Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Scarlesia Balik dari Jatuhnya


__ADS_3

“Astaga demam Yang Mulia tidak turun-turun.”


Scarlesia tidak sadarkan diri selama tiga hari, tubuhnya didera demam tinggi yang tidak kunjung turun. Seisi istana mengkhawatirkan keadaan Scarlesia, sudah banyak dokter yang memeriksa kondisinya tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu penyebab Scarlesia menderita demam tinggi.


“Ya ampun Yang Mulia sepertinya bermimpi buruk,” ujar Hana menyeka keringat yang bercucuran dari tubuh Scarlesia.


Tidur Scarlesia mendadak menjadi gelisah, rasa panik menyelimuti mereka seketika. Tiba-tiba Xeon bersama Carlen, Aldert, serta pria lainnya juga ikut masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan Scarlesia.


“Bagaimana? Masih belum ada perubahan?” tanya Carlen digelengi oleh para pelayan.


“Biar aku coba cek sebentar,” ujar Xeon, dia langsung memeriksa denyut nadi Scarlesia, setelah itu sudut bibirnya perlahan terangkat ke atas.


“Ada apa? Kenapa kau tersenyum?” bingung mereka.


“Tidak apa-apa, sebentar lagi Sia akan sadar. Keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Xeon.


Mereka masih tidak paham apa yang dimaksud lebih baik oleh Xeon, namun karena Xeon lah yang mengatakannya jadi mereka memilih untuk mengamati saja. Beberapa saat kemudian, jemari Scarlesia bergerak pelan dan kelopak matanya mulai terbuka.


“Yang Mulia! Yang Mulia sudah sadar!” seru Liz sumringah.


“Kalian… kenapa kalian bisa ada di sini semua?” tanya Scarlesia langsung bangkit dari posisi tidurnya.


“Sia, apa sekarang kau sudah lebih baik? Maksudku kemarin itu kau tidak berbicara banyak. Apa sekarang perasaanmu membaik?” tanya Aldert.


Mereka memberikan tatapan serius ke arah Scarlesia, mereka sangat cemas di saat yang bersamaan.


“Aku sudah jauh lebih baik sekarang, maafkan aku karena telah merepotkan kalian semua. Saat ini aku telah kembali seperti semula, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Mungkin aku masih sedikit sedih, namun hatiku berangsur membaik. Aku tidak mau melihat kalian sedih karena diriku lagi,” tutur Scarlesia.

__ADS_1


Carlen dan Aldert langsung memeluk adiknya, mereka tak sengaja menitihkan air mata haru sebab Scarlesia telah kembali ke dirinya semula. Begitu pula semua orang ikut menangis, setidaknya rasa khawatir mereka jauh berkurang dibanding sebelumnya.


“Syukurlah, syukurlah. Kami khawatir kau tidak akan kembali lagi,” ucap Aldert.


“Jangan terjatuh lagi Sia, bukannya masih ada kami sebagai keluargamu? Tolong jangan menyakiti dirimu lagi,” imbuh Carlen.


“Iya kakak, maafkan aku ya. Aku sudah membuat kalian berdua kesusahan,” balas Scarlesia sembari mengelus punggung mereka.


Setelah itu, mereka bubar dari kamar Scarlesia dan meninggalkan Scarlesia sendirian di kamar bersama Xeon karena ia ingin berbicara banyak dengan Xeon. Kedua mata Scarlesia menatap tajam dan serius kepada Xeon, sepertinya Xeon sendiri sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Scarlesia.


“Kau tahu kan aku ingin membicarakan apa? Berani-beraninya kau menyembunyikan rahasia yang sangat penting, bahkan kau tidak memberitahuku soal kutukan itu,” omel Scarlesia.


“Aku tahu aku salah, tolong maafkan aku. Aku juga terpaksa menyembunyikannya darimu karena kami tidak bisa sembarangan membertahukannya padamu. Tapi, sekarang kau sudah tahu bukan? Tentang pemecahan jiwamu juga sudah tahu kan? Nah, sekarang kau tidak perlu marah padaku sebab kau sudah tahu semuanya.”


Scarlesia tersenyum, jemarinya meraih lengan Xeon lalu memelintir kulitnya, dia geram sekaligus gemas pada Xeon yang membuatnya terbakar di dalam rahasia.


“Aww jangan cubit aku! Sakit Sia! Maafkan aku, tolong jangan marah lagi,” rengek Xeon.


“Jangan marah lagi, maafkan aku ya.” Xeon membujuk Scarlesia, jemari telunjuknya menyentuh pipi gembung Scarlesia.


“Oke aku akan memaafkanmu, tapi jangan sembunyikan apapun dariku lagi. Bagaimana? Apa kau bisa berjanji?”


“Aku tidak bisa berjanji, aku akan mengusahakannya. Kau tahu sendiri walau aku adalah dewa, namun aku masih punya keterbatasan dan tidak berbuat seenaknya. Kau mesti paham itu,” kata Xeon seraya mengusap kepala Scarlesia.


Scarlesia menghela napasnya, dia nyaris melupakan fakta tentang Xeon seorang dewa. Terpaksa dia harus menghalau rasa egoisnya, ya meskipun masih banyak yang ingin ditanyakan olehnya kepada Xeon.


“Baiklah, tidak masalah. Mungkin seiring berjalannya waktu aku akan mengetahui jawaban dari pertanyaanku,” jawab Scarlesia.

__ADS_1


“Bagus, lebih baik kau istirahat sekarang. Pekerjaanmu sedang menumpuk, besok kau harus kembali kerja lagi.” Xeon mendorong perlahan tubuh Scarlesia untuk membantunya berbaring lalu menarik selimut menutupi separuh badan Scarlesia.


“Oke, sampai jumpa besok.”


Selepas itu, Xeon melenggang pergi dari kamarnya dan kini Scarlesia harus kembali beristirahat sebab mulai esok jadwalnya akan sangat padat. Scarlesia perlahan terlelap dan masuk ke alam mimpi yang indah.


Pada hari berikutnya, kabar mengenai Scarlesia yang sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa langsung menyebar ke setiap sudut kekaisaran. Cuaca pun telah cerah lagi, setelah beberapa hari tidak bertemu matahari tapi kini matahari menyinari alam semesta lagi. Semua aktivitas yang terhambat karena hujan, sekarang bisa berjalan seperti biasa.


Scarlesia juga tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, pekerjaannya menumpuk serta Kekaisaran Roosevelt juga baru saja kehilangan pemimpin mereka. Hari ini Scarlesia mengambil keputusan bahwasanya Kekaisaran Roosevelt sementara waktu akan berada di bawah kekuasaannya, jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan Roosevelt akan berurusan dengannya.


Masalah-masalah yang masih tersisa selama beberapa waktu belakangan ini diselesaikan hari ini juga oleh Scarlesia. Terlebih lagi di Roosevelt terlalu banyak menerima kerugian, Scarlesia memberi perintah kepada Carlen dan Aldert untuk mengontrol situasi sementara di Roosevelt, dan juga Carlen ingin mengurus kepemimpinan Duke Eginhardt yang baru. Sebentar lagi Carlen akan resmi menjadi seorang duke, menggantikan sang Ayah.


Scarlesia menghela napasnya, tumpukan dokumen berserakan di atas mejanya, untungnya sebagian pekerjaannya dibantu oleh Lucas dan Victor jadi ini sedikit berkurang dibanding sebelumnya. Scarlesia menyandar di kursi kerjanya, ia meregangkan pergelangan tangannya yang lelah akibat sejak tadi tidak berhenti menulis.


“Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini sesegera mungkin karena perang akhir semakin dekat. Aku tidak punya waktu untuk main-main lagi,” gumam Scarlesia.


Di saat ia tengah menggores kembali tumpukan dokumen tersebut, seseorang mengetuk pintu dan membuka pintu ruang kerjanya, dari celah pintu muncul kepala kecil Jimmy. Scarlesia tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan Jimmy untuk masuk ke dalam.


“Apakah kakak… ah maksud saya Yang Mulia sedang sibuk sekarang?” tanya Jimmy.


“Ada apa Jimmy? Tidak masalah kalau kau memanggilku kakak. Kemarilah,” ujar Scarlesia.


Jimmy semakin mendekat pada Scarlesia, dia membawa sebuah kotak kecil di tangannya.


“Tapi Ibu bilang harus panggil Yang Mulia,” balasnya.


“Tapi kan aku sudah mengizinkanmu memanggilku kakak jadi tidak masalah kau memanggilku kakak. Lalu apa itu yang kau bawa?”

__ADS_1


Jimmy langsung menyerahkan kotak kecil itu pada Scarlesia dengan wajah malu-malu.


“Kotak ini berisi permen cokelat, aku memberikan permen kesukaanku pada kakak supaya kakak tidak sakit lagi.”


__ADS_2