
Begitu melihat kondisi daerah barat yang sangat parah menurutnya, Scarlesia langsung menjalankan perannya dengan dibantu oleh Andreas, Oliver, Zenon, Louis, Elios, serta Carlen, dan Aldert. Tidak hanya memberikan obat, Scarlesia juga menyuntikkan vaksin pada orang-orang yang belum terjangkit. Sejauh ini masih aman dan belum ada satupun tanda-tanda akan terjadi hal buruk.
“Sia, akhirnya kamu tiba di sini,” seru Kitty menghambur ke pelukan Scarlesia.
“Iya, bagaimana dengan hasil penyelidikannya?” tanya Scarlesia.
“Aku menemukan ada bangkat griffin di dalam sungai, apa mungkin itu ada kaitannya dengan ini semua?”
Benar dugaan Scarlesia bahwasanya para pelakunya mengincar air sungai dikarenakan hanya ini saja yang lebih mudah untuk mereka cemari. Saat ini yang perlu dia lakukan adalah membantu para korban yang tidak berdosa ini agar terbebas dari virus xynlo. Selama beberapa hari dia bekerja keras bersama para prianya dan kakaknya untuk mengurangi penyebaran penyakit ini alhasil hanya dalam waktu 5 hari 80% dari penderita virus xynlo berhasil dia sembuhkan dalam waktu yang sangat singkat.
“Syukurlah ini sudah sangat berkurang sekarang,” batinnya tersenyum haru.
Sementara itu di istana kekaisaran, permaisuri geram saat menerima laporan mengenai hal tersebut dari para bawahannya. Bahkan bangkai griffin yang dengan sengaja dia buang ke dalam sungai kini sudah bersih, air sungainya pun sudah aman digunakan.
Praaangggg
Beling-beling gelasnya berjatuhan karena dia lemparkan dengan penuh emosi ke atas lantai. Permaisuri saat ini dipenuhi oleh amarah yang tidak terkendali, seluruh rencananya digagalkan dalam waktu singkat oleh Scarlesia.
“Kalian harus membunuh wanita itu bagaimanapun caranya,” murka sang permaisuri.
“Tapi dia selalu dikelilingi oleh para pria yang sangat kuat. Kami tidak bisa menanganinya secara langsung Yang Mulia,” jawab salah seorang pria berjubah hitam yang berlutus di hadapannya.
“Awasi dia terus. Ketika dia sedang sendirian maka lancarkan aksi kalian, aku tidak mau tahu hari ini gadis itu harus mati!” tekannya.
“Baik Yang Mulia,”
Scarlesia kini tengah beristirahat sejenak dari kerjaannya yang cukup berat, dia hanya tidur beberapa jam saja. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya untuk menghilangkan rasa pegal yang dia rasakan.
“Nona, sekarang sudah senggang. Bisakah anda menjelaskan bagaimana cara anda mengetahui mengenai virus ini? Lalu benda serta obat yang anda bawa juga tolong jelaskan pada kami,” pinta para dokter yang tiba-tiba mengerumuninya.
Karena mereka sudah bertanya cukup sering padanya, akhirnya sekarang Scarlesia memberitahu mereka semua. Mulai dari asal usul penyakit tersebut, alat meracik obatnya, jarum suntik, serta bahan-bahan pembuatan obatnya. Para dokter terkagum dengan kemampuan medis luar biasa milik Scarlesia di usia semuda ini.
“Nona, anda luar biasa sekali. Kenapa pengetahuan medis anda bisa seluas ini?” tanya mereka dengan mata penuh binar.
“Haha ini hanya sebuah kebetulan. Oh iya mengenai alat-alat medis ini bisakah kalian memproduksinya secara banyak? Guna untuk meningkatkan kemampuan medis para dokter di kekaisaran kita,” ucap Scarlesia sekaligus bertanya.
__ADS_1
“Bisa Nona, serahkan saja semua ini pada kami,” jawab mereka antusias.
“Tapi apa Nona tidak ada niatan untuk menjadi dokter? Jika anda tidak keberatan kami persatuan dokter di kekaisaran ini tidak akan menolak anda untuk bergabung dengan kami,” tawar mereka.
“Sepertinya aku kurang tertarik tapi aku bisa membagikan ilmu medisku pada kalian, bagaimana?”
Para dokter tersebut saling bertukar pandang dan akhirnya mereka setuju dengan tawaran yang diberikan Scarlesia padanya karena mereka menerima keuntungan yang cukup besar sedangkan Scarlesia berniat untuk memajukan kemampuan medis Kekaisaran Roosevelt agar mereka bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia lagi.
Setelah itu Scarlesia pergi berkeliling untuk melihat keadaan masing-masing pasien. Para penduduk sangat menyukai Scarlesia karena dia adalah satu-satunya bangsawan yang mau terjun langsung mengobati mereka yang rakyat biasa. Hatinya yang hangat dan cara pelayanan pasien yang ramah juga menjadi nilai plus di diri Scarlesia sendiri.
“Nona, anda sangat cantik sekali,” puji salah satu anak laki-laki.
“Terima kasih, kalian juga lucu sekali,” respon Scarlesia sembari tersenyum.
“Kalau saya sudah besar saya akan menjadi ksatria agar bisa melindungi Nona,” tekad anak kecil tersebut.
“Aku juga akan menjadi ksatria,”
“Aku juga,”
Scarlesia tertawa kecil melihat anak-anak kecil di sini yang sudah mulai ceria kembali karena pada saat pertama kali ia melihat mereka, kondisinya sangat menyedihkan. Mereka terbaring lemah tak berdaya tanpa bisa melakukan apa-apa.
“Oh iya aku ada bawa sesuatu untuk kalian,”
Scarlesia mengeluarkan satu toples permen yang dia bawa dari kediamannya, permen ini adalah buatan Allen dan mengikuti resep yang diberi olehnya.
“Apa ini?” tanya mereka bingung melihat permen beragam warna di toples.
“Ini namanya permen. Apa kalian tidak pernah memakannya?”
“Permen? Bukannya ini hanya bisa dimakan oleh bangsawan? Apa tidak apa-apa jika Nona memberikannya pada kami yang rakyat biasa?”
Scarlesia tercengang, dia tidak tahu sama sekali tentang permen yang hanya bisa dimakan oleh para bangsawan. Padahal untuk membuatnya saja tidak membutuhkan waktu lama tapi bagaimana bisa para bangsawan ini begitu serakah? Scarlesia menepis segala pikirannya lalu membagikan permen tersebut pada mereka.
“Makan saja. Aku bisa membuatkan lebih banyak untuk kalian jadi tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Scarlesia.
__ADS_1
Anak-anak itu langsung menerima dan memakan permen pemberian Scarlesia, saat pertama kali permen tersebut masuk ke mulut mereka lalu menyentuh lidah mereka sensasi bahagia serta terkejut mereka bisa dirasakan langsung olehnya.
Usai itu, Scarlesia berniat berpindah ke desa satunya lagi untuk memantau kondisi penduduk yang mengungsi ke desa sebelah. Rencananya dia ingin mengajak salah satu diantara para pria atau kakaknya tapi saat dilihat mereka sudah tertidur pulas karena memang beberapa hari ini mereka semua membantu Scarlesia.
Ia menuju desa sebelah menggunakan kereta kuda, namun di perjalanan hal aneh mulai dia rasakan. Dia tidak menyadari bahwasanya ia tidak sampai-sampai di tujuannya.
“NONA CEPAT KELUAR DARI KERETA!” seru si kuda yang membawa keretanya.
Ketika dia melihat ke luar jendela ternyata tidak ada kusir yang mengendari keretanya di tambah di depannya ada jurang yang sangat curam. Belum sempat dia melompat keluar, akhirnya kereta kuda tersebut jatuh ke dalam jurang yang terlihat tidak berdasar. Pintu kereta terbuka lebar dan Scarlesia berguling keluar. Kini posisinya dia melayang di udara tanpa ada pengaman apapun di tubuhnya.
“AARRRGHHHHHH,” ia memekik sangat keras, rasa cemas serta takut menyelimuti dirinya.
“Apakah aku akan mati lagi? Padahal aku baru bahagia tapi kenapa aku harus mati kembali? Aku tidak ingin mati, siapapun tolong aku. Aku mohon karena ini belum saatnya,” batinnya memohon seraya berderai air mata.
Tiba-tiba tangan seseorang merengkuh pinggangnya, tubuhnya yang melaju ke bawah mendadak berhenti.
“Tidak apa-apa Sia. Sekarang kau boleh membuka matamu,”
Suara yang begitu familiar terdengar olehnya, saat membuka matanya dia melihat sosok pria bersurai blonde dengan pupil mata hijau segar.
“XEON!” serunya kaget.
Xeon muncul menolongnya yang hampir terjatuh, ia sekarang berada dalam gendongan Xeon yang terbang di udara.
“Sia, tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu mati,” ujar Xeon serius.
“Tapi kenapa kau muncul?”
Xeon menurunkan Scarlesia di atas tanah, ia sudah aman sekarang bersama Xeon.
“Aku merasa kau sedang dalam bahaya itulah kenapa aku membantumu. Permaisuri benar-benar tidak bisa dimaafkan, dia…. Loh Sia hidungmu berdarah,” ucap Xeon mendadak histeris.
Scarlesia menyentuh hidungnya ternyata memang benar kalau hidungnya berdarah.
“Ehh kena…pa….”
__ADS_1
Brukkk