
Kekesalan Zahra sedikit berkurang karna ternyata Faza tetap menganggapnya istrinya bahkan pada wanita cantik yang menurut Zahra sendiri nyaris sempurna. Faza juga menyuruh untuk Zahra duduk diantara mereka agar Zahra tidak berpikir yang tidak tidak tentang keduanya yang memang tidak ada obrolan spesial apapun.
“Kamu udah maafin aku kan?” Tanya Faza setelah Rosa pergi meninggalkan-nya dan Zahra.
Zahra melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Zahra juga membuang pandangan-nya tidak mau menatap Faza yang sudah membuat sangat kesal kemarin.
“Dia siapa?”
Faza tersenyum. Faza yakin Zahra pasti sudah mau memaafkan-nya.
“Dia Rosanti. Teman sekelas aku pas masih SMA dulu. Sempet lupa sih tadi, tapi setelah dia menunjukan photo dulu di media sosialnya aku sedikit mengingatnya.”
Zahra berdecak. Rosa seperti tidak menganggapnya tadi.
“Sepertinya mas sama dia sangat akrab.”
“Enggak juga sih. Cuma kebetulan nggak sengaja ketemu aja tadi jadi ngobrol sebentar.”
“Hhmm.. Udah lah aku mau lanjut kerja lagi.”
Ketika Zahra hendak bangkit, Faza langsung mencekal lengan-nya menahan-nya agar Zahra tetap tinggal.
”Aku benar benar minta maaf sayang.. Aku sadar aku salah. Aku janji nggak akan ngulangin lagi.”
Zahra menghela napas. Dengan Faza mengenalkan-nya sebagai istrinya pada Rosa saja itu sudah membuatnya sedikit luluh.
“Mas tolong lepasin aku. Pak Santo bisa marah kalau tau aku malah duduk dan ngobrol santai sama pelanggan-nya.”
“Oke aku bakal lepasin tapi tatap aku dulu.”
Faza bangkit dari duduknya berdiri tepat dibelakang Zahra yang masih tidak mau menatapnya.
“Mas..”
“Sayang please..” Mohon Faza.
Zahra menarik napas dalam dalam dan menghembuskan-nya dengan kasar. Tidak ingin mendapat kemarahan dari Santoso, Zahra pun menuruti permohonan suaminya. Zahra membalikan tubuhnya dan menatap Faza yang terlihat sangat tinggi jika sedang bersanding dengan-nya.
“Mau apa sih?” Tanya Zahra dengan nada kesal.
Faza tersenyum manis. Meskipun Zahra masih belum mau tersenyum padanya tapi setidaknya Zahra mau menatapnya.
CUP
Kedua mata Zahra membulat sempurna ketika tiba tiba Faza mencium bibirnya sekilas.
“I love you istriku sayang..” Ungkap Faza.
“Iiiihh.. Apaan sih mas. Cium cium didepan banyak orang. Malu tau.” Ketus Zahra dengan kedua pipi merona malu.
__ADS_1
Faza tertawa.
“Jadi maunya dimana cium ciumnya? Di toilet? atau dikamar kita?” Goda Faza membuat Zahra merasa semakin malu.
“Iiihh.. Udah ah. Aku mau lanjut kerja.”
Zahra segera berlalu dengan perasaan campur aduk, antara malu juga bahagia.
Zahra kembali melanjutkan pekerjaan-nya. Sementara Faza, pria itu kembali duduk anteng ditempatnya bermaksud menunggu Zahra sampai selesai kerja.
Dari kejauhan Santoso melihat Faza yang mencium bibir Zahra didepan para pelanggan-nya. Santoso berdecak kemudian berlalu dengan perasaan marah.
“Dasar tidak tau malu.” Umpat Santoso geram.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu hari minggu ini. Zahra sudah selesai dengan pekerjaan-nya.
Zahra keluar dari restoran berdampingan dengan Faza yang terus menggenggam lembut tangan Zahra.
“Kita jalan jalan dulu yuk? Abis itu makan malam diluar aja. Udah lama kita nggak makan malam diluar.”
Zahra berhenti melangkah ketika mendapati mobil Aris diparkiran. Zahra lupa dengan janjinya pada Aris pagi tadi sebelum memulai bekerja.
“Eemm.. Mas, tapi aku udah janji mau main kerumah kak Aris. Dan itu mobil kak Aris udah ada disini. Kak Aris tadi pagi bilang mau jemput aku.”
Faza mengikuti arah pandang istrinya. Sejak malam itu Faza tidak pernah lagi bertemu dengan Aris.
Faza menghela napas. Faza ingin sekali ikut. Tapi Faza yakin Aris pasti masih sangat marah padanya dan belum mau memaafkan-nya.
Zahra menoleh menatap Faza yang tersenyum manis padanya.
“Kamu nggak ikut?”
Faza menggelengkan kepalanya.
“Kamu aja yang kesana.”
“Mas tapi...”
“Udah nggak papa. Nanti pulangnya aku jemput.” Sela Faza membelai lembut pipi tembem Zahra.
Zahra terdiam. Hubungan Faza dan Aris memang masih dingin. Tidak heran jika Faza enggan mengikutinya untuk bersama sama kerumah Aris.
“Ya udah deh.. Tapi kamu jangan ketiduran lagi ya dirumah mamah..”
“Tidur beberapa menit nggak papa kan biar nanti malam kuat meleknya.” Goda Faza mengedipkan sebelah matanya pada Zahra.
“Iih mas apaan sih. Bahas gituan dipinggir jalan begini. Dasar mesum. Udah ah aku ke kak Aris dulu.”
Zahra menyalimi Faza kemudian segera berlari menuju mobil Aris yang memang sudah berjanji akan menjemputnya pagi tadi.
__ADS_1
Faza tersenyum menatap punggung istrinya yang menjauh darinya. Kali ini pria itu berusaha untuk mengesampingkan egonya. Faza tidak mau membuat Zahra kembali marah padanya.
Setelah mobil Aris berlalu membawa Zahra pergi, Faza pun memakai helmnya kemudian naik ke motor gedenya dan berlalu dengan kecepatan sedang menuju kediaman kedua orang tuanya.
--------
“Apa? kamu mau bawa pulang donat ini?”
Faza mengangguk dengan mulut penuh donat. Pria tampan itu teringat pada istrinya saat menyantap donat kentang kesukaan-nya yang dibuat langsung oleh mamahnya, Sinta.
“Enggak enggak, enggak boleh. Kamu makan saja sepuasnya disini. Nggak usah kamu bawa pulang.” Tegas mamahnya.
Faza menghela napas dengan ekspresi sendu.
“Mamah tau kamu pasti mau bawa buat istri kamu kan? Mamah nggak ngebolehin. Mamah nggak mau dia memakan sedikitpun apa yang mamah buat.”
Faza menaruh separuh sisa donat yang sedang dimakan-nya.
Sinta yang melihat itu mengeryit.
“Kenapa nggak diabisin?” Tanyanya.
“Aku udah kenyang mah.” Jawab Faza pelan.
Sinta menyipitkan kedua matanya. Sinta tidak percaya dengan alasan Faza. Sinta tau bagaimana sukanya Faza dengan cemilan yang sengaja dia buat untuk putra pertamanya itu.
“Kamu ngambek sama mamah?”
“Enggak kok. Aku beneran kenyang.”
“Jangan bohong sama mamah Faza. Mamah nggak suka.”
Faza melengos. Faza sedikit merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan mamahnya tentang Zahra yang tidak boleh ikut memakan apapun masakan yang mamahnya buat.
“Oke oke, kamu boleh bawa pulang semua donat donat ini.”
Faza kembali menatap sang mamah. Senyumnya mengembang menatap mamahnya yang sedang menatapnya dengan wajah kesal.
“Beneran mah?” Tanya Faza antusias.
“Iya, Tapi kamu harus makan yang banyak ya. Habisin.”
“Zahra boleh makan kan mah?” Tanya Faza lgi.
“Boleh. Tapi sedikit aja.” Jawab Sinta ketus.
“Makasih ya mah..” Senyum Faza bahagia.
“Hhmmmm..”
__ADS_1
Faza yakin sekarang. Suatu saat mamahnya pasti bisa mengerti dirinya. Mamahnya akan merestui hubungan-nya dengan Zahra. Mungkin memang prosesnya tidak mudah. Tapi Faza tetap optimis semuanya akan indah pada waktunya.