
Pesta perayaan kedewasaan Scarlesia menjadi kacau akibat kaisar yang menuduh Scarlesia meracuni Nieva. Tudingan yang tidak berdasar tersebut membuat beberapa orang ikut bersuara lalu menuduh Scarlesia, padahal pesta perayaan kedewasaannya sudah disiapkan oleh Eldrick jauh-jauh hari namun berakhir buruk pada akhirnya.
Scarlesia menghela napasnya untuk ke sekian kalinya, malam hari ini ia hanya bisa memandangi langit malam dari jendela kamarnya. Tidak terhitung sudah berapa banyak konflik yang dia selesaikan selama berada di dunia ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, itu tidak ia ketahui sedikit pun. Rambut panjang silvernya mengibar indah terkena hembusan angin malam yang menenangkannya.
“Kapan aku akan mempunyai waktu untuk bersantai?” gumamnya memangku dagunya dengan tangannya.
Di tengah lamunan panjangnya, Oliver datang lewat dari jendelanya yang terbuka lebar. Lamunan Scarlesia ambyar saat Oliver tepat berada di dekatnya kini.
“Ada apa? Kenapa kau datang kemari?” tanya Scarlesia.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Oliver balik.
“Hmmm….” Scarlesia menjeda kalimatnya karena ia ingin memberi ruang pada dirinya untuk berpikir. “Baiklah kalau begitu,” Scarlesia mengangguk menyetujuinya.
Oliver langsung menarik Scarlesia keluar melalui jendela kamarnya, dia membawa Scarlesia ke tempat yang cukup jauh dari pusat kota kekaisaran. Scarlesia awalnya bingung kemana ia akan membawanya, tapi dia mencoba untuk tetap mengikuti Oliver.
Oliver mendaratkan kakinya di sebuah hutan terbengkalai, hutannya sangat seram dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Pohon-pohon pun hanya tinggal batangnya saja tanpa ada daun yang tumbuh serta buah yang segar. Tidak ada kehijauan di dalam hutannya, suara gagak ada dimana-mana dan menambah nuansa kengerian sebab suara gagaknya cukup berisik serta berbau darah juga.
“Oliver, sebenarnya kau mau mengajakku kemana?” tanya Scarlesia heran.
“Lihat saja,”
Tidak lama, di ujung hutan ini dia sudah ditunggu kedatangannya oleh Andreas, Zenon, Louis, Elios, serta Xeon.
“Ahh ternyata kalian ada di sini juga,” ucap Scarlesia terkejut melihat mereka.
“Iya, ada sesuatu yang ingin kami tunjukkan padamu,” kata Xeon.
Scarlesia berjalan sedikit lagi, kedua matanya ditutupi oleh Zenon menggunakan kedua tangannya.
“Taraaa sekarang buka lah matamu Sia,”
Scarlesia membuka matanya, alangkah terkejut serta terkagumnya dia seketika melihat sebuah istana es menjulang tinggi di hadapannya.
“Istana es? Kenapa ada istana es di sini?”
__ADS_1
“Ini adalah hadiah dari kami untukmu Sia. Sekarang ayo kita masuk,” Louis sangat bersemangat membawa Scarlesia masuk ke dalamnya.
Sungguh keindahan tiada tara, ternyata setelah masuk lebih dalam lagi istananya bukan istana biasa. Meskipun istana es, tapi dia tidak merasa kedinginan saat menginjakkan kakinya di sana. Di dalamnya, berbagai permata yang menumpuk berjejer terletak di sana. Bunga-bunga yang terbuat dari kristal berwarna-warni, serta sebuah patung dirinya yang berdiri di tengah istana tersebut. Bangunan istananya terlihat kokoh dan tidak mudah runtuh, langit-langit istananya pun sangat indah karena berwarna biru seperti langit.
“Apakah ini semua kalian yang membuatnya?”
“Ini belum seberapa, sini kami antar ke tempat yang lebih bagus lagi,” ujar Elios.
Scarlesia kembali ditarik masuk ke dalam sebuah ruangan, ruangan tersebut dari luar tampak kecil tapi jika masuk ke dalamnya ada sebuah taman mawar putih yang indah. Kemudian ia pergi ke ruang selanjutnya yang berisi berbagai macam senjata cantik yang terbuat dari bahan-bahan terbaik, beralih lagi ke ruangan selanjutnya yang berisi berbagai macam aksesoris, perhiasan, dan gaun-gaun cantik.
Sejak tadi Scarlesia tidak berhenti memandang takjub, kini dia berjalan ke ruangan terakhir. Di dalam ruangan tersebut, berbeda dari ruangan sebelumnya. Di sini terdapat potret dirinya di masa lalu bersama pria-pria yang dia cintai. Lukisan-lukisan bagaimana dia tertawa, marah, dan menangis lengkap ada di sana. Kelap kelip langit-langit ruangannya menambah nuansa keindahan memandangi semua potret dan lukisan tersebut.
Di permukaan dindingnya terdapat ukiran-ukiran, lalu di ujung ruangannya ada sebuah foto yang menurutnya tidak asing sama sekali.
“Kenapa fotoku yang ini bisa berada di sini?” tanya Scarlesia melihat fotonya ketika dia dulu menjadi model saat berada di dunia modern.
Tidak ada yang menjawab dikarenakan Scarlesia di foto tersebut mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Mereka memalingkan wajahnya masing-masing dan tidak ada yang berani menatap Scarlesia, ingin rasa hati memarahinya tapi Scarlesia menahan dirinya untuk marah.
“Oke, terserah kalian saja. Aku tidak akan bertanya karena aku tahu pelakunya adalah Xeon, begitu pula dengan lukisan-lukisan dan potret lainnya kalian juga dapat dari Xeon bukan?” tebak Scarlesia.
“Eumm aku… Aku hanya membantu mereka saja,” ucap Xeon gugup.
“Ya sudah lah tidak apa-apa. Aku juga tidak marah pada kalian,”
Mereka serentak menghela napas masing-masing, Scarlesia terkekeh melihat ekspresi tegang mereka.
“Sia, bisakah kau melihat yang ini sekarang?” Oliver menyerahkan kotak berwarna merah muda seperti sebuah kotak musik.
“Kotak musik?”
“Buka saja dulu,”
Scarlesia membuka kotaknya dengan hati-hati lalu….
Duarrr!
__ADS_1
Sebuah kembang api melesat keluar dari kotak tersebut, Scarlesia mencoba mendongak lalu ia melihat tulisan berwarna-warni yang mengambang di udara diiringi dengan musik yang mengalun indah.
“Kami mencintaimu Sia.”
Air mata Scarlesia berlinang, menurutnya ini adalah hadiah yang paling indah yang pernah dia terima selama hidupnya.
“SELAMAT ULANG TAHUN SIA! SELAMAT KARENA TELAH MENJADI WANITA DEWASA!” ucap mereka bersamaan.
“Hikss hiksss….”
Scarlesia menangis tersedu-sedu, akhir-akhir ini banyak masalah yang harus dia atasi ditambah masalah hari ini yang menyeret nama baik Ayahnya semakin membuatnya frustasi memikirkannya.
“E-ehh Sia, kenapa? Apa kamu tidak menyukai hadiahnya? Apa ini terlalu berlebihan untukmu?”
Mereka semua panik bukan main ketika Scarlesia menangis sesenggukan, mereka menganggap bahwa apa yang ditangisi Scarlesia saat ini adalah perihal hadiah yang tidak disukainya namun kenyataannya bukan seperti itu.
“Bukan,” Scarlesia menyeka air matanya. “Aku menangis karena aku sangat menyukainya, aku benar-benar menyukai hadiah dari kalian. Terima kasih,” ungkapnya.
“Apa kau memikirkan masalah hari ini?” tanya Elios berwajah sendu.
“Aku memikirkannya karena aku menyeret Ayah dan kakakku masuk ke dalam masalah ini,” jawab Scarlesia.
“Apa kau lupa? Kami juga ada bersamamu setiap saat dan setiap waktu. Bagaimana pun masalahnya, kami akan berpihak padamu. Walaupun harus mempertaruhkan nyawa, kami akan melindungimu. Sia, kamu adalah wanita yang dikelilingi oleh banyak orang yang mencintaimu jadi jangan pernah berpikir kau sendirian,” tutur Elios.
“Kau jangan pernah melupakan ada kami di sisimu, jika ada masalah mari cari solusinya bersama. Jangan bebankan semua masalah di pundakmu karena kami tidak ingin kau menderita,” lanjut Zenon.
“Benar Sia, kamu berbahagialah karena senyumanmu adalah bagian dari bahagianya kami melihat dirimu,” sambung Louis.
Scarlesia sungguh merasa beruntung memiliki pria yang mencintainya yang selalu berada di sampingnya dalam keadaan apapun itu.
“Hmm baiklah. Tapi, kenapa kalian memilih lokasi untuk membuat istana es ini di tepi hutan kematian?” tanya Scarlesia.
“Itu biar tidak bisa dijangkau oleh orang lain makanya kami membuatnya di sini,” jawab Oliver.
“Ya sudah lah. Aku akan memasukkan istana ini ke dalam dunia cermin jadi aku bisa setiap waktu ke sana,”
__ADS_1
Kemudian Scarlesia memanggil Shou untuk membantunya memasukkan istana es ini ke dalam dunia cerminnya. Suatu hadiah yang menurutnya sangat berharga karena dipersiapkan secara susah payah oleh para pria yang mencintai dirinya dengan setulus hati.