
“Halo iblis kecil! Apa kau sudah siuman?”
Scarlesia masuk kamar tempat iblis hitam kecil tersebut beristirahat, Scarlesia menyapanya karena tampaknya dia sudah siuman. Namun ketika Scarlesia masuk, iblis kecil itu menarik dirinya untuk masuk ke dalam selimut.
“Kenapa kau malah bersembunyi melihatku? Apa kau takut padaku? Tenang saja karena aku tidak akan menyakitimu,”
Scarlesia mencoba membujuknya beberapa kali untuk keluar dari selimut, tapi ternyata ia bukan sekedar anak kecil yang gampang untuk dibujuk. Scarlesia menghembuskan napas pasrah, dia tidak ingin memaksanya untuk keluar jika memang tidak mau.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu keluar, aku akan menaruh makanan di sini. Jangan lupa dimakan karena ini khusus aku masak sendiri untukmu,” ucap Scarlesia meletakkan nampan yang di atasnya sudah tersedia segelas susu dan sepotong pizza serta beberapa cemilan lainnya.
Aroma pizza yang menyeruak di dalam kamar menyita rasa penasaran iblis kecil itu, dia keluar pelan-pelan dari selimutnya.
“Apa itu?”
Scarlesia sumringah karena akhirnya iblis kecil tersebut mau keluar dari selimutnya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar.
“Ini? Ini adalah pizza. Apa kau keluar karena mencium aromanya?”
Kruyuukkk
Suara lapar perut iblis kecil itu terdengar nyaring keluar, dia memalingkan wajahnya karena malu terhadap Scarlesia.
“Makanlah, jika kau minta tambah katakan saja padaku dan aku akan membawakan lagi untukmu,” ujar Scarlesia menyuguhkan makanan tersebut padanya.
Tanpa berlama-lama, si iblis kecil langsung menyantap habis seluruh makanan yang diberikan Scarlesia padanya. Dia sungguh seperti anak kecil yang tidak pernah diberi makan, badannya kurus seperti tidak terawat.
“Nama….”
“Ya?”
“Nama anda?” tanya iblis kecil itu.
“Aku? Aku Scarlesia Eginhardt. Kau bisa memanggilku Sia,” jawab Scarlesia.
Saat Scarlesia menyebutkan namanya, si iblis kecil tertegun sesaat seakan ada hal yang membuatnya terkejut.
“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam? Sekarang aku tanya, siapa namamu?” tanya Scarlesia balik.
__ADS_1
“S-saya Archie,” jawabnya gugup.
Ketika iblis kecil itu mengatakan namanya, Scarlesia terdiam sejenak. Dia seperti terlarut di dalam sebuah pikiran yang cukup rumit.
“Nona?”
“Ohh ahh maaf aku sedikit melamun. Sekarang lanjutkan istirahatmu, nanti aku akan kembali lagi untuk memeriksa keadaanmu,” kata Scarlesia mengelus kepala Archie.
“Baiklah,”
Scarlesia beranjak keluar dari kamar, dia berdiri cukup lama di depan pintu sambil menghela napasnya berkali-kali.
“Hufft tidak mungkin itu dia kan. Ahh sepertinya aku terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini,”
Beberapa hari kemudian, tibalah hari dimana perayaan kedewasaannya Scarlesia. Dari subuh, seluruh orang di kediaman Duke Eginhardt sangat sibuk, Scarlesia pun dipaksa bangun lebih pagi dari biasanya karena hari ini orang yang mendandaninya bukan Erin tapi seseorang yang akhir-akhir ini sangat terkenal dengan kemampuan make up nya di berbagai kekaisaran.
“Wahh Nona kulit wajah anda bagus sekali. Tidak salah orang-orang menyebut anda sebagai dewi Kekaisaran Roosevelt,” sanjung Milden, seorang pria yang berdandan seperti wanita dan dikenal dengan kemampuan make up nya.
“Ternyata kau ini pria ya. Aku kira seseorang yang disanjung-sanjung sebagai ‘master make up’ itu wanita,” ucap Scarlesia.
Ekspresi Milden sedikit muram, Scarlesia mengerti apa yang sebenarnya dirasakan oleh Milden.
“Tidak, aku tidak pernah menganggap pria yang mengerjakan pekerjaan wanita itu menjijikkan. Aku hanya berpikir kau keren karena bisa melakukan pekerjaan yang tidak semua wanita bisa melakukannya,”
“Ternyata benar yang dikatakan oleh orang lain, anda berbeda dari bangsawan lain. Karena itu lah saya membatalkan seluruh jadwal saya hari ini hanya untuk membuat anda bersinar. Kecantikan Nona terlalu sempurna, tidak hanya wajah tapi hati anda juga,”
Scarlesia menanggapinya dengan senyuman khasnya, lagi-lagi Scarlesia membuat orang lain kagum karena sifatnya yang cenderung berbeda dari kebanyakan wanita.
“Jangan khawatirkan apa pun lagi. Kerjakan apa yang bisa kau lakukan dan tinggalkan apa yang tidak bisa kau laksanakan. Hidup itu simpel, yang membuat repot adalah pikiran manusianya yang selalu seenaknya menilai orang lain dari sudut pandangnya yang sempit. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu, walau takdir tidak bisa diubah tapi nasib bisa diubah bukan?”
Sekali lagi Milden tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa, perkataan Scarlesia mengenai tepat relung hatinya.
“Saya sejak kecil menyukai make up bahkan saya sering diam-diam pergi ke kamar Ibu saya untuk melihat koleksi make up Ibu saya, lalu saya mencoba memakaikannya ke wajah saya. Saat itu saya benar-benar takjub dengan make up yang terjadi bisa membuat wajah orang lain berubah. Saya selalu melakukan hal itu sampai akhirnya Ayah dan Ibu saya tahu, mereka mengusir saya dari rumah karena menurutnya saya sangatlah memalukan,” ungkap Milden menceritakan masa lalunya kepada Scarlesia.
“Kau sudah berhasil melewati itu semua, aku harap kau bahagia dengan pilihanmu,” ujar Scarlesia tersenyum kepada Milden dari pantulan cerminnya.
“Ya Nona, saya bahagia dengan pilihan saya dan saya tidak menyesalinya,”
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Milden selesai mendandani Scarlesia. Sungguh hasil make upnya luar biasa ditambah dengan gaun emas yang dikenakan Scarlesia menambah nuansa keindahan yang terpancar dari dalam dirinya. Bulu matanya yang mengayun indah saat berkedip, warna lipstick yang berwarna merah muda, make upnya yang terlihat elegan, serta aksesoris yang ia kenakan memberi nilai plus tersendiri.
“Luar biasa! Kemampuan make up mu bagus sekali. Aku benar-benar puas dengan kemampuanmu ini,” puji Scarlesia melihat pantulan dirinya dari cermin.
“Syukurlah anda menyukainya Nona,”
Di saat Scarlesia sedang asik memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, Archie datang masuk ke dalam kamar. Anak kecil yang masih berumur 13 tahun itu terlihat sangat imut dengan pakaian yang dipilihkan Scarlesia untuknya. Tanduk yang menjadi ciri khasnya juga sudah hilang berkat bantuan Elios sehingga kini tidak ada yang menyadari bahwa dia adalah iblis hitam.
“Nona, saya sudah selesai,” ucap Archie malu-malu.
“Aaahhh kamu imut sekali,” puji Scarlesia tidak tahan melihat keimutan Archie.
“Nona juga sangat cantik hari ini meski sebenarnya anda selalu cantik setiap harinya,” puji Archie balik.
“Kamu ternyata pandai menggombal juga ya,”
“Itu adalah kenyataannya. Anda memang sangat cantik, lebih cantik dari semua wanita yang pernah saya temui,”
Setelah itu, Archie langsung menghilang dari hadapan Scarlesia karena merasa malu sudah berkata seperti itu padanya. Scarlesia tertawa kecil karena gemas dengan tingkah Archie yang selalu malu saat berada dekat dengannya tapi jika bersama dengan pria-prianya yang lain dia terlihat seperti anak lelaki pada umumnya.
“Nona, sudah saatnya kita pergi ke aula pesta karena seluruh tamu sudah hadir,” ucap salah seorang ksatria penjaga.
“Baiklah, oh iya sebelum itu Milden ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu,”
Scarlesia merogoh lacinya, ia mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar dari dalam lacinya.
“Aku memberikan ini untukmu, di dalamnya ada beberapa alat make up serta beberapa make up yang mungkin tidak pernah kau temui. Di dalam kotak ini ada buku penjelasan mengenai cara menggunakannya, jadi simpan baik-baik ya,” tutur Scarlesia menyerahkan kotak make upnya.
“Tapi, saya sudah dibayar oleh Yang Mulia Duke Eginhardt. Tidak mungkin saya bisa menerima ini dari Nona,” tolak Milden.
“Anggap saja ini hadiah untukmu yang sudah membuatku terlihat lebih cantik dan bersinar hari ini. Jadi terimalah,”
“Terima kasih Nona, saya menerima hadiah dari anda,” kata Milden menerima kotak make up pemberian Scarlesia.
Lalu Scarlesia segera berbalik untuk pergi ke aula pesta.
“Hmm satu lagi. Milden, ada dunia dimana orang-orang bisa menerima pria melakukan pekerjaan wanita sepertimu. Di sana mereka membaur di dalam kehidupan orang lain tanpa dipandang rendah, pria yang memiliki keahlian make up sepertimu sudah lumrah di dunia itu. Jadi, aku harap kau bisa menciptakan dunia itu dengan kedua tanganmu. Percayalah pada kekuatan dan keahlianmu sendiri karena kau mampu melakukannya,”
__ADS_1