
“ANABELA!”
Wanita tua itu memanggil Scarlesia dengan nama ‘Anabela’, kedua matanya tersirat kerinduan yang begitu besar. Lalu Scarlesia melepaskan dengan pelan genggaman tangan wanita tersebut.
“Maaf, saya Scarlesia bukan Anabela,” jawab Scarlesia.
“TIDAK! KAU ADALAH ANABELA!” kukuhnya menganggap Scarlesia adalah Anabela.
“Yang Mulia, gadis ini bukan Anabela. Dia datang dari Kekaisaran Roosevelt untuk menyelamatkan kekaisaran kita,”
Lucas memanggil wanita itu dengan sebutan ‘Yang Mulia’, Scarlesia semakin bingung dengan situasi yang dihadapkan kepada dirinya saat ini. Lucas menghadang agar wanita tua itu tidak mendekati Scarlesia lagi.
“CEPAT BAWA YANG MULIA KEMBALI KE KAMARNYA!” perintah Lucas kepada para pelayannya.
“Baik Yang Mulia,”
Wanita itu dipaksa masuk ke dalam kamarnya, dia memberontak dan tidak ingin masuk kembali ke dalam kamarnya. Suaranya berteriak bersikeras memanggil-manggil Scarlesia dengan sebutan ‘Anabela’.
“Maaf sudah membuatmu tidak nyaman,”
“Tidak usah terlalu dipikirkan Yang Mulia, tapi siapa wanita itu? Dan siapa Anabela?” tanya Scarlesia.
“Maaf Nona, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu karena itu adalah rahasia Kekaisaran Evariste,” jawab Lucas.
“Baiklah. Saya tidak akan memaksa anda untuk menjawabnya. Tapi dimana kaisar dan permaisuri Evariste?”
Scarlesia memutar pandangannya, dia melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan kaisar dan permaisuri.
“Mereka sedang berada di luar kekaisaran saat ini karena ada beberapa urusan yang mesti mereka selesaikan bersama,”
Scarlesia mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut lagi, saat tiba di ruang perjamuan Scarlesia bertemu dengan Jimmy yaitu anak yang dulunya ia selamatkan ketika melawan Miranda.
“KAKAK!”
Jimmy kegirangan ketika melihat Scarlesia, dia berlari dan menghambur ke pelukannya. Jimmy mendapat tatapan tajam dan mengerikan dari pria-pria yang kini bersama dengan Scarlesia. Walaupun begitu, Jimmy tidak mempedulikannya dan terus memeluk Scarlesia, wajahnya tampak lebih bahagia dibanding saat pertama kali bertemu dengan Scarlesia.
“Jimmy, sudah lama tidak bertemu. Sepertinya kau bertambah tinggi ya,” ujar Scarlesia tertawa sambil mengelus puncak kepala Jimmy.
“Aku dengan kakak akan dijamu di istana jadi aku bergegas datang kemari bersama Ayahku,”
“Ayahmu?”
Scarlesia menegakkan kepalanya, di depannya saat ini berdiri seorang pria bersurai hitam dan bermata violet tengah tersenyum ramah kepadanya.
__ADS_1
“Halo Nona, saya Victor Evariste yaitu Ayah dari Jimmy. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih karena anda sudah menyelamatkan anak saya,” sapa Victor sekalian memperkenalkan dirinya pada Scarlesia.
“Scarlesia Eginhardt memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran Victor,” ujar Scarlesia membungkuk memberi salam.
“Tidak perlu sesopan itu Nona, kami mempersiapkan semua ini untuk kalian. Jadi, kami harap kalian menikmatinya,”
Mereka pun menikmati hidangan tersebut bersama-sama, Scarlesia tampak sangat menyukai makanan yang dihidangkan. Ia tidak henti-hentinya memuji koki yang memasak makanan ini, tentu saja koki tersebut merasa senang karena Scarlesia memuji makanan buatannya. Selesainya perjamuan, Scarlesia mengajak Lucas untuk membicarakan mengenai perang dengan monster yang akan terjadi.
“Yang Mulia, bisakah anda melatih ksatria dan penyihir Kekaisaran Evariste menjadi lebih kuat dalam kurun waktu 1,5 bulan?” tanya Scarlesia serius.
“Melatih? Untuk apa aku melakukannya?”
“Saya bisa melihat masa depan,”
“Apa??”
“Saya bisa melihat masa depan bahwa manusia sedang berada di ambang kehancuran,”
Scarlesia mengatakan kepada Lucas dari awal hingga akhir tentang penglihatan masa depannya, Lucas terlihat tegang ketika Scarlesia menceritakannya padanya.
“Saya tahu kalau yang saya katakan kepada anda terlihat mengada-ada, tapi tolong percaya kepada saya Yang Mulia. Saya tidak ingin banyak korban yang berjatuhan saat perang berlangsung,” mohon Scarlesia.
Lucas menelan salivanya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari Scarlesia langsung.
Scarlesia mengangguk pelan.
“Saya tidak yakin, tapi saya percaya bahwa dengan ini kita bisa meminimkan kerusakan serta korban yang akan berjatuhan. Tolong percaya kepada saya Yang Mulia,”
“Baiklah. Sesuai dengan apa yang kamu katakan, aku akan membantumu dalam masalah ini,”
Scarlesia menghela napas lega begitu Lucas menyetujuinya, akhirnya dia bisa membicarakan hal ini dengan seluruh kekaisaran secara baik-baik dan mereka setuju untuk membantu dalam mencegah masa depan yang buruk bersama Scarlesia.
“Terima kasih Yang Mulia,”
Selepas itu, Scarlesia bersama prianya pamit untuk segera kembali ke Kekaisaran Roosevelt karena masih ada beberapa hal yang harus dia urus yaitu memberitahukan masalah ini pada kaisar sebelum mendekati waktu yang telah ditentukan.
“APA? APA YANG ANDA KATAKAN YANG MULIA! SAYA TIDAK MENGADA-ADA SAMA SEKALI!”
Sekarang Scarlesia sedang berada di istana kekaisaran untuk menjelaskan mengenai situasinya kepada Vincent, yaitu Kaisar Kekaisaran Roosevelt saat ini. Namun, kaisar sendiri tidak mempercayai kata-kata Scarlesia bahkan para bangsawan yang kebetulan sedang ada di sana menertawakan Scarlesia.
“Kami tahu kalau anda melakukan beberapa hal baik belakangan ini tapi melihat masa depan? Itu terlalu konyol,”
“Anda jangan mengada-ada untuk menakut-nakuti kami Nona,”
__ADS_1
“Gerbang monster utama tersegel rapat, jadi mana mungkin para monster itu bisa melalui gerbang itu. Apa anda mungkin bermimpi buruk Nona?”
“Giahahaha jangan melucu Nona, tapi anda cukup menghibur kami,”
Scarlesia sangat geram dan marah sekarang, dalam detik itu juga dia ingin menghancurkan istana tapi dia mengurungkan niatnya agar tidak menimbulkan masalah lebih besar. Andreas bersiap mengeluarkan pedangnya untuk bersiap mencabik-cabik mulut mereka semua, kali ini Scarlesia hanya mengajak Andreas bersamanya ke istana.
“Akan aku bunuh kalian!”
Andreas tidak bisa menahan rasa jengkelnya lebih lama lagi, dia nyaris menerjang seisi ruangan saat ini juga tapi dirinya ditahan oleh Scarlesia.
“Jangan Andreas! Biar aku saja yang mengurusnya,” ucap Scarlesia melarang Andreas.
Andreas menyarungkan kembali pedangnya sembari mengatur napasnya agar emosinya berkurang. Scarlesia juga begitu, ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum dia melanjutkan kembali bicaranya.
“Yang Mulia dan juga anda semuanya sepertinya belum pernah merasakan bagaimana rasanya mulut manis kalian itu dikoyak-koyak ya,” ujar Scarlesia tersenyum seram.
“LANCANG! BERANINYA KAU BERKATA SEPERTI ITU KEPADA YANG MULIA KAISAR!” teriak salah seorang bangsawan.
“Sia, sepertinya kau semakin berani saja. Kau mengatakan hal yang tidak masuk akal lalu kau memintaku untuk mempercayaimu? Aku tidak akan percaya sebelum kau berikan bukti langsung,”
Ucapan kaisar semakin membuat Scarlesia muak.
“Baiklah, saya akan membuktikannya dengan kematian kalian,”
Scarlesia melempar sebuah pedang ke arah kaisar yang melesat di samping kepala kaisar dan akhirnya pedang itu tertancap ke dinding belakang kaisar. Aksi berani Scarlesia barusan membuat kaisar terkejut dan tak bergeming dari singgasananya. Scarlesia puas melihat ekspresi tegang milik kaisar, lalu dia berbalik mengajak Andreas untuk pulang.
Prangg prangg prangg
Beberapa guci yang terpajang di sana dihancurkan oleh Scarlesia menggunakan kekuatannya dari jarak jauh.
“Dimana dia menyimpan pedang sebanyak itu?”
“Tidak tahu, pedangnya keluar begitu saja dari tangannya,”
“KURANG AJAR! KAU WANITA GILA BERANINYA BERBUAT SEPERTI INI DI ISTANA!”
Para bangsawan berteriak menghina Scarlesia tapi dia tidak mempedulikannya.
“Ini hanya sebagai peringatan untuk kalian, tolong jaga baik-baik kaisar kalian itu. Jaga dia jangan sampai mati karena dibunuh oleh monster, kalau sampai hal itu terjadi jangan harap aku akan menolong manusia sombong seperti kalian,”
Scarlesia menggertak mereka semua lalu menghilang dari istana segera, kaisar dan para bangsawan semakin emosi dan memaki-maki Scarlesia yang sudah tidak ada di hadapannya.
“Sialan!” gerutu kaisar mengumpat.
__ADS_1