
Li Yuchen yang telah selesai bersiap-siap pun datang menemui keluarganya di ruang utama sambil memberikan hormat.
“Salam untuk Kakek, Ayah, dan Ibu!” ucap Li Yuchen dengan nada suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi.
Mo Mingming yang telah lama tidak bertemu dengan Li Yuchen meskipun berada di satu Akademi yang sama karena kesibukan Li Yuchen yang snagat sulit untuk ditemui pun langsung berdiri dan berlari ke arah Li Yuchen.
“Kakak Sepupu, akhirnya aku bisa bertemu denganmu! Kita satu Akademi tapi sangat sulit bertemu denganmu! Hmmm...” ucap Mo Mingming yang bertingkah seperti anak kecil yang merajuk karena tidak mendapatkan yang diinginkannya.
Li Yuchen yang menganggap Mo Mingming sebagai adiknya pun menarik nafas panjang dan meminta maaf dengan tulus.
“Maafkan aku! Aku...” ucap Li Yuchen yang tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena langsung dihentikan oleh Mo Yunhe.
“Ming’er, kau tidak boleh melakukan hal itu. Kakak Sepupumu akan segera pergi ke Daratan Yunzan untuk menjadi Perwakilan Daratan Danzong karena itu kau harus mengerti!” ucap Mo Yunhe dengan senyum yang lembut dengan kata-kata yang ambigu.
Mo Hao yang mendengar perkataan Mo Yunhe pun ikut menjadi bingung lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Li Yuchen.
“Anak ini ternyata sangat tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Aku harus menghentikan semuanya sebelum semuanya menjadi kacau!” ucap Mo Hao dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
“Hentikan! Ming’er kemarilah! Duduklah di samping kakek!” panggil Mo Hao dengan suara yang lembut yang membuat Mo Mingming menjadi kecewa karena harus berpisah tempat duduk jika bersebelahan dengan Mo Hao.
Mo Yunhe yang sudah sangat senang saat mendengar kabar bahwa Seo Xiqin dibawa pergi oleh orang asing pun memutuskan untuk mencarikan Istri lain untuk Li Yuchen.
Namun keinginan itu pupus karena Li Yuchen menolak permintaan Kaisar Su Yongkang untuk menjadi menantunya karena Li Yuchen lebih memilih menjodohkan Putri Su Qingqing ke temannya.
“Aku tidak akan memberikan Seo Xiqin kesempatan berada di dalam hati Putraku. Aku akan memberikan tempatnya kepada orang lain!” ucap Mo Yunhe dengan tatapan mata yang tajam.
“Meskipun sulit mendapatkan wanita muda yang belum bertunangan ataupun menikah. Aku pikir Mo Mingming adalah pilihan yang sangat tepat karena saat aku dalam kondisi terpuruk Mo Mingming selalu datang memberikan bantuan dan Mo Mingming juga berhasil masuk ke Akademi Yunlong!” ucap Mo Yunhe dengan ekspresi wajah yang serius dengan senyum yang lebar.
Mo Yunhe yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa mendekatkan hubungan antara Mo Mingming dan Li Yuchen tapi ternyata niat itu sudah terbaca oleh Mo Hao.
Mo Hao yang tak ingin memaksakan kehendaknya kepada Li Yuchen karena Li Yuchen selama ini hidup dalam penderitaan dan kesepian pun memutuskan hanya ingin Li Yuchen bahagia.
__ADS_1
“Ayah! Kenapa Ayah seperti itu? biarkan saja Ming’er dimanapun dia inginkan! Ming’er sudah besar dan pasti tau yang terbaik untuk dirinya!” ucap Mo Yunhe dengan ekspresi wajah yang bersahabat dan senyum yang lebar.
“Agh! Bibi, kau memang yang terbaik!” ucap Mo Mingming dengan suara yang ceria sambil memeluk Mo Yunhe dar belakang dengan wajah yang sangat bahagia.
“Tidak! Ming’er akan duduk di sebelahku atau dia kembali ke Akademi!” ucap Mo Yunhe dengan nada suara yang tegas dan sedikit tinggi.
Mo Mingming yang tidak ingin kembali ke Akademi karena ingin bersama dengan Li Yuchen lebih lama pun memilih menuruti perkataan Kakeknya.
Mo Yunhe yang diteriaki oleh Mo Hao pun terdiam dan hanya bisa menahan perasaan kesalnya dengan menggenggam sapu tangannya dengan sangat erat.
Li Chuan yang tidak perduli dengan yang dilakukan ataupun yang direncanakan oleh Mo Yunhe pun memilih untuk diam dan mengabaikan perasaan Mo Yunhe.
Li Chuan yang datang karena ingin mengantar Li Yuchen sebelum kepergiannya ke Daratan Yunzan pun menyerahkan sesuatu kepada Li Yuchen.
“Ayah tau kau pasti telah mempersiapkan semuanya untuk kepergianmu ke Daratan Yunzan tapi Ayah masih ingin memberikan ini kepadamu!” ucap Li Chuan sambil menyerahkan sebuah Pedang kepada Li Yuchen.
Li Yuchen yang tau jika Pedang yang ada tidak lebih hebat dari Pedang Naga dari Ketua Akademi Yunlong Pertama pun lebih tertarik dengan kristal hitam yang ada di tengah Pedang.
“Kristal Jiwa Iblis! Jika aku membuat Boneka Mayat Hidup dengan Kristal ini maka Kekuatan Boneka Mayat Hidup itu akan setara dengan Kultivator Level Legenda!” ucap Li Yuchen dalam hati dengan ekspresi wajah yang sangat bersemangat.
Tak hanya Li Chuan ternyata Mo Hao dan Mo Mingming juga memberikan sesuatu kepada Li Yuchen.
“Chen’er! Kakek hanya bisa memberikanmu ini! Kakek harap buku ini dapat membantumu!” ucap Mo Hao sambil menyerahkan Sebuah Buku yang berisikan Sebuah Jurus di tingkat Surgawi.
“Terima kasih banyak, Kakek!” ucap Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang tulus dengan menangkupkan kedua tangannya sebagai etika yang benar kepada orang yang lebih tua.
“Kak Yuchen! Ming’er tidak memiliki benda ataupun harta yang berharga untuk diberikan kepada Kakak tapi Ming’er membuat ini dengan tulus!” ucap Mo Mingming sambil memberikan sebuah sapu tangan yang dengan sulam Naga di ujungnya.
Mo Yunhe yang ternyata adalah orang yang memberikan ide kepada Mo Mingming untuk memberikan hadiah itu kepada Li Yuchen pun tak ingin kehilangan momennya.
“Benar sekali! Ming’er telah menyulam itu dengan sepenuh hatinya selama berhari-hari jadi kau harus menerimanya dan menjaganya dengan sangat baik!” ucap Mo Yunhe dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
“Apakah Ibu yang mengajari dan membantu Ming’er membuat sulaman ini?” tanya Li Yuchen dengan nada suara dan ekspresi wajah yang dingin.
“Tentu saja. Ibu sudah menganggap Ming’er seperti Putri Ibu sendiri karena itulah Ibu mengajarinya menyulam!” ucap Mo Yunhe dengan percaya diri dan kebanggaan yang tak terkira di wajahnya.
Li Yuchen yang melihat wajah bahagia Mo Yunhe pun tersenyum tipis dengan tatapan mata merendahkan.
Li Yuchen yang mengambil sapu tangan itu lalu memberikannya kepada Sui’er yang ada di dekatnya pun membuat Mo Mingming menatap sedih.
Mo Yunhe yang tidak ingin melihat Mo Mingming sedih pun memarahi Li Yuchen dengan kata-kata yang kasar.
“Chen’er! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berikan sapu tangan yang telah disulam oleh Ming’er dengan sepenuh hatinya kepada Pelayan?” tanya Mo Yunhe dengan suara yang tinggi sambil berdiri sambil menunjuk ke arah Mo Mingming yang menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedih.
“Apakah kau tidak bisa menghargai perasaan Ming’er yang telah menyulamnya untukmu demi mendoakanmu agar berhasil dan kembali dengan selamat!” ucap Mo Yunhe dengan ekpsresi wajah yang marah.
Li Yuchen yang mendengar perkataan Mo Yunhe pun berdiri lalu memukul meja dengan sangat keras hingga membuat Mo Mingming yang terduduk menjadi terkejut.
“Ibu memikirkan perasaan Ming’er lalu apakah Ibu memikirkan perasaan Istriku?” tanya Li Yuchen dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.
“Istri apa maksudmu? Wanita itu sudah pergi meninggalkanmu bersama orang asing siapa yang tau apa yang telah dilakukannya disana saat jauh darimu!” ucap Mo Yunhe dengan nada suara dan kata yang menghina.
Li Yuchen yang tidak bisa menerima dengan kata-kata menghina yang dikeluarkan oleh Mo Yunhe untuk Seo Xiqin menghancurkan meja makan tersebut dan membuatnya menjadi dua bagian.
“Qier tidak akan pernah melakukan hal hina seperti itu dan Ibu tidak berhak mengatakan hal buruk tentangnya tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi!” ucap Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang sangat marah sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat ke arah Mo Yunhe.
Mo Yunhe yang memiliki tingkat kultivasi yang rendah pun kesulitan bernafas karenanya sehingga membuat Li Chuan, Mo Hao dan Mo Mingming menjadi cemas.
“Kak Yuchen, tolong maafkan Bibi! Bibi tidak bersalah. Ini semua salahku. Aku yang bersalah untuk semua ini. Aku yang telah meminta bibi untuk mengajariku menyulam!” ucap Mo Mingming dengan suara yang terdengar sangat sedih dengan air mata yang mengalir ke pipinya.
“Hentikan ini! Kau tidak boleh membunuhnya. Ingatlah bahwa dia adalah Ibumu. Wanita yang telah melahirkanmu di Dunia ini!” ucap Li Chuan dengan nada suara yang tinggi.
“Chen’er! Kendalikan emosimu! Kau tidak boleh dikuasai oleh amarahmu!” ucap Mo Hao dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang takut.
__ADS_1
#Bersambung#
Bagaimana nasib Mo Yunhe? Apakah Mo Yunhe akan dibebaskan oleh Li Yuchen? lalu bagaimana hubungan antara Ibu dan Anak itu ke depannya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...