
Tetua Han yang berjalan dengan terburu-buru menuju ke pintu keluar tidak sengaja bertemu dengan Pelayan yang ditugaskannya untuk mencari tau keberadaan Li Yuchen.
"Bukankah itu adalah Pelayan yang aku tugaskan mencari tau keberadaan Tuan Muda Yu? Kenapa dia ada di sini dan tidak menghadapku?" tanya Tetua Han pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang bingung.
Tetua Han yang penasaran pun berjalan mendekati Pelayan itu dan bertanya lalu mengesampingkan masalah Ye Rui terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak menemuiku saat kembali?" tanya Tetua Han yang berdiri di belakang Pelayan dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.
Pelayan yang terkejut langsung berbalik arah dan mundur ke belakang beberapa langkah hingga terjatuh ke lantai.
"Aaarggh!" teriak pelayan itu yang terkejut dan terjatuh ke lantai karena tersandung sebuah bendah dengan ekspresi wajah kesakitan dan ketakutan di saat bersamaan.
Tetua Han yang melihat Pelayan itu terjatuh pun mencoba membantunya dengan mengulurkan tangan tapi Pelayan itu yang merasa tidak nyaman langsung berdiri tanpa menerima bantuan dari Tetua Han.
Tetua Han yang tau jika di tempat itu sangatlah ramai, Tetua Han pun memutuskan untuk mengajak pelayan itu untuk masuk ke ruangannya dan menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Sekarang hanya tinggal kau dan aku. Bisa kau jelaskan kenapa kau tidak langsung melaporkan hasil pekerjaan yang aku perintahkan padamu dan malah menjaga di bagian depan?" tanya Tetua Han dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam seperti elang sambil terus mencoba menahan emosinya yang saat ini sedang tidak stabil.
Pelayan yang bingung dengan maksud dari Tetua Han pun mencoba menjelaskan semua yang terjadi secara detail agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Maafkan kelancangan saya, Tetua, tapi sebenarnya saya sudah ingin menemui Tetua untuk memberitau hasil dari pemantauan saya tapi saat saya ingin melapor Ketua Ye datang dan mengajak saya bicara." ucap Pelayan itu dengan ekspresi wajah yang takut-takut tapi terus memberanikan dirinya untuk bicara.
"Ye Rui?" tanya Tetua Han dengan mneyebutkan nama Ketua Paviliun Huanfu dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang naik ke atas seperti orang yang tidak percaya dengan semua yang didengarnya.
"Benar, Ketua Ye Rui yang memanggilku dan mengatakan bahwa saat ini Tetua sedang dalam suasana hati yang buruk jadi aku tidak perlu mengatakan informasi ini kepada Tetua da Ketua bilang bahwa dia akan mengatakannya pada Tetua secara langsung jika suasana hati Tetua telah kembali membaik." ucap Pelayan itu dengan wajah yang ketakutan dan sorot mata yang bingung.
Tetua Han yang mengetahui bahwa Ye Rui telah membohongi pelayan itu hanya untuk mendahului dirinya bertemu Li Yuchen pun menjadi sangat marah.
"Aku sepertinya terlalu memanjakannya sehingga dia dengan berani melanggar perintahku bahkan membuat masalah dengan orang yang salah." ucap Tetua Han dalam hati sambil menggenggam pegangan kursi dengan sangat erat sambil mempertahankan ekspresi wajahnya yang dingin dan penuh wibawa.
"Baiklah. Kau bisa pulang ke rumah dan istirahatlah dulu sementara. Kami akan memanggilmu lagi nanti." ucap Tetua Han sambil tersenyum lembut dengan nada suara yang lembut tapi makna yang terdapat di dalam kata-kata itu sangatlah berat.
__ADS_1
"Te-tetua! A-aku..." ucap Pelayan itu yang gugup setelah mendengar ucapan Tetua Han dengan ekspresi wajah yang sedih dan air mata yang siap tumpah.
"Maaf, tapi kau bisa keluar sekarang. Pulang dan beristirahatlah." ucap Tetua Han sambil memejamkan matanya sejenak lalu membuang wajahnya dan mempersilahkan pelayan itu pergi dengan sopan.
Pelayan yang telah dipecat oleh Tetua Han pun tidak bisa menahan air matanya agar tidak tumpah sehingga pelaya tersebut pun berlari keluar dengan terburu-buru dengan deraian air mata.
"Aku tidak membutuhkan Pelayan pembangkang yang tidak tau siapa tuannya. Jika pelayan ini dibiarkan begitu saja tanpa hukuman yang sangat berat maka dia pasti akan menghianati Paviliun Huanfu dengan orang lain yang statusnya lebih tinggi darinya." ucap Tetua Han dalam hati dengan ekspresi wajah yang kecewa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat ke arah pintu keluar
Setelah kepergian pelayan itu, Tetua Han pun bergegas ke Restoran tempat Ye Rui dan Li Yuchen berada dengan tergesa-gesa.
"Aku harus pergi sekarang.Semoga saja tidak terjadi hal buruk karena perasaanku sangat tidak nyaman." ucap Tetua Han dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir bersamaan.
Dalam waktu sepuluh menit akhirnya Tetua Han sampai di Restoran yang terkenal dengan makanannya yang itu pun seger disambut dengan sangat ramah oleh para pelayan.
"Selamat datang di Retoran Bamboo, Tetua Han." ucap Manager Restoran dan Seorang Pelayan Wanita yang berdiri di belakangnya dengan sangat sopan dan senyum yang lembut.
Tetua Han yang tidak ingin menyia-nyiakan waktunya karena khawatir akan keselamatan muridnya pun bergegas bertanya ke awal tujuannya datang ke Restoran itu.
"Apakah Tuan Muda Yu dan Ye Rui ada di Restoran ini?" tanya Tetua Han dengan terburu-buru dengan ekspresi wajah yang tergesa-gesa seperti sedang dikejar-kejar oleh seorang penjahat.
Tetua Han yang tidak ingin masalah ini semakin panjang pun hanya menganggukkan kepala satu kali sebagai tanda persetujuannya.
"Baiklah. Kalau begitu, Tetua Han bisa mengikuti saya. Tetua Yu sedang ada di lantai Dua di Ruang VVIP." ucap Manager sambil mempersilahkan Tetua Yu berjalan mengikutinya sementara Pelayan yang bersama Manager itu telah pergi melayani Pelanggan yang lain.
Namun, saat berada di tangga menuju lantai dua, suara Ye Rui yang berteriak dengan sangat keras terdengar dengan sangat jelas hingga membuat semua orang terdiam.
Manager yang mendengar teriakan itu pun menjadi sangat takut akan terjadi pertengkaran di dalam Restoran.
"Su-suara siapa itu? Kenapa terdengar sedang kesakitan?" tanya Manager kepada semua orang yang ada di dekatnya dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan cemas di saat bersamaan.
Tetua Han yang mendengar perkataan Manager Restoran pun berlari menuju ke Ruangan tempat Ye Rui berteriak dan meninggalkan Manager yang masih berdiri di tempatnya karena ketakutan.
__ADS_1
"Rui'er!" panggil Tetua Han dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yag ketakutan sambil berlari menuju ke ruangan Li Yuchen dan Ye Rui berada.
Tak lama kemudian, Pemilik Restoran yang sedang duduk santai di ruangan pribadinya bersama botol pil yang diberikan Li Yuchen pun menjadi terkejut mendengar suara teriakan suara gadis muda.
"Su-suara siapa itu?" tanya Pemilik Restoran dengan ekspresi wajah terkejut sambil memeluk botol pil lalu menyimpannya ke dalam ruangan penyimpanan pribadinya.
Pemilik Restoran pun bergegas keluar ruangan lalu mengunci dan berjalan menuju ke sumber suara hingga bertemu dengan Manager Restorannya.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa Tetua Han berlari ke Ruangan Tetua Yu?" tanya Pemilik Restoran dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Saya juga tidak tau, Bos." ucap Manager Restoran yang memang tidak mengerti yang terjadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu, Tetua Han yang menerobos masuk ke dalam Ruangan Li Yuchen langsung merasakan tekanan hawa membunuh yang sangat kuat hingga membuat Tetua Han yang baru saja masuk kehilangan keseimbangannya.
"Hawa membunuh ini..." ucap Tetua Han dengan suara yang rendah karena kesulitan bernafas dengan ekspresi wajah yang kesakitan.
Tetua Han yang mencoba menstabilkan tubuhnya pun mencoba mencari keberadaan Li Yuchen dan Ye Rui dan saat melihat Ye Rui yang sedang terduduk dalam Sebuah Segel Formasi dengan ekspresi wajah kesakitan segera berlari ke arah Ye Rui.
"Rui'er!" teriak Tetua Han sambil berlari menuju ke tempat Ye Rui disiksa dengan ekspresi wajah yang khawatir.
Ye Rui yang mendengar suara Tetua Han pun segera menoleh ke samping dan melihat Tetua Han yang sedang berlari ke arahnya pun akhirnya dapat bernafas lega sesaat.
"Gu-guru!" ucap Ye Rui dengan suara dengan terbata-bata dengan ekspresi wajah yang kelelahan karena disiksa berulang-ulang kali dengan air mata yang terus mengalir tanpa hentinya.
Tetua Han yang melihat adanya Segel Formasi yang mengelilingi Ye Rui pun tidak bisa mendekat ataupun melakukan apapun untuk menyelamatkan Ye Rui sehingga Tetua Han memutuskan untuk bersujud dan memohon ampun atas nama Ye Rui kepada Li Yuchen.
"Tuan Muda Yu, saya mohon hukum saya saja. Lakukan apapun yang anda inginkan pada saya. Ini adalah kesalahan saya sebagai guru yang tidak bisa mendidik murid saya dengan baik hingga berani menyinggung anda." ucap Tetua Han sambil bersujud dengan kepala menyentuh lantai dengan nada suara yang lemah dan terdengar pasrah.
Ye Rui yang mendengar perkataan Tetua Han pun merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya hingga tak bisa menahan air mata yang mengalir ke pipinya.
"Guru! Tidak guru! Jangan lakukan ini guru!" ucap Ye Rui dengan nada suara yang terdengar sangat pilu dengan air mata yang terus mengalir ke wajahnya.
__ADS_1
#Bersambung#
Kira-kira Ye Rui enaknya dibebasin atau lanjut disiksa ya? Ketik jawabanmu di kolom komentar ya..