
Hun Yin dan Seo Wan'er yang berpikir jika semua telah aman dan mereka dapat masuk ke dalam kamar Seo Xiqin dengan aman tanpa ketahuan pun membuka pintu secara perlahan.
"Ayo, kita masuk. Mereka semua pasti sudah tertidur Mereka akan tertidur dengan sangat lelah dan tidak akan mengingat apapun." ucap Hun Yin kepada Seo Wan'er dengan suara yang berbisik sambil berjalan masuk membuka pintu.
Hun Yin yang pertama kali membuka pintu dan menginjakkan kaki bersama Seo Wan’er tidak menyangka jika dirinya ternyata telah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Li Yuchen.
“Kena kalian domba-domba kurbanku!” ucap Li Yuchen dengan senyum sinis dengan tatapan mata yang merendahkan sambil duduk bersandar di atas pohon melihat semua yang terjadi dari atas.
Hun Yin yang pertama kali masuk tidak menyangka jika Wanita yang selama ini yang menghantui hidupnya sedang bediri di depannya dengan memakai pakaian yang sangat indah dan elegan dan menatap rendah ke arahnya.
“Ka-kau! Kenapa kau disini? Bu-bukankah kau sudah dibawa pergi oleh orang-orang itu?” tanya Hun Yin dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan wajah yang membiru karena takut dengan nada suara yang gagap.
“Kau telah mencuri suamiku dan mengambil Posisiku sebagai Istri Sah dan sekarang kau juga ingin mengambil Hadiah Pernikahan milik Putriku. Dasar wanita j****g!” ucap Mu Hanqin dengan tatapan merendahkan dengan ekspresi wajah yang kejam dan sinis dengan kata-kata yang sangat pedas.
“Kau yang j****g dan anakmu juga j****g! Seharusnya semua hadiah itu milik Putriku. Jadi wajar saja jika aku mengambilnya kembali!” ucap Hun Yin yang mencoba mengelek dan membenarkan semua perbuatannya.
“Hahahaha... Harusnya milik Putrimu! Jangan bermimpi! Jika seperti itu kenapa tidak Putrimu saja yang menikah dengannya? Jika kau mau aku bisa meminta Kakak Hong untuk menikahkan Putri tidak sahmu itu dengannya!” ucap Mu Hanqin dengan tatapan mata yang menghina dan nada bicara yang sinis.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi menemui Suamiku! Tidak! Tidak boleh!” teriak Mu Hanqin dengan ekspresi wajah yang terlihat depresi dan ketakutan di saat bersamaan.
“Kenapa? Apakah kau takut jika kau akan segera disingkirkan setelah Kakak Hong melihatku? Hahahah.... Tentu saja kau takut karena selama ini kau bahkan tidak bisa mengambil hatinya dan menghapus namaku di dalam hati dan pikiran Kakak Hong!” sindir Mu Hanqin dengan tawa yang sangat keras dengan tatapan yang sinis.
“Aku tidak ingin berdebat dengan selir rendahan sepertimu. Aku akan memberimu pelajaran agar kau tidak akan bisa lagi melihat Suamiku dan menggangguku Putriku dan jika kau tidak ingin Kakak Hong mengetahui semua ini sebaiknya kau segera pergi dari sini dan jangan berpikir mengambil milik Putriku!” ancam Mu Hanqin yang ternyata adalah ilusi yang merupakan ketakutan terbesar yang dimiliki Hun Yin selama ini.
Sementara itu, Seo Wan’er yang juga masuk ke dalam jebakan Li Yuchen tidak bisa lepas dengan mudah dari Ilusi Ketakutan yang dibuat oleh Li Yuchen.
Seo Wan’er harus melihat Pria yang sangat dibanggakannya mencampakkan dirinya demi wanita lain yang tenyata lebih dari berbagai sisi.
“Kakak Ling! Apa maksud semua ini? Kenapa kau bersama wanita ini?” teriak Seo Wan’er dengan suara yang sangat keras dan dengan ekspresi wajah yang takut, cemas dan marah di saat bersamaan.
“Tentu saja aku telah memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kita dan aku memilih untuk menikah dengan Rui’er.” Ucap Jin sambil merangkul pinggang Ye Rui ke dadanya dengan tatapan mata yang penuh cinta dan kasih.
__ADS_1
“Tidak! Kakak Ling! Kau tidak boleh seperti itu padaku! Kakak Ling, kau telah berjanji akan menikahiku!” ucap Seo Wan’er sambil mencoba menggenggam tangan Jin Ling tapi di tepis hingga membuat Seo Wan’er terjatuh ke tanah.
“Aaarrggghh!” teriak Seo Wan’er yang terjatuh dengan ekspresi wajah yang kesakitan dan air mata yang mengalir ke pipinya.
“Kau harusnya sadar diri. Lihat wajah dan tubuhmu itu. Apakah kau pikir, kau masih layak untuk menjadi Istriku yang Seorang Walikota Masa Depan?” ucap Jin Ling dengan tatapan mata menghina dan merendahkan dan kata-kata yang sinis serta kejam.
“Apa? Tidak! Apa yang terjadi dengan tangan dan tubuhku? Wajahku! Argghhh! Wajahku kenapa menjadi seperti ini?” teriak Seo Wan’er dengan sangat keras dengan air mata yang mengalir sangat deras hingga akhirnya membuatnya jatuh pingsan.
Hun Yin yang akhirnya terbebas dari Ilusi pun melihat Seo Wan’er yang sedang terbaring di lantai dalam posisi yang sangat memprihatinkan pun langsung pergi meninggalkan kamar Seo Xiqin dan membawa Seo Wan’er pergi saat itu juga.
Li Yuchen yang melihat reaksi Ibu dan Anak yang sedang terperangkap dalam Dunia Ilusi yang dibuatnya menjadi sangat senang hingga tidak lupa memberikan hadiah perpisahan untuk keduanya.
“Ini adalah hadiah perpisahan dariku. Aku harap kalian menyukainya.” Ucap Li Yuchen dengan senyum misterius sambil melemparkan sebuah serbuk yang tidak berwarna dan tidak berbau ke arah Hun Yin dan Seo Wan’er.
Hun Yin yang tidak bisa membawa Seo Wan’er karena berat tubuhnya pun terpaksa menyeret Seo Wan’er hingga membuat wajah Seo Wan’er menjadi bengkak karena menabrak batu-batuan saat di jalan.
“Sial! Aku akan membalasmu nanti!” ucap Hun Yin dengan ekspresi wajah yang kesal dan marah dengan nada suara yang menahan amarah dengan terus menarik Seo Wan’er dan menggenggam tangan satunya dengan sangat erat.
"Paman! Bibi! Dimana kalian?" tanya Ye Zhin yang telah memasuki halamannya tapi seperti tidak menemukan tanda-tanda kehidupan dengan suara yang keras.
Ye Zhin yang sangat cemas pun segera berlari kesana dan kemari mencari ke setiap tempat dengan terburu-buru sambil terua memaggil dengan suara yang keras tapi tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Kemana perginya mereka?" tanya Ye Zhin dengan wajah yang memerah karena panas terus berlari mencari dengan keringat yang tak berhenti mengalir.
Namun di saat Ye Zhin menolak menyerah dan ingin mencari ke sekitar, seorang Pelayan muda datang menemui Ye Zhin dan mengatakan sesuatu.
"Tuan Muda, anda telah kembali. Nyonya telah memindahkan halaman anda. Sekarang Tuan Muda Kedua akan tinggal di halaman Barat Daya." ucap seorang pelayan muda dengan suara yang lembut dengan wajah yang memerah karena malu.
"Pindah? Ular Tua ini! Apakah dia pikir bisa melakukan apapun dan sesuka hatinya?" ucap Ye Zhin dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar dengan sorot mata yang menunjukkan kemarahan sambil menggenggam erat tangannya karena menahan amarah.
"Antarkan aku tempatnya!" ucap Ye Zhin yang langsung berbalik dan mengikuti pelayan itu dari belakang dengan perasaan yang cemas.
__ADS_1
"Apakah Paman Zie dan Bibi Zie juga ada di halaman Barat Daya?" tanya Ye Zhin dengan nada suara yang dingin dan tatapan mata yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"A-a-aagh! I-itu..." ucap pelayan dengan gagap dengan ekspresi wajah yang bingung sambil membuang wajahnya ke arah lain.
"Katakan padaku yang sejujurnya jika kau masih sayang dengan nyawa kecilmu!" ucap Ye Zhin yang tidak bisa menahan kekesalannya lagi sambil menarik tangan pelayan hingga terjatuh lalu menghusukan pedang ke leher Pelayan tersebut.
"To-tolong ampuni nyawa saya Tuan Muda. Sa-saya akan mengatakannya! Me-mereka telah dipindahkan ke bagian kayu bakar!" ucap Pelayan dengan suara yang bergetar dengan wajah ketakutan.
Ye Zhin yang mengetahui keberadaan dua orang yang sangat penting baginya setelah kematian Ibunya pun bergegas menemui keduanya dan memutuskan untuk pindah dari Kediaman Keluarga Ye.
"Paman! Bibi! Apa yang kalian lakukan?" teriak Ye Zhin dengan sangat keras dari jauh dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
"Tu-tuan muda! Kenapa anda kemari?" tanya Bibi Zie dengan ekspresi wajah yang bingung sambil mengangkat kayu bakar di tangannya.
"Tuan Muda, anda tidak boleh kemari. Ini bukanlah yang tempat yang bisa anda tempati." ucap Paman Zie dengan nada khawatir dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Aku datang untuk menjemput kalian. Kalian tidak boleh melakukan ini. Kalian harusnya bersamaku seperti biasa. Aku tidak akan mengizinkan kalian melakukan pekerjaan kasar ini." ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang marah dengan mata yang menunjukkan ingin membunuh siapapun yang menghalanginya.
Namun di saat Ye Zhin ingin membawa Paman dan Bibinya keluar tiba-tiba Ma Shunyi dan Ye Rui datang dan menghalangi Ye Zhin membawa keduanya pergi.
"Mau kemana kalian? Kalian itu adalah Pelayan Keluarga Ye, beraninya kalian pergi sesuka hati kalian!" teriak Ma Shunyi dengan nada yang sangat keras mencoba menunjukkan kekuasaan yang masih dimilikinya di Kediaman Keluarga Ye.
Ye Zhin yang mendengar perkataan Ma Shunyi dan sikap yang angkuh yang ditunjukkannya bersama Ye Rui membuatnya merasa muak.
"Yang dikatakan Bos benar sekali, orang-orang tidak akan pernah tau jika mereka telah melakukan kesalahan jika tidak pernah dihukum dan jangan sungkan bersikap kejam kepada orang yang telah mengganggumu dan orang-orang di sekitarmu!" ucap Ye Zhin dengan suara yang santai dengan gaya yang seperti orang mabuk dengan senyum misterius yang membuat semua orang yang ada di sana menjadi merinding ketakutan.
#Bersambung#
Hadiah apa yang telah disiapkan Li Yuchen? Apa yang akan terjadi pada Hun Yin dan Seo Wan'er? Lalu, Apa yang akan dilakukan Ye Zhin selanjutnya ya?
Hmmmm, yang tau jawabannya komen di kolom komentar ya..
__ADS_1