
“Kenapa? Apa kalian tidak senang? Dalam dua minggu akan kaisar akan mengadakan lomba berburu. Aku akan membawa beberapa dari kalian bersamaku dalam perburuan tersebut,” kata Scarlesia.
“Lomba berburu? Bukannya kebanyakan yang ikut adalah ksatria berpedang?”
“Iya, bolehkah kita juga ikut perlombaan berburu tersebut?”
“Entah karena salama ini tidak ada yang memperhatikan kita,”
Begitulah yang terdengar dari mereka, dari sini Scarlesia bisa tahu bahwa mereka tidak diperhatikan sama sekali.
“Tapi kenapa anda membolehkan kami ikut Nona?” tanya Robert langsung.
“Memangnya kenapa? Apakah kalian tidak mau bergabung dalam perlombaan berburu? Ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kekuatan para ksatria pemanah. Aku suka memanah karena ini berguna dalam jarak jauh, jika para ksatria pedang bertarung dalam jarak dekat maka ksatria pemanah lebih hebat karena bertarung dalam jarak jauh. Benar kan?”
Mereka saling bertukar pandang dan berpikir bahwa yang dikatakan Scarlesia ada benarnya juga. Mereka mulai berpikir mungkin inilah saatnya mereka maju dan mematahkan semua dugaan-dugaan buruk tentang ksatria pemanah.
“Kalau begitu kami akan bergabung dengan Nona,”
“Betul! Kami bersedia diajari oleh Nona. Ini adalah kesempatan kita untuk tampil,”
“Iya mari kita tunjukkan kekuatan kita,”
“Jangan biarkan mereka terus menghina ksatria pemanah!”
Sorak sorai para ksatria pemanah membuat Scarlesia semakin yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat untuk dia bawa dalam acara ini. Semangat mereka serta aura positif yang mereka keluarkan menunjukkan kalau mereka adalah para ksatria yang baik.
“Baiklah, kalau begitu kita akan mulai latihan besok. Sekarang kalian lebih baik beristirahat karena aku tidak akan memberi celah untuk kalian,”
Selesai itu, Scarlesia beranjak pergi dari tempat latihan dan para ksatria pemanah juga meninggalkan arena latihan. Sesuai dengan anjuran Scarlesia, mereka beristirahat lebih cepat hari ini karena Scarlesia menyuruh mereka datang lebih pagi ke arena.
“Nona Scarlesia tidak seperti yang dibicarakan oleh orang lain,”
“Iya, beliau terlihat hangat dan tegas. Orang-orang mengatakan kalau beliau sangat kurang ajar karena berani mempermalukan putra mahkota pada saat pesta kemenangan,”
“Nona sangat mirip dengan Yang Mulia Duchess Larissa,” sela Robert di tengah pembicaraan bawahannya.
“Ketua!”
“Apakah ketua kenal dengan duchess sebelumnya?” tanya Dion penasaran.
“Aku sangat mengenalnya, aku bergabung dalam ksatria pemanah saat aku masih berusia 16 tahun. Beliau sangat memperhatikan kami bahkan mengajari kami cara memanah, beliau tegas tapi ramah dan banyak tersenyum. Kami para ksatria pemanah sangat menyukainya namun semenjak kematian beliau dan masuknya duchess yang sekarang membuat reputasi ksatria pemanah semakin turun tapi saat aku melihat Nona hari ini, aku rasa tidak ada salahnya kita mengikutinya,” jelas Robert.
__ADS_1
“Aku semakin bersemangat untuk hari esok, aku yakin Nona bisa membuat kemampuan kita semakin meningkat. Aku akan tidur cepat hari ini lalu bangun lebih pagi,” ucap Dion bersemangat.
“Ya, aku juga!”
“Aku pun akan tidur lebih cepat,”
Scarlesia berhasil memunculkan kembali semangat para ksatria pemanah, mereka sangat menunggu hari esok datang.
Esoknya, Scarlesia membuka matanya karena merasa ada yang menghimpit tangannya sebelah. Ia menghadap ke samping untuk melihat apa yang membuat tangannya terasa berat setelah ini.
“KYAAAAAA,” pekik Scarlesia kaget melihat seorang pria tidur di sampingnya, pria itu tampak tidak asing baginya.
Scarlesia menarik tangannya, kemudian beringsut ke belakang menjauh sedikit dari pria yang tidak dikenal itu.
“Ehh bukankah dia adalah manusia serigala yang aku bawa kemarin? Kenapa dia bisa tidur di sini?”
Tiba-tiba saja pria itu terbangun, pupil mata coklatnya yang cerah terbuka menatap Scarlesia yang sedang berada di sampingnya. Dia tersenyum lalu bangun dari posisi tidurnya, dia meraih tangan Scarlesia lalu meletakkan tangannya di pipinya.
“Sia, selamat pagi,” sapanya tersenyum.
Suaranya begitu lembut, senyumnya yang manis meluluhkan hati Scarlesia.
“Uhh tubuhnya tinggi tapi wajahnya imut sekali,” batin Scarlesia.
“Louis, panggil aku Louis,” jawabnya.
“Tapi, darimana kamu tahu namaku?”
Louis tidak menjawab pertanyaannya dan hanya tersenyum saja, lalu Louis memeluk Scarlesia.
“Sia, apakah kamu yang menyelamatkanku?”
Braakk
“SIAAAAA APA KAMU BAIK-BAIK SAJA? TADI AKU MENDENGAR TERIAKANMU,” teriak Zenon yang datang bersama Andreas dan mendobrak pintu kamar Scarlesia hingga rusak.
Mereka berdua tertegun melihat Louis yang memeluk Scarlesia erat, dengan lekas mereka menarik Louis agar melepaskan pelukannya.
“Hei kau berani-beraninya menyentuh Sia tanpa izin dariku,” geram Zenon.
“Apa kau mau aku potong-potong?” gertak Andreas.
__ADS_1
“Kalian pacarnya Sia?” tanya Louis.
“Bukan,” geleng mereka bersamaan.
“Ya sudah berarti aku boleh memeluknya,”
Louis mengulang lagi pelukannya, kepalanya bersandar di dada Scarlesia seperti seorang anak kecil yang memeluk Ibunya.
“Cepat lepaskan hei, kau tidak boleh memeluknya,” Zenon menarik-narik Louis agar mau melepaskan dekapannya tapi Louis semakin mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba Oliver datang, dia masuk dari jendela kamar Scarlesia yang tidak tertutup.
“Ada apa? Kenapa ribut sekali di sini? Hahhhh kau kenapa kau memeluk Sia? Cepat lepaskan!”
Oliver shock, dia tidak terima dengan apa yang dia lihat. Oliver pun turut menarik Louis agar menjauh dari Scarlesia, begitu juga dengan Andreas melakukan hal yang sama.
“Kalian pagi-pagi sudah meribut di kamar orang lain. Sekarang kalian keluar! KE-LU-AR!” usir Scarlesia memelototi mereka.
Mereka akhirnya diusir oleh Scarlesia keluar dari kamarnya, ia jengkel dengan keributan yang tidak penting seperti ini.
“Ini semua karena kalian, Sia jadi mengusirku dari kamarnya,” tuding Louis.
“Huh? Dasar anak baru, padahal kau belum lama di sini tapi beraninya memeluk Sia,” kata Zenon marah balik.
“Betul! Kau seharusnya aku buang saja kemarin,” timpal Andreas.
“Ini salah besar karena Sia membawamu kemari,” sambung Oliver.
“Kenapa kalian menyalahkanku? Padahal Sia saja tidak marah ketika aku peluk,”
Mereka bersitegang dengan Louis, tensi mereka naik pagi ini oleh ulahnya. Suara mereka yang bersitegang masih bisa didengar oleh Scarlesia dari dalam kamarnya, ia menggeleng-geleng karena tingkah mereka.
“JANGAN BERTENGKAR! KALIAN MAU AKU USIR DARI KEDIAMAN INI?” ancam Scarlesia yang geram.
Mereka pun terdiam karena ancaman Scarlesia, kemudian mereka menjauh dari kamar Scarlesia agar suara mereka tidak mengganggunya lagi. Pagi damai Scarlesia kembali seperti biasa, para pria yang suka ribut itu sudah pergi dari depan kamarnya.
“Oke, saatnya siap-siap pergi ke arena latihan,”
Scarlesia segera bersiap untuk pergi ke arena latihan karena ini adalah hari pertamanya melatih para ksatria pemanah. Saat dia sampai di arena latihan, semua orang sudah berada di sana lebih dulu darinya.
“SELAMAT PAGI NONA,” sapa mereka antusias.
__ADS_1
“Ya selamat pagi,”
Scarlesia memulai latihannya, dia mengajari mereka satu persatu cara memanah yang benar. Latihan yang diberikannya cukup ketat namun tidak membuat para ksatria menyerah begitu saja. Setiap hari seperti itu hingga kemampuan mereka kini semakin baik dan semakin bagus.