
Li Yuchen yang awalnya berpikir tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena telah kehilangan rasa kantuknya tidak menyangka jika Seo Xiqin akan melanggar perkataannya sendiri.
"Hmmm..." gumam Seo Xiqin yang melewati guling pembatas dengan wajah yang tertidur dengan pulas.
"Agh! Lembut dan wangi sekali! Sepertinya aku tidak jadi bergadang malam ini. Hehehe..." gumam Li Yuchen yang dipeluk Seo Xiqin dengan sangat erat dengan piama tidur yang sudah berantakan.
Li Yuchen yang menganggap jika itu adalah bayaran untuk kerja kerasnya untuk menekan Penyakit Seo Xiqin pun menjadi sangat puas.
"Hehehe... Jika ini bayaran yang aku dapatkan setelah melakukan hal baik maka aku pasti akan melakukan hal baik terus." gumam Li Yuchen dengan wajah yang memerah karena merasakan kehangatan tubuh seorang wanita.
"Jika aku bisa menyembuhkan Qier, kira-kira apa yang akan aku dapatkan ya? Hehehe..." ucap Li Yuchen lagi dengan suara yang rendah dengan khayalan yang sangat tinggi..
Li Yuchen yang merasa sangat nyaman pun tidur berpelukan sepanjang malam dengan Seo Xiqin dengan wajah yang berseri.
Keesokan paginya, Li Yuchen yang tidak ingin jika Seo Xiqin menendangnya lagi ke lantai pun berpura-pura masih tertidur dan berencana ingin mengubah posisi tidurnya.
Rencana Li Yuchen pun berhasil, saat dirinya ingin berbalik posisi, Seo Xiqin yang tidur memeluk Li Yuchen pun terbangun dan langsung sadar lalu kembali ke posisinya semula.
"Aduh! Apa yang aku lakukan? Kenapa aku melewati bantal pembatas dan memeluk Chen gege?" gumam Seo Xiqin sambil menutupi wajahnya yang memerah karena malu dengan kedua tangannya dengan suara yang rendah tapi masih dapat didengar Li Yuchen.
"Aku harus mengecek apakah Chen gege benar-benar masih tidur atau sudah bangun karena jika tidak pasti akan sangat memalukan!" ucap Seo Xiqin lagi dengan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke arah Li Yuchen yang terbaring di sampingnya.
Seo Xiqin yang penasaran pun bergerak dengan perlahan dan hati-hati mendekati Li Yuchen lalu mengibas-kibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Huft! Untunglah Chen gege masih tidur dan dia tidak tau dengah yang telah terjadi!" ucap Seo Xiqin sambil menarik nafas lega sambil meletakkan tangannya ke dada sebagai tanda syukur.
"Sebaiknya aku segera bangun dan membersihkan diri." ucap Seo Xiqin dalam hati sambil bergerak turun dari tempat tidur dengan perlahan.
Li Yuchen yang merasa rencana pura-pura tidurnya harus seger di akhiri pun bersikap seolah-olah baru bangun tidur.
"Qier! Selamat pagi!" ucap Li Yuchen yang terbaring di tempat tidur dalam posisi tengkurap sambil tersenyum dengan sangat manis dengan wajah yang sangat tampan sehingga sesaat membuat Seo Xiqin terpesona hingga tidak bisa mengedipkan mata.
"Ehem! Pagi juga Chen gege." jawab Seo Xiqin dengan senyum yang canggung sambil menghadap ke arah lain.
__ADS_1
Seo Xiqin yang tidak ingin berlama-lama pun bergegas pergi untuk memanggil kedua pelayan pribadinya tapi tiba-tiba Li Yuchen mengatakan sesuatu yang sulit direspon oleh Seo Xiqin.
"Aku sepertinya akan pulang larut hari ini jadi makan lah lebih dulu dan jangan tunggu aku. Jika kau membutuhkan sesuatu atau uang, kau bisa meminta apapun dan sebanyak apapun pada Paman Ong." ucap Li Yuchen yang telah berdiri dengan posisi yang tegap sambil berjalan ke pintu keluar.
"Ingat! Kau adalah Nyonya Rumah ini dan isinya juga milikmu dan jangan lupakan siapa suamimu ini jadi kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku akan menyelesaikan sisanya." ucap Li Yuchen dengan senyum lembut sambil menoleh ke belakang sebentar lalu membuka pintu.
Seo Xiqin yang mendengar perkataan Li Yuchen pun menjadi penasaran tujun ke pergian Li Yuchen.
"Tu-tunggu! Ka-kalau Qier boleh tau, kemana Chen gege mau pergi?" tanya Seo Xiqin dengan wajah yang memerah dengan nada suara yang gugup.
"Semoga Chen gege tidak berpikir jika aku adalah Istri yang suka mengatur dan selalu ingin tau kemanapun suami pergi!" ucap Seo Xiqin dalam hati dengan ekpresi wajah yang cemas dengan keringat yang menetes ke pipinya.
Li Yuchen yang mendengar pertanyaan itu pun tersenyum karena merasa jika perlahan tapi pasti jika Seo Xiqin telah membuka hati untuknya dimulai dengan rasa penasara.
"Chen gege akan ke Paviliun Huanfu dan bertemu dengan Tetua Han sambil mencari obat untuk menyembuhkan Qier." jawab Li Yuchen dengan tegas dengan senyum yang lembut.
"Jangan khawatir. Chen gege tidak akan pergi mencari wanita lain karena hanya Qier yang akan selalu menjadi Nyonya Rumah ini." ucap Seo Xiqin sambil tersenyum dan berjalan meninggalkan Seo Xiqin yang malu dengan wajah yang memerah seperti udang rebus.
Li Yuchen yang telah berada di Paviliun Huanfu langsung pergi menemui Tetua Han sesuai dengan janji yang telah dibuat sebelumnya.
"Tetua Yu, anda datang tepat pada waktunya." ucap Tetua Han yang sedang berdiri di rungan penyimpanan obat dengan banyak sekali obat bersama beberapa Master Alkemia Bintang Satu lainnya.
"Selamat datang Tetua Yu!" jawab semua Master Alkemia bintang Satu yang ada di sana bersama Tetua Yu dengan serempak sambil memberi hormat yang dijawab dengan lambaian tangan oleh Li Yuchen.
"Tetua Han sepertinya sangat hafal dengan langkah kakiku sehingg tidak asing lagi saat aku datang." ucap Li Yuchen yang berbicara dengan senyum yang ramah sambil terus berjalan mendekat.
"Aku hanya memiliki insting yang cukup tajam, Tetua Yu." balas Tetua Han dengan tawa kecil sambil memainkan jenggot putihnya.
"Kalian semua pilih dan letakkan semua tanaman obat ke tempatnya dengan rapi." perintah Tetua Han kepada Master Alkemia bintang Satu yang bersamanya.
Tetua Han dan Li Yuchen pun pergi dari Ruang Penyimpanan Obat ke Ruangan Pribadi Tetua Han untuk masuk ke jalan rahasia ke Ruangan Arsip Rahasia Paviliun Huanfu.
"Kita akan pergi ke jalan rahasia menuju ke Ruangan Arsip Rahasia Paviliun Huanfu, Tetua Yu. Bahkan Rui'er pun tidak tau tentang hal ini." ucap Tetua Han dengan percaya diri sambil tersenyum yang tersirat.
__ADS_1
"Lalu kenapa Tetua Han memberitauku tentang tempat ini?" tanya Li Yuchen dengan nada suara yang datar dan ekspresi wajah yang cuek tapi tatapan mata menunjukkan keingintahuan yang besar.
"Karena Tetua Yu adalah salah satu Tetua di Paviliun Huanfu. Hanya seorang Tetua dari Paviliun Huanfu yang boleh mengetahuinya untuk menjaga kerahasiaan tempat ini." jawab Tetua Han yang tersenyum lembut.
Tetua Han pun menggeserkan salah satu lukisan yang ada di ruangannya lalu mendorong sebuah batu yang ada di ujung kakinya bersamaan dengan salah satu batu yang ada di belakang lukisan.
Tak lama kemudian sebuah lubang besar muncul dan beberapa anak tangga pun perlahan terlihat dengan pencahayaan yang minim.
Meskipun begitu, saat Tetua Han dan Li Yuchen turun ke bawah muncullah sebuah cahaya di setiap anak tangga yang di pijak dan menghilangkan tangga yang ada dibelakangnya.
"I-ini..." ucap Li Yuchen yang tidak bisa mengatakan apapun hanya melihat dengan tatapan mata yang bingung sambil menatap Tetua Han meminta penjelasan.
"Tetua Yu pasti bisa merasakannya karena Tetua Yu juga seorang Master Formasi." ucap Tetua Han dengan kata-kata yang ambigu tanpa memberikan penjelasan yang jelas dengan senyum yang cerah.
"Apakah ini salah satu Formasi Kuno yang telah lama hilang?" tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang datar sambil menatap tajam Tetua Han.
"Benar sekali karena tempat ini dibuat oleh Pendiri Paviliun Huanfu Pertama yang tidak hanya Seorang Master Alkemia tapi juga Master Formasi." ucap Tetua Han yang memberikan penjelasan singkat sambil berdiri di sebuah pintu yang sangat besar dan lebar.
Tetua Han pun mengeluarkan tanda pengenalnya lalu menempelkannya ke pintu yang memiliki bagian yang kosong.
Dalam waktu singkat, pintu itu pun terbuka dengan perlahan dengan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan dikarenakan tidak adanya pencahayaan lain di sana.
"Silahkan masuk Tetua Yu. Kita telah sampai di Ruang Arsip Rahasia Peviliun Huanfu." ucap Tetua Han sambil mempersilahkan Li Yuchen masuk dengan senyum yang ramah dan bersahabat.
Li Yuchen yang menginjakkan kakinya masuk ke dalam pun menjadi sangat terkejut karena ruangan itu terlihat sangat mewah dan juga sangat luas.
Dindingnya pun berlapis emas hingga membuat pencahayaan yang gelap menjadi sangat cerah karena pantulan emas dengan pilar-pilar yang tinggi yang menyangganya.
Bahkan setiap buku dan gulungan tersusun dengan rapi di setiap rak sudut ruangan dengan kebersihan yang terjaga dengan sangat baik.
Li Yuchen yang tidak pernah melihat hal ini di kehidupannya sebelumnya menjadi sangat terkejut bahkan pertanyaan tentang sosok Pendiri Pertama Paviliun Huanfu menjadi tanda tanya besar di pikiran Li Yuchen.
#Bersambung#
__ADS_1