
Pesan pun tersampaikan, masing-masing pemimpin kekaisaran baik itu kaisar atau pun putra mahkota memenuhi undangan Scarlesia. Hari ini dari pagi istana disibukkan dengan berbagai hal, salah satunya yaitu persiapan rapat yang akan digelar di istana kekaisaran pada siang ini. Sedangkan Scarlesia masih beristirahat sebab luka yang ia terima semalam agak membuatnya lelah. Namun, ia tetap bersikeras untuk mengadakan rapat meskipun sudah dilarang oleh Ayah dan kakaknya sebab ia disuruh beristirahat selama beberapa hari.
Scarlesia saat ini masih tidur pulas, sebelum rapat diadakan ia harus menyiapkan energi lebih supaya rapatnya dapat dilaksanakan hingga selesai tanpa hambatan. Sebelumnya Scarlesia sudah bangun, tapi Liz menyuruhnya untuk kembali tidur dan beristirahat. Scarlesia sengaja menutup jendela dan gordennya agar cahaya matahari tidak masuk dan mengganggu tidurnya.
Di sela tidur pulasnya, Scarlesia perlahan masuk ke alam mimpinya seolah berjalan seperti dunia nyata. Bahkan sekarang Scarlesia tidak menyadari kalau dia tengah bermimpi, ia mendapati dirinya di sebuah padang rumput nan indah. Dirinya sedang bersandar di bawah pohon yang rindang serta ada banyak burung dan kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya.
“Di mana aku?” tanyanya.
Scarlesia mengedarkan seluruh pandangannya, bola matanya tidak berhenti berputar melihat ke sekelilingnya. Di samping kiri dan kanan hanya ada hamparan padang rumput disertai bunga-bunga yang bermekaran indah. Di sana hanya ada dia dan tidak ada orang lain di dekatnya atau pun di sekitar padang rumput itu. Kemudian Scarlesia mencoba untuk berdiri, ia berjalan menjelajahi padang rumput tersebut.
“Apa aku sedang bermimpi? Tapi ini terasa sangat nyata.”
Scarlesia terus berjalan di padang rumput yang tidak memiliki ujung, kerap kali angin berhembus dan mencoba membawa terbang badannya tapi berhasil ditahan olehnya. Semakin lama anginnya semakin kencang, angin itu melawan arah langkahnya.
“Kenapa anginnya malah jadi semakin kencang?”
Tiba-tiba dari arah berlawanan, angin tornado bergulung menuju ke arahnya. Scarlesia tidak bisa melihat dengan jelas tornado itu karena pandangannya tertutupi oleh pasir yang berterbangan di depan penglihatannya. Lalu tornado itu menghantam tubuh Scarlesia kemudian menggulungnya di dalam pusaran angin.
“AARGHHHH!!”
Scarlesia memekik sebab badannya dibawa entah kemana oleh pusaran angin tornado tersebut. Di saat ia membuka matanya kembali, angin tornado itu sudah tidak ada dan kini dirinya sedang terduduk di atas permukaan tanah yang tidak rata. Scarlesia berdiri dan menghempas-hempaskan sedikit pakaiannya yang kotor.
“Di mana lagi aku sekarang?”
__ADS_1
Scarlesia melihat ke sekelilingnya yang ia temukan hanyalah langit gelap tak bercahaya, tempat ia berpijak tampaknya bekas berdirinya bangunan. Scarlesia mencoba mengamati lebih dalam lagi, rupanya benar bahwa tempat itu adalah bekas pemukiman warga. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia berada di hamparan padang rumput nan luas, tapi sekarang ia terlempar ke tempat yang sangat jauh dari kata indah.
“Aku tahu ini mimpi, tapi bukankah ini terlalu nyata untukku sebut sebagai mimpi?”
Scarlesia tak berhenti menggumamkan betapa buruk dan hancurnya tempat ia kini memijakkan kakinya. Ini lebih seperti tempat yang dipakai untuk area pertarungan antar banyak orang dan daerahnya ditinggal begitu saja tanpa ada yang menempatinya. Suara burung gagak pun bergema di setiap sudut daerah itu, tidak ada kehidupan di sana dan hanya diisi oleh hawa menyeramkan.
“Ohh ayolah kapan aku akan terbangun dari mimpi tidak jelas ini?”
Gerutuan Scarlesia di sepanjang jalan terdengar lucu, ia menggerutu tanpa ada rasa takut menyerang dirinya. Setelah suara burung gagak, dia juga mendengar suara ular yang melata di semak-semak belukar. Suara-suara itu tidak mengganggu dia sama sekali, malah ia menganggapnya sebagai angin lalu saja.
Tidak sadar, Scarlesia telah berjalan terlalu jauh lalu rasa letih mulai menghampiri dirinya. Scarlesia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum dia melanjutkan kembali perjalanannya. Entah ke mana ia akan membawa diri untuk menepi, masih belum jelas arah tujuannya saat ini. Setelah dirasa tenaganya sudah balik, ia melanjutkan jalannya lagi untuk mencari pintu keluar dari mimpi anehnya.
“Ke mana lagi saya harus melangkah wahai tuan angin dan tanah? Aku sudah lelah, perutku lapar, dan tenggorokanku kering. Tolong berikan wanita cantik, manis, dan seksi ini petunjuk arah jalan pulang.”
Scarlesia berjalan sembari mengatakan kata-kata itu dengan irama selayaknya orang bernyanyi, ia menyeret-nyeret sebuah tongkat kayu kecil sehingga mengeluarkan bunyi gesekan antar tanah dan kayu. Setelah berada hampir di ujung jalan, ada sebuah pintu hitam yang menantinya di sana. Tanpa perasaan ragu, Scarlesia menekan gagang pintunya lalu masuk menuju ruang yang ada di balik pintu itu.
Di sekitarnya hanya ada kegelapan, karena ruangannya terlihat mencurigakan dia pun memutuskan untuk keluar dari sana. Akan tetapi saat dia berbalik, ternyata pintunya menghilang begitu saja. Pada akhirnya Scarlesia terpaksa menelusuri ruang tersebut, rasa jengkel di hatinya semakin lama semakin penuh dan sesak. Ruang itu sama saja tidak ada jalan keluar atau pun petunjuk di dalamnya, dia berharap untuk bangun sesegera mungkin tapi ia tidak bisa terbangun dari mimpi yang berketerusan ini.
“TOLONGLAH SIAPA PUN! KELUARKAN AKU DARI SINI!” teriak Scarlesia mulai muak.
“Hahaha apa kau baru saja meminta tolong?”
Suara seorang wanita bergema di ruang itu, Scarlesia mencari-cari sumber suara tersebut berasal dan tidak dia temukan di mana pun orang berada.
__ADS_1
“Siapa kau? Keluar! Tunjukkan dirimu!” seru Scarlesia.
“Apa kau ingin melihatku? Baiklah, aku akan keluar sekarang.”
Alangkah terkejutnya Scarlesia melihat rupa wanita yang berada di hadapannya kini, wajah wanita itu sangat mirip dengan dirinya. Dia mengenakan gaun pendek berwarna hitam dan rambutnya dipotong pendek. Scarlesia kehilangan kata-kata dalam beberapa saat, ia terdiam menatap gadis yang memiliki wajah serupa dirinya.
“Pasti kau bertanya-tanya tentang siapa aku, seperti yang kau lihat sendiri. Aku adalah dirimu,” ujarnya.
Scarlesia memiringkan kepalanya, dia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu padanya.
“Kau adalah aku? Bagaimana ceritanya aku bisa menjadi dua?” heran Scarlesia.
“Kemarilah! Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Wanita itu menarik pergelangan tangan Scarlesia, dia menurut sementara waktu untuk memastikan ke mana dirinya akan dibawa.
“Lihat di sekelilingmu,” titahnya.
Scarlesia segera memutar kepala dan pandangannya, dari bawah tanah muncul sepuluh cermin besar. Cermin-cermin itu mulai mengeluarkan gambaran-gambaran ingatan buruk yang tidak pernah ada di dalam memori Scarlesia selama ini.
“Apa itu semua adalah aku?” tanya Scarlesia.
Ingatan buruk di kehidupan lalunya bermunculan di permukaan cermin, ini mengacak-acak perasaan dan otaknya sendiri.
__ADS_1
“Kau harus lihat semua ini sampai selesai! Lihat Sia! Lihat! Lihat bagaimana kita hidup dulunya. Lihat apa yang terjadi pada diri kita.”
“J-jadi itu kita?”