Kelahiran Kembali Kaisar Legenda

Kelahiran Kembali Kaisar Legenda
BAB 157. Bunga Api Merah


__ADS_3

Sementara itu, Ye Rui yang juga mengikuti Li Yuchen masuk Portal menuju Makam Kuno bersama Anggota Paviliun Huanfu yang lain ternyata terlempar ke sebuah tempat yang asing sendirian.


Ye Rui yang merasa sedikit pusing akibat perpindahan dimensi tiba-tiba melihat ada sebuah Tanaman Obat yang sangat langka di atas tanah di tengah-tengah danau saat dirinya pertama kali membuka matanya.


“Agh! Kepalaku!” gumam Ye Rui dengan ekspresi wajah meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.


“Bu-bunga Api Merah!” teriak Ye Rui dengan ekspresi wajah terkejut dengan mata yang terbuka lebar dengan wajah yang ceria dan tawa yang sangat bahagia.


Ye Rui yang tidak menyangka akan dapat menemukan sebuah Bunga Api Merah pun menjadi sangat senang dan langsung melompati danau menuju ke Bunga Api Merah.


“Meskipun Bunga Api Merah hanya berbentuk kuncup tapi saat Bunga Api Merah itu mekar maka akan menggemparkan seluruh Kota Jinlin!” ucap Ye Rui dengan tatapan mata dengan ambisi yang sangat besar.


Di tempat yang sama, Ular Phiton Raksasa yang bertugas menjaga Bunga Api Merah merasakan ada seseorang yang mencoba mendekati Bunga Api Merah pun membuka matanya.


Di saat Ye Rui yang telah berada di atas Danau, Ular Phiton Raksasa itu pun keluar dari dalam Danau dan langsung membuka mulutnya dengan sangat lebar mencoba untuk menelan Ye Rui.


Ye Rui yang melihat ada Ulat Piton yang sangat besar mencoba untuk menelannya pun langsung bergerak mundur dengan menggunakan mulut Ular Phiton sebagai pijakannya.


“Sial! Aku tidak menyangka jika ternyata Bunga Api Merah itu ternya di jaga oleh Ular Phiton Raksasa!” gumam Ye Rui dengan ekspresi wajah yang kesal dengan posisi bertahan dengan tangan memegang sebuah cambuk berwarna merah.


Ular Phiton yang merasa terancam pun mulai melancarkan serangan dengan menyerang Ye Rui dengan mulut serta giginya yang tajam.


Ye Rui yang tidak ingin mengalah pun mengeluarkan jurusnya untuk menyerang balik Ular Phiton Raksasa itu yang ternyata semakin membuat Ular Phiton Raksasa semakin marah dan mengamuk.


“Cambuk Seratus Pukulan!” teriak Ye Rui dengan sangat keras sambil mengayunkan cambuknya dengan sangat keras hingga membuat ilusi seolah ada seratus cambuk yang menyarang ke arah tubuh Ular Phiton Raksasa.


Ular Phiton Raksasa yang marah pun menggunakan ekornya untuk menghajar Ye Rui hingga membuat Ye Rui yang tidak siap terkena pukulan dan mundur ke belakang dan menabrak pohon besar yang ada di belakangnya.


“Agh!” teriak Ye Rui yang terkena pukulan dengan sangat keras sambil memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.


“Sial! Aku tidak bisa kalah di sini. Aku harus bisa membawa pulang Tanaman Obat Langka itu!” ucap Ye Rui dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tatapan mata yang menunjukkan tekad yang sangat kuat.

__ADS_1


Di sisi lain, Seo Wan’er yang juga masuk ke dalam Portal menuju Makam Kuno ternyata terlempar ke dimensi lain bersama Jin Ling.


“Kakak Ling!” panggil Seo Wan’er dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar dengan nada suara yang lembut.


“Wan’er!” ucap Jin Ling dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan alis yang naik ke atas dengan tatapan mata bingung.


“Kau hanya sendiri? Dimana Prajurit Keluarga Seo yang lain?” tanya Jin Ling dengan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat ke belakang Seo Wan’er dengan tatapan mata yang aneh.


“A-aku tidak tau! Sepertinya Portal itu memisahkan kita semua tapi syukurlah Wan’er bisa bersama dengan Kakak Ling.” Ucap Seo Wan’er dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


Di saat keduanya sedang berbincang, Seo Wan’er yang sangat peka mendengar ada suara orang yang sedang bertarung.


“Kakal Ling, dengar! Sepertinya ada suara orang yang sedang bertarung!” ucap Seo Wan’er dengan ekspresi wajah penasaran sambil melihat ke arah sumber suara.


“Benar. Aku juga mendengarnya. Ayo kita lihat!” ucap Jin Ling dengan ekspresi wajah yang bersemangat dengan tatapan mata yang tajam.


Seo Wan’er dan Jin Ling yang pergi ke sumber suara tidak menyangka jika keduanya melihat Ye Rui sedang bertarung sendirian bersama Ular Phiton Raksasa.


Jin Ling yang melihat Ye Rui sedang bertarung sendiri merasa sedikit kasihan dan mencoba untuk membantu tapi dihalangi oleh Seo Wan’er.


“Kakak Ling mau kemana?” tanya Seo Wan’er dengan tangan yang sangat cekatan memegang lengan Jin Ling dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


“Lepaskan! Aku ingin membantu Rui’er yang sedang bertarung sendirian!” ucap Jin Ling dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tatapan mata yang tajam menatap Seo Wan’er dengan tatapan permusuhan.


“A-aku tidak bermaksud mengahalangi Kakak Ling ta-tapi Kakak Ling tidak boleh seperti ini. Ini adalah kompetisi. Jika Kakak Ling membantu Nona Ye lalu apa yang akan kita dapatkan?” ucap Seo Wan’er dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah sangat khawatir dan cemas dengan tatapan mata yang siap menangis.


“Coba Kakak Ling lihat kesana!” ucap Seo Wan’er lagi sambil menunjuk ke arah Bungan Api Merah berada kepada Jin Ling.


“I-itu! Bunga Api Merah! Ta-tapi Bunga Api Merah itu masih belum mekar!” ucap Jin Ling dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah terkejut.


“Benar sekali! Meskipun belum mekar Bunga Api Merah memiliki harga yang sangat tinggi jika dilelang dan Bunga Api Merah yang telah mekar adalah bunga yang sangat langka.” Ucap Seo Wan’er sambil menatap Bunga Api Merah yang berada jauh darinya itu dengan seksama.

__ADS_1


“Dikatakan siapapun yang dapat memakan inti sari dari Bunga Api Merah dapat memperkuat tulang dan kulit sehingga dapat membuat Kultivator tersebut memiliki Pertahanan yang kuat! Meskipun hanya kuncup tapi Inti Sari Bunga Api Merah itu tidak akan terlalu jauh khasiatnya dengan yang sudah mekar!” ucap Seo Wan’er dengan ekspresi wajah yang penuh dengan ambisi dengan nada suara yang menggebu-gebu.


“Jika Kakak Ling membantu Nona Ye maka Bunga Api Merah itu akan menjadi miliknya dan kita berdua tidak akan mendapatkan apapun.” Ucap Seo Wan’er yang mencoba untuk membujuk Jin Ling dengan kata-kata manisnya.


Jin Ling yang mendengar perkataan Seo Wan’er pun langsung mengingat pesan yang diberikan Jin Xiping kepadanya untuk memberikan Kemenangan untuk Keluarga Walikota agar tidak ada orang yang berani meremehkan Keluarga Walikota.


“Yang kau katakan sangat benar Wan’er. Jika kita membantunya, kita tidak akan mendapatkan apapun. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Jin Ling dengan ekspresi wajah yang bertanya-tanya.


“Hmmm, kita akan tetap di sini dan melihat dari jauh pertarungan Ye Rui dan Ular Phiton itu dan jika ada kesempatan kita rebut Bunga Api Merah.” Ucap Seo Wan’er dengan senyum yang licik dengan nada suara yang sedikit bersemangat.


Jin Ling yang masih merasa tidak tega mencoba mengubah keputusannya tapi langsung dikuatkan oleh Seo Wan’er.


“Apakah Kakak Ling yakin benar-benar mau membantu Nona Ye dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Tanaman Obat yang langka itu? Lalu bagaimana jika Tuan Muda Kedua Jin mendapatkan Harta Karun di Makam Kuno lebih banyak dari Kakak Ling? Apa yang akan dipikirkan Paman tentang Kakak Ling?” ucap Seo Wan’er dengan senyum licik dengan tatapan mata yang merendahkan ke arah Jin Ling.


“Aku tidak akan pernah membuatmu memabantu wanita j****g itu! Aku ingin dia menderita dan semakin menderita. Setelah aku berhasil membujuk Kakak Ling untuk merebut Bunga Api Merah, aku juga akan mengambil tas qiankun miliknya lalu memberikannya racun agar j****g itu tidak berani mengganggu hubunganku dengan Kakak Ling lagi!” ucap Seo Wan’er dalam hati dengan niat yang sangat jahat.


Jin Ling yang tidak ingin kehilangan posisinya sebagai Penerus Walikota Jinlin pun meneguhkan hatinya untuk menuruti perkataan Seo Wan’er.


Di sisi lain, Ye Rui yang bertarung melawan Ular Phinto Raksasa merasa sangat disudutkan sehingga membuat Ye Rui terpaksa menggunakan jurus yang baru saja dipelajarinya dan belum sempurna.


“Meskipun aku harus kehilangan setengah dari energiku. Aku tidak akan kalah darimu Ular jelek! Bunga Api Merah itu harus menjadi milikku!” teriak Ye Rui dengan sangat keras di akhir kalimat dengan penekanan di akhir kata dengan ekspresi wajah yang menggebu-gebu dengan tatapan mata yang menolak kekalahan.


“Tarian Lotus Kematian!” teriak Ye Rui dengan sangat keras sambil mengangkat cambuknya ke atas dan memutarkannya dengan sangat keras hingga membuat suasana di sekitarnya menjadi berkabut dan perlahan bunga-bunga lotus bermunculan dan menyerang seluruh tubuh Ular Phiton seperti pisau yang sangat tajam hingga membuat Ular Phiton itu mengalami luka di seluruh tubuhnya dan mengeluarkan darah yang segar.


Ular Phiton Raksasa yang tidak bertahan lagi dari serangan Ye Rui pun akhirnya terjatuh ke tangan dengan darah yang terus mengalir dari dalam tubuhnya hingga mengubah air danau menjadi merah darah.


Bunga Api Merah yang menyerap air dari darah Ular Phiton Raksasa tiba-tiba menjadi mekar sempurna sehingga membuat Ye Rui yang melihatnya merasa terpesona sesaat yang tanpa di sadari ada hal yang tak terduga yang terjadi.


#Bersambung#


Hal tak terduga apa yang telah terjadi ya? Apakah ada yang bisa menebaknya? Jawab di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2