
“Maafkan aku, bahkan di akhir hayatku aku tidak bisa melihat wajah putra dan putriku. Aku tidak bisa mendengarkan suara kalian, tidak bisa menggenggam atau pun mengelus kepala kalian dengan benar.”
“Jangan berbicara seperti itu Ayah! Ayah harus hidup sampai dunia berhasil diselamatkan. Aku tidak rela jika Ayah meninggalkanku! Aku mohon….”
“Sia, sebenarnya banyak yang aku sesali di dunia ini. Aku terkadang merasa gagal menjadi seorang suami dan seorang Ayah, aku gagal melindungi Ibumu kala itu. Andaikan saja… andaikan saja waktu itu aku berhasil melindunginya mungkin kau tidak akan menderita. Aku sungguh minta maaf….”
Perasaan Eldrick begitu rapuh, terlalu banyak yang dia tahan selama ini tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Menjadi seorang Ayah bagi putra dan putrinya mungkin adalah hal yang dulu tidak pernah ia bayangkan. Ditempati di dalam segudang rasa bersalah, dia diam-diam menyalahkan dirinya atas kematian istri tercinta. Sesungguhnya kata-kata penguat yang ia lontarkan kepada Scarlesia merupakan serangkaian kata agar dia bisa menjadi tonggak penyangga hidup Scarlesia.
Setiap malam, setiap waktunya dia selalu memikirkan tentang Scarlesia yang tidak pernah merasakan hidup bahagia. Kasih sayangnya ditumpahkan segalanya kepada Scarlesia, dia hanya ingin putri satu-satunya hidup bahagia. Di belakang Scarlesia dia rapuh, namun di depannya dia mencoba untuk kuat. Kesakitan Scarlesia adalah kesakitannya juga, penderitaan Scarlesia adalah penderitaan dirinya juga. Seorang Ayah yang selalu bersikap tegas, tidak kenal ampun terhadap musuh-musuhnya, sebenarnya hatinya terlalu lembut dan gampang luluh.
“Aku… aku selalu takut setiap saat, setiap kali aku melihatmu tersenyum dan tertawa, aku takut akan menjadi alasan untukmu menangis. Ayah ingin mendengar suara dan wajah kalian untuk terakhir kalinya, namun rasanya takdir tidak mengizinkannya.”
Scarlesia semakin terisak, dada penuh akan kesesakan luar biasa, dia tidak mampu menahan air matanya sesaat. Scarlesia merupakan insan yang rapuh, tidak sanggup hatinya menampung segala derita lagi.
“Ibu… tolong jangan bawa Ayah pergi. Aku janji akan menjadi membuat Ayah bahagia di sini. Jangan ambil Ayah dariku, tolong…” lirih Scarlesia menggenggam semakin erat tangan Eldrick.
“Carlen, Aldert, Ayah titip Sia pada kalian ya. Jaga adik kalian baik-baik, walaupun sekarang dia sudah menjadi kaisar, bukan berarti dia anak yang kuat. Sia rapuh, Sia mudah terluka, jangan biarkan dia berjuang sendirian. Sudah cukup dia menanggung beban derita selama ini, pastikan adik kalian bahagia dengan pilihan hidupnya.”
Air mata Carlen dan Aldert mengalir deras di pipi mereka, padahal mereka telah menekan hati agar tidak sedih, namun mereka tidak bisa terlalu lama.
“Sia, pasti sulit selama ini bagimu. Berjalan sendirian di atas dunia yang kejam pada dirimu, bereinkarnasi selama 2000 tahun ini tapi tidak ada bahagia yang kau dapatkan. Jika saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin menjadi Ayahmu lagi dan lagi, menjagamu lalu melimpahkan kasih sayang untukmu. Anak gadisku yang malang….”
__ADS_1
“Tidak, jangan berkata seolah Ayah benar-benar akan pergi meninggalkanku. Ayah bilang ingin melihatku menikah dan punya anak, Ayah sudah janji akan melindungiku, kalau begini caranya, bukankah itu artinya Ayah mengingkari janji Ayah padaku? Jangan… JANGAN TERLALU KEJAM PADAKU AYAH!”
“Ayah akan selalu berada di dekatmu setiap waktu, walau raga tak lagi tampak namun jiwaku akan selalu menemanimu. Sia, terima kasih telah mengizinkanku menjadi Ayahmu dan terima kasih telah lahir untuk mewarnai duniaku. Maafkan aku anakku, tolong jangan membenciku bilaku mati….”
Segala yang mati akan kembali pada langit kemudian berjalan menuju akhirat. Jiwa Eldrick telah pergi meninggalkan putra dan putri kecilnya di dalam kepedihan dunia yang tak kunjung usai. Nadi tak lagi berdenyut, napas tak lagi berirama, jantung tak lagi berdetak, kehidupan Eldrick berakhir di pangkuan Scarlesia.
Kepergian Eldrick pertanda runtuhnya dunia Scarlesia, pondasi kebahagiaan yang dia bangun selama ini hancur lebur hanya dalam beberapa waktu. Padahal perjuangannya akan mencapai puncak, namun lagi-lagi dia ditampar oleh realita dan derita.
“Kenapa? Padahal sebentar lagi aku akan memperoleh kedamaian. Kenapa seperti ini? Ibu… kau sungguh membawa Ayah? Mengapa? Mengapa begini ibu… ibu… aku hancur… duniaku berakhir. IBUUUU, KENAPA? KENAPA KAU MEMBAWA AYAH? SUDAH CUKUP! AKU TIDAK MAU KEHILANGAN LAGI!”
Scarlesia histeris, dia nyaris kehilangan kontrol diri dan kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri.
“Oh iya, aku bisa menghidupkan Ayah. Aku akan menukar daya hidupku, dengan begitu aku….”
“Mengapa kau melarangku? Aku tidak bisa hidup tanpa Ayah. Jangan larang aku! Aku akan menukar daya hidupku demi Ayah. Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi, jangan halangi aku!”
Scarlesia mendorong Xeon, dia tidak mampu mengendalikan akal sehatnya. Seakan-akan di mata dan di otaknya saat ini hanya berisi bagaimana cara agar dia bisa menghidupkan Eldrick kembali.
“TAHAN DIA CEPAT! JIKA SIA NEKAT MELAKUKANNYA MAKA DIA AKAN MATI!” teriak Xeon.
Kemudian para pria yang lain memeluk dan menahan tubuh Scarlesia agar tidak melakukan hal macam-macam sehingga membahayakan hidupnya sendiri.
__ADS_1
“Lepaskan aku! Aku akan mengganti daya hidupku. Jangan hentikan aku! MINGGIR KALIAN! AKU TIDAK MAU HIDUP TANPA AYAH! PADAHAL AKU BARU MENDAPATKAN AYAH DAN KELUARGA YANG BAIK DENGANKU. Kenapa? Kenapa harus diambil dariku? Apa sebenarnya dosaku? Apa salahku?”
“Kau tidak salah Sia… kau tidak salah…” ucap Andreas.
“Aku tidak mau hidup lagi, aku letih. Biarkan aku pergi dengan Ayah, aku mohon. AYAH, TOLONG BAWA AKU PERGI! AKU TIDAK MAU HIDUP LAGI! JIKA AKU HIDUP HANYA UNTUK MENDERITA, LEBIH BAIK AKU MATI SAJA.”
Jderrr!!
Bahana petir menggelegar di angkasa, langit yang gelap semakin gelap, kilat-kilat menyalip di atas sana. Cuaca berubah buruk seketika Scarlesia meneriakkan dirinya ingin mati, keputusasaan memakan diri Scarlesia. Tidak ada harapan untuknya hidup, tidak ada alasan dan arah tujuannya meneruskan hidup yang memberinya penderitaan tiada henti.
“Tolong jangan berbicara kau tidak ingin hidup, jika kau mati maka kami juga akan mati. Berjuanglah sebentar lagi Sia, kami akan memberimu kebahagiaan yang melimpah,” ujar Louis bernada sedih.
“Benar, sejak awal ini memang salahku. Kalau aku mati, maka tidak akan ada orang yang menderita karenaku. Seharusnya sejak awal aku tidak usah hidup, aku yang jahat di sini. Ayah mati karena aku, lalu Archie, paman, bibi, nenek, kakek, Kitty, dan Erin. Kalian pasti masih hidup jika aku mati….”
“BERHENTI SIA! Sudah cukup… jangan salahkan dirimu lagi… walau Ayah sudah tidak ada, kami berdua masih tetap keluargamu.” Carlen merasakan sakit di kala Scarlesia terlarut di dalam rasa bersalah tak berujung.
“Tapi… tapi kenapa? KENAPA DUNIA TIDAK PERNAH MENGIZINKAN AKU BAHAGIA? KENAPA DUNIA SELALU MERENGGUT SEMUA KEBAHAGIAANKU? Aku lelah… aku ingin berhenti kak… aku tidak ingin hidup lagi… jangan menyiksaku lagi, aku mohon….”
Carlen menarik Scarlesia masuk ke dalam pelukannya, dia mendekap erat tubuh sang adik untuk meredam kesedihannya.
“Maafkan aku Sia, maaf sudah membuatmu melalui semua ini sendirian. Maaf Sia, aku memang bukan kakak yang baik bagimu. Tolong maafkan aku.”
__ADS_1
“Aku lelah kak… aku takut… aku ingin berhenti. Dunia kejam padaku, aku ingin mati….”
Hujan deras mengguyur tubuh mereka pada waktu yang bersamaan, kesedihan Scarlesia adalah kesedihan bagi alam semesta. Ratu mereka lagi-lagi terjatuh lalu terpuruk, hidupnya diangkat tinggi kemudian dihempaskan hingga hancur berkeping-keping. Hujan dan petir merupakan bentu kesedihan sekaligus kekecewaan Scarlesia. Akankah Scarlesia sanggup melewati duri hidup ini? Punggungnya dirajam oleh ribuan pisau serta jantungnya ditebas oleh dinginnya pedang. Mau seberapa keras pun dia berusaha, dunia tidak akan pernah berpihak pada dirinya.