PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 211


__ADS_3

Tidak lama setelah Faza dan Zahra selesai makan malam dan membereskan meja makan serta mencuci sekalian wadah bekas makan mereka, Reyhan dan Tina pun sampai. Tina yang memang sudah merasa lama tidak bertemu dengan Zahra langsung heboh memeluk dan menangis haru. Tina bahkan sampai terisak merasa tidak berguna sebagai teman karna saat Zahra melahirkan Tina tidak ada disana untuk menguatkan dan menyemangati Zahra.


Faza dan Reyhan yang melihat itu tersenyum. Kedua pria itu yakin bahwa Zahra dan Tina memang sahabat yang tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun.


Zahra kemudian mengajak Tina untuk melihat Fahri yang sudah terlelap dikamar. Sementara Reyhan dan Faza, Mereka berdua memilih untuk mengobrol diruang tamu.


“Pak.. Saya mau memberitahu tentang hasil penyelidikan pak Santoso.”


Faza menatap serius pada Reyhan yang duduk disofa seberangnya. Posisi keduanya terhalang oleh meja kaca yang berada ditengah sofa yang menjadi tempat duduk mereka.


“Sebenarnya saya tidak sendiri mencari tahu tentang pak Santoso. Tina ikut membantu saya pak. Apa lagi Tina juga tau banyak tentang pak Santoso.”


“Ya.. Tina dan Zahra dulu sama sama bekerja di restoran Santoso.” Angguk Faza yang sebenarnya sudah mengenal Tina lama.


“Jadi bagaimana?” Tanya Faza kemudian.


Reyhan menghela napas.


“Kata Tina sebenarnya pak Santoso sudah lama menyukai bu Zahra bahkan sebelum Pak Faza menikahi bu Zahra.. Kemudian tidak lama setelah bu Zahra dan Tina keluar dari pekerjaan sebagai waitrees di restoran itu pak Santoso dan istrinya bercerai. Dan penyebabnya adalah istri pak Santoso menemuka photo bu Zahra yang ada di dompet pak Santoso.”


Faza menghela napas. Cerita itu sama persis dengan apa yang diceritakan Zahra padanya.


“Sekarang pak Santoso bahkan mendekorasi salah satu kamar dirumahnya dengan nama Fahri yang ada di pintu masuknya. Saya tau itu dari asisten rumah tangga yang bekerja dirumah pak Santoso.”


Faza mengeryit. Faza bukan pria dengan pola pikir lambat. Dari apa yang Reyhan katakan Faza langsung bisa menyimpulkan bahwa Santoso memang memiliki niat tidak baik pada hubungan-nya dan Zahra.


Faza menelan ludah. Menghadapi orang seperti Santoso sepertinya memang tidak bisa dengan cara kekerasan. Faza harus punya taktik untuk membuat pria itu sadar bahwa Zahra tidak mau dekat dengan-nya.


“Lalu sekarang apa rencana pak Faza selanjutnya?” Tanya Reyhan.


Faza tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


“Untuk sekarang belum ada. Biarkan saja Santoso hancur dengan perasaan-nya sendiri. Terimakasih untuk semua informasinya Rey..”


Reyhan diam sesaat. Padahal Reyhan sudah memikirkan banyak cara kalau kalau Faza menyuruhnya untuk bertindak sesuatu pada Santoso.

__ADS_1


“Ah ya Rey.. Bagaimana meeting tadi sore?” Tanya Faza mengalihkan topik pembicaraan.


Reyhan menghela napas pelan.


“Semuanya sesuai seperti apa yang kita harapkan pak.” Jawab Reyhan tersenyum tipis.


“Syukurlah..” Senyum Faza merasa lega.


Faza benar benar merasa sangat tertolong karena keberadaan Reyhan disampingnya. Reyhan sangat tanggap dan mampu menangani berbagai hal tentang pekerjaan dengan baik.


Sementara itu Zahra dan Tina sedang asik mengobrol dikamar. Kebetulan Nadia sudah beristirahat hingga Nadia tidak tau tentang kedatangan Tina dan Reyhan kerumahnya.


“Suami kamu minta Reyhan buat cari tau tentang pak Santo. Dan aku tentu saja dengan senang hati membantu..”


Zahra tersenyum mendengar apa yang Tina ceritakan.


“Iya deh yang lagi deket sama Reyhan..” Ledek Zahra membuat Tina langsung salah tingkah.


“Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa kenal sama Reyhan? Ceritain dong.. Aku penasaran nih..”


“Kenapa jadi bahas tentang aku sama Reyhan sih Ra.. Kan kita lagi bahas tentang kamu sama pak Santo..” Sungut Tina mencebikkan bibirnya.


“Ya kan kamu sudah tau semua tentang itu dari dulu. Sedangkan aku sama sekali belum tau apa apa tentang kamu dan Reyhan. Ayo dong ceritain, aku penasaran banget nih.” Paksa Zahra yang membuat Tina semakin salah tingkah.


“Iiihh... Apa apaan sih kamu Ra.. Lagian aku sama Reyhan juga nggak ada apa apa kok. Aku sama dia cuma temenan.”


Zahra menyipitkan kedua matanya.


“Perasaan aku nggak nanya kamu sama Reyhan ada hubungan apa deh..”


Zahra semakin gencar menggoda Tina yang membuat wajah Tina semakin memerah karna malu.


“Iiihh Zahra..!!” Pekik Tina yang berhasil membuat Fahri kaget, terbangun kemudian menangis menjerit.


Zahra yang terkejut langsung mencoba menenangkan Fahri dengan menggendongnya dan memberikan ASI nya. Namun sepertinya bayi tampan itu marah dan tidak terima karna tidur lelapnya di ganggu oleh suara pekikan Tina.

__ADS_1


“Aduh.. Ya Tuhan.. Ra.. Aku benar benar nggak sengaja..” Tina gelagapan sendiri karna tangisan Fahri. Tina benar benar tidak mengingat bahwa didekatnya ada bayi yang sedang tertidur.


“Udah nggak papa Tin... Fahri memang lagi rewel hari ini..” Ujar Zahra sambil berusaha menenangkan Fahri yang menangis dengan mengayun ayun-nya berharap Fahri bisa kembali terlelap dengan tenang.


Tina menghela napas. Tina benar benar sangat menyesal. Tina benar benar tidak ingat ada Fahri disekitarnya dan Zahra. Tentu saja itu terjadi karna keduanya ke asikan mengobrol sedang Zahra terus saja menggodanya, memaksanya untuk menceritakan tentangnya dan Reyhan.


Suara jeritan tangis protesan Fahri terdengar oleh Faza, Reyhan, bahkan sampai terdengar juga oleh Nadia yang malam itu sudah terlelap dengan Arka.


Karena panik mereka pun buru buru berlari menuju kamar yang ditempati Zahra. Dan sesampainya dikamar mereka mendapati Fahri yang terus saja menggeliat di gendongan Zahra.


Faza yang tidak mau putranya terus menangis segera mengambilnya dengan sangat lembut dari gendongan Zahra.


Hal itu membuat Tina takut sekarang. Tina yakin Faza pasti akan sangat marah jika tau yang menyebabkan Fahri bagun adalah dirinya.


“Cup cup anak ganteng papah.. Tenang yah.. Ada papah disini.. Sshhtt... Bobo lagi ya sayang..”


Zahra, Tina, Reyhan juga Nadia hanya bisa diam ditempat mereka dengan tatapan yang mengarah pada Faza. Mereka benar benar takjub. Fahri bisa langsung diam begitu merasakan dekapan Faza. Bahkan tidak sampai 10 menit bayi itu sudah kembali terlelap dengan damai.


“Ra, kenapa Fahri bisa sampai bangun dan nangis begitu?” Tanya Nadia dengan suara yang sengaja dibuat sangat pelan.


Zahra meringis. Zahra tidak ingin berbohong. Tapi jika dirinya jujur Tina pasti akan terkena amarah Faza mengingat Faza yang begitu sangat menyayangi putra mereka.


“Eemm.. Jadi tadi itu..”


Tina memejamkan kedua matanya erat erat. Tina benar benar tidak siap jika harus disemprot amarah oleh suami dari sahabatnya sendiri. Apa lagi disana juga ada Reyhan.


Zahra melirik Tina sebentar kemudian melanjutkan ucapan-nya yang sempat menggantung.


“Fahri kaget karna obrolan aku sama Tina kak..” Lanjut Zahra membuat Tina langsung membuka kedua matanya menatap Zahra tidak percaya.


Zahra memang tidak berbohong. Namun penyebab utama Fahri bangun dari tidurnya adalah dirinya yang memekik karna tidak tahan dengan Zahra yang terus saja meledeknya.


“Makan-nya lain kali kalau ngobrol itu nggak usah di kamar. Sudah tau anaknya tidur malah di usik.” Judes Faza.


Reyhan tersenyum geli. Zahra dan Tina langsung menunduk begitu Faza bersuara. Mereka berdua begitu kompak bahkan saat melakukan kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2