Kelahiran Kembali Kaisar Legenda

Kelahiran Kembali Kaisar Legenda
BAB 338. Mimpi


__ADS_3

Seo Xiqin yang menggunakan keramaian pasar untuk bisa melarikan diri pun mendapatkan bantuan dari anak perempuan yang ditolongnya ke jalan-jalan kecil akhirnya bisa melarikan diri tanpa diketahui.


“Nona, apakah anda baik-baik saja?” tanya anak perempuan itu dengan ekspresi wajah yang khawatir dengan nada suara yang cemas.


“Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sangat lelah!” ucap Seo Xiqin dengan nafas yang tidak teratur dengan keringat yang mengalir ke dahinya.


Anak perempuan yang khawatir dengan Seo Xiqin pun pergi meninggalkan Seo Xiqin tanpa mengatakan apapun lalu datang kembali dengan cepat sambil membawa segelas air.


“Nona, minumlah ini. Aku mengambilnya dari sumur yang bersih!” ucap anak perempuan itu dengan ekspresi wajah yang khawatir.


“Terima kasih!” ucap Seo Xiqin dengan senyum yang ramah sambil mengambil air yang diberikan kepadanya lalu meminumnya tanpa ragu.


Seo Xiqin yang tidak mengetahui nama anak perempuan yang telah diselamatkannya pun memutuskan bertanya.


“Apakah kau memiliki nama?” tanya Seo Xiqin dengan nada suara yang terdengar sangat penasaran dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa ingin tau yang tinggi.


“Saya tidak memiliki nama, Nona. Namun saya selalu dipanggil nomor tiga di antara yang lain!” ucap anak perempuan tersebut dengan kepala tertunduk dengan wajah yang sedih.


“Jika kau tidak keberatan bagaimana kalau aku memberikanmu sebuah nama. Aku akan memanggilmu dengan Anping.” Ucap Seo Xiqin dengan senyum yang lebar.


Anping yang ternyata sangat ingin memiliki nama pun menjadi sangat senang saat Seo Xiqin memberikannya sesuatu yang sangat diinginkannya.


Seo Xiqin yang membutuhkan seorang Tabib saat itu pun meminta Anping untuk menunjukkan jalannya.


Anping yang mengetahui seorang Tabib yang sangat baik hati dan sangat suka menolong orang lain yang sedang dalam masalah pun mengantar Seo Xiqin ke tempat itu.


Hanya dalam waktu lima belas menit, Seo Xiqin pun sampai di sebuah bangunan yang terlihat sangat tua tapi saat Seo Xiqin masuk ke dalam Seo Xiqin mencium obat yang sangat pekat.


“Apa yang membuat Nona Muda dari Keluarga Bangsawan datang kemari?” tanya seorang Tabib Tua dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang bersahabat


Anping yang mengenal Tabib itu pun dengan cepat maju ke depan dan memperkenalkan Seo Xiqin kepada Tabib itu.


“Kakek Zhanye! Apakah kabarmu?” tanya Anping dengan suara yang sangat ceria dengan senyum yang lebar dengan ekspresi wajah yang bahagia.

__ADS_1


“Agh! Gadis kecil! Kenapa kemari? Apakah kau membutuhkan bantuanku untuk mengobati lukamu lagi?” tanya Tabib Zhanye dengan nada suara yang terdengar sangat lelah.


“Hmmm, aku tidak datang untuk meminta bantuan Kakek Zhanye mengobatiku. Aku datang karena Nona memintaku untuk mengantarkannya ke Seorang Tabib jadi aku membawanya ke Kakek Zhanye.” Ucap Anping dengan senyum yang lebar.


Tabib Zhanye yang tidak pernah melihat Anping tersenyum dengan sangat lebar dan seperti orang yang tidak memiliki beban hidup pun merasa sangat senang.


Tabib Zhanye yang ingin bicara dengan Seo Xiqin dan ingin tau yang ingin diinginkan Seo Xiqin pun meminta Anping keluar dan meninggalkan keduanya sendirian.


Seo Xiqin yang tidak ingin ada orang lain yang mengetahui pembicaraannya dengan Tabib Zhanye pun memberikan perintah kepada Burung Phoenix.


“Que! Bisakah kau berjaga di luar dan memberitauku jika ada orang yang menguping pembicaraanku!” ucap Seo Xiqin dengan suara yang lembut.


“Serahkan saja semuanya padaku, Nyonya Bos! Aku akan menjalankan perintahmu dengan baik!” ucap Burung Phoenix dengan suara yang terdengar patuh.


Tabib Zhanye yang bisa merasakan bahwa Burung Pipit yang keluar dari tempatnya bukanlah Burung biasa pun menyadari bahwa bahwa Nona Muda yang ada di hadapannya bukanlah orang biasa.


“Nona, terima kasih banyak karena telah menyelamatkan anak itu!” ucap Tabib Zhanye dengan suara yang sangat bersyukur.


“Tabib Zhanye tidak perlu bersikap terlalu sopan seperti itu. Anak itu memiliki bakat yang sangat spesial dan akan sangat disayangkan jika dia ada di tangan orang yang salah!” ucap Seo Xiqin dengan senyum yang lembut.


Seo Xiqin yang tau jika dirinya tidak bisa menghilang dalam waktu yang lama pun meminta Tabib Zhanye untuk memeriksa kondisinya saat ini.


“Tabib Zhanye, bisakah kau memeriksa kondisiku? Aku merasa sangat tidak nyaman.” Ucap Seo Xiqin dengan ekspresi wajah yang kelelahan.


Tabib Zhanye yang mendengar perkataan Seo Xiqin pun mengambil pergelangan tangan kanan Seo Xiqin dan memeriksa denyut nadinya.


“Nona, sudah berapa lama anda tidak kedatangan periode bulanan anda?” tanya Tabib Zhanye dengan nada suara yang datar dengan ekspresi wajah yang ceria.


“Sepertinya bulan ini aku belum kedatangan periode bulananku!” ucap Seo Xiqin dengan ekspresi wajah yang bingung dengan nada suara yang penasaran.


Tabib Zhanye yang bisa mengetahui kondisi Seo Xiqin yang sebenarnya dari denyut nadi dan juga jawaban yang diberikan Seo Xiqin pun mengungkapkan jawaban yang sangat ditunggu Seo Xiqin.


“Selamat, Nona. Saat ini anda sedang mengandung. Ada sebuah nyawa kecil di dalam kandungan anda.” Ucap Tabib Zhanye dengan senyum yang lebar.

__ADS_1


Seo Xiqin yang mendapatkan jawaban yang sangat diinginkannya pun menjadi sangat terkejut dan tanpa sadar mengelus perutnya yang masih rata.


“Nona, kehamilan anda masih sangat muda jadi saya sarankan untuk anda untuk tidak melakukan latihan kultivasi yang terlalu berat terlebih dahulu karena itu akan membahayakan bayi yang sedang anda kandung!” ucap Tabib Zhanye dengan suara yang ramah.


Seo Xiqin yang mengerti yang harus dilakukannya pun memutuskan untuk kembali ke Kediaman Keluarga Mu dengan arahan dari Anping sambil terus memeluk perutnya.


Sementara itu, Li Yuchen yang memutuskan untuk kembali ke Kota Kekaisaran bersama Ye Zhin dan Shanyuan pun kembali dengan menggunakan kereta kuda saat telah sampai di Kota Yunlong.


Li Yuchen yang sangat jarang tertidur pun tanpa sadar tertidur dan memasuki dunia mimpi. Li Yuchen yang berada di lapangan berhijau yang luas tiba-tiba mendengar ada seorang anak laki-laki yang memanggil dirinya.


“Ayah! Ayah! Tunggu aku!” teriak anak kecil yang berumur sekitar lima tahun berlari ke arah Li Yuchen dengan suara yang sangat ceria dan senyum yang lebar.


Li Yuchen yang tidak melihat orang lain di dekatnya pun menatap bingung ke arah anak kecil yang telah berdiri di hadapannya.


“Ayah! Ayo kita main layangan!” ucap anak kecil itu sambil menarik tangan Li Yuchen dengan kekuatan tangannya dengan senyum yang lebar.


Li Yuchen yang tidak ingin salah paham dengan ucapan anak kecil yang menarik tangannya itu pun duduk berlutut dengan satu tangan dan berbicara dengan anak tersebut dengan nada yang lembut.


“Hei, anak kecil. Kenapa kau memanggilku Ayah? Aku bukanlah Ayahmu!” ucap Li Yuchen dengan nada suara yang datar.


“Itu karena kau adalah Ayahku dan aku adalah Putramu!” ucap Anak kecil itu dengan suara yang tegas dengan senyum yang lebar.


Li Yuchen yang terkejut dengan ucapan anak kecil tersebut pun terbangun dari tidurnya karena Ye Zhin membangunkan dirinya.


“Bos, kita telah sampai di Istana Kekaisaran!” ucap Ye Zhin dengan suara yang ceria dengan ekspresi wajah yang bahagia.


Li Yuchen yang tidak menghiraukan ucapan Ye Zhin karena masih terbayang dengan perkataan anak kecil yang ada di dalam mimpinya pun menjadi teringat akan Seo Xiqin yang jauh di sana.


“Apa maksud dari mimpi itu? Apakah aku akan menjadi Seorang Ayah?” ucap Li Yuchen dalam hati dengan pandangan mata yang menatap langit biru yang sangat cerah.


“Aku harap Qier dan Phoenix baik-baik saja disina!” gumam Li Yuchen dengan tatapan mata yang sedih.


“Aku merindukanmu Qier! Tunggu aku kesana!” ucap Li Yuchen dengan nada suara yang rendah dengan tatapan mata kerinduan dan kesedihan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


#Bersambung#


Wah, Seo Xiqin benar-benar sedang mengandunng dan Li Yuchen pun memimpikan dipanggil Ayah oleh anak kecil. Apakah Li Yuchen akan dapat bertemu dengan Seo Xiqin dan anaknya? Tebak di kolom komentar ya...


__ADS_2