Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Menghancurkan Bulan


__ADS_3

“Grrrrr…”


Louis yang kehilangan kesadaran dan kendali dirinya langsung menyerang Scarlesia dengan gerakan yang sangat cepat.


“SIAAAA!!!”


Scarlesia melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, cakar milik Louis berhasil melukai tangannya tapi lukanya tertutup kembali akibat kekuatan penyembuhan yang ada di tubuhnya.


“Sia, kau tidak apa-apa?” tanya Andreas.


“Aku baik-baik saja karena lukanya tertutup kembali tapi apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Scarlesia menatap Louis penuh khawatir, kini ia sedang ditahan oleh Elios, Zenon, dan Oliver agar tidak menyerang Scarlesia lagi.


“Kekuatannya sangat besar. Kita tidak bisa menahannya lebih lama lagi!” ujar Zenon.


“Jika dibiarkan seperti ini dia akan membunuh kita semua,” sambung Oliver.


“Ketika klan manusia serigala berubah seperti ini maka kekuatannya mampu menjatuhkan satu kekaisaran. Klan manusia serigala yang kehilangan kendalinya harus dibunuh,” ucap Moon.


“DIBUNUH? AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHNYA!” tegas Scarlesia penuh penekanan.


“Lalu apa yang akan kau lakukan?”


Scarlesia melangkah maju dan mencoba mendekati Louis, awalnya Andreas menahannya tapi Scarlesia meminta agar Andreas melepaskannya karena baginya Louis sangat berharga. Scarlesia meminta Zenon, Elios, dan Oliver untuk tidak menahannya lagi dan menjauh darinya sebentar.


“Louis, ini aku Sia. Kamu harus kendalikan dirimu, oke?” bujuk Scarlesia.


“Grrrr grrrr GRRRRR!!”


Louis lagi-lagi menyerang Scarlesia dengan cakarnya, tapi lukanya kembali tertutup dengan sendirinya. Scarlesia tidak menyerah, ia terus mencoba lagi dan lagi untuk berbicara dengan Louis namun hasilnya nihil.


“Tidak bisa seperti ini. KALAU BEGITU AKU AKAN MENGHANCURKAN BULANNYA UNTUK MENGEMBALIKAN LOUIS!” seru Scarlesia.


“MENGHANCURKAN BULAN?”


Mereka semua tercengang dengan pernyataan Scarlesia yang ingin menghancurkan bulan karena ini terdengar sangat tidak masuk di akal.


“CEPAT BANTU AKU UNTUK MENAHAN LOUIS!” suruh Scarlesia.


Mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayai Scarlesia yang ingin menghancurkan bulan itu, segera mereka tahan Louis agar tidak mengamuk dan menyerang Scarlesia lagi. Scarlesia mengambil busurnya, ia menarik tali busurnya dengan kekuatan yang sangat kuat dari biasanya. Tangannya gemetaran saat membidik ke arah bulan, dia juga tidak yakin apakah cara ini akan berhasil atau tidak.


“Aku mohon kali ini saja, aku ingin menyelamatkan Louis. Tolong bantu aku busur suci!” ucapnya seketika busurnya mengeluarkan sinar terang berwarna emas, Scarlesia melepaskan anak panahnya saat dia rasa bidikannya tepat.

__ADS_1


Anak panahnya melaju sangat cepat menuju bulan, dia berharap dari bawah dan berdo’a agar anak panahnya bisa sampai ke bulan.


Duarrrr!


Bulannya hancur berkeping-keping sesaat anak panahnya menghantam bulan tersebut. Sekarang bulan sudah hancur dan tidak lagi berwarna merah. Setelah bulannya hancur, Louis mulai kembali ke wujud semulanya. Scarlesia segera menangkap Louis yang hampir tidak sadarkan diri lalu mendekap tubuhnya.


“Tidak apa-apa Louis. Semuanya sudah kembali seperti semula,” ucapnya dengan suara yang sangat lembut.


“Maaf Sia…. Aku sungguh minta maaf karena telah menyakitimu,” lirih Louis yang menangis di pelukannya.


“Aku tidak terluka, jadi kamu tidak perlu meminta maaf padaku,” balas Scarlesia.


Usai ia meminta maaf, Louis langsung kehilangan kesadarannya. Mereka pun bersiap untuk segera pulang ke kediaman dan membawa anak-anak yang diselamatkan. Setibanya di kediaman, Scarlesia melihat semua orang berkumpul di depan mansion.


“Kenapa berkumpul di sini?” tanya Scarlesia.


“Kami sedang melihat bulan yang tiba-tiba hancur Nona. Seluruh kota saat ini gempar karena bulannya hancur berkeping-keping seperti itu,” sahut salah seorang pelayan.


“Aduh kenapa bisa begini?” keluhnya dalam hati.


“NONA! ANDA SUDAH KEMBALI?” seru Erin dari kejauhan yang datang menghampirinya bersama Theo dan Hana.


Ekspresi sendu Theo segera berubah senang ketika melihat adiknya yang datang bersama Scarlesia.


“KAKAKKK!”


Mereka saling berpelukan, Scarlesia senang melihat mereka akhirnya bisa bertemu kembali. Begitu pula dengan anak-anak yang lainnya langsung berterima kasih pada Theo karena berkatnya lah mereka selamat.


“Nona, siapa anak-anak ini?” tanya Hana.


“Nanti saja aku jelaskan. Tolong sediakan kamar dulu kamar untuk mereka tidur tampaknya anak-anak ini sudah sangat lelah,” suruh Scarlesia.


“Lalu Louis kenapa bisa tidak sadarkan diri Nona?” tambah Erin bertanya menunjuk ke arah Louis yang sedang digendong oleh Zenon.


“Ada beberapa hal rumit yang terjadi. Sekarang aku mau membawa Louis ke kamar dulu, tolong kalian urus sebentar anak-anak ini ya,” ujar Scarlesia berjalan lebih dulu dari mereka.


“BAIK NONA!” sahut mereka bersamaan.


Scarlesia kemudian membantu menyembuhkan luka-luka yang diterima oleh Louis selama pertarungan tadi. Dia menatap intens Louis yang terbaring di ranjangnya, tubuh Louis yang tadinya dingin berubah menjadi lebih hangat. Selesainya, Scarlesia kembali lagi ke kamarnya dan membiarkan Louis beristirahat.


Pada hari berikutnya, Louis masih belum juga siuman dari pingsannya. Dia sudah pingsan sejak tadi malam tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia akan terbangun. Scarlesia berusaha untuk tidak mencemaskannya karena setelah dia periksa tidak ada yang salah dengannya.


“Fyuhh daripada mencemaskannya lebih baik aku selesaikan dulu masalah panti asuhan ini,” batinnya menghembuskan napas berat.

__ADS_1


Kemudian Scarlesia mengajak Andreas untuk pergi bersamanya untuk mengantarkan anak-anak kembali lagi ke panti asuhan karena saat ini hanya Andreas yang bisa dia ajak sedangkan Zenon, Oliver, dan Elios mempunyai beberapa kesibukan masing-masing.


Sebelum anak-anak itu dikembalikan, Scarlesia terlebih dahulu menyembuhkan semua luka-luka mereka. Pada awalnya, mereka menolak untuk kembali lagi ke panti asuhan karena mereka takut akan kembali disiksa oleh pengurus di sana. Akan tetapi, setelah Scarlesia mencoba meyakinkan mereka akhirnya mereka setuju untuk kembali lagi.


Di panti asuhan


Suasana di panti asuhan kini agak tidak mengenakkan, beberapa pengurus panti asuhan tengah memukuli beberapa anak yang masih tertinggal di sana.


“JANGAN MENANGIS LAGI! KALIAN BARU TIDAK MAKAN SEHARI SAJA LANGSUNG MERENGEK!” bentaknya memarahi anak-anak yang merengek dan meminta makan pada mereka.


“SUDAH AKU BILANG DIAM!”


Braakkk


Scarlesia datang mendobrak pintu panti asuhan sampai rusak, para pengurus panti yang sedang menyiksa anak-anak dikejutkan oleh kedatangannya yang tidak biasa.


“Sepertinya kalian enak sekali ya bekerja di sini. Aku kemari mau mengantar mereka lagi,”


Dari belakang Scarlesia muncul satu persatu anak-anak yang sudah mereka jual kepada para penyihir hitam. Mereka terperanjak kaget melihat anak-anak itu kembali dalam keadaan selamat.


“Kenapa kalian terkejut? Apa ada yang salah?” tanya Scarlesia dengan nada ketus.


“Bukankah mereka sudah dibawa pergi? Kenapa mereka bisa kembali lagi kemari? Pasti kau menculik mereka kan?” tuding salah seorang perempuan.


Plaakkk


Scarlesia menampar pipi wanita tersebut, dia tidak bisa menahan diri saat melihat anak kecil yang di hadapannya tengah disiksa.


“Lancang! Beraninya kalian tidak memberi salam pada putri Duke Eginhardt!” bentak Scarlesia.


“M-m-maaf k-kami sungguh t-tidak tahu kalau anda adalah Nona Eginhardt,”


“Oh kalau begitu sujud!” perintah Scarlesia menekan mereka.


“Apa?”


“AKU BILANG CEPAT BERSUJUD!” ulangnya dengan lantang.


Mereka takut melihat Scarlesia yang marah, mereka akhirnya menurut dan langsung bersujud di hadapannya.


“Beraninya kalian menyiksa anak-anak ini. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian,” ucap Scarlesia penuh penekanan.


“N-nona k-kami….”

__ADS_1


“SIAPA YANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENGANGKAT KEPALA KALIAN HAA?”


__ADS_2