
“Loh? Sia lukamu sudah menghilang,” kata Andreas.
“Hah? Bagaimana bisa? Aku jelas-jelas tadi merasakan lukanya ada di punggung kananku,” ujar Scarlesia heran dan memeriksa sendiri lukanya yang ternyata memang sudah menghilang bahkan dia tidak merasakan apapun lagi.
“Apa mungkin kamu memiliki kekuatan penyembuh?” duga Andreas.
“Mustahil, mana mungkin aku punya kekuatan sangat luar biasa seperti itu,” bantah Scarlesia.
“Kau memang memiliki kekuatan itu di tubuhmu,” sela Elios tiba-tiba masuk bersama Oliver, Louis, dan Zenon.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Apa kau tidak pernah merasa aneh dengan tubuhmu sendiri? Seperti saat perburuan. Aku melihat tubuhmu penuh dengan luka ketika aku melihatmu pertama kali lalu kakimu juga terkilir tapi itu tiba-tiba sembuh begitu saja. Kau pikir ini sebuah kebetulan?” jelas Elios.
Scarlesia memutar kembali otak dan ingatannya, dia memang merasa bahwa tubuhnya ini sangat aneh. Luka-luka yang dia terima selama ini sembuh begitu saja tanpa harus diobati bahkan pisau beracun tadi tidak bereaksi di tubuhnya. Kemudian sudah jelas-jelas luka yang dia terima dari pisau tadi cukup dalam tapi apa yang terjadi? Luka tertutup sempurna dan tidak meninggalkan sedikit pun bekas.
“Tapi bukankah orang yang memiliki kekuatan penyembuh ini terakhir kali muncul adalah lebih dari 100 tahun lalu?” tanya Louis.
“Iya, tepatnya di Kekaisaran Sora. Seorang wanita yang memiliki kekuatan penyembuh luar biasa tapi sayangnya harus mati dieksekusi karena tuduhan mengkhianati kekaisaran dan meracuni kaisar pada saat itu,” jawab Oliver.
“Kalau begitu apa artinya Sia adalah orang yang memiliki kekuatan penyembuh pertama kali dalam 100 tahun ini?” tanya Zenon ikut heran.
“Ya kira-kira seperti itu,” balas Elios.
“Itu semua cukup masuk akal, tapi aku belum bisa percaya begitu saja. Untuk itu kita pikirkan nanti saja, oh iya apakah kau sudah mengurus mayat-mayat itu Zenon?” tanya Scarlesia mengalihkan topik pembicaraan.
“Cih tenang saja, aku sudah lemparkan semuanya ke istana putri jelek itu,” jawab Zenon.
“Cepat sekali kau mengurusnya,”
“Itu karena aku terbang dengan kekuatan tinggi,”
Scarlesia mengangguk mengerti lalu dia menatap intens Louis.
“Ada apa Sia?” tanya Louis heran.
“Apa benar Putri Giana pernah memintamu untuk menjadi suaminya?”
“Hmm benar tapi tenang saja karena aku menolaknya. Bagiku Sia adalah satu-satunya,” jawab Louis meyakinkan Scarlesia.
“Mantap, memang itu yang harus kau lakukan. Kalau dia merayumu lagi bilang padaku jadi aku bisa memberi pelajaran untuknya,”
__ADS_1
“Baik Sia,” balas Louis tersenyum.
Pada pagi harinya di istana milik Giana, ia dikejutkan oleh mayat para pembunuh bayaran yang dia kirim untuk membunuh Scarlesia tergeletak di balkon kamarnya dalam keadaan kepala yang terpisah-pisah.
“KYAAAAAA,” pekik Giana yang terkejut dengan mayat tersebut sampai membuat kakinya lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
Para ksatria yang berjaga di depan kamarnya segera masuk untuk melihat apa gerangn terjadi pada Giana.
“Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?”
“APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA? CEPAT SINGKIRKAN MAYAT-MAYAT ITU,” teriaknya memerintahkan para ksatria tersebut.
“Baik Yang Mulia,”
“Ternyata dia lebih tangguh dari dugaanku,” batin Giana menggigit jemarinya.
Sementara itu di kediaman Duke Eginhardt, Scarlesia tengah dirias oleh Erin karena hari ini dia berencana pergi ke toko tanaman herbal milik Baron Demian sebab dia ingin melihat-lihat tanaman obat yang ada di sana. Khusus hari ini dia akan pergi dengan Erin dan Hana tanpa harus mengajak para pria bersamanya. Ia berpikir cukup menyusahkan jika mereka bertengkar karena berebutan ingin pergi dengannya.
“Apa Kitty masih belum kembali?” tanya Scarlesia mengingat Kitty tidak kembali sejak kemarin.
“Belum Nona,”
“Begitu ya? Lalu bagaimana dengan keadaan Zaneta? Apa dia sudah mati?”
“Bagus! Berarti waktunya tidak akan lama lagi hahaha,” tawa Scarlesia terdengar jahat.
Usai berias, mereka langsung pergi menuju tempat Baron Demian yang letak tokonya cukup strategis di tengah kota. Tentu saja kedatangan Scarlesia di toko Baron Demian cukup mengejutkan Clara karena ia tidak mengabari Clara sebelumnya.
“Nona, kenapa anda tidak mengabari saya sebelumnya?” protes Clara,
“Maaf Clara aku hanya mendadak mampir kemari,”
Kemudian yang tidak kalah terkejutnya adalah Baron Demian sendiri, ia tidak menyangka orang besar seperti Scarlesia mau datang ke tokonya.
“Apa yang membawa Nona ke toko kecil saya?” tanya Baron Demian.
“Apa aku boleh memborong semua tanaman herbal yang ada di toko anda?”
“EHH? APAAA???”
Clara dan Ayahnya sangat terkejut karena Scarlesia berniat memborong semua tanaman herbalnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Scarlesia mengenai tanaman herbal ini, tak ada dari mereka yang mengerti.
__ADS_1
“A-anda s-s-serius Nona?” gagap Clara.
“Iya, tolong hitung semuanya berapa biar aku langsung bayar dan kirim semuanya ke kediaman Duke Eginhardt ya,” ujar Scarlesia.
Clara dan Ayahnya saling beradu pandang, mereka tidak percaya kalau Scarlesia sunguh akan memborong semuanya.
“Baik, terima kasih Nona,” ucap Baron Demian bahagia.
Sementara Baron Demian mempersiapkan pesanannya, Scarlesia mengamati sekali lagi jenis-jenis tanaman herbal di toko ini. Dia bisa tahu bahwa tanaman-tanaman herbal yang ada di sini sangatlah bagus kualitasnya dan banyak diantaranya adalah tanaman yang cukup langka dia temui dulunya.
“Nona, saya ingin bertanya,” kata Clara terlihat ragu-ragu.
“Ya? Tanyakan saja,”
“Itu… Bolehkah saya kapan-kapan mengundang anda ke rumah saya?” tanya Clara malu-malu.
“Baiklah,” setuju Scarlesia.
Raut wajah Clara segera berubah sesaat Scarlesia menyetujui ajakannya.
“Uwahh terima kasih Nona. Saya sangat senang anda berkenan datang,”
Scarlesia lalu mengelus kepala Clara dan tersenyum padanya.
“Tidak apa-apa Clara, kau selama ini sudah bertahan dalam hinaan dari para Nona bangsawan. Mulai sekarang kau tidak perlu menahannya karena ada aku di belakangmu,” tutur Scarlesia tiba-tiba.
“Baik Nona, terima kasih sekali lagi terima kasih,” ungkap Clara berderai air mata terharu.
Scarlesia membayar belanjaannya, Scarlesia pamit pulang pada Clara namun saat dia baru melangkah keluar Cici si burung pipit datang menghampirinya untuk melaporkan sesuatu padanya.
“Gawat Nona! Gawat!” panik Cici.
“Ada apa? Bicaralah,”
“Nona, daerah barat kekuasaan Duke Eginhardt tengah berada dalam keadaan kritis. Semua warga di sana mendadak diserang sebuah penyakit, tidak sedikit dari mereka yang meninggal. Duke Eginhardt pergi ke daerah barat beberapa hari yang lalu kemudian kembali ke kediaman dalam keadaan tidak sadarkan diri dan diduga bahwa duke terinfeksi oleh penyakit tersebut,” lapor Cici.
Deg
Jantungnya berdetak sangat cepat, dadanya sesak serta kakinya lemas dan tidak mampu berdiri lagi.
“Nona!” Erin dan Hana segera memeganginya.
__ADS_1
“Erin, Hana, ayo kita segera pulang karena Ayah sedang berada dalam bahaya,” ajaknya kemudian berlari ke kereta kuda.