
Li Yuchen yang mengetahui akan adanya Makam Kuno yang akan segera muncul dalam waktu dekat pun memutuskan untuk ikut dalam ekspedisi.
"Jadi maksudmu Menara Formasi Shinzu ingin aku ikut mewakili Menara Formasi Shinzu ke Makam Kuno?" tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang serius sambil meminum teh yang ada di atas meja.
“Benar, Bos! Aku juga mendengar bahwa Paviliun Huanfu juga mencarimu beberapa hari ini dan sepertinya hal ini berkaitan dengan Makam Kuno.” Ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah yang serius sambil menatap Li Yuchen.
“Jadi keduanya mencariku dan ingin aku mewakili mereka menjelajahi Makam Kuno!” ucap Li Yuchen dengan santai dengan kepala yang mengangguk sebentar sebagai tanda mengerti.
“Sepertinya begitu Bos karena Penjelajahan Makam Kuno ini tidak hanya berbahaya tapi juga memiliki banyak Harta Karun dan aku dengar ada dua Tanaman Obat yang sangat langka yang tersimpat di dalam Makam Kuno tersebut.” Ucap Ye Zhin dengan ekspresi wajah serius sambil berusaha mengingat nama Tanaman yang tersimpan di dalam Makam Kuno.
“Tanama Obat Langka?” ucap Li Yuchen yang mengulang perkataan Ye Zhin dengan alis yang naik ke atas dengan ekspresi wajah penasaran.
“Benar Bos, kalau tidak salah salah satu Tanaman Obat Langka yang ada di sana adalah Jamur Es Salju!” ucap Ye Zhin dengan mata yang terbuka dengan ekspresi wajah yang cerah karena berhasil mengingat hal yang sangat penting.
“Apa yang kau bilang tadi? Jamur Es Salju!” ucap Li Yuchen yang langsung memasang wajah terkejut dengan mata yang terbuka lebar.
“Benar sekali Bos!” ucap Ye Zhin dengan singkat membenarkan rasa ingin tau Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Aku harus masuk ke dalam Makam Kuno itu dan mendapatkan Jamur Es Salju. Aku tidak akan kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan obat untuk Qier!” ucap Li Yuchen dalam hati yang telah berbalik arah menghadap ke arah luar jendela.
“Aku mengerti. Aku akan ke Manara Formasi Shinzu dan Paviliun Huanfu setelah urusanku di sini selesai. Kau boleh pergi.” Ucap Li Yuchen sambil berdiri dengan nada suara yang tegas.
Ye Zhin yang telah melakukan tugasnya pun kembali ke rumahnya dan berlatih gulungan yang diberikan Li Yuchen padanya sebelumnya.
Li Yuchen yang telah menentukan keputusan pun merasa sangat lelah hingga memilih untuk beristirahat dan tidak melakukan apapun seharian selain tidur.
Seo Xiqin yang datang di siang hari untuk melihat kondisi Li Yuchen pun hanya duduk di atas kursi di samping tempat tidur dan melihat Li Yuchen yang tidur dengan damai hingga ikut tertidur di tempatnya.
“Chen gege pasti sangat lelah. Aku senang dapat melihatnya tertidur dengan sangat lelap.” Gumam Seo Xiqin dengan senyum yang penuh dengan tatapan mata bahagia yang tulus.
“Aku tidak bermaksud mengubah masa depan Chen gege dan aku juga tau jika aku sangat egois karena menggunakan Chen gege untuk mengubah takdir burukku tapi aku berjanji jika suatu saat Chen gege bertemu dengan wanita yang sangat Chen gege cintai. Aku pasti akan mendukung Chen gege dan tidak akan menghambat Chen gege. Aku akan bahagia asalkan Chen gege bahagia.” Ucap Seo Xiqin dalam hati dengan senyum yang terlihat sedih dengan tatapan mata yang sayup.
__ADS_1
Li Yuchen yang kultivasinya telah naik pun dapat merasakan kehadiran orang lain di dekatnya meskipun dirinya sedang tidur pun akhirnya langsung membuka mata dan melihat Seo Xiqin yang memejamkan mata duduk di sampingnya.
Li Yuchen yang melihat wajah tidur Seo Xiqin pun menjadi sangat damai dan akhirnya mengangkat Seo Xiqin dengan perlahan ke tempat tidur lalu menyelimutinya agar dirinya dapat tidur dengan nyaman.
Li Yuchen yang masih sangat mengantuk pun ikut tidur di sebelah Seo Xiqin dan saat Li Yuchen hampir terlelap dalam tidurnya Seo Xiqin mengubah posisinya dan memeluk Li Yuchen dengan sangat erat.
“Hmmm!” gumam Seo Xiqin yang tidak sadar dan tertidur dengan sangat lelap di dalam tidurnya.
Li Yuchen yang tidak menyangka Seo Xiqin memeluknya saat tidur pun menjadi sangat senang dan tidak menolak pelukan itu hingga keduanya tertidur bersama sampai sore hari.
Bibi Yi yang sangat khawatir kepada Li Yuchen yang tidak makan apapun sejak siang pun mencoba memanggil Li Yuchen beberapa kali tidak ada jawaban.
“Tuan Besar! Tuan Besar! Tuan Besar!” panggil Bibi Yi dengan nada suara yang rendah dengan ketukan pintu yang pelan karena khawatir mengganggu Li Yuchen.
Bibi Yi yang datang membawa makanan bersama beberapa pelayan wanita yang berdiri di sampingnya pun saling pandang karena tidak mendapatkan jawaban apapun.
“Apakah Tuan Besar ada di dalam?” tanya seorang pelayan yang membawa nampan makanan di tangannya dengan suara yang berbisik.
“Aku juga tidak tau tapi aku tidak melihat Tuan Besar keluar dari kamarnya.” Ucap seorang Pelayan lain yang juga datang membawa nampan buah dengan suara yang sedikit rendah dengan ekspresi wajah penasaran.
“Tuan Besar, maafkan kelancangan saya!” ucap Bibi Yi yang membuka pintu dengan perlahan hingga dirinya dan dua pelayan yang datang bersamanya juga ikut masuk.
Namun saat ketiganya masuk, ketiganya merasa sangat terkejut saat Li Yuchen yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan piama tidur yang berantakan hingga menunjukkan otot perutnya yang rata.
“Ma-maafkan kelancangan hamba Tuan Besar! Ha-hamba ti-tidak tau ji-jika...” ucap Bibi Yi yang terputus dengan nada suara yang gagap dan langsung memasang wajah yang memerah karena malu melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat seorang Pelayan sepertinya.
“Sssttt! Jangan berisik Qier sedang tidur. Aku tidak ingin membangunkannya.” Ucap Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang malas sambil menyisir rambutnya ke belakang yang membuat kedua pelayan muda yang berdiri di belakang terkesima dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ketampanan Li Yuchen.
“Ba-baik Tuan Besar. Saya akan meletakkan makanan ini di meja. Kalau begitu kami permisi, Tuan Besar.” Ucap Bibi Yi yang langsung memberikan kode kepada dua pelayan yang sedang termenung itu sadar agar meletakkan makanan yang ada di tangannya di atas meja.
Ketiganya pun segera undur diri dan meninggalkan Li Yuchen berdua bersama Seo Xiqin. Seo Xiqin yang tiba-tiba terbangun karena mendengar suara pintu yang tertutup pun menjadi sangat terkejut karena berada di atas tempat Li Yuchen.
__ADS_1
“Hmmm, ada apa? Kenapa berisik sekali?” tanya Seo Xiqin yang masih terbaring dengan mata yang masih tertutup sambil menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku karena tidak banyak bergerak selama tidur.
“Itu hanya Bibi Yi dan dua orang pelayan yang datang membawa makanan.” Ucap Li Yuchen dengan santai dengan ekspresi wajah yang datar.
“A-apa? E-eh! Tu-tunggu! Ke-kenapa aku ada di sini?” tanya Seo Xiqin yang tiba-tiba berteriak dengan sangat keras dengan ekspresi wajah terkejut dengan nada suara yang terbata-bata.
“Chen gege melihat Qier tertidur di atas kursi dan merasa tidak nyaman jadi Chen gege mengangkat Qier dan memindahkannya ke atas tempat tidur.” Ucap Li Yuchen dengan nada suara dan ekspresi wajah yang santai yang seketika membuat Seo Xiqin mengingat semua yang dilakukannya.
“A-apa!” teriak Seo Xiqin lagi dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar dengan wajah yang memerah karena malu.
“Aduh!” ucap Li Yuchen yang terkejut melihat sikap aneh Seo Xiqin lalu mencoba memeriksa telinganya yang dikhawatirkan rusak karena terus mendengar suara teriakan Seo Xiqin.
Seo Xiqin yang terkejut dengan perkataan Li Yuchen pun terhanyut ke dalam pikirannya sendiri sehingga membuat Li Yuchen menjadi semakin bingung.
“Bagaimana ini? Kenapa aku jadi tertidur di tempat tidur Chen gege?”
“Agghh! Malu sekali!”
“Bagaimana aku menatap mata Chen gege kalau seperti ini?”
“Hah! Kenapa jantungku berdetak terus dan tidak mau tenang?”
“Qier! Qier! Qieeerrrr!” ucap Li Yuchen yang terus memanggil Seo Xiqin tapi tidak ada jawaban hingga akhirnya berteriak dengan sangat keras yang membuat Seo Xiqin kembali ke dirinya sendiri.
“Ch-chen gege!” ucap Seo Xiqin yang akhirnya tersadar dari lamunannya dengan mata yang terbuka lebar karena terejut.
“Ada apa? Apakah Qier sakit? Kenapa wajah Qier merah sekali?” tanya Li Yuchen yang tidak mengerti kondisi Seo Xiqin yang sedang malu dengan wajah yang polos hingga menyentuh dahi Seo Xiqin dengan santainya.
“A-aku baik-baik saja. A-aku permisi dulu.” Ucap Seo Xiqin yang terbata-bata dengan secepat kilat menyingkirkan selimut dan berusaha turun dari tempat tidur lalu pergi keluar namun dihentikan oleh Li Yuchen.
“Tunggu! Ada yang ingin aku katakan. Bisakah Qier tetap disini sebentar?” tanya Li Yuchen dengan ekspresi wajah yang memelas dengan harapan dapat menunda kepergian Seo Xiqin.
__ADS_1
#Bersambung#
Apa yang ingin dikatakan MC kepada Seo Xiqin? Jawab di kolom komentar ya..