
“Haruskah kita bunuh saja kaisar dan permaisuri?” ujar Zenon diangguki Andreas dan Oliver.
Scarlesia menceritakan semuanya pada mereka bertiga karena ia sendiri tidak bisa menanganinya. Dia butuh orang-orang kuat di sampingnya, lawannya saat ini adalah kekaisaran bukan lagi bangsawan biasa.
“Jangan begitu, aku tidak ingin keluargaku terseret dalam masalah ini. Oke, kalau begitu sekarang ayo kita ke istana,” ajak Scarlesia.
“Kenapa ke istana?” tanya Oliver.
“Tentu saja untuk membuat keributan,”
Kemudian Scarlesia menyuruh Erin untuk menyiapkan pakaiannya, hari ini dia berencana mengenakan celana dan baju kemeja. Dia tidak ingin memakai dress karena dress membatasi akan membatasi geraknya. Lekuk tubuhnya tampak sangat jelas jika memakai pakaian yang seperti ini tapi itu tidak masalah baginya.
“Ayo kita berangkat!” seru Scarlesia.
Mereka berangkat dengan menaiki kereta kuda, selain mereka berempat Kitty juga ikut bersamanya karena Kitty tidak mau ketinggalan. Setibanya di istana, tanpa berpikir panjang lagi mereka semua menerobos masuk ke dalam.
“Nona anda tidak boleh masuk ke dalam,” ujar salah seorang ksatria penjaga menghadang jalan Scarlesia.
Scarlesia yang tidak ingin mendengar apapun, menendang ksatria penjaga tersebut dan membuatnya tidak sadarkan diri.
“Ini uang untuk berobat,”
Ia melemparkan satu koin emas pada ksatria yang pingsan tersebut, lalu melanjutkan kembali jalannya. Semakin dia masuk ke dalam semakin banyak ksatria yang menghadangnya, tapi semua ksatria tersebut disingkirkan dalam satu serangan oleh Oliver, Zenon, dan Andreas. Scarlesia pun kembali melemparkan uang pada tumpukan ksatria yang pingsan.
“Aku sudah tanggung jawab, jangan lupa berobat ya. Ambil saja kalau masih ada kembaliannya,” ujar Scarlesia.
Kini seluruh jalan terbuka untuknya, para ksatria tidak sanggup menahannya dan memilih untuk menghindar. Scarlesia berjalan di depan bersama Kitty, para pria melindunginya dari belakang.
“Hei dimana kaisar?” tanya Scarlesia pada salah seorang pelayan.
“Anu.. itu…”
Pelayan tersebut terlihat enggan sekaligus merasa takut untuk memberitahu Scarlesia tentang keberadaan kaisar.
“Katakan!” paksa Scarlesia seraya melotot. “Kalau kau tidak mau mengatakannya kepalamu akan berpisah dari tubuhmu,” gertak Scarlesia membuat pelayan tersebut gemetar takut.
“K-kaisar s-sedang r-rapat,” jawabnya gelagapan.
__ADS_1
“Bagus, ini untukmu,”
Scarlesia memberikan lagi satu koin emas kepada pelayan tersebut, si pelayan seketika bingung dan hanya menerimanya saja tanpa tahu apa tujuan Scarlesia memberikan koin emas itu padanya.
“Dari tadi kau menghambur-hamburkan uang pada manusia-manusia tak berguna, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” bisik Zenon bertanya.
“Biasa orang kaya,” jawab Scarlesia.
Setelah beberapa kali tersesat, akhirnya mereka sampai juga di depan ruang rapat istana. Di depan pintu terdapat dua orang ksatria penjaga, mereka kembali menghadang jalan Scarlesia.
“Maaf Nona, di dalam sedang ada rapat. Anda tidak boleh masuk,” kata salah seorang ksatria penjaga.
“Cih, Kitty buat mereka pingsan,” perintah Scarlesia.
Kitty langsung menerjang ksatria penjaga tersebut sampai mereka pingsan, sekali lagi Scarlesia melempar dua koin emas pada mereka. Lalu ia pun masuk ke dalam ruang rapat, di sana banyak para bangsawan dan tentu saja juga ada kaisar yang memimpin rapat.
“HALO SEMUANYA! APA KABAR?” teriak Scarlesia menyapa mereka semua.
“Kenapa perempuan itu kemari? Apa lagi yang ingin dia lakukan?”
“Entah, dia membawa hewan peliharaannya dan juga siapa pria-pria yang bersama dengannya itu?”
“Kenapa kaisar mau menjadikannya sebagai permaisuri? Dari sifatnya saja sudah jelas kalau dia tidak cocok menjadi permaisuri,”
Bisikan-bisikan negatif mulai menyebar ke setiap sudut ruangan, mereka membicarakan sekaligus menjelekkan nama Duke Eginhardt. Oliver yang geram langsung mencekik mereka dengan sihirnya agar mereka berhenti membicarakan Scarlesia.
“Heukkk… lepaskan,”
Semakin mereka mencoba meloloskan diri, mereka semakin tercekik.
“Kalian mau aku lepaskan? Kalau begitu bicaralah yang baik-baik tentang Sia,” tekan Oliver melepaskan cekikan sihirnya.
Scarlesia pun duduk di kursi kosong, dia menyuruh para bangsawan untuk bergeser agar Andreas, Zenon, dan Oliver bisa duduk sedangkan Kitty duduk di atas lantai tepat di sebelah Scarlesia. Ruangan seketika hening bahkan kaisar juga ikut diam karena dia sama sekali tidak mengerti kenapa Scarlesia bisa sampai di sini.
“Kenapa diam? Lanjutkan saja rapatnya,” ujar Scarlesia.
“Nona Eginhardt, anda tidak tahu sopan santun sama sekali ya. Anda main masuk seenaknya lalu sekarang apa yang sedang anda lakukan? Kenapa anda duduk di sini?” ketus Marquess Javar.
__ADS_1
“Oh Marquess Javar, sudah lama tidak bertemu. Anda semakin tua saja ya,” ledek Scarlesia.
“Apa anda baru saja mengejek saya Nona?”
“Tidak, aku hanya berbicara fakta saja. Anda memang semakin tua, apa jangan-jangan ini efek karena putri anda yang anda sayangi itu belum punya tunangan sampai sekarang karena dia juga menginginkan posisi permaisuri?” sindir Scarlesia.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyinggung soal putriku,”
Marquess Javar mendadak emosi karena perkataan Scarlesia.
“Nah begitu kan bagus, anda berbicara dengan muka anda sendiri. Tidak perlu sok-sok berbicara formal padaku seolah anda menghormatiku padahal dalam hati anda memaki-maki diriku,”
“Sial! Apa dia sengaja memancingku?” pikir Marquess Javar.
“Eheeemm,” kaisar tiba-tiba saja berdehem. “Sia, ada perlu apa kau ingin menemuiku? Dan apa yang terjadi dengan para ksatria penjaga?” tanya kaisar.
“Oh tenang saja Yang Mulia saya hanya membuatnya pingsan lalu saya juga bertanggung jawab dengan memberi mereka masing-masing satu koin emas untuk mengobati lukanya,” jawab Scarlesia penuh senyum.
“Satu koin emas? Itu banyak sekali,”
“Hahaha bagi kami keluarga Duke Eginhardt itu hanyalah beberapa koin emas karena kami orang kaya,” ucap Scarlesia angkuh.
“Jadi, Sia silahkan jawab pertanyaanku mengenai ada apa kau kemari menemuiku?” ulang kaisar bertanya sekali lagi.
“Saya dengar anda menolak permintaan pembatalan pertunangan saya. Sekarang saya ingin anda menerima permintaan saya itu. Saya tidak penerima penolakan apapun itu Yang Mulia,” tutur Scarlesia sembari memangku dagunya dengan telapak tangannya.
“Tidak bisa, kamu harus jadi permaisuri,” tolak kaisar memaksa.
“Kalau begitu tidak ada pilihan lain lagi, Yang Mulia anda tahu bukan kalau kekaisaran kita maju dalam bidang sihir itu semua berkat penyihir agung, apa jadinya jika penyihir agung mulai sekarang tidak ikut campur dengan pengembangan sihir kekaisaran kita ini?” ujar Scarlesia menyunggingkan senyumnya.
“Apa yang kau katakan? Tidak mungkin penyihir agung akan melakukan itu,” bantah kaisar.
“Siapa bilang? Oliver si penyihir agung kini ada di samping saya. Dia adalah milik saya jadi saya bisa memberi perintah padanya untuk menghentikan pengembangan sihir kekaisaran kita saat ini juga,”
Seketika ruangan menjadi gaduh, mereka tidak menyangka pria berambut biru panjang yang dibawa oleh Scarlesia adalah penyihir agung. Ada diantara mereka yang tidak percaya, ada juga diantaranya yang percaya.
“Benarkah itu? Apakah dia sungguh penyihir agung? Kau tidak becanda kan?” tanya salah seorang bangsawan.
__ADS_1
“Apakah muka saya terlihat sedang berbohong?” tanya Scarlesia menatap tajam.
“Sia tidak berbohong kok. Saya memang penyihir agung Yang Mulia, saya sudah menjadi milik Sia jadi apapun yang dia perintahkan pada saya maka akan saya lakukan,”