
“Sia, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?”
Badan Andreas gemetar seketika melihat Sia yang kesusahan bernapas di depan matanya, ia mendekap tubuh Sia erat.
“Tolong katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu?” lirih Andreas menangis.
“Andre…as… A-aku minta maaf,”
Suara Sia bergetar dan sangat kecil namun masih mampu menggapai pendengaran Andreas, saat ini ia tampak ingin memberitahu sesuatu pada Andreas.
“Untuk apa kau meminta maaf padaku? Kau tidak punya salah apapun jadi tolong jangan minta maaf lagi,”
“Maaf karena aku tidak bisa menjaga anak kita,”
“Anak? Apa yang kau katakan? Jangan bilang….”
Andreas memperhatikan situasinya kembali, banyak makanan yang masih baru terhidang di atas meja, serta sebuah kotak hadiah kecil di atasnya. Darah yang bersimbah di sekitar Sia berasal perutnya dengan kata lain dia baru saja keguguran ditambah dengan bekas tusukan di perutnya.
“Aku ingin memberitahukannya padamu setelah kau sampai di rumah tapi semuanya sudah terlambat. Aku bahkan kehilangannya sebelum aku mengatakannya padamu, maafkan aku Andreas… hikss,”
Andreas mengamati lagi luka yang didapat oleh Sia, tepat di lehernya terdapat bekas gigitan vampir.
“Sia, katakan padaku sejujurnya. Apa keluargaku yang melakukan ini padamu?”
Sia menganggukkan kepalanya.
“Sial! Aku akan membawamu ke dokter sekarang biar…”
Sia menarik baju Andreas sembari menggelengkan kepalanya.
“Jangan,” larangnya.
“Tapi kenapa? Kau sudah terluka sangat parah seperti ini. Bagaimana bisa kau menolak untuk aku bawa ke dokter?”
“Percuma karena aku tidak akan bertahan lebih lama lagi,”
__ADS_1
“Jangan berbicara omong kosong! Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja! Jadi aku mohon Sia bertahanlah sebentar ya. Aku tidak marah karena anak kita yang keguguran, itu bukan salahmu. Tolong jangan tinggalkan aku,”
Andreas terisak, ia tidak kuat lagi membendung air matanya mendengar sang kekasih berbicara hal yang tidak pernah ingin dia dengar. Sia tersenyum, ia menyentuh pipi Andreas menggunakan tangannya yang berlumuran darah.
“Andreas, apa kau percaya dengan reinkarnasi? Kau tahu setelah aku mati aku akan bereinkarnasi kembali? Jadi meskipun hari ini aku mati, aku akan tetap bisa bertemu denganmu kembali. Hingga saat itu datang, aku mohon tunggulah aku. Aku akan menemukanmu lebih dulu, jadi jangan menangis lagi ya,”
Sia mengusap air mata yang mengalir di pipi Andreas, tatapannya yang penuh cinta membuat Andreas semakin tidak rela kehilangan dirinya.
“Aku… Aku tidak bisa… Aku ingin terus bersamamu, jangan tinggalkan aku. Bagaimana caranya aku hidup tanpamu?”
“Aku percaya kau pasti bisa karena aku mencintaimu dan akan terus hidup dalam hatimu,”
Itu adalah kalimat terakhir yang didengar oleh Andreas langsung dari mulut Sia, kini nyawanya tak lagi di badan, tubuh hampa yang tertinggal di pangkuannya langsung ia dekap erat. Tubuh yang perlahan dingin menciptakan rasa sakit tak terhingga di relung hati Andreas.
“Sia…”
Air matanya tidak berhenti mengalir deras selama beberapa saat. Di tengah hujan deras yang membasahi daratan, Andreas menggendong Sia lalu menguburkan sang kekasih di hutan belakang rumah mereka. Andreas bersimpuh terisak di depan makam Sia, dari dalam hatinya tidak ada keikhlasan yang dia dirasakan.
“Berapa lama pun itu aku akan menunggumu jadi tolong temui aku kembali seperti pada saat pertama kau menemukanku tapi sebelum itu aku akan memusnahkan mereka yang sudah berani membunuhmu!”
“Darah gadis itu memang sangat manis. Berbeda dengan darah yang biasa aku minum,” ucap Van, Ayahnya Andreas yang menyeruput habis segelas kecil darah segar.
“Aku tadi sudah meminumnya langsung dari tubuhnya,” sambung Norbert.
“Apakah gadis itu sudah mati?” tanya Sofia.
“Aku rasa sudah, tadi aku sudah menusuk perutnya. Dia bahkan sedang mengandung anaknya Andreas dan aku tidak sengaja mendorongnya hingga dia keguguran,” jawab Norbert.
“Anaknya Andreas? Hahaha tidak salah aku menyuruhmu untuk membunuh gadis itu. Andreas anak tidak berguna itu sekarang sudah berubah menjadi orang yang berbeda,” ujar Van tertawa puas.
“Huh untung saja gadis itu sudah mati. Aku tidak sudi punya cucu dari gadis yang tidak jelas asal usulnya, bagaimana bisa Andreas jatuh cinta sampai menghamilinya?”
Brakkk
Andreas mendobrak pintu masuk dan langsung menerobos ke dalamnya, Sofia, Van, serta Norbert terkejut dengan kedatangan Andreas.
__ADS_1
“Oh Andreas, apa kau mau kembali ke rumah ini lagi?” tanya Van.
“Aku sudah mengusirmu jadi untuk apa kau kembali lagi?” sinis Sofia.
“Aku tidak sudi kembali ke rumah ini lagi tapi kalian memaksaku untuk melakukannya. Beraninya kalian membunuh gadis yang aku cintai lalu aku juga dengar kalian juga membuat Sia keguguran,”
Kedua mata Andreas menatap tajam dan wajahnya tidak berekspresi. Hawa dingin dari dalam dirinya keluar menusuk mereka semua.
“Apakah kau marah hanya karena itu? Kau bisa mencari gadis yang lebih baik dari dirinya, kau hanya buang-buang waktu jika terus….”
Andreas mengangkat pedangnya lalu menebas kepala Sofia hingga terpisah dari badannya. Sofia mati dalam satu tebasan pedangnya, dia membenci Ibunya itulah kenapa dia menebasnya tanpa ada rasa ragu dalam hatinya. Van dan Norbert sontak kaget dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Andreas.
“Sofia… ANAK KURANG AJAR! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU?! PADAHAL DIA ADALAH IBUMU TAPI BERANINYA KAU MELAYANGKAN PEDANG TAJAMMU PADANYA!” murka Van.
“Ibuku kau bilang? Aku tidak pernah punya Ibu seperti dirinya dan aku tidak pernah punya keluarga seperti kalian,” tekan Andreas.
“SIALAN!!”
Van mengambil pedangnya, dia menerjang ke arah Andreas namun serangannya berhasil ditahan oleh Andreas. Kekuatan Andreas semakin bertambah, Van tidak mampu menahannya lagi dan akhirnya terpental jauh ke belakang. Norbert yang juga ikut menyerang Andreas, dikalahkan olehnya dalam satu ayunan pedangnya.
Andreas kehilangan kesadaran atas dirinya, dia mendekati Van yang bersandar di dinding seraya mengatur irama napasnya.
“Kau harus mati!”
Andreas juga menebas kepala sang Ayah, ia bisa melihat dengan jelas ekspresi takut Van sebelum ia kehilangan nyawanya. Setelah itu Andreas juga menghabisi seluruh vampir yang ada di kediaman ini tanpa bersisa sedikit pun, namun ketika dia melihat kembali mayat keluarganya ia tidak menemukan tubuh Norbert dimana pun itu.
“Ohh apa dia kabur? Aku tahu kalau dia takut dengan kematian,” batin Andreas tersenyum puas setelah melenyapkan keluarganya sendiri. Pembalasan dendamnya sudah kelar tapi dia masih merasa hampa karena kehilangan Sia dari sisinya.
“Cepatlah kembali Sia,” harapnya dalam hati yang terluka.
Note :
Maaf readers, hari ini author up 1 chapter dulu ya karena daritadi author sibuk nugas dan baru bisa nyelesain satu chapter. Besok autthor usahain up langsung 5 chapter sekalian buat ngelunasin 2 chapter hari ini, sekali lagi maaf ya
__ADS_1