
Hun Yin yang memiliki jarak tidak jauh dari Bibi Shi pun akhirnya membuatnya tidak punya pilihan lain selain menarik Pelayan yang ada di sekitarnya untuk menjadi korban demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Agh! Tidak, Nyonya! Jangan mendekat!" teriak seorang Pelayan dengan sangat keras saa dirinya dilempar ke arah Bibi Shi dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan tubuh yang bergetar.
Bibi Shi yang awalnya ingin menangkap Hun Yin tidak sengaja menyentuh Pelayan yang dilepar Hun Yin. Dalam sekejap mata, tubuh Pelayan tersebut pun menjadi sangat gatal sehingga membuatnya ikut menggaruk tubuhnya dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah segar.
“Agh! Gatal sekali!” teriak Pelayan tersebut dengan sangat keras sambil menggaruk tangan dan wajahnya yang terasa sangat gatal.
Hun Yin yang melihat penularan Penyakit aneh itu pun merasa sangat takut dan tubuhnya pun bergidik ngeri karena khawatir dirinya akan bernasib sama.
"Argghh!" teriak Hun Yin dengan sangat histeris dengan dua tangan yang diletakkan di pipi dengan mata yang terbuka lebar.
Hun Yin yang sangat ketakutan segera menoleh ke arah samping ke arah Penjaga yang hanya diam saja tanpa melakukan apapun.
"Apa yang kalian lakukan dasar Penjaga bodoh? Cepat hentikan kedua Pelayan ini." teriak Hun Yin dengan ketakutan dengan eskpresi wajah yang marah dan kesal.
"Ba-baik Nyonya!" ucap kedua Penjaga dengan gagap secara bersamaan sambil berjalan maju ke arah kedua pelayan sambil mengancungkan tombak yang ada di tangannya ke arah depan.
"Jangan mendekat!" teriak salah seorang Penjaga dengan nada suara yang bergetar dan ekspresi wajah yang ngeri.
"Apa yang kau takutkan? Bunuh saja kedua Pelayan itu!" teriak Hun Yin dengan sangat keras sambil menatap marah dan penuh emosi kepada kedua Penjaga yang tidak berguna.
Kedua Penjaga yang mendengar perintah dari Hun Yin pun tanpa perasaan segan atau kasihan pun menusukkan ujung tombak yang tajam ke arah tubuh Pelayan hingga membuat kedua Pelayan berteriak kesakitan.
“Aaarrgghhh!” teriak kedua Pelayan secara bersamaan setelah ujung tombak menekan perut mereka hingga mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Pelayan itu pun terjatuh ke tanah dan tidak dapat bergerak lagi bahkan rasa gatal dan perih yang dirasakan di seluruh tubuh mereka pun tidak dihiraukan lagi hingga dalam sekejap mata keduanya pun menghembuskan nafas terakhir mereka.
“Nyo-Nyonya!” panggil Bibi Shi dengan mata yang terbuka lebar karena merasa tidak percaya dengan perbuatan Hun Yin yang rela mengorbankan dirinya yang telah sangat royal.
__ADS_1
Hun Yin yang melihat kedua Pelayan yang membawa Penyakit aneh itu telah meninggal pun merasa sangat lega karena tidak akan mengganggunya lagi.
“Akhirnya mereka semua mati juga!” ucap Hun Yin dalam hati sambil menghembuskan nafas lega sambil menatap jijik ke arah mayat Pelayan yang telah terbaring kaku di tanah.
“Angkat ketiga mayat ini dan bakar tubuh serta pakaian merak. Aku ingin darah serta semua barang-barang milik ketiga dibersihkan. Aku tidak ingin melihat hal ini lagi. Apa kalian mengerti?” tanya Hun Yin dengan ekpsresi wajah yang penuh dengan amarah sambil memberikan peringatan tegas kepada semua Pelayan dan Penjaga yang ada di halamannya.
Li Yuchen yang melihat Pertunjukan yang telah dibuatnya malam itu tidak membuat target utamanya masuk ke dalam Perangkat pun menjadi sangat bosan.
“Hah! Pertunjukannya berakhir dengan akhir yang tidak terduga. Tidak disangka ternyata baik wajah maupun sifat dan tindakannya sama buruknya bahkan lebih buruk dari hewan bahkan hewan pun ada yang tidak ingin mengorbankan temannya.” Ucap Li Yuchen dengan nada suara yang rendah sambil menatap Hun Yin dengan tatapan merendahkan.
Li Yuchen yang tidak ingin berada lebih lama lagi di sana pun kembali ke kamarnya dan beristirahat dengan tenang.
Keesokan paginya, Li Yuchen yang masih tertidur karena tidur larut malam karena menonton Pertunjukan yang menurutnya akan menarik tidak menyangka jika ada seseorang yang datang menemuinya dan membangunkan tidur nyenyaknya.
“Tok! Tok! Tok! Tuan Muda Li, apakah anda sudah bangun?” tanya Luo’er dengan nada suara yang pelan sambil mengetuk pintu kamar dengan perlahan.
Luo’er yang telah mendapatkan izin pun membuka pintu dengan perlahan dan meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja dan menyusunnya dengan sangat rapi.
“Tuan Muda Li, ini adalah menu sarapan pagi anda. Nona sendiri yang sengaja menyiapkannya. Harap Tuan Muda Li menyukainya.” Ucap Luo’er dengan ekspresi wajah yang datar sambil menundukkan kepala karena tidak berani mengangkat wajahnya.
Li Yuchen yang ingin marah langsung berubah menjadi ceria saat mencium bau makanan yang sangat lezat tersaji di atas meja.
“Benarkah?” tanya Li Yuchen dengan nada suara yang tidak percaya dengan ekspresi wajah terkejut sambil berjalan cepat dan duduk di kursi mencicipi hidangan yang tersedia.
“Hmmm, ini enak sekali. Apakah benar Istriku yang menyiapkan semua ini?” tanya Li Yuchen dengan nada bicara yang bahagia sambil melihat ke arah Pelayan yang berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.
“Benar sekali Tuan Muda.” Jawab Luo’er dengan nada suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi sambil tetap menundukkan kepalanya.
“Hmm, tapi kenapa tidak Nonamu yang langsung mengantarkan makanan ini kepadaku?” tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah penasaran sambil terus mengunyah makanan yang ada di depannya dengan sangat lahap.
__ADS_1
“Tuan Muda dan Nona masih belum menikah secara resmi jadi Nona tidak bisa menemui Tuan Muda secara langsung tapi karena Nona sangat yakin jika Tuan Muda Li tidak akan mendapatkan pelayan yang tepat di sini. Nona sengaja menyiapkan semuanya untuk Tuan Muda Li.” Ucap Luo’er dengan jelas yang akhirnya membuat Li Yuchen sadar dengan sikap semua orang terhadapnya.
“Baiklah. Aku mengerti. Katakan pada Nonamu. Aku akan menemuinya setelah bersiap-siap. Kau bisa kembali ke Nonamu sekarang.” Ucap Li Yuchen dengan nada suara yang ramah sambil menatap serius ke arah Luo’er.
Luo’er yang tidak ingin menjawab apapun hanya menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan dengan perlahan sambil menutup pintu dengan sangat pelan.
“Sepertinya Istriku juga tidak dipelakukan dengan baik di Kediaman Keluarga Seo. Aku harus mencari tau apa yang terjadi di Kediaman Keluarga Seo sebenarnya.” Ucap Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang serius sambil melanjutkan makannya dengan tenang.
Setelah menghabiskan makan dan membersihkan diri, Li Yuchen pun pergi ke halaman Seo Xiqin untuk bertemu dengannya tapi tidak sengaja melihat Seo Wan’er yang sedang menyindir Seo Xiqin.
“Apa yang membawamu kemari Seo Wan’er?” tanya Seo Xiqin dengan ekspresi wajah yang malas sambil meminum tehnya dengan santai di bawah pohon.
Aku hanya datang untuk menyapa Kakakku tecinta dan memberikannya ucapan selamat untuk Pernikahannya. Oh ya, aku membawakan selembar kain sebagai Hadiah Pernikahan untukmu yang bahkan tidak kau dapatkan dari Calon Suamimu itu.” Ucap Seo Xiqin dengan nada suara yang sinis sambil tertawa pelan di balik sapu tangan yang ada di tangannya dengan tatapan merendahkan.
“Apakah ada lagi yang ingin Saudari katakan?” tanya Seo Xiqin yang sedang sangat malas meladeni sikap dan perbuatan Seo Wan’er tanpa menatap ke arah Seo Wan’er sama sekali.
Seo Wan’er yang merasa jika yang dilakukannya tidak mendapatkan respon yang diharapkannya menjadi sangat kesal.
“Hmmm!” ucap Seo Wan’er sambil mendenguskan nafas dengan kasar sambil berbalik arah pergi meninggalkan halaman Seo Xiqin.
Li Yuchen yang melihat Seo Wan’er yang memperlakukan Seo Xiqin seperti itu menjadi sangat marah dan kesal lalu berniat membalasnya tapi tidak jadi setelah mendengar perkataan Seo Xiqin.
“Nona, kenapa kau diam saja dan tidak membalas perkataan Nona Wan’er?” tanya Sui’er dengan nada suara yang penuh dengan amarah yang berapi-api.
“Untuk apa? Aku tidak mau menghabiskan tenagaku untuk melayani orang yang tidak penting sepertinya.” Ucap Seo Xiqin dengan ekspresi wajah yang cuek sambil melihat ke kotak yang terbungkus rapi di atas meja.
#Bersambung#
Ada yang bisa tebak, apa yang akan dilakukan Li Yuchen selanjutnya di halaman Seo Xiqin? Jawab di kolom komentar ya..
__ADS_1