Kelahiran Kembali Kaisar Legenda

Kelahiran Kembali Kaisar Legenda
BAB 91. Ye Rui sadar


__ADS_3

Keesokan paginya, Li Yuchen telah siap pun bergegas pergi ke Paviliun Huanfu tapi tidak di sangka ternyata Ye Zhin telah berdiri di depan pintu Penginapannya menunggu Li Yuchen keluar dari Penginapan.


“Ah! Itu Bos akhirnya keluar juga. Aku menemuinya sekarang.” Ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang cerah sambil berlari mengejar Li Yuchen.


“Bos!” teriak Ye Zhin dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan langkah yang besar.


“Ada apa kau pergi mencariku?” tanya Li Yuchen sambil menoleh sedikit ke arah Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang datar sambil terus berjalan ke depan.


“Bos, untuk tugas yang telah kau berikan, aku punya sedikit pertanyaan.” Ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang telihat kaku sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan senyum yang lebar.


Li Yuchen yang mendengar perkataan Ye Zhin pun segera berhenti berjalan sehingga membuat Ye Zhin menabrak dirinya.


“Aduh! Bos, kenapa kau berhenti mendadak? Kau membuatku hidungku sakit sekali!” ucap Ye Zhin denga nada mengeluh sambil memijat hidungnya yang terasa sakit.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam dan mengabaikan keluhan Ye Zhin padanya.


“Bos, aku hanya ingin tau berapa jumlah harta yang harus aku kumpulkan? Aku khawatir jika semua yang aku bawa nanti itu terlalu sedikit atau terlalu banyak.” Ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang bingung dengan wajahnya yang polos sambil menghitung dengan jari-jari tangannya.


“Tidak ada yang telalu banyak. Kau bisa kumpulkan sebanyak yang bisa kau kumpulkan dengan syarat benda-benda itu memiliki kualitas yang sangat tinggi dan bila perlu langka.” Ucap Li Yuchen dengan penuh penekanan dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang mengintimidasi.


“Aku akan memberikan semua yang terbaik untuk calon istriku. Aku tidak akan memberikannya barang-barang yang murahan. Aku ingin dia menjadi Pengantin paling bahagia nantinya.” Ucap Li Yuchen dalam hati dengan senyum yang lembut sekilas lalu kembali menjadi datar dan dingin.


Li Yuchen yang menyadari jika waktunya sangatlah pendek pun memilih untuk meninggalkan Ye Zhin dan pergi menuju ke tujuannya.


“Apakah ada lain yang ingin kau tanyakan?” tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang tidak sabar dengan nada suara yang dingin.

__ADS_1


“Hmm, tidak ada Bos. Bos, apakah kau akan ke Paviliun Huanfu?” tanya Ye Zhin dengan nada suara yang santai dengan dua tangan terlipat ke belakang kepalanya dengan ekspresi wajah yang cuek.


“Ada apa? Apa kau ingin ikut dan bertemu dengan Saudari Perempuanmu?” tanya Li Yuchen dengan nada bicara yang menyindir sambil melihat reaksi Ye Zhin.


“Saudari? Hahaha... Bos, kau pasti sedang mengejekku. Apakah menurutmu dia menganggapku sebagai Saudaranya melihat kepribadiannya yang seperti itu?” ucap Ye Zhin dengan tawa yang hambar dengan ekspresi yang langsung berubah datar.


“Dia mungkin tidak tapi mungkin saja kau iya!” ucap Li Yuchen dengan santai sambil terus berjalan di samping Li Yuchen.


“Bos, jangan mengejekku seperti itu. Kau sangat tau jelas hubungan di antara kami. Baiklah, Bos pasti sibuk di Paviliun Huanfu, aku akan pergi ke Toko Pakaian Meili dan mencari barang-barang yang bagus untuk Nyonya Bosku!” ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang tidak perduli sambil mengambil langkah ke arah yang lain dengan Li Yuchen.


Li Yuchen yang mendengar nama Toko Pakaian Meili pun segera menghentikan Ye Zhin dan menyerahkan sebuah surat kepada Ye Zhin lalu mengucapkan beberapa kata yang membuat Ye Zhin mengerti kekuatan yang dimiliki Bosnya itu.


“Ambil kertas ini! Berikan kepada Tuan Yan dan atur urusanku di sana dengan baik. Jangan lupa setelah selesai semua berikan botol dan kertas ini kepada Tuan Yan atau Nona Shu. Gunakan itu untuk mendapatkan harta terbaik yang dimiliki oleh Toko Pakaian Meili untuk tugas yang aku berikan!” ucap Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang serius sambil menyerahkan beberapa lembar kertas dan sebotol pil kepada Ye Zhin lalu pergi meninggalkan Ye Zhin yang masih berfikir.


“Apakah Bos menyerahkan tugas penting lainnya kepadaku?” tanya Ye Zhin secara tidak sadar dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tangan yang penuh dengan barang yang diberikan Li Yuchen padanya.


Ye Zhin yang telah mengerti tugasnya pun bergegas ke Toko Pakaian Meili sedangkan Li Yuchen pergi ke Paviliun Huanfu menyelesaikan bisnisnya dengan Tetua Han.


Tetua Han yang telah menunggu kedatangan Li Yuchen ternyata telah berdiri di depan pintu Paviliun Huanfu dengan sendirinya dengan Ye Rui yang berdiri di belakangnya dengan patuh.


“Guru! Anda tidak perlu tegang seperti itu, Tuan Muda Yu pasti akan segera datang seperti janjinya.” Ucap Ye Rui dengan sopan dengan ekspresi wajah yang sudah berubah menjadi lebih tenang setelah beberapa kejadian yang terjadi dalam semalam.


“Aku tau Tuan Muda Li adalah orang yang hebat yang tidak akan melupakan janjinya jika tidak dalam keadaan yang sangat mendesak tapi aku tidak bisa diam saja dan duduk tenang.” Ucap Tetua Han dengan ekspresi wajah yang gelisah dan khawatir dengan nada suara yang cemas.


Ye Rui yang sangat menyadari kecemasan yang ada di dalam fikiran Tetua Han pun tidak berani berkata lagi karena baginya semua yang dilakuakan Tetua Han adalah yang benar.

__ADS_1


“Aku tidak akan mengulangi hal bodoh yang aku lakukan semalam. Kali ini aku akan menjadi penurut lagi pula saat ini aku telah menjadi Budak Tuan Muda Li dan nyawaku ada di tangannya. Aku tidak bisa meninggal begitu saja dan membiarkan nyawa Ibu dan Kakakku terancam!” ucap Ye Rui dalam hati dengan ekspresi wajah yang penuh tekad yang kuat dan sorot mata yang tajam menatap ke arah jalanan yang ramai.


Ye Rui yang masih sangat ingat yang telah terjadi setelah dirinya kembali ke Paviliun Huanfu dimana Tetua Han dan Ibunya menamparnya untuk pertama kalinya dan mendengar Ibu yang sangat disayanginya mengucapkan kata-kata yang sangat kasar.


“Kau benar-benar telah membuatku malu dan sangat kecewa. Aku lebih memilih mati daripada harus hidup seperti ini.” Ucap Tetua Han dengan ekspresi wajah yang marah dan mata yang melotot tajam penuh dengan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam.


“Maafkan! Aku guru!” ucap Ye Rui dengan nada suara yang rendah dengan kepala yang tertunduk lesu karena merasa semua adalah kesalahannya.


“Kau salah dan hanya itu yang bisa kau lakukan. Aku tidak bisa lagi melindungi dirimu. Ke depannya nyawamu ada di tanganmu sendiri. Jangan pernah membuat Tuan Muda Li marah lagi karena jika itu terjadi maka kau tau sendiri akibat yang harus kau tanggung.” Ucap Tetua Han dengan nada bicara yang rendah lalu berjalan pergi meninggalkan Ye Rui yang masih terduduk dalam posisi berlutut di dalam ruangan kerjanya.


“Tetua Han! Apakah aku boleh bertemu dengan putriku?” tanya Ma Shunyi yang ternyata tidak sengaja bertemu dengan Tetua Han di lorong menuju ke Ruangan Ye Rui.


Tetua Han yang melihat kedatangan Ma Shunyi sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bicara ataupun melakukan apapun akhirnya memilih untuk menoleh ke belakang sebagai tanda persetujuan dan berjalan kembali menuju ke ruangannya.


Ma Shunyi yang menyadari telah terjadi sesuatu yang sangat buruk antara Tetua Han dan Ye Rui pun berlari masuk ke dalam ruangan Ye Rui lalu saat Ma Shunyi melihat Ye Rui menangis tersedu-sedu pun segera memeluknya dan memberikannya semangat.


“Jangan menangis anakku. Ibu ada di sini! Meskipun seluruh dunia meninggalkanmu ingatlah satu hal bahwa Ibu dan Kakakmu akan selalu ada di sampingmu.” Ucap Ma Shunyi sambil memeluk erat Ye Rui dan menepuk-nepuk punggungnya mencoba menenangkan Ye Rui yang menangis.


“I-ibu! Aku tidak sanggup lagi, aku ingin mati saja!” ucap Ye Rui dengan ekspresi wajah yang sedih dengan nada suara yang putus asa dengan air mata yang tidak berhenti menangis.


Ma Shunyi yang mendengar perkataan itu pun menjadi sangat marah dan menampar Ye Rui dengan sangat keras untuk menyadarkannya dari fikirannya yang salah.


“Plak!” suara tamparan keras ke pipi Ye Rui dengan ekspresi wajah yang marah.


“Apa kau sudah gila? Apa kau ingin melihat mayat Ibu dan Kakakmu? Apa kau ingin kami ikut mati bersamamu?” tanya Ma Shunyi dengan ekspresi wajah yang marah dan sorot mata yang tajam serta nada suara yang terdengar sangat kasar dan pedas.

__ADS_1


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan dan dikatakan Ye Rui ya setelah mendengar perkataan Ibunya? Jawab di kolom komentar ya..


__ADS_2