PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 100


__ADS_3

Faza merenung dibalkon kamarnya. Malam semakin larut. Angin dingin menerpa kulit wajah bahkan seluruh tubuhnya. Namun hal itu sama sekali tidak mampu membuat Faza bergerak dan bergegas masuk kembali kedalam kamarnya juga Zahra.


Faza memejamkan kedua matanya sebentar merasakan belaian lembut angin malam diwajah tampan-nya. Faza tidak tau harus bagaimana menghadapi mamahnya yang begitu keras kepala. Bahkan kabar baik kehamilan Zahra sama sekali tidak disambut baik oleh Sinta.


“Mamah.. Aku harus bagaimana?” Lirih Faza bingung.


Faza menelan ludahnya. Seburuk apapun mamahnya Faza selalu berusaha untuk menghormatinya. Faza tau bagaimana perjuangan mamahnya mulai dari melahirkan-nya sampai mengajarinya segala hal. Mendidiknya dari kecil sampai Faza tumbuh dewasa.


Faza sangat mencintai Zahra begitu juga pada mamahnya. Faza benar benar tidak bisa jika harus memilih salah satu diantara mereka berdua. Zahra adalah wanita pilihan hatinya. Sedangkan Sinta, dia adalah wanita yang wajib untuk selalu dia sayangi juga hormati.


Jika saja Faza bisa mundur Faza akan melakukan-nya. Menjauh dari keduanya tanpa harus memilih salah satu. Tapi Faza tau itu semua tidak mungkin. Tugasnya menjadi seorang suami bagi Zahra juga anak bagi Sinta membuatnya harus selalu tetap ditempatnya. Bertahan dengan segala kebimbangan hatinya.


“Ya Tuhan.. Kuatkan hati hamba tuhan..” Lirih Faza.


Sekali lagi Faza menghela napas. Melihat mamahnya bersikap baik pada Zahra adalah impian-nya saat ini. Impian yang entah kapan bisa terwujud.


“Mas...”


Lamunan Faza buyar. Pria itu menoleh kearah pintu penghubung balkon dan menemukan Zahra berdiri disana sedang menatapnya dengan kelopak mata yang tebal pertanda rasa kantuk sedang menguasainya.


“Kenapa kamu nggak tidur?” Tanyanya dengan suara serak.


Faza tersenyum kemudian melangkah mendekat pada Zahra. Faza merangkul mesra pinggang Zahra yang masih dikuasai kantuknya.


“Bukan-nya besok kamu sudah harus mulai kerja mas? Kenapa sudah malam mas nggak tidur?”


Faza membopong tubuh Zahra dan membawanya masuk kembali kedalam kamar mereka.


“Aku hanya sedang mencari angin sebentar sayang.. Ayo kita tidur.” Bisik Faza sambil melangkah menuju ranjang.


Zahra yang memang masih sangat mengantuk hanya menurut saja. Zahra bahkan langsung terlelap kembali begitu Faza membopong tubuhnya.

__ADS_1


Pelan pelan Faza membaringkan tubuh Zahra diatas tempat tidur. Pria itu tersenyum menatap istrinya yang kembali terlelap damai dalam tidurnya.


Faza menghela napas. Dengan lembut Faza menyingkirkan anak rambut Zahra yang sedikit menutupi kening wanita itu.


“Aku tau kamu pasti bisa sabar menghadapi mamah sayang..” Batin Faza.


Zahra mengusap lembut kening Zahra dan menciumnya lama. Setelah mencium Zahra, Faza menegakkan tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi.


Sekitar 10 menit berada didalam kamar mandi, Faza pun kembali keluar kemudian ikut naik ke atas ranjang dan mendekap lembut Zahra. Faza tidak tau apa yang akan terjadi kedepan-nya. Tapi yang pasti Faza akan selalu berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Zahra. Faza juga akan terus berjuang mendapatkan restu dari Sinta, mamahnya.


Perlahan Faza mulai menutup kedua matanya ikut terlelap bersama Zahra menyelami alam mimpinya.


--------


Pagi ini Sinta begitu sangat sibuk bersama bibi didapur. Sinta juga meminta pada bibi untuk memasak banyak sarapan yang mengandung banyak gizi.


Fadly dan Akbar yang merasa penasaran pun mendekat pada Sinta dan bibi. Mereka berdua saling menatap sebelum akhirnya Akbar melontarkan pertanyaan pada Sinta.


“Mamah tumben masak banyak hari ini? Terus itu kenapa dimasukin ke tempat makanan? Apa itu bekal buat papah?”


“Mungkin itu buat aku pah.. Aku kan makan-nya banyak.” Kali ini Fadly yang bersuara.


Sinta menggelengkan kepalanya. Sinta memang sudah tidak lagi mengungkit apa yang Loly tuduhkan pada Fadly. Namun Sinta masih menagih pada Fadly agar Fadly meminta maaf langsung pada Loly. Dan tentu saja Fadly menolaknya dengan keras. Karna pada kenyataan-nya Fadly tidak melakukan apapun pada Loly.


“Ini bukan buat papah ataupun kamu Fadly. Ingat kamu masih punya hutang maaf sama Loly.”


Fadly berdecak kesal. Fadly benar benar sangat dendam pada Loly kali ini.


“Ini itu mamah sengaja buat untuk Zahra. Kan dia sedang hamil, Jadi harus banyak makan makanan yang bergizi. Ini mamah mau kesana. Papah mau ikut?”


Akbar dan Fadly terdiam. Mereka kembali saling menatap tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


“Kalau mau ikut sekarang ya pah.. Biar kita bisa sarapan disana juga sekalian. Kamu juga boleh ikut Fadly.” Kata Sinta lagi.


Akbar dan Fadly masih tidak percaya. Sinta tiba tiba bisa berniat begitu baik pada Zahra.


“Kenapa malah bengong? Mau ikut nggak?”


“Eh, ya.. Oke oke.. Kita berdua ikut mah..” Jawab Akbar cepat.


“Oke.. Tolong bawain buahnya ya pah..” Senyum Sinta kemudian berlalu dari hadapan Fadly dan Akbar dengan membawa beberapa kotak makan ditangan-nya.


Namun ternyata bukan hanya Fadly dan Akbar saja yang kebingungan dengan apa yang Sinta katakan. Bibi yang juga mendengar secara langsung apa yang Sinta katakan ikut kebingungan.


“Fadly... Ayo...” Ajak Akbar membuat lamunan Fadly buyar seketika.


“Oh iya pah.. Ayo..” Saut Fadly kemudian mengikuti papahnya yang membawa berbagai buah dikantong kresek bening dari belakang.


Mereka bertiga pergi dengan mengendarai mobil sendiri sendiri. Akbar dengan Sinta sedang Fadly seorang diri.


Dan sepanjang perjalanan menuju kediaman Faza dan Zahra, Akbar juga Fadly tidak henti hentinya berpikir. Mereka berdua benar benar penasaran dengan perubahan tiba tiba Sinta.


“Apa ini ada hubungan-nya dengan Loly lagi? Apa mamah sedang merencanakan sesuatu dengan Loly untuk Zahra?” Fadly bergumam lirih sendiri.


Fadly tau bagaimana tidak sukanya Sinta pada Zahra. Rasanya tidak mungkin jika tiba tiba Sinta berubah baik tanpa sebab. Sedang kemarin saat Faza dan Zahra datang membawa kabar baik saja Sinta sama sekali tidak terlihat bahagia. Sinta bahkan langsung mengurung diri dikamar sampai Faza dan Zahra pulang.


“Aku harus menyelidikinya. Aku nggak mau kalau sampai mamah berbuat sesuatu yang membahayakan Zahra juga calon keponakanku nantinya.”


Fadly kemudian menambah kecepatan laju mobilnya karna posisinya dengan mobil sang papah cukup jauh.


Sekitar 20 Menit perjalanan mereka sampai tepat didepan gerbang. Akbar segera membunyikan klakson membuat pak satpam bergegas membukakan pintu gerbang untuknya.


Mobil Akbar dan mobil Fadly masuk beriringan ke pekarangan luas rumah Faza dan Zahra. Mereka bertiga keluar bersamaan dari mobil.

__ADS_1


Fadly segera menghampiri mamah dan papahnya. Rasa bingung dan juga penasaran masih menguasai hati dan pikiran Fadly sebenarnya. Namun Fadly mencoba untuk terlihat biasa didepan keduanya terutama didepan Sinta.


“Mudah mudahan Faza belum berangkat ya pah.. Ly..” Senyum Sinta.


__ADS_2