaga oleh penghuni istana bahkan tidak diperbolehkan untuk bekerja. Seluruh pekerjaan dikerjakan oleh para suaminya sendiri, ia hanya bisa bekerja sebatas pekerjaan ringan saja, seperti penandatanganan dokumen. Bahkan pembangunan kota juga ia hanya bisa memantau dari jauh, syukurnya pembangunan tersebut berjalan lancar tanpa kendala.
Rasa bosan kerap menghantui dirinya, dia adalah tipe wanita yang tidak bisa berdiam diri saja di dalam kamar. Semenjak mengandung, dunianya hanya sebatas istana saja, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Terkadang dia merasakan ketidakadilan, makan pun juga banyak pantangannya, meski begitu dia berusaha ikhlas menjalaninya demi sang anak yang tengah dikandungnya kini. Hingga akhirnya, usia kandungan Scarlesia memasuki usia empat bulan, maka di sinilah kekuatan Shou akan bekerja.
Hari ini Scarlesia bersama suaminya berkumpul di rumah kaca, di meja yang panjang serta di atas kursi yang berjejer di mejanya, mereka duduk bersama untuk mengetahui siapa gerangan Ayah si janin. Shou segera melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Scarlesia, mereka menunggu dengan sabar sampai Shou selesai memeriksanya.
“Jadi, bagaimana? Siapa Ayah dari si bayi?” tanya Louis, raut wajah mereka tegang dan merasa gugup.
“Yang Mulia.”
“Ya? Apa ada masalah?”
“Saya mendeteksi ada dua kehidupan di sana,” ungkap Shou masih serius dalam pemeriksaannya.
“Dua kehidupan?”
Raut muka mereka kebingungan, pada mulanya mereka tidak paham atas apa yang disampaikan oleh Shou. Kemudian Scarlesia mengerti, dia mengangguk seraya mengukir senyum bahagia di bibir tipisnya.
“Maksudmu, anakku kembar bukan?”
Para suami Scarlesia mengangguk serentak pertanda mengerti yang dimaksudkan dua kehidupan adalah Scarlesia sedang mengandung anak kembar. Mereka tentunya semakin gembira, kini saatnya mereka mengetahui siapa Ayah dari si kembar.
“Ayah dari janin kembar ini adalah…” Shou menggantung kalimatnya, ia sengaja untuk membuat mereka semua semakin merasa penasaran.
“Ayo cepat! Katakan saja!” desak Zenon.
__ADS_1
“Ayah dari janin kembar ini adalah Yang Mulia Andreas,” ungkap Shou.
“APAAAA???!!”
Andreas seketika sumringah begitu mengetahui bahwa dia adalah Ayah dari anak kembar yang tengah dikandung Scarlesia saat ini. Tidak ada yang menyangka memang, tapi semua ini sudah diatur oleh dewa pencipta sendiri. Suami Scarlesia yang lain mengerumuni Andreas, mereka tidak terima kalau Andreas akan memiliki anak kembar bersama Scarlesia, padahal sejak awal mereka sangat berharap bahwa anak-anak itu adalah anak mereka sendiri. Scarlesia terkekeh menyaksikan tingkah mereka mengguncang-guncang bahu Andreas.
“Kenapa malah kau? Kenapa bukan aku?”
Tiba-tiba saja di sela keributan mereka, cermin komunikasi milik Shou bergetar menandakan bahwa ada panggilan dari istana langit. Shou segera menjawab panggilan tersebut, ia berbicara beberapa kata dengan dewa pencipta sebelum diserahkan kepada Scarlesia.
“Yang Mulia, dewa pencipta ingin berbicara dengan anda,” ujar Shou.
“Besarkan saja cerminnya.”
Shou memperbesar cerminnya, keributan dari para suami senyap sesaat mereka tahu kalau dewa pencipta akan berbicara dengan Scarlesia.
“Sia, bagaimana kabarmu?” tanya Eberly.
“Saya baik-baik saja Yang Mulia. Syukurnya begitu,” jawab Scarlesia sambil tersenyum manis mengelus perutnya.
“Aku sudah mendengar, katanya Shou melakukan pemeriksaan terhadap janinmu kan? Aku telah mengatur segalanya dengan baik.”
“Sejujurnya, aku telah mengatur tentang jiwa mana saja yang akan menjadi anakmu. Salah satunya anak kembar yang kau kandung, mereka berdua dulunya adalah janin yang pernah gugur di kala kau hamil anak Andreas di kehidupan sebelumnya. Dua jiwa itu menolak untuk dimasukkan ke janin orang lain dan memilih untuk menunggu lebih lama supaya mereka bisa menjadi anakmu,” terang Eberly.
Sesungguhnya Scarlesia tidak pernah menyangka sama sekali, dia ingat kala hati bahagia saat mengetahui dirinya hamil anak Andreas, meski pada akhirnya dia tetap meregang nyawa dan janinnya tidak selamat. Andreas pun nampak terdiam, ia dulu menangisi kematian Scarlesia, ia menyesali dirinya tidak mampu melindungi sang kekasih dan anak yang dikandungnya.
“Kalau begitu apa ada kemungkinan Sia akan hamil anak kami juga?” sela Oliver.
Eberly tersenyum, dari senyum Eberly bahkan Scarlesia bisa membaca apa yang akan dijawab olehnya.
“Ya, aku memang sudah mempersiapkannya. Sia akan hamil anak kalian semua, tentunya Sia harus siap untuk hal ini. Oleh sebab itulah aku menghubungi kalian, Sia harus memberikan anak untuk masing-masing suaminya. Sia bukan manusia, jadi dia memiliki daya tahan melebihi manusia pada umumnya,” jawab Eberly menjelaskan.
Tatapan meresahkan mulai menusuk Scarlesia, mereka yang tadinya mengajukan protes kepada Andreas kini mereka merasakan kelegaan serta kebahagiaan tiada tara. Scarlesia tahu alur seperti apa yang akan ia jalani setelah ini, walau begitu Scarlesia juga siap untuk menerima kehadiran sang buah hati.
“Baiklah, Yang Mulia. Saya mengerti, jika memang harus seperti itu maka saya akan melakukannya dan berusaha menjadi Ibu yang baik serta bersikap adil untuk anak-anak saya nanti.”
Setelah itu, para dewa dan dewi juga berbicara dengan Scarlesia, mereka bahagia karena Scarlesia akan menjadi seorang Ibu. Mereka berbincang selama beberapa waktu sebelum akhirnya Scarlesia harus kembali ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Semenjak hari itu, Andreas adalah suami yang paling sering berada di dekat Scarlesia, dia ingin menjaga istri dan anaknya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Meski menuai rasa cemburu dari suami yang lain, namun mereka tetap bisa memakluminya.
“Apa kau merasakan gerakannya?” tanya Scarlesia.
Saat ini, usia kandungan Scarlesia sudah hampir memasuki waktu melahirkan, kini Andreas tengah bersamanya di taman. Scarlesia akhir-akhir ini lebih suka berjemur di bawah sinar mentari dan Andreas selalu menemaninya setiap waktu.
“Ya, aku merasakannya. Apa di dalam perutmu sungguh ada dua bayi sekarang?” Andreas mengusap perut Scarlesia, dia bisa merasakan dengan jelas gerakan bayi kembar di sana.
“Di sini memang ada dua bayi, anak-anak kita. Walaupun dulu aku sempat sakit hati karena keguguran tapi dewa pencipta menghadirkan mereka kembali di antara kita.”
Andreas mengangguk, rasa bahagianya tidak bisa terukur kala itu, sungguh tiada hal yang paling bahagia daripada menunggu kehadiran dua anaknya ke dunia ini. Di tengah-tengah rasa bahagia mereka, tiba-tiba Scarlesia merasakan sakit teramat sangat di perutnya.
“Aduhhh perutku sakit….”
“Sakit? Apa kau akan segera melahirkan? Tapi bukankah prediksinya kau akan melahirkan beberapa hari lagi?”
“Tidak tahu, aku tidak bisa menahannya lagi.”
Andreas dilanda kepanikan hebat, dia bergegas menggendong Scarlesia masuk ke istana. Seketika seluruh penghuni istana turut panik, mereka berlarian ke sana kemari karena Scarlesia mendadak akan melahirkan hari ini. Seorang dokter yang disediakan untuk membantu Scarlesia bersalin segera bertindak cepat.
“Andreas, Sia akan melahirkan?” tanya Xeon datang bersama yang lain. Mereka bergegas datang begitu mendengar kabar Scarlesia akan segera melahirkan.
“Iya, aku kira waktu melahirkannya beberapa hari lagi, tapi nyatanya hari ini dia akan melahirkan.” Andreas sibuk mondar mandir di depan kamar Scarlesia, dia cemas dengan kondisi Scarlesia.
“Tenang saja, Sia pasti bisa melahirkan dengan selamat.” Mereka menenangkan Andreas supaya tidak panik, meski sebenarnya mereka juga panik.
Tidak butuh waktu lama mereka menunggu, dari dalam kamar Scarlesia terdengar suara dua orang bayi menangis. Rupanya Scarlesia berhasil melahirkan kedua anaknya dalam waktu kurang lebih 45 menit.
“Selamat Yang Mulia, kedua pangeran terlahir dengan sehat tanpa ada kekurangan.” Sang dokter menyerahkan anak kembar berjenis kelamin laki-laki kepada Scarlesia.
Scarlesia terlihat kelelahan, tapi melihat ketika melihat anak kembarnya seluruh rasa lelahnya lenyap. Dokter meletakkan kedua anaknya di samping Scarlesia, mereka sangat menggemaskan, satu anaknya sangat mirip dengan Andreas baik dari warna rambut nan hitam hingga pupil mata berwarna seperti pedang. Sedangkan yang satunya lagi, memiliki warna rambut silver dengan pupil mata merah jambu, mirip dengan penampilan ia dulu.
“Selamat datang di dunia anak-anakku tercinta.”
Para suami Scarlesia terburu-buru masuk ke kamar setelah dokter mengizinkan mereka untuk masuk. Di antara mereka, Andreas lah yang paling merasa bahagia, ia langsung menggendong kedua putranya.
“Andreas, apa kau sudah menyiapkan nama untuk mereka?” tanya Elios.
__ADS_1
“Sudah, aku memberi mereka nama Luca dan Noah.”