
Ye Zhin yang memiliki tugas untuk membereskan Jin Qui sesegera mungkin dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun akhirnya mencabut jarum panah yang ada di leher Jin Qui lalu pergi bersembunyi ke tempat yang aman.
Jin Qui yang perlahan mulai sadar pun merasa kepalanya terasa sangat sakit pun memegang kepalanya tapi tiba-tiba wangi tubuh wanita yang sangat harum menusuk hidungnya membuat Jin Qui langsung sadar.
“Hmmm, wangi sekali! Hehehe....” gumam Jin Qui yang telah sadar dengan mata yang terbuka lebar sambil melihat ke arah tiga wanita yang sedang berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat menjijikkan dengan niat yang buruk.
Jin Qui yang mengetahui ketiga wanita itu berada tidak jauh darinya pun segera berdiri di depan ketiganya dengan wajah yang mesum hingga membuat ketiganya berteriak.
“Aaarrgghhh!” teriak ketiga wanita itu secara bersamaan dengan eskpresi wajah yang terkejut dengan tatapan mata ketakutan.
Jin Qui yang sudah sepenuhnya terpengaruhi obat perangsang yang diberikan Ye Zhin kehilangan kesadarannya dan menarik paksa tangan Nona Muda yang ada di tengah ke arah batu besar hingga membuat kedua pelayannya yang lain berteriak meminta tolong.
“Aaarrgghhh!” teriak Nona Muda yang bernama Shu Yan itu dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah ketakutan.
“Tidak! Nona! Tolong!” teriak kedua pelayannya secara bergantian dengan nada suara yang sangat keras.
Kedua Pelayan yang mencoba menolong Nonanya itu pun mencoba memegang Jin Qui agar Nonanya bisa kabur tapi malah kedua pelayan itu di dorong dengan sangat keras hingga terjatuh ke tanah.
Nona Yan yang tidak bisa melarikan diri dari tangan Jin Qui pun mengalami banyak sekali tamparan karena menolak Jin Qui hingga membuat Jin Qui semakin buas hingga menarik pakaian Nona Yan hingga tersobek.
“Aaarrgghh! Tidak!” teriak Nona Yan dengan sangat keras dengan ekspresi wajah terkejut dan takut di saat bersamaan sambil mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terlihat karena pakaiannya yang telah rusak.
Kedua Pelayan yang tidak bisa diam saja melihat nasib Nonanya yang dinodai oleh Tuan Muda Kediaman Walikota pun bergegas berlari ke Ruang Kerja Walikota dan berteriak meminta tolong.
Walikota yang sedang sibuk mengurusi banyak sekali berkas menjadi terusik dengan suara yang sangat berisik di luar ruangannya pun memutuskan untuk keluar dan melihat yang terjadi.
“Penjaga! Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?” teriak Jin Xiping dengan ekspresi wajah yang kesal dengan mata yang tajam dan aura membunuh yang sangat pekat.
“Maaf, Tuan Besar, kedua pelayan ini datang untuk mengacau dan kami sudah mencoba untuk mengusirnya tapi kedua pelayan ini tidak mau pergi, Tuan Besar.” Ucap Salah Seorang Penjaga yang ada di depan pintu dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar dengan sikap yang patuh dan hormat.
__ADS_1
Kedua Pelayan yang tidak ingin disalahkan itu pun langsung berlutut dan meminta ampun lalu mengatakan niat kedatangannya.
“Tidak! Tidak, Tuan Besar! Mohon ampuni kami Tuan Besar. Kami sunggguh tidak berniat membuat keributan.” Teriak salah seorang pelayan dengan suara keras sambil berlutut di lantai dengan kepala menyentuh tanah.
“Lalu apa alasan kalian membuat keributan di saat seperti ini?” tanya Jin Xiping dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal dengan tatapan mata yang tajam.
“Kami datang untuk meminta tolong, Tuan Besar. Tolong! Tolong selamatkan Nona Yan!” teriak seorang pelayan yang awalnya mengangkat kepalanya lalu bersujud kembali menghadap tanah dengan suara yang sangat keras.
“Tolong Nona kami yang ingin dinodai Tuan Muda Ketiga!” teriak salah seorang Pelayan dengan ekspresi wajah yang memerah dengan suara yang sangat keras.
“Tuan Muda Ketiga?” ucap Jin Xiping yang mengulang kalimat dengan wajah bingung dengan mata yang tidak mengerti apapun.
“Tuan Muda Ketiga menarik paksa Nona Yan dan sekarang menodai Nona yang sedang berjalan menuju ke Ruangan Tuan Besar.” Ucap Pelayan dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang terus mengalir dengan suara yang sangat keras.
Jin Xiping yang mendengar penjelasan Pelayan itu pun menjadi sangat marah dan pergi ke tempat yang dikatakan pelayan dengan terburu-buru bersama beberapa Pelayan.
Dalam waktu singkat Jin Xiping dan yang lainnya pun telah berada di jarak yang tidak jauh. Jin Xiping yang akhirnya mendengar suara tangisan dan jeritan seorang wanita pun menjadi sangat terkejut.
Jin Xiping yang telah berada di tempat pun menjadi sangat marah melihat Selir Kesayangannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Dasar anak tidak tau malu! Beraninya kau menodai Selir Ayahmu sendiri!” teriak Jin Xiping dengan sangat marah sambil mengambil cambuk dan mencambuk tubuh Jin Qui dengan sangat keras dengan nada suara yang tinggi.
Nona Shu Yan yang dalam kondisi yang tidak baik pun jatuh pingsan saat melihat Walikota Jinli datang sehinga membuat kedua pelayannya segera berteriak dan menemuinya.
“Bawa dia ke ruangannya dan segera panggil Tabib!” ucap Jin Xiping dengan ekspresi wajah yang sangat lelah sambil memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
Saat Jin Xiping ingin mencambuk Jin Qui lagi tiba-tiba Selir Kedua, Lady Yuwan datang dan mencoba menyelamatkan nyawa putranya.
“Tidak! Tolong hentikan Tuan Besar!” teriak Lady Yuwen dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
“Tuan Besar, tolong maafkan Jin Qui! Bagaimanapun Jin Qui adalah Putra Tuan Besar. Saya mohon Tuan Besar mengampuninya!” teriak Lady Yuwen dengan suara yang sangat keras dengan air mata yang mengalir meminta belas kasihan Jin Xiping.
“Ayah! Aku mohon maafkan aku! Aku tidak bersalah, Ayah! Wanita ini yang bersalah. Dia yang mulai menggodaku terlebih dahulu.” Ucap Jin Qui dengan ekspresi wajah yang tidak tau malu sambil menyalahkan Nona Shu Yan yang sedang terbaring karena pingsan.
Jin Xiping yang sebenarnya telah mengetahui kebenarannya dan mendengar perkataan Jin Qui menjadi semakin marah.
“Apakah kau pikir Ayahmu ini Idiot busuk sepertimu? Beraninya kau membohongiku! Apakah kau pikir aku yang merupakan Walikota Jinli tidak bisa membedakan yang benar dan salah?” tanya Jin Xiping dengan nada suara yang sinis dan tajam dengan tatapan mata membunuh.
Lady Yuwen yang mendengar perkataan Jin Xiping pun menjadi semakin takut akan kehilangan Putranya pun bersujud dan memohon ampunan Jin Xiping bersama dengann Jin Qui.
“Ti-tidak! Tolong ampuni Jin Qui, Tuan Besar. Jin Qui tau akan kesalahannya dan akan bertanggung jawab akan semuanya. Tolong Tuan Besar memberi putra kita kesempatan!” ucap Jin Yuwan yang berlutut dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya.
“Benar Ayah! Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya. Tolong ampuni aku ayah!” teriak Jin Qui yang berlutut dengan pakaian yang berantakan.
Jin Xiping yang tidak tergerak sama sekali dengan perkataan Lady Yuwan dan merasa jika otoritasnya sedang diinjak-injak itu pun langsung memberi perintah yang sangat kejam.
“Hmm! Penjaga! Bawa anak sialan ini ke ruang hukuman dan pukul dia sebanyak lima puluh kali!” ucap Jin Xiping yang langsung berbalik arah dengan ekspresi wajah yang marah dengan nada suara yang dingin.
“Tidak!” teriak Lady Yuwan dengan sangat keras saat mendengar perkataan Jin Xiping hingga akhirnya jatuh pingsan.
Jin Qui yang ditarik paksa menuju ke ruang hukuman pun langsung dipukul tanpa ampun sebanyak lima puluh kali dan setelah masa hukuman selesai. Semua Penjaga itu pun bergegas pergi meninggalkan Jin Qui sendiri.
Ye Zhin yang melihat Jin Qui yang sedang terguling di atas papan kayu dengan punggung penuh darah dan tubuh yang sangat lemah pun menjadi sangat senang
“Bagaimana rasanya? Apakah kau menyukainya? Aku akan memberikanmu hadiah terakhir dan juga pesan terakhir sebelum kau bertemu dengan Dewa Yama!” ucap Ye Zhin dengan suara yang rendah di balik telinga Jin Qui yang tidak bisa berkata apapun tapi masih bisa melihat dan mendengar.
“Jika kau diberi kesempatan untuk bereinkarnasi jangan sampai menggoda wanita yang salah apalagi menggoda wanita dari Tuanku!” ucap Ye Zhin sambil menelankan pil ke dalam mulut Jin Qui yang akhirnya membuat Jin Qui tidak sadarkan diri.
Ye Zhin yang tidak punya urusan lagi pun bergegas pergi dan melanjutkan rencana selanjutnya yang telah diperintahkan Li Yuchen padanya.
__ADS_1
“Hmmm, aku telah mengambil Guci yang berisi Obat Perangsang. Sekarang waktunya menyebarkan berita bagus ini ke seluruh Kota!” ucap Ye Zhin dengan senyum jahat sambil berdiri di atas pohon lalu bergerak pergi meninggalkan Kediaman Walikota.
#Bersambung#