Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Bernapaslah!


__ADS_3

Scarlesia mendengar semuanya dari balik pintu, dia meringkuk dan menekuk lututnya. Ia kembali menitikan air mata seketika mengetahui fakta yang tersembunyi selama ini.


“Ternyata begitu ya, ternyata seperti itu yang sebenarnya terjadi,” gumamnya.


Kemudian Scarlesia bangkit, ia ingin pergi ke tempat tidurnya untuk membaringkan tubuhnya. Namun sekarang jantungnya mendadak sakit, rasanya jantungnya seakan dijepit oleh sesuatu hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Dia berjalan sempoyongan menuju ranjangnya lalu tangan Scarlesia berusaha mencapai segelas air yang terletak di atas mejanya. Tapi, tangannya tidak sanggup menggenggam gelas tersebut dan membuat gelasnya berderai.


Praaanggg


Suara pecahan gelas membuat mereka yang berada di luar terkejut.


“Siaaa, buka pintunya! Sia!!!!” teriak Andreas cemas sambil memukul-mukul pintunya.


“Tidak ada pilihan lain lagi, aku akan mendobrak pintunya,”


Braakk


Zenon mendobrak pintu kamar Scarlesia hingga membuatnya rusak. Mereka melihat Scarlesia yang tengah kesakitan sembari menyentuh dadanya, dan ia juga terlihat kesulitan bernapas.


“SIAAAA!!!”


Andreas dan Zenon mendekap tubuh Sia.


“Hana, ambilkan air!” perintah Andreas.


“Sia, bernapaslah! Aku mohon jangan jatuh lagi ke dalam kegelapan untuk kesekian kalinya. Kamu adalah yang terakhir dan aku tidak ingin kehilanganmu,” ujar Xeon yang tiba-tiba saja suaranya masuk ke ranah pendengaran Sia.


“Xeon, sa…kit…” lirihnya.


“Aku mohon Sia! Bertahanlah. Lihat banyak yang menyayangimu sekarang,”


Scarlesia membuka matanya, dalam penglihatan yang kabur dia melihat semua orang mengkhawatirkannya. Kemudian Andreas membantu Scarlesia meminum air yang diambilkan oleh Hana barusan.


“Bernapaslah Sia! Coba atur napasmu secara perlahan,” ucap Zenon.


Scarlesia sayup-sayup mendengar suara mereka, ia mencoba mengatur napasnya secara perlahan tapi sepertinya butuh waktu yang lama untuk ini.

__ADS_1


“Erin, panggil Yang Mulia Duke sekarang!” suruh Andreas.


Erin menurut dan langsung berlari untuk memanggil Eldrick. Namun, secara bersamaan terjadi keributan di ruang kerja Eldrick antara Carlen dan Aldert.


“Apa yang sudah kau katakan pada Sia?”


Bughhh!


Carlen memukul Aldert dan membuat pipinya merah serta sudut bibinya berdarah.


“Kau bahkan menggunakan sihirmu padanya? Hei Aldert aku akan katakan padamu semua kebenarannya,”


Carlen meraih kerah baju Aldert yang tampaknya sangat pasrah dipukul oleh kakaknya sendiri, Sedangkan Eldrick saat ini hanya menonton pertengkaran mereka sebab dia sendiri juga marah pada Aldert.


“Ibu dibunuh oleh pihak istana lalu Zaneta serta Nieva diutus masuk kemari untuk membunuh Sia! Bagaimana bisa kau malah membela mereka berdua dan menyakiti Sia adikmu sendiri!”


Kedua mata Aldert membulat, dia selama ini tidak pernah mau tahu soal kematian Ibunya tapi hari ini matanya terbuka setelah mendengar fakta yang sebenarnya dari kakaknya.


“Kau tahu Sia ternyata selama ini diracuni bahkan dia sempat meninggal, aku tidak tahu sama sekali soal ini. Kenapa kau malah tega menyakitinya lagi dan lagi? Padahal aku sudah memperingatkanmu soal ini tapi lihat apa yang kau lakukan sekarang! LIHAT!!” murka Carlen mendorong tubuh Aldert menjauh darinya.


Brakkkk


Erin menerobos masuk ke dalam, dia tidak bisa membaca suasana tegang diantara mereka yang ia ingat sekarang bahwa Scarlesia sedang membutuhkannya.


“YANG MULIA! YANG MULIA! T-TOLONG PANGGILKAN DOKTER! NONA… NONA KESULITAN BERNAPAS!!!”


Erin berlari sekuat tenaga sehingga membuat napasnya sesak ditambah dia berteriak memanggil Eldrick mambuat napasnya semakin tercekik.


“A-APAA??”


Eldrick dan Carlen shock, mereka pun bergegas pergi ke Paviliun Kirin. Aldert juga ikut terkejut mendengarnya tapi dia saat ini tidak mampu muncul di hadapan adiknya.


Eldrick menyuruh Wilson untuk menghubungi dokter dan tidak lama kemudian dokter pun datang. Dia memeriksa keadaan Scarlesia lalu memberikan suntikan agar ia tidak sadarkan diri lalu tertidur. Semua orang menunggu dengan khawatir sampai dokter tersebut selesai memeriksa keadaannya.


“Bagaimana? Apa yang terjadi dengan Sia?” tanya Carlen.

__ADS_1


“Nona sepertinya sedang depresi, dia terlalu banyak berpikir dan tertekan sehingga membuat dadanya menyempit dan menyebabkan napasnya sesak. Tapi sekarang Nona sudah tenang, tunggu saja sampai dia terbangun nanti. Tolong katakan pada Nona agar tidak terlalu stres,” jelas sang dokter membuat seisi ruangan bisa bernapas lega.


Usai memeriksa Scarlesia, dokter pun segera pergi. Tidak lupa pula sang dokter memberikan beberapa pil untuk diminum Scarlesia setelah dia bangun nanti. Selesai itu, Eldrick menyuruh semua orang keluar dari kamar keculia dia karena ia akan menemani Scarlesia sampai dia siuman. Tetapi, Carlen menolak untuk keluar karena dia sendiri juga ingin menemani adiknya di sini. Mulanya Zenon serta Andreas juga ingin menemani Scarlesia tapi dilarang oleh Erin karena menurutnya inilah saat menunjukkan kasih sayang mereka berdua pada Scarlesia.


Eldrick tertidur di sisi kanan ranjang Scarlesia sedangkan Carlen tidur di atas sofa. Mereka terlihat sangat lelah karena pekerjaannya yang cukup berat. Ketika sang mentari menyapa langit pagi itulah saat Scarlesia membuka matanya kembali, pada saat dia terjaga ia menemukan Ayah dan kakaknya berada di kamarnya.


“Apakah mereka menjagaku semalaman?” gumamnya.


Kemudian Scarlesia turun dari tempat tidurnya karena tubuhnya serasa sedikit pegal, jadi dia memutuskan untuk jalan sebentar keluar kamar. Dia menikmati indahnya pemandangan di paviliun sebagaimana di sekitarnya banyak sekali bunga-bungan indah yang tumbuh memberi nuansa keasrian halaman paviliun. Scarlesia melangkahkan kakinya ke taman untuk melihat lebih dekat embun pagi yang menyatu dengan bunga-bunganya.


“Di dalam ingatanku, Ibunya Sia suka sekali dengan bunga. Itulah kenapa ada banyak bunga di sini tapi di dalam ingatanku tidak ada tentang Ibunya yang suka menanam tanaman herbal. Apa ini hanya kebetulan saja?” pikirnya.


Tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sepetak tanaman yang tidak asing baginya.


“Ehh bukankah tanaman ini bisa menjadi racun berbahaya bila dicampurkan dengan darah kalajengking? Kalau tidak salah nama tanaman ini bunga caroll? Tanaman yang memiliki bunga indah berwarna violet tapi sebenarnya ini sangat berguna untuk menyiksa orang. Bagaimana bisa ini tumbuh di sini?” gumamnya sambil mengamati bunga tersebut.


Tidak lama berselang, terdengar suara Eldrick dan Carlen memanggil-manggil namanya dari kamarnya yang berada di lantai atas.


“AYAH, KAKAK! AKU ADA DI TAMAN!” sahutnya.


Eldrick dan Carlen langsung turun untuk melihat apakah benar Scarlesia berada di tanaman atau tidak. Betapa melegakannya saat mereka ketika mereka mendapati Scarlesia sudah ceria kembali dan tampak lebih baik dari sebelumnya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir tadi kau kabur,” ujar Eldrick.


“Tidak Ayah, aku hanya jalan-jalan pagi di taman,”


“Sia, apakah tubuhmu sekarang tidak apa-apa?” tanya Carlen memasang raut khawatir.


“Ya, katakan saja pada Ayah kalau masih terasa sakit,” timpal Eldrick.


“Aku sungguh sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku ingin bertanya bisakah potret Ibu yang rusak diperbaiki kembali?”


“Bisa, serahkan saja padaku nanti akan aku bantu perbaiki,” jawab Carlen.


“Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya kak,”

__ADS_1


Carlen mengelus puncak kepala Scarlesia, mereka berdua bisa tenang sekarang dengan kondisinya yang membaik ini. Di tengah perbincangan mereka, Wilson datang memberi kabar bahwa Eldrick dan Carlen disuruh datang ke istana segera oleh kaisar karena ada rapat penting yang harus mereka hadiri. Mereka berdua pun pamit pada Scarlesia untuk segera pergi ke istana, dan kini tinggallah ia sendiri tapi itu hanya sebentar karena dua pelayan pribadinya serta Kitty, Andreas dan Zenon juga sudah bangun jadi mereka yang menemani Scarlesia seharian ini.


__ADS_2