
Jin Ling yang datang ke Kediaman Keluarga Seo berharap dapat bertemu Seo Wan’er pun merasa sedikit kecewa karena Seo Wan’er tidak kunjung menunjukkan wajahnya sehingga membuat Jin Ling bergerak mencari tau.
“Terima kasih untuk undangannya, Kepala Keluarga Seo!” ucap Jin Xiping, Walikota Jinlin, dengan senyum yang ramah sambil memegang cangkir anggur di tangannya ditemani Jin Ling.
“Hahaha... Walikota, anda terlalu sungkan. Terima kasih karena telah memenuhi undangan saya!” ucap Seo Hong dengan senyum yang lebar dan tawa sesekali.
“Ehem!” ucap Jin Ling dengan tidak sabar dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa ingin tau yang tinggil.
“Hahaha! Sepertinya Putraku sudah sangat tidak sabar. Baiklah. Aku akan kembali, Kepala Keluarga Seo Selamat untuk Pernikahan Putrimu!” ucap Jin Xiping dengan ekspresi wajah yang ceria sambil memberikan hormat lalu pergi meninggalkan Jin Ling bersama Seo Hong.
“Ehem! Paman Hong, aku tidak melihat keberadaan Wan’er.” Ucap Jin Ling dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil melihat ke kiri dan ke kanan berulang kali.
Seo Hong yang mendengar perkataan Jin Ling pun menyadari akan sesuatu yang akhirnya membuat Seo Hong harus berbohong.
“Nak Ling, sangat merindukan Wan’er rupanya!” ucap Seo Hong dengan tawa yang bahagia dengan nada suara yang seolah menggoda Jin Ling.
“Paman Hong, jangan menggodaku!” protes Jin Ling dengan wajah yang memerah karena malu dengan ekspresi wajah yang penasaran.
“Sayang sekali, Nak Ling tidak dapat bertemu dengannya hari ini karena Wan’er sedang terserang flu dan itulah sebabnya dia tidak keluar melihat Pernikahan Kakak tercintanya.” Ucap Seo Hong yang berpura-pura sedih sambil menundukkan kepala sebentar.
“Ah, begitu rupanya. Paman Hong jangan sedih. Aku akan mengirimkan Gingseng yang akan dan Herbal lain yang dapat membantu proses kesembuhan Wan’er!” ucap Jin Ling dengan ekspresi wajah yang serius.
“Terima kasih untu perhatian Nak Ling kepada Putriku. Paman sangat berterima kasih.” Ucap Seo Hong dengan ekspresi wajah yang berpura-pura lega dengan senyum yang ramah.
“Paman tidak perlu berkata seperti itu, aku senang jika dapat membantu.” Ucap Jin Ling dengan senyum lembut dengan ekspresi wajah yang dipaksakan bahagia.
Di saat semua orang sedang berkumpul dan bercerita, musik dan petasan yang menandakan Pengantin tiba pun telah terdengar sehingga membuat semua orang fokus ke pintu masuk.
Li Yuchen yang telah sampai di depan Aula Utama pun turun dari atas kudanya dan berjalan mendekati kereta kuda lalu membuka tirai dan melihat Seo Xiqin yang sedang duduk dengan kepala tertunduk.
“Kita telah sampai dan Acara akan segera dimulai.” Ucap Li Yuchen sambil mengulurkan tangan membantu Seo Xiqin turun dari kereta kudanya dan menuntunnya masuk ke dalam Aula Utama.
Aula Utama yang awalnya sangat ramai dengan obrolan Para Tamu undangan pun berubah menjadi hening seketika saat Li Yuchen dan Seo Xiqin memasuki Aula.
__ADS_1
“Hormat kepada Leluhur!” ucap seorang dengan sangat keras hingga membuat Li Yuchen dan Seo Xiqin menundukkan kepala ke hadapan papan nama Leluhur Keluarga Seo.
“Hormat kepada Orangtua!” ucap seseorang dengan sangat keras dan membuat keduanya menundukkan kepala dengan patuh dihadapan Seo Hong karena Hun Yin terkurung di halamannya.
Seo Xiqin yang merasa sangat senang karena tidak perlu memberi hormat kepada Ibu Tiri yang jahat pun hanya bisa tersenyum dan bernafas lega.
“Hormat kepad Pasangan!” ucap seseorang dengan nada yang sangat keras hingga menjadi tanda untuk keduanya berdiri berhadapan dan memberi hormat satu sama lain.
Namun di saat Seo Xiqin memberi hormat Kerudung Merahnya pun terjatu sehingga membuat semua Tamu undangan dapat melihat wajah cantik Seo Xiqin yang sesungguhnya.
“Apakah itu benar Putri Tertua Keluarga Seo? Wajahnya sangat cantik!”
“Benar sekali! Aku tidak menyangka jika Keluarga Seo menyimpan kecantikan Putri Tertuanya sangat lama hingga tidak seorang pun mengetahui wajahnya!”
“Aku rasa Putri Tertua Keluarga Seo lebih canti dari adiknya Seo Wan’er!”
Meskipun banyak sekalian pujian yang disematkan pada Seo Xiqin tidak banyak pula yang menyangkan Pernikahan ini dan memberikan ekspresi prihatin dengan masa depan Seo Xiqin.
“Aku rasa juga begitu, akan lebih baik jika Nona Seo Xiqin menikah dengan Tuan Muda lain yang memiliki reputasi yang baik.”
“Aku ingin sekali menggagalkan pernikahan dan menculik Pengantin wanitanya!”
“Hahaha... Aku bahkan ingin mengambil Pengantin Wanita di malam Pengantinya agar Pria tidak berguna itu merasa kesepian!”
Li Yuchen yang mendengar perkataan orang-orang tentang dirinya tidak merasa marah ataupun kesal tapi saat orang-orang itu memiliki pikiran kotor dan tidak baik terhadap Seo Xiqin membuat Li Yuchen naik darah.
“Orang-orang idiot ini! Apakah mereka pikir aku tidak dapat mendengar perkataannya?” ucap Li Yuchen dalam hati.
Li Yuchen yang tidak ingin pria-pria itu menatap Seo Xiqin lebih lama pun memasangkan kembali Kerudung Merah yang terjatuh ke tangannya ke kepala Seo Xiqin dengan lembut dan hati-hati.
Semua orang yang melihat sikap Li Yuchen merasa sangat senang karena tidak dapat melihat kecantikan Seo Xiqin lebih lama lagi tak terkecuali Jin Ling yang tidak bisa berhenti menatap wajah Seo Xiqin.
“Cantik! Sangat cantik!” ucap Jin Ling dengan wajah yang memerah dengan ekspresi wajah yang tersenyum penuh dengan niat jahat dan pikiran yang kotor.
__ADS_1
Setelah memberi hormat, Li Yuchen pun menggandeng tangan Seo Xiqin ke Kamar Pengantin.
“Ayo!” ucap Li Yuchen dengan suara yang lembut sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Seo Xiqin.
Li Yuchen yang sebenarnya ingin sekali bersama dengan Seo Xiqin saat itu juga terpaksa harus bersabar karena memiliki pekerjaan lain yang harus diurus.
“Aku akan segera kembali! Istiraharlah!” ucap Li Yuchen sambil tersenyum ramah lalu meninggalkan kamar dengan ekspresi wajah yang kesal sambil mengacak rambutnya yang rapi.
Li Yuchen yang telah menjauh dari Kamar Pengantin ternyata telah ditunggu oleh Ye Zhin yang bersembunyi di balik pohon dan langsung berlutut di belakang Li Yuchen.
“Bos, apa perintahmu?” tanya Ye Zhin dengan patuh dengan tatapan mata membunuh dengan ekspresi wajah yang marah.
“Apa kau telah mencatat semua nama pria-pria yang memiliki pikiran kotor tentang Istriku?” tanya Li Yuchen dengan nada suara yang datar dan ekspresi wajah yang dingin dengan tangan terkepal dengan erat.
“Saya telah mencatat semuanya dan tidak akan terlewat satu nama pun!” ucap Ye Zhin dengan penuh keyakinan dengan ekspresi wajah yang serius.
“Bagus sekali. Jangan lupa berikan hadiah perpisahan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya! Lakukan dengan rapi!” ucap Li Yuchen dengan senyum yang sinis dengan tatapan yang membunuh.
“Baik, Bos!” ucap Ye Zhin dengan patuh lalu pergi meninggalkan Li Yuchen sendiri berdiri di bawah pohon melihat ramainya tamu yang datang.
Wu Peng dan Kedua Tetua dari Menara Formasi Shinzu yang sengaja datang mengadiri Penikahan Li Yuchen pun datang untuk memberikan selamat serta hadiah.
“Tetua Yu! Ah, tidak! Tuan Muda Li, Selamat Untuk Penikahannya. Semoga kau diberkahi dengan pernikahan yang panjang dan banyak anak!” ucap Ketiganya secara bersamaan sambil menundukkan kepala memberi hormat lalu menyerahkan hadiah yang telah terbungkus kotak dengan rapi.
“Terima kasih kepada semua yang telah hadir. Li Yuchen sangat senang.” Ucap Li Yuchen dengan tulus sambil menundukkan sedikit kepalanya dengan tangan terkepal ke depan memberi hormat.
Tidak lama kemudian, setelah kepergian Tetua Ye dan Tetua Ma serta Wu Peng, Tetua Han dan Ye Rui dari Paviliun Huanfu datang menemui Li Yuchen.
“Selamat untuk Penikahannya Tuan Muda Li!” ucap Tetua Han dan Ye Rui secara bersamaan sambil menundukkan kepala lalu menyerahkan hadiah kepada Li Yuchen.
“Terima kasih untuk Tetua Han yang telah hadir!” ucap Li Yuchen dengan senyum ramah sambil mencoba mengabaikan Ye Rui yang berdiri di belakang Tetua Han.
#Bersambung#
__ADS_1