
Ye Rui yang mengetahui kekejaman Li Yuchen terhadap musuhnya menyadari bahwa dirinya terlalu membanggakan dirinya sendiri.
"Apakah ini yang dimaksud guru bahwa kesombonganku akan mengahancurkan diriku sendiri?" gumam Ye Rui dengan nada bicara yang putus asa sambil terduduk lemas di kursinya sendirian.
"Aku tidak bisa diam saja. Aku akan mengakui kesalahanku kepada guru dan pergi menemui Tuan Muda Yu lalui mengakui kesalahan. Aku harus bersedia menerima semua hinaan dan persyaratan apapun demi keselamatan keluargaku." ucap Ye Rui dengan tekad yang bulat sambil menguatkan kakinya yang telah kehilangan tenaga karena rasa takut yang menyelimuti fikiran, tubuh dan jiwanya.
Ye Rui yang telah berada di depan pintu ruangann Tetua Han tidak berharap Tetua Han akan membuka pintu untuknya dan bersedia menerima maafnya tapi Ye Rui tetap melakukan yang terbaik untuk mendapatkann maaf dari Tetua Han.
"Guru!" panggil Ye Rui dengan suara yang lirih dengan kepala yang tetunduk ke bawah karena perasaan bersalah karena telah menentang perkataannya.
"Guru, Rui'er mengaku salah. Rui'er menyadari semua kesalahan Rui'er yang terlalu sombong untuk menyadari jika masih ada orang yang jauh lebih hebat dari Rui'er." ucap Rui'er dengan ekspresi wajah yang sedih dan putus asa dengan nada bicara yang lirih mengundang orang yang mendengarnya merasa iba.
"Rui'er akan pergi menemui Tuan Muda Yu dan meminta maaf padanya. Rui'er bersedia untuk berlutut dan bersujud dan mengesampingkan ego dan kesombongann Rui'er agar Tuan Muda Yu mau mengampuni kesalahan Rui'er. Rui'er harap guru juga mau memaafkan kesalahan Rui'er." ucap Ye Rui dengan nada bicara yang rendah dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menarik nafas panjang lalu berjalan menjauh.
Namun saat Ye Rui ingin berjalan pergi, pintu ruangan Tetua Han terbuka. Tetua Han memerintahkan Ye Rui untuk masuk dan bicara di dalam.
"Masuklah!" ucap Tetua Han dengan nada suara yang datar dan tanpa ekspresi sambil mencuri pandang melihat ekspresi wajah Ye Rui yang sudah sangat kusut seperti kaset rusak.
"Guru!" ucap Ye Rui dengan suara yang tinggi dengan sedikit perasaan bahagia di balik semua perasaan cemas dan khawatir yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Ye Rui yang mendapat persetujuan dari Tetua Han pun bergegas masuk karena takut Tetua Han akan berubah fikiran dengan cepat sehingga tidak mau menerima maafnya.
"Duduklah!" ucap Tetua Han dengan nada memerintah sambil duduk lebih dulu di sebuah kursi sambil meminum tehnya dengan perlahan.
"Terima kasih, guru!" ucap Ye Rui dengan nada bicara yang ceria dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Tetua Han yang tidak percaya kesombongan dan keangkuhan yang dimiliki muridnya dapat berubah dengan sangat cepat pun membuatnya penasaran dengan semua yang telah terjadi.
"Apa yang menyebabkanmu mau meminta maaf kepada Tuan Muda Yu dengan begitu saja?" tanya Tetua Han dengan sorot mata yang dingin ke arah Ye Rui dan dengan nada bicara yang sinis.
Ye Rui yang sadar jika Tetua Han tidak akan dapat percaya jika dirinya akan berubah dengan sendirinya pun tidak punya pilihan lain selain berkata jujur.
"Tuan Muda Yu juga orang yang sangat kejam dan tanpa ampun kepada semua musuhnya, tiga orang yang baru saja dipecat dari Pviliun Huanfu membuat masalah dengan Tuan Muda Yu dan pada akhirnya meninggal dengan kondisi tubuh yang hancur membusuk di dalam Penjara Kota." sambung Ye Rui dengan wajah yang sangat serius dan sorot mata yang tajam.
"Tidak hanya itu, Pelayan di Menara Formasi Shinzu yang berani bersikap kurang ajar kepada salah seorang Nona muda dihukum dengan Segel Formasi kematian sehingga jiwa dan raganya disiksa hingga berhari-hari dan pada akhirnya tubuhnya hancur menjadi abu dan jiwanya tida dapat bereinkarnasi kembali." ucap Ye Rui dengan nada bicara yang dingin dengan ekspresi wajah ketakutan dan kecemasan yang tinggi hingga keringat mengalir dengan jelas ke pipinya.
"Hah! Akhirnya kau sadar di atas langit masih ada langit. Untunglah Tuan Muda Yu belum melakukan apapun padamu. Sepertinya Tuan Muda Yu tidak menganggap dirimu penting jadi dia tidak betindak tapi kau tidak boleh terlena. Kau harus segera menemui Tuan Muda Yu dan meminta maaf." ucap Tetua Han dengan nada bicara yang tinggi dengan penekanan di setiap katanya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Guru jangan khawatir, aku pasti akan menemui Tuan Muda Yu sekarang juga dan meminta maaf padanya dan bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan maafnya." ucap Ye Rui dengan penuh keyakinan dan wajah yang cerah seolah ada cahaya kehidupan yang menerangi jiwanya.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Kau juga harus bisa membujuk Tuan Muda Yu untuk mau menjadi Tetua Muda Kehormatan di Paviliun Huanfu. Dengan kemampuannya, aku yakin saat Pertandingan Alkemia yang diadakan di Kota Kekaisaran lima tahun sekali Paviliun Huanfu dari Kota Jinli pasti dapat memenangkan pertandingan." ucap Tetua Han dengan wajah yang cerah seolah memiliki sebuah harapan.
"Apakah Guru ingin Tuan Muda Yu ikut berpartisipasi dalam Pertandingan itu?" tanya Ye Rui dengan ekspresi wajah yang bingung dan nada bicara tidak percaya dengan semua yang didengarnya.
"Tentu saja. Dia adalah harapan terakhir kita untuk menang. Guru tidak bermaksud merendahkanmu tapi dari segi kemampuan dan kesabaran Tuan Muda Yu jauh dibandingkan dirimu yang suka terburu-buru dan tidak sabaran dan itu salah satu penyebab dirimu sulit untuk naik tingkat Alkemia padahal bakatmu sangatlah besar." ucap Tetua Han sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang kecewa.
Ye Rui yang mendengar pernyataan Tetua Han pun menyadari kelemahannya sendiri setelah berkaca dan membandingkan dirinya dengan Tuan Muda Yu.
"Aku mengerti guru. Aku akan berusaha dengan keras untuk meningkatkan kemampuanku dan mengontrol emosi dan egoku. Aku tidak akan mengecewakan guru lagi." ucap Ye Rui sambil berjanji di hadapan Tetua Han dengan senyum penuh percaya diri.
Tetua Han yang melihat perubahan besar yang ada di dalam tubuh Ye Rui menjadi sangat senang dan sangat bersyukur akan kedatangan Li Yuchen karena berhasil mengubah sifat Ye Rui menjadi lebih baik.
Ye Rui yang telah mendapatkan maaf dan izin dari Tetua Han pun pergi ke Menara Formasi Shinzu dengan berbagai macam harta karun di dalam Tas Qiankunnya.
"Semoga Tuan Muda Yu akan luluh dan memaafkanku serta mengabulkan permintaan Guru. Aku tidak ingin mengecewakan guru. Aku harus berhasil." ucap Ye Rui yang telah melangkah keluar dari Paviliun Huanfu dengan wajah yang cerah dan senyum penuh percaya diri hingga membuat semua orang yang melihat Ye Rui menjadi terpesona dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya.
Di sisi lain, Nona Shu yang menunggu laporan dari Pelayan yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang Li Yuchen ternyata tidak pernah kembali setelah beberapa hari hingga membuat Nona Shu menarik kesimpulan sendiri.
"Pelayan yang aku tugaskan untuk menyelidiki Li Yuchen tidak pernah kembali lagi. Sepertinya dia telah ketahuan dan telah dihabisi. Sepertinya aku harus bergerak sendiri untuk mencari tau. Aku akan bersiap malam ini." ucap Nona dengan ekspresi wajah yang berubah-berubah di setiap kalimat yang diucapkannya.
__ADS_1
#Bersambung#